Suami Bayangan

Suami Bayangan
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Diana dan Renata kini berada di rumah sakit yang Diana sendiri pemiliknya.


“ Ini Rumah Sakit pusat Re, Mami kerjanya disini tapi sejak sakit udah jarang ngantor. "


“ Oh gitu .. Kalo mas Bian sama mas Alvin ? "


“ Mereka ada di gedung perkantoran Mahesa Group. Karena kan mereka pegang semua mulai dari rumah sakit, yayasan pendidikan dan yang terbaru kita lagi ngembangin beberapa gerai mini market dan swalayan khas indonesia di luar negeri. " Jelas Diana sedikit berbagi tentang usaha nya.


“ Wah hebat sekali Bu, Rere ngebayangin nya cape banget kayanya "


“ Mami dua tahun ini kerja keras pertahanin perusahaan yang di bangun almarhum papi. Cobaan mah banyak Re, udah beberapa kali menghadapi krisis dan kerugian milyaran rupiah. Ini aja kita baru setengah tahunan ini lah merintis lagi. Berkat Bian yang sekarang turun tangan. "


“ Loh memang nya mas Bian kemana aja Bu ? Ko baru sekarang ? " Renata mengerutkan dahinya heran.


“ Bian di luar negeri Re, menyelesaikan postgraduate nya. Bian gak tau gimana struggling nya mami disini bertahan sambil nunggu Bian balik. Anak itu kelamaan di luar negeri makannya cuek ya bedalah sama kita yang budaya sosial nya masih kental "


Renata hanya mengangguk mengiyakan ucapan Diana, tak berselang lama dokter pun memanggil Diana untuk masuk menjalankan pemeriksaan. Pemeriksaan berlangsung sekitar 15 menit di sertai dengan lab darah dan urine yang sudah di lakukan sebelumnya jika di total menghabiskan waktu sekitar 2 jam.


“ Baik Bu Diana, hasil lab sudah saya terima. Dari yang bisa kita lihat. Sel kanker Ibu berkembang dengan cepat karena tidak segera tertangani. Penyebaran juga sudah terjadi sampai ke ginjal itu kenapa fungsi ginjal Ibu menurun dan jika tidak segera di tangani bisa terjadi kerusakan di organ ginjal Ibu dan menyebar ke organ lain" Jelas Dokter bernama Seno itu.


Degg


Perasaan bersalah mulai menguasai Renata, andai saja dia datang lebih cepat mungkin penyakit Diana tidak akan menjadi separah ini. Selain karena penyakit yang sudah menggerogoti nya, kondisi Diana juga di perparah dengan beban mental yang ditanggungnya semenjak meninggalnya Tama terlebih ketika Renata menghilang.


“ Bu .. Rere minta maaf ya ? " Ucap Renata dengan mata berkaca saat mereka sama sama sedang menunggu obat di ruang tunggu farmasi.


“ Maaf untuk ? "


“ Kalo aja Renata gak ngilang penyakit Ibu pasti cepet tertangani. " Renata tak kuasa menahan air mata yang mulai jatuh perlahan.

__ADS_1


“ Gak papa Re, udah takdir Mami begini. Jangan nangis dong, nanti Mami malah sedih " Diana mengusap air mata di pipi Renata.


Setelah menerima obat, mereka pun segera pulang karena Diana mengeluhkan rasa lelah pada tubuhnya yang tidak seperti biasanya. Perlahan Renata menurunkan tubuh Renata di ranjang nan luas itu. Renata mengambil ponsel hendak mengabari Bian namun begitu nomor Bian muncul Renata menjadi enggan, teringat kejadian kemarin yang membuatnya jadi membenci Bian.


Renata : Mas Alvin, Rere sudah pulang. Ada kabar kurang baik. Mungkin mas Alvin sama mas Bian bisa akses langsung rekam medis Mami ke orang rumah sakit.


Alvin : Bisa Re, terimakasih ya infonya nanti saya sampaikan juga ke Bian.


Akhirnya Renata memilih menghubungi Alvin yang lebih ‘ manusiawi ' dari pada Bian si manusia berhati dingin.


Mendapat kabar dari Renata, Alvin dan Bian bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Dokter Seno. Ya mereka harus mendengar penjelasan dari ahlinya tentu saja.


“ Kanker Bu Diana yang awalnya terdeteksi di stadium 3B itu sekarang sudah berkembang menjadi stadium 4. Penyebarannya sudah sampai saluran kencing dan ginjal. " Jelas Dokter Seno terus terang.


“ Lakukan pengobatan terbaik dok, jika perlu rekomendasikan untuk rumah sakit atau dokter terbaik di luar negeri saya tidak masalah. "


“ Baiklah dok lakukan yang terbaik yang dokter Bisa " Jawab Bian dengan pasrah.


Bian berjalan gontai hingga ke area parkir, lututnya terasa lemas jika harus jujur ingin rasanya Bian menangisi takdir. Hanya Diana yang Bian miliki, belum genap setahun mereka berkumpul kembali, sudah banyak tragedi terjadi.


“ Sabar Bi, kita harus support Mami .. " Ucap Alvin yang tengah berada di balik kemudi.


“ Gue mau balik aja Vin, gue udah gak fokus buat kerja " Pinta Bian.


Mereka sampai di depan garasi rumah, Bian turun lalu berlari menuju Diana yang ternyata sedang terlelap di kamarnya. Akhirnya Bian mengurungkan niat untuk menemui Diana dan malah bertemu dengan Renata.


“ Re .. Mami tidur ? " Tanya Bian.


“ Tidur sejak pulang Mami bilang badannya lemes gak ada tenaga. "

__ADS_1


“ Ya Tuhan .. "


Ini kali pertama Renata menatap iba pria di hadapannya. Pria yang biasanya begitu angkuh itu sekarang seperti macan yang kehilangan taringnya, menunduk dengan genangan air mata yang mulai membasahi celana bahan berwarna abu itu.


“ Mas, Bu Diana butuh kamu kuat. Bertahan ya kita sama sama bertahan buat Bu Diana. " Ucap Renata simpati sambil menepuk pundak Bian.


“ Salah kita Mami jadi gini. Andai kamu tidak menghilang dan andai saya mencari kamu lebih cepat mungkin Mami akan lebih cepat juga dapat pengobatan. " Sesal Bian.


“ Maaf mas .. " Untuk hal ini Renata pun menyadarinya. Tapi bukankah ini keinginan Bian ? Jadi kembali akar permasalahannya adalah sikap angkuh yang di miliki seorang Bian Aditya Mahesa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Diana sudah terjaga dari tidur lelapnya. Mungkin ada pengaruh dari obat yang di minumnya juga. Diana memanggil Renata untuk menemui nya sendiri di kamar.


“ Kenapa Bu ? " Tanya Renata begitu dia duduk di samping ranjang.


“ Mami mimpi ketemu papi Re .. Tapi di mimpi kami sama sama masih muda. Indah sekali " Renata berusaha mendengarkan cerita Diana dengan tegar hati.


“ Papi datang pake jas hitam, Mami pake gaun pengantin putih bersih. Entah kenapa Mami jadi inget Bian. Mami rasanya pengen lihat dulu Bian di posisi itu, pasti bakal mirip Papi nya "


“ Melihat mas Bian nikah maksud Ibu ? "


“ Iya Re, selama ini Mami bahkan tak pernah melihat Bian bersama wanita. Jujur waktu lihat Bian sama kamu di dapur itu, Mami kaget tapi seneng saat tau itu kamu. "


“ Ah itu, Ibu jangan salah paham kami gak ngelakuin apapun ko itu mas Bian kaget pas Rere ngejerit " Jelas Renata meluruskan.


“ Mami tau Re, tapi Re andai Mami minta sesuatu sama kamu apa kamu mau kabulin permintaan Mami ? " Hening ..


“ Permintaan terakhir " Lanjut Diana.


Renata tak menjawab hanya mengangguk pelan memberikan kesempatan pada Diana untuk mengutarakan keinginan nya.

__ADS_1


__ADS_2