Suami Bayangan

Suami Bayangan
Dibalik Dendam


__ADS_3

Hari dimana kunjungan Bian ke kampus pun tiba, sejak pagi buta seluruh pengurus BEM sudah tiba untuk mempersiapkan segalanya hingga sempurna.


" Re bisa Lo di depan ? Buat sambut Pak Bian dan antar Pak Bian ke aula ? Soalnya Nisa sakit Re " Pinta Dirly yang berinisiatif untuk menggantikan posisi Nisa.


" Gak bisa ! " Jawab Renata dengan sedikit berteriak hingga menjadi pusat perhatian orang orang di sekitarnya.


" Gue gak bisa .. " Lanjut Renata berbisik.


" Kenapa ? "


Renata menggelengkan kepalanya, Dirly duga mereka memang memiliki masalah pribadi sebelumnya. Dirly pun tak memaksa, dengan pasrah Dirly mengganti dengan yang lain. Niat nya Dirly ingin Renata lebih banyak pengalaman, namun apa daya jika Renata keberatan.


Bian sampai di depan kampus, di sambut oleh ketua yayasan dan yang lainnya. Renata hanya sembunyi sembunyi di aula berharap Bian tidak akan menemukannya.


Bian melenggang masuk ke aula dengan gagahnya, setiap mata tertuju pada sosok muda, tampan, berkharisma dan misterius itu. Tidak banyak yang tau tentang kepribadian Bian. Mereka hanya tau Bian termasuk salah satu pengusaha sukses karena berkatnya Mahesa Group bisa mengepakkan sayap dan berhasil survive dari kebangkrutan.


" Selamat pagi Pak Bian, selamat datang di kampus kami. Silahkan duduk " Dirly mempersilahkan Bian untuk duduk di kursi VIP.


" Terimakasih, sepertinya kita pernah bertemu. Hmm di restaurant tempo hari ya saya pernah melihat mu waktu itu. " Ucap Bian yakin.


" Ah iya maaf saya tidak tau itu anda. Saya tidak sempat menyapa. "


" Tidak apa, silahkan lanjutkan lagi kegiatan anda " Titah Bian ramah.


Bian mengedarkan pandangannya, satu tujuannya mengadakan kunjungan ini adalah melihat istrinya. Namun sayangnya Renata tak menampakkan wajahnya sama sekali membuat Bian geram. Bian kini tau, lelaki yang membopong Renata tempo hari adalah Dirly, tuan muda pemilik perusahaan konveksi yang akan segera meneruskan tahta orangtuanya. Lelaki yang memang belum seberapa di banding Bian, namun dapat menyaingi Bian jika terus di biarkan.


" Dimana Renata ? " Tanya Bian pada Alvin yang duduk di sampingnya.


" Lo suaminya, kenapa tanya gue ? "


" Haha .. "

__ADS_1


" Perlu gue suruh orang buat nyari dia ? "


" Gak usah .. Gue yakin sebentar lagi dia bakal muncul. "


Tak lama menunggu benar saja Renata yang harus membantu menyajikan makanan ringan untuk para VIP pun datang. Awalnya Renata enggan namin itu sudah menjadi tugasnya sejak awal, Renata khawatir Dirly dianggap tidak adil.


" Silahkan Pak Bian Pak Alvin .. " Ucap Renata dengan senyum yang di paksa.


" Renata .. Mau kemana kamu lari dari saya hmm ? "


" Kita bicarakan urusan pribadi di tempat lain, silahkan selesaikan pekerjaan anda " Ucap Renata dingin dengan sedikit berbisik.


" Baiklah, saya pegang janji mu. Jika kamu berbohong, saya akan mengumumkan tentang status kita " Bian tersenyum smirk.


Beberapa saat kemudian acara di jeda untuk memberikan waktu isoman. Renata sudah berada di rooftop kampus yang cenderung sepi. Bian dari belakangnya lantas langsung mendekap tubuh Renata.


" Mas ! " Renata memekik.


" Lepasin mas jangan gila ini di kampus. "


" Kampus ini dan kamu, semuanya milikku. Apa salahnya ? "


" Salah ! Semua tentang kita sudah salah sejak awal mas .. " Renata berbalik menghadap Bian lalu mendorongnya.


" Apa mau mu mas ? Aku meminta cerai kamu menolak. Kamu egois mas " Lanjut Renata dengan auara bergetar


" Renata .. Di hadapan Mami kamu yang bersedia untuk menjadi istri saya. Kenapa menyalahkan saya ? Apa karena saya mengambil kesucian mu Re " Bian tersenyum meremehkan lalu menyentuh sudut bibir Renata.


" Kamu tau ? Saya di luar negeri punya kekasih jauh sebelum menikah denganmu. Dua bulan yang lalu dia kembali ke Indonesia karena telah menyelesaikan study nya. Saya mencintainya Re, tapi .. Di lain sisi saya juga sudah punya kamu " Ucap Bian yang kemudian menggenggam tangan Renata lalu memainkan cincin di jari manis Renata.


" Dia tau pernikahan kita. Dia meminta saya menceraikan mu. Tapi saya tidak bisa, sebelum mami pergi saya sudah berjanji tidak akan menceraikan mu. Dan kamu tau harapan Mami pada pernikahan bodoh kita terlalu jauh. "

__ADS_1


" Maksudmu ? " Renata sulit mencerna tiap kata yang Bian ucapkan.


" Mami mewariskan seluruh asetnya dengan satu syarat yaitu saya harus mendapatkan keturunan. Jika tidak, maka seluruh asetnya akan di hibahkan " Bian lalu berubah tertawa getir.


" Semua terjadi karena kamu Re ! Andai kamu tidak menyanggupi permintaan mami, semua ini tak akan terjadi. Biarlah mami meninggal apa adanya. Tapi kamu malah ikut membuat drama panjang. Siapa kamu hingga membuat Mami mempertaruhkan hidup saya ? " Kini Bian mencengkram kuat rahang Renata.


" Selesaikan apa yang kamu buat ! Jika kamu pergi, maka lebih baik kamu mati saja Renata. Karena sejauh mana pun kamu berlari, saya akan menemukan mu dan membuat mu menderita hingga lebih menginginkan kematian. " Bian mendorong wajah Renata kesamping, saking kuatnya hingga Renata ikut terjatuh.


" Ingat itu, mati atau lahirkan seorang anak untuk saya ! " Bian menunduk lalu menunjuk nunjuk di kening Bian.


Demi Tuhan Renata tak tau harus berbicara apa, niatnya untuk menolong malah berbuah malapetaka panjang. Seingat Renata Bian pun tak pernah main main dengan kata kata nya. Renata kini mengerti mengapa di pertemuan kali ini, sorot mata Bian nampak menyimpan banyak amarah. Dirinya lah salah satu penyebabnya. Renata hanya bisa terisak, sampai tak lama hujan deras jatuh menghujami tubuhnya.


Sudah dua jam Renata tidak berniat bangkit, kata kata Bian yang memaksanya untuk memilih kematian atau melahirkan seorang anak membuat Renata tak memiliki lagi tenaga.


" Re kenapa disini ? Hujan ! Acara juga udah mau selesai. " Dirly datang dengan payun di tangannya, nampak khawatir melihat keadaan Renata.


" Pergi kak gue gak butuh Lo .. " Renata mendorong Dirly dan berlari menuju tangga dalam keadaan tubuh yang basah kuyup.


Karena terlalu lama terkena air hujan dan dalam keadaan basah, Renata terpeleset tepat di anak tangga lantai terakhir.


Brrruukk .. Renata jatuh, keningnya mengeluarkan darah segar. Para mahasiswa terdengar berteriak histeris. Seketika acara di hentikan untuk melihat keadaan. Bian dan Alvin pun bangkit dan ikut tercengang melihat Renata.


" Jangan di angkat ! Segera panggil medis, kita gak tau dia cedera atau enggak. " Ucap Bian saat Dirly hendak mengangkat tubuh Renata.


Bian mengambil alih, dengan cepat menekan luka yang terus mengeluarkan darah. Bian tidak merubah posisi Renata hingga akhirnya medis datang.


" Kamu benar benar memilih mati Renata ! " Gumam Bian yang masih terdengar Alvin yang berada di sampingnya.


" Maksud Lo apa Bi ? "


" Ck .. Nanti gue jelasin di rumah sakit. Gue ikut ambulans. Lo nyusul " Titah Bian.

__ADS_1


__ADS_2