
Liana akhirnya memutuskan untuk pergi tidur. Sedangkan Joko masih duduk di sofa sembari ia menikmati secangkir kopinya.
“ mas, aku tidur dulu ya,”kata Liana sembari ia beranjak dari duduknya.
“iya dek, nanti mas tidur di sini saja ya,” kaya Joko sembari menyeruput kembali kopinya.
“Mas, nggak tidur di sini?” tanya Liana sembari menggoda.
“jangan. Nanti ketagihan,”joki langsung terkekeh.
Tak berapa lama kemudian Liana sudah terbuai di alam mimpi. Joko hanya tersenyum melihat sang kekasih hati sudah terlelap. Ia kini bersiap untuk merebahkan diri di sofa.
Pagi harinya, saat Liana bangun, ia langsung beranjak ke kamar mandi. Ia memutuskan mandi lebih dulu, karena nanti akan ada sidang pertama pukul sepuluh. Selesai mandi, Liana pun berjalan ke arah dapur. Ia membuat coklat panas dan kopi panas untuk sang kekasih.
Setelah selesai, ia langsung meletakkannya di atas meja di ruang tamu. Liana menggoyangkan tubuh Joko agar ia terbangun. Mas, ini sudah siang. Kopinya mas,” kata Liana sembari ia menyeruput coklat panasnya.
“hem, sudah siang ya dek?” tanya Joko sembari mengusap kedua matanya.
“iya mas,” kata Liana lagi.
“kamu sudah rapi aja dek?” tanya Joko.
“Iya dong, nanti sidang pertama aku, mas.”liana mencoba mengingatkan Joko.
“oh iya, mas lupa. Bentar, mas mau mandi dulu,” kata Joko sembari ia beranjak dari sofa.
Saat Joko mandi, Liana beranjak ke dapur. Ia membuat sarapan roti selai, setelah siap, ia pun menatanya di piring. Dan meletakkan di atas meja makan. Tak berapa lama, Joko selesai mandi, ia sudah berpakaian sangat rapi.
Joko menghampiri Liana yang sedang duduk di meja makan sembari menikmati coklat panasnya.
“Sarapan dulu, mas,” kata Liana sembari menyodorkan sepiring roti yang sudah di isi selai di tengahnya.
“Terima kasih sayang,”ucap Joko.
Mereka langsung sarapan dengan lahapnya. Dan Liana tak hentinya semakin mengagumi sosok pria yang ada di depannya saat ini. Selesai sarapan, mereka tak langsung turun. Liana dan Joko duduk sejenak di balkon. Sedangkan di bawah aktifitas memasak sudah di mulai sedari tadi. Mereka ada kunci cadangan, jadi Liana tak perlu susah membukakan mereka pintu.
“dek, misalnya nanti setelah kita nikah, kita hidup di Bali, bagaimana?” tanya Joko.
“Aku sich, ikut mas aja bagaimana. Kalau mas mau kita di Bali, ya nggak apa-apa. Aku nggak keberatan,”kata Liana dengan tenang.
“Kalau setelah nikah di sini?” tanya Joko lagi.
“Kalau di sini? Menutut aku, lebih baik kita tinggal sama mama timbang di sini. Kalau sama mama kita bisa saling hibur. Jadi mama nggak akan kesepian,”ucap Liana.
“oke deh. Nanti kita beli rumah baru lagi, yang dekat sama kedai, dekat juga sama mama,” terang Joko
“Nggak usah mas. Mending uangnya di tabung,”kata Liana.
“dek, ini sudah jam sembilan. Kita akan berangkat jam berapa?” tanya Joko.
“Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang aja. Sepertinya memang sudah waktunya kita berangkat,” kata Liana.
Mereka berdua kini mengayunkan kaki keluar rumah. Keduanya berjalan beriringan. Sesampainya di kedai, Liana melihat pak Ridwan dan istrinya tenggah mempersiapkan dagangan Untuk kedai.
“ Pak Ridwan, Liana sama mas Joko pergi dulu. Jangan lupa doain aku ya. Semoga sidangnya lancar. Dan nggak bertele-tele,” kata Liana.
“Mbak Liana mau sidang apa?” tanya Bu Ridwan.
__ADS_1
“Saya mua bercerai dengan Danu,” terang Liana.
“oh iya. Lupa. Semoga semuanya lancar ya mbak,” harap pak Ridwan.
Liana dan Joko tersenyum kemudian mereka kembali berpamitan.
“Kalau begitu, saya pergi dulu ya pak, Bu,” kata Liana.
“Iya mbak. Hati-hati,” kata pak Ridwan dan istrinya bersamaan.
Liana dan Joko kini memasuki mobil, dan mereka kini langsung membelah kemacetan di jalanan pagi hari. Liana merasa sangat gugup. Dan Joko menyadari kegugupan Liana, Joko langsung menggenggam tangan Liana dan tersenyum.
“Sabar Li, tenang. Semua akan baik-baik saja. Dan tadi pengacara telpon aku. Katanya sudah di pengadilan. Dan sepertinya hanya butuh satu kali sidang. Karena memang bukti-bukti perselingkuhannya sudah kuat,” kata Joko.
“aamin semoga ya mas,” kata Liana.
Sesampainya di pengadilan, di sana sudah tampak Danu, Vivi, serta Ira. Semenjak turun dari mobil, Joko selalu menggandeng tangan Liana. Tak jauh dari tempat Liana, ada Yanu, Clarisa dan Lina yang baru keluar dari mobil. Yanu dan Clarisa tampak bergandengan tangan dengan sangat mesranya.
Sementara Liana sekilas melihat kemesraan mereka, Liana mencoba menepis perasaan yang ada di hatinya. Ia harus fokus dengan sidangnya hari ini. Setelah sampai di depan ruang persidangan, Liana dan Joko pun menyalahi ketiganya bergantian.
“Mbak Liana, terima kasih ya,” kata Vivi
“Sorry Vi, aku melakukan ini semua juga demi diriku. Aku memang sejak awal memang sangat ingin berpisah dengan Danu,” kata Liana sembari ia mengayunkan kaki mendekati Joko yang berada tak jauh dari mereka.
Kini Yanu dan Clarisa yang tampak mendekat. Clarisa dengan canggung cipika cipiki dengn Liana. Namun Liana menyambutny dengan hangat.
“Cla, kayaknya bentar lagi ada yang mau merried nih,”goda Liana.
“alhamdulilah. Kami memang sudah memutuskan untuk rujuk,Li. Terima kasih,” kata Clarisa.
“Terima kasih sudah membukakan mata Yanu,”kata Clarisa.
“Memangnya kemarin dia nutup mata?”kata Liana sembari tertawa.
Begitu pun dengan Joko dan Yanu. Mereka tampak asyik ngobrol. Seperti tak ada kecanggungan di antara keduanya. Tak lama kemudian nama Danu dan Liana di panggil memasuki ruang sidang.
Dan setelah membeberkan semua bukti perselingkuhan dan pernikahan yang di lakukan Danu tanpa sepengetahuan istri pertama, maka dengan mudah hakim memutuskan kalau mereka sudah resmi bercerai. Sedangkan untuk harta Gono gini, Liana tak pernah mengungkitnya. Mau di kasih sukur, nggak di kasih ya biar. Begitu prinsip Liana.
Persidangan berjalan dengan lancar. Bahkan bulan depan akta cerai sudah bisa keluar. Kini persidangan pun selesai. Semua memutuskan untuk kembali ke rumah. Saat Liana ingin meninggalkan ruang sidang, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Ira. Liana hanya tersenyum.
“ada apa?” tanya Liana.
“maafkan aku. Karena aku rumah tangga kalian hancur,”kata Ira sembari tertunduk.
“tak masalah, aku pun nggak ada dendam sama ibu Ira yang terhormat,”kata Liana sembari ia meninggalkan ruang sidang.
Sebenarnya, iralah yang paling terluka di sini. Karena dialah yang menyebabkan semua ini. Dan kini Ira pun merasakan yang namanya menjadi istri dari suami yang tidak hanya memiliki satu wanita di hidupnya.
Sesampainya di parkiran, Liana melihat Joko masih asik ngobrol dengan Yanu. Liana pun akhirnya menghampirinya.
“Mas, kamu selingkuh dengan Yanu?”tanya Liana sembari tertawa
“enak saja. Oh iya Li, lusa aku akan menikah kembali dengan Clarisa,”kata Yanu.
“wah, selamat ya. Semoga kalian langgeng,”kata Liana sembari tersenyum. Padahal di dalam hatinya, ia menahan perih yang mendalam.
“jangan lupa, nanti kalian datang ya,” kata Yanu
__ADS_1
“pasti. Kami pasti akan datang,” kata Joko sembari memeluk Liana.
“ya sudah, kami pamit dulu ya,”kata Liana sembari melambaikan tangan ke arah Yanu. Dan begitu pun sebaliknya. Yanu melambaikan tangannya ke arah Joko dan Liana. Keduanya langsung masuk mobil, dan mereka berpisah.
Sepanjang perjalanan pulang, Liana tak henti-hentinya menggenggam tangan Joko. Sedangkan Joko hanya bisa tersenyum melihat tingkah Liana.
“kenapa?” tanya joko.
“Terima kasih ya mas, sudah selalu ada buat aku,” kata Liana
“selalu sayang,” kata Joko.
“kita mau mampir beli makan atau mau aku masakin?”tanya Liana.
“Kalau sayang nggak capek, kita masak aja ya,” kata Joko sembari mengecup punggung telapak tangan Liana.
“oke, nanti aku masakin,” kata Liana.
Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di rumah. Keadaan kedai sedang sangat ramai, bahkan pak Rahmad dan istrinya tengah kuwalahan.
“mas, aku bantu mereka dulu ya. Mas jeck ke atas aja dulu,” kata Liana sembari menghampiri Bu Rahmad.
Sedangkan Joko bukannya ke atas, ia malah turut serta membantu Liana menangani kedai yang sedang ramai.
“bu, apa yang bisa aku bantu?”tanya Liana.
“Mbak pegang kasir aja. Kalau ini sich sudah kehendak,” kata Bu Rahmad.
“Oke.” Sedangkan pak Rahmad tengah mengantarkan Beberapa pesanan.
“Buk, ada yang bisa saya bantu?” tanya Joko pada Bu Rahmad,
“Boleh mas. Mas antar menu yang ada di nampan itu sudah ada nomer mejanya. Biar habis ini bapak yang buat minumannya,” kata Bu Rahmad.
Tak selang lama, semuanya sudah berjalan normal. Sedangkan Santi, hari ini nggak masuk kerja karena sedang sakit. Untuk cafe yang di lantai atas, sekarang sudah di sewakan oleh Liana. Karena takut nggak ada yang hendl. Kini mereka bisa duduk dengan sedikit tenang.
“buk, tiap hari seperti ini?” tanya Liana.
“alhamdulilah mbak,” jawab Bu Rahmad
“Buk, bagaimana kalau kita tambah pegawai?”tanya Liana.
“Mbak, jangan lah. Nanti kalau tambah orang baru, takutnya nggak tau jujur atau nggak. Nanti malah mbak yang rugi,” kata Bu Rahmad.
“Tapi jujur, aku kasihan sama bapak dan ibu kalau pas kuwalahan sepeetti tadi,” kata Liana penuh iba.
“Gini saja. Karyawannya bapak dan ibu aja yang cari. Yang menurut kalian jujur,”kata Joko menengahi.
“iya pak, buk. Jadi nanti ibu yang di kasir, bapak di olahan menu nanti karyawan baru di pengantaran,”kata Liana dengan antusias .
“Baiklah, kalau itu mau kalian. Kami akan cari secepatnya. Tapi kami tetap akan seleksi lebih dulu,” kata Bu Rahmad.
“terima kasih,”jawab Liana.
Karena Kondisi cafe sudah kondusif, Liana dan Joko kembali ke lantai atas. Mereka sedang merasakan badannya sungguh capek sekali.
__ADS_1