
Danu hanya bisa memandang dari kejauhan dengan perasaan yang sudah tak bisa lagi ia gambarkan. Kepedihan dan penyesalan yang nyata ia rasakan. Danu kini hanya cisa menyesali apa yang telah ia lakukan dulu kepad istrinya. Andai saja ia tak ambisi pada kariernya tentu Liana akan dengan mudah bisa hamil. Dan sekarang tentu mereka bahagia hidup bersama dengan Liana dan keluarga kecilnya. Dan tentu sang ibu tak akan menikahka dia dengan wanita lain.
Tanpa terasa air mata Danu sudah meleleh di pipi. Kehidupan rumah tangga yang lianarasakan harusnya bersama dengan dirinya. Namun nyatanya takdir berkata lain.
Vivi tiba-tiba muncul dari balik pintu, ia melihat sang suami tengah memandang lurus ke depan dengan pandangan sendu. Dalam hati kecilnya tentu ia merasa sakit,ia yang kini mendampingi perjalan hidupnya ternyata di daam hati Danu masih ada wanita lain yang selalu ia cintai dengan tulus.Vivi hanya bisa bersabar dan menunggu keajaiban.
" Mas, sudah malam. Apa kamu belum mau istirahat?" tanya Vivi sembari mengusap punggung sang suami. Danu hanya memandanbgnya sekilas dan tersenyum. Danu dengan tergesa ia langsung menusap air matanya.
" Nggak usah di usap, biar aku yang menghapus air matamu,Mas. aku akan dengan senang hati selalu menghapus air mata yang kamu keluarkan. Dan aku akan berusaha menggobati uka yang ada di dalam sini," kata Vivi sembari ia mengusap air mata Danu yang masih membekas di pipinya dan ia pun menunjuk dada Danu dengan sangat lembut walau pun ia tahu hatinya saat ini tengah hancur.
" Maafkan aku, Vi. Aku belum bisa mencintaimu seutuhnya. Aku sedang mencoba untuk mencintaimu dan mencintai Adam," kata Danu sembari berbalik memandang Vivi dengan tatapan sendu.
" Aku dan Adam nggak akan kemana-mana mas, kami akan tetap berada di sampingmu bagaimana pun keadaanmu mas," kata Vivi sembari ia memeluk sang suami dengan penuh kehangatan dan dengan tulus.
__ADS_1
Danu pun membalas pelukan yang Vivi berikan, dalam hati Danu merasa sangat bersyukur memiliki istri yang sangat pengertian da sabar. Danu memang perlahan sudah menerima Vivi sebagai istrinya.
" Sudah, ayo kita masuk. Malam semakin dingin," kata Vivi.
" Baiklah," kata Danu,ia berjalan masuk rumah dan mengandeng sang istri. Sesampainya di dalam kamar dan setelah mereka membersihkan kaki dan tangan, mereka pun kini duduk di ranjang. Vivi tersenyum menyambut sang suami.
" Dek, maafkan aku ya. Dan terima kasih kamu sudah mau menunggu," kata Danu sembari memeluk sang istri.
Vivi pun membenamkan wajahnya di dada sang suami. Dalam hati ia merasa bahagia. Ia seperti mendapatkan kehangatan dari sang suami. Ia yakin dan percaya kalau lambat laun memang hati Danu akan luluh dan bisa menerima dirinya dengan seutuhnya. Malam itu mereka beristirahat dengan berpelukan.
" Yan, maaf ya. Karena menikahiku kamu jadi menjauh dari cinta pertamamu," kata Clarisa.
" Ini semua memang sudah menjadi jalannya. Sudah menjadi takdirnya, aku pun melakukan ini semua karena Liana. Aku hanya ingin melihat Liana bahagia," kata Yanu.
__ADS_1
" Aku tau, cintamu dengan liana memang sangat besar. Dan betapa beruntungnya Liana di cintai dengan pria yang sangat baik seperti kamu dan Joko," kata Clarisa sembari ia mengusap pipinya yang sudah di basahi dengan air mata.
"Aku yang beruntung bisa mencintai Liana," kata Yanu.
" Walau pun tak terbalas?" tanya Clarisa.
" Dulu, aku dan liana saling mencintai. Hanya saja kalah cepet sama Danu. Dan kemarin Liana pun mengetahui cintaku padanya, dan kami pernah berkomitmen untuk melanjutkan ke jenjang yang lebi serius. Namun mama tak sabar menunggu proses perceraian Liana dan mama meminta Kami untuk menyudahi hubungan itu, dan kini Liana telah bersama dengan cintanya yang lain," kata Yanu sembari ia memandang kosong ke depan.
" Apa kamu tetap akan menunggunya?" tanya Clarisa.
" Aku beusaha melupakan semampuku. seandainya aku tak bisa melupakan, berarti aku harus tetap menunggunya," kata Yanu dengan senyum getir.
Clarisa hanya tersenyum tipis, karena ia tahu dan ia sadar taka akan ada celah baginya untuk masuk ke dalam hati Yanu.Sedangkan di balik pintu, Lina mendengar pembicaraan mereka. Seketika ia pun terkejut, karena ternyata setelah menikah dengan Clarisa pun Yanu masih belum bisa melupakan Liana.
__ADS_1
Sungguh ia merutuki kebodohannya dulu yang telah memisahkan putranya dengan cinta pertama dan cinta sejatinya. Namun kini ia hanya bisa meratapi dan merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi kepada putranya.