Suami Bayangan

Suami Bayangan
Joko cemburu


__ADS_3

Saat perjalanan pulang, Liana minta mampir di toko buah karena memang persediaan buah di kulkas sudah habis. Joko turun dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk dan ia kini berjalan beriringan sembari mengadeng tangan Liana.


Liana tampak memilih beberapa buah yang tampak masih segar, setelah selesai belanja Joko pun membayarnya di kasir. Saat mereka sampai di parkiran tanpa sengaja mereka bertemu dengan Yanu dan Clarisa. Yanu tampak salah  tinggah sedangkan Clarisa tampak bahagia.


" Hay, Liana. Kalian apa kabar?"tanya Claris akepada Liana semabari cipika cipiki sedangkan Joko dan Yanu tampak bersalaman.


" Bagaimana kabarnya?"tanya Joko.


" Aku baik, kalian sendiri bagaimana? Sepertinya kalian sedang bahagia? Nggak nyangka akan ketemu di sini, tadi aku lihat di ig storynya Liana kalau dia sedang hamil ya? Selamat," kata Yanu sembari tersenyum. Namun senyum itu tampak menyimpan kepedihan.


" Iya, alhamdulilah. Allah segera mempercayakan baby kepada kami. Dan kalian pun sedang berbahagia juga bukan?" tanya Joko ketika ia melihat perut Clarisa memang sudah tak rata lagi.


" Hai yanu, kamu apa kabar? Kenapa sekarang nggak ernah main ke kedai lagi?" tanya Liana saat melihat ada Yanu di samping Clarisa. Liana langsung memeluk Yanu tanpa memiliki perasaan canggung lagi, Liana lupa kalau saat ini mereka harus menjaga perasaan dari pasangan mereka masing-masing.


Yanu seketika gugup mendapat pelukan dari wanita yang selalu ada di hatinya itu. Bahkan kini detak jantungnya masih sangat kencang, sama seperti dulu saat mereka menghabiskan hari-hari bersama.


" Aku baik li, Maaf tak pantas lagi kamu seperti ini," kata Yanu sembari melepaskan tangan Liana dari tubuhnya. Liana hanya bisa menatapheran kepada Yanu. Liana masih belum sadar kalau ia bisa menyakiti Joko dengan apa yang ia lakukan itu.


Tetapi Joko tidak terbakar api cemburu ia malah tertawa melihat tingkah sang istri da ia berniat menggoda istrinya.


" Sayang, kalau kamu peluk Yanu berarti aku boleh peluk Clarisa ya?" tanya Joko dengan tertawa.


" Mas Jack berani?" tanya Liana sembarimenahan tawa.


Sontak Joko langsung menggelengkan kepala sembari ia tertawa dan langsung memeluk sang istri.

__ADS_1


" Mana mas berani?" kata Joko dengan tertawa.


" Ya sudah ayo kita pulang sekarang mas, Yanu, Clarisa kami pulang dulu ya, sampai bertemu di lain waktu," kata Liana sembari melambaikan tangan ke arah keduanya. Sedangkan keduanya membalas lambaian tangan dari Liana.


Sedangkan Liana dan Joko berbalik menuju mobilnya. Joko membukakan pintu untuk sang istri dan setelahnya ia meletakkan belanjaannya di bagian belakang. Kemudian ia langsung berbalik dan kini ia berada di balik kemudi dan siap untuk mengemudikannya kembali.


" Sayang, kamu seneng ya ketemu sama Yanu?" tanya Joko.


" Iya mas, mas tau nggak? Yanu itu dulunya nggak seperti itu. Dia itu dulu rambutnya belah tengah dan sangat klimis, mana pakai kaca mata tebal, sudah gitu baju itu selalu di kancing di bagian atasnya, culunkan?" tanya Liana dengan semangat menceritakan tentang Yanu.


" Memangnya sejak kapan sayang kenal Yanu?" tanya Joko.


" Dulu itu kami satu angkatan, mas. Aku, Yanu dan Danu. Dulu aku juga nggak sepert sekarang ini. Dulu aku jatuh cinta dengan Yanu saat ia mngambilkanku buku di perpustakaan karena aku sangat pendek, Dan setelah itu ia berubah menjadi cowok gaul karena ia mencintaiku. Padahal tanpa dia berubah pun aku sudah mencintainya waktu itu. Tapi karena dia selalu gugup dan takut makanya keduluan sama Danu. Dan dia memilih mundur," cerita Liana dengan semangat, ia tak menyadari kalau hal itu sungguh telah melukai Joko. Namun Joko masih tetap saja berusaha tersenyum.


" Aku menjadi iri dengan Yanu," gumam Joko.


" Karena Yanu adalah cinta pertamamu, aku sangat ngin menjadi cinta pertamamu walau pun itutak mungkin," kata Joko dengan mata berkabut.


Liana menyadariperubahan expresi pada suaminya. Ia langsung memeluk lengan Joko dan mengusap dada joko dengan lembut.


" Yang pasti mas Jack adalah cinta terahirku. Tak akan ada lagi cinta setelah cintamu," kata Liana  sembari mencium pipi sang suami.


" Kita sudah sampai, sayang. Turun yuk," kata joko sembari melepas sabuk pengamannya. Liana maerasa tak enak dengan suaminya. harusnya ia berhenti memujipria lain di depan sang suami.


Liana turun tanpa menunggu jok membukakan pintu, dan ia langsung mengambil barang belanjaan di bangku belakang. Ia langungmasuk kedaam kedai dan langsung naik ke lantai atas. Joko hanya biam melihat tingkah istrinya.

__ADS_1


" Siapa yang berulah, siapa yang cemburu, siapa pula yang marah. Aneh," gumamnya.


Sesampainya di lantai atas Liana  langsung mencuci buah yng baru ia beli. Dan setelahnya di masukkan kedalam kulkas. Joko mengamati semua gerak gerik yang istri ya lakukan penuh dengan kekesalan dan seperti menyimpan amarah. Kini Liana duduk di balkon sembari ia makan apel yang tanpa ia potong-potong. Liana duduk sembari memandang lurus ke depan.


Joko tak bisa mendiamkan istrinya terlalu lama, ia langsung menghampiri Liana dan memeluknya.


" Kamu ngambek?" tanya joko dan Liana diam tak menjawab.


" Sayang, aku sedikit cemburu tadi saat kamu mennceritakan tentang Yanu. harusnyakan aku yang ngambek, kenapa sekarang jadi kamu yang ngambek?" tanya Joko sembari mengusap pipi sang istri


" Habisnya, kesannya mas nggak percaya kalau mas itu cinta terahirku!" kata Liana masih dengan merajuk.


Joko gemes di buatnya. langsung saja Joko mencium bibir Liana yang masih asik mengunyah apel. Sedangkan Liana yang terkejut mendapat ciuman mendadak akhirnya menikmati juga. Dalam hati ia merasa bahagia ketika sang suami tengah cemburu. Joko meleps ciumannya, dan ia tersenyum melihat Liana tersipu malu.


" Sudah ya, jangan ngambek lagi. Mas nggak bisa kalau Liana diemin," kata Joko.


" Oke, maaf mas. alau begitu jangan kita bahas masa lalu dengan pasangan kita," kata Liana.


" Oke, sini peluk dulu," kaya Joko sembari melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Liana. Liana kini berada dalam pelukan sang suami sembari menikmati udara sore bercampur gerimis dan angin yang semilir.


" Hawanya dingin mas," kata liana.


" Terus kenapa kalau dingin?" tanya Joko.


" Ya enaknya di peluk," kata Liana semari tertawa.

__ADS_1


" Makanya jangan ngambek, kalau ngambek nggak aku peluk," kata Joko.


Dan keduanya kini tertawa. Liana sedikit mendongakkan kepala, dan Joko siudah paham apa maksutnya, Ia  langsung kembali mencium bibir Liana lebih dalam lagi, sedangkan kini kepala Liana sudah bertumpu di pangkuan Joko. Keduanya sudah tertutup kabut asmara, sampai mereka tak menyadari kalau di sisi balkon yang lain ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan pandangan sendu dan penuh penyesalan. Siapa lagi kalau bukan Danu.


__ADS_2