
“ Katanya benci tapi bobok sama ayang, mana abis di unboxing lagi " Sindir Anya yang menatap Renata dari ujung kaki sampai kepala.
“ Gue udah nolak Nya. Sakit yang kemaren aja belum sembuh, udah di tambah lagi .. " Renata mengambil handuk hendak ke kamar mandi.
“ Tapi ? Keenakan ? "
“ Enggak gitu, udah ah gue mau mandi junub dulu haha " Renata kini benar benar masuk ke kamar mandi menuntaskan rutinitas baru nya. Rutinitas nya yang akan selalu mandi jika habis dari kamar Bian.
Renata meringis kala membersihkan bagian intinya, terasa licin berlendir akibat semburan benih yang Bian keluar kan di dalam miliknya. Ketika itu Renata baru sadar setelah dua kali percintaan mereka, Bian tidak memakai pengaman begitupun Renata yang tidak meminum obat kontrasepsi.
Renata keluar dari kamar mandi dan berpakaian, dengan riasan tipis Renata pun menuju ruang tenga hendak meminta Alvin mengantarnya ke apotek terdekat karena Renata belum begitu hafal jalanan ibu kota.
“ Kamu mau kemana ? " Tanya Bian yang menuruni anak tangga.
“ Mau ke apotek mas, mau minta anter mas Alvin tapi gak ada. "
“ Kenapa Alvin ? Dia suami kamu ? " Tanya Bian sinis.
“ Mas kenapa sih ? Cemburu ? "
Seketika Bian tertawa lepas mendengar kata cemburu yang Renata lontarkan. Terlalu dini untuk Bian merasa cemburu dan lagi, mungkin Alvin seringkali bersitegang dengan Bian namun Bian yakin Alvin tak akan mengkhianati nya sejauh itu.
“ Ayo sama saya .. " Ajak Bian yang langsung mengeluarkan kunci mobilnya dari laci nakas.
Renata tak menjawab, hanya mengikut kemana Bian melangkah. Bian memasuki mobil berawarna hitam legam itu.
Dark, seperti hidupnya
“ Mau naik atau enggak ? " Tanya Bian karena Renata hanya melamun di depan mobilnya.
“ Bentar dong sabar "
Bian melajukan mobilnya setelah Renata masuk dan mengenakan safety belt. Awalnya mereka hanya diam, namun Bian membuka suara dengan ragu.
“ Hmm .. Kamu mau ngapain ke apotek ? "
“ Mau beli obat mas "
“ Iya saya tau, ke apotek itu beli obat gak mungkin beli sepatu. Maksudnya rinci obat itu obat apa ? "
“ Oh itu .. Hmm " Renata ragu menjawab pertanyaan Bian.
“ Apa ? "
__ADS_1
“ Mau beli pil kb mas. " Jawab Renata jujur.
“ Oh .. Kenapa ? Kamu takut hamil Re ? "
“ Takutlah mas, bulan depa. juga baru mau 19 tahun masa udah punya bayi aja. Gak msu sku masih mau kuliah enak, main enak, kerja enak "
“ Terserah sih, yang penting pas saya mau jangan banyak alasan .. "
Pas dia mau ? Maksudnya dia bakal terus terusan minta lagi ? Oh s**it ..
Mereka pun sampai di sebuah apotek yang bersebelahan dengan mini market, Bian pergi ke mini mart sedang Renata ke apotek. Apoteker menatap heran Renata sebelum memberikan pil kb itu, mungkin karena ragu dengan penampilan dan usia Renata.
“ Mba sekarang usianya berapa ? "
“ 19 tahun mba memangnya kenapa ? "
“ Mba gak lagi hamil kan ? " Apoteker mencurigai Renata hamil di luar nikah dan berusaha untuk melakukan aborsi dengan obat.
“ Astaga, enggaklah mba. Tuh suami saya ada " Renata menunjuk Bian yang baru saja keluar dari minimart sambil menenteng beberapa makanan ringan.
“ Kenapa ? " Bian yang merasa di tunjuk segera menghampiri.
“ Gak papa mas, mba nya mungkin kurang percaya saya udah nikah karena saya masih muda. Coba mas aja yang belinya, mas kan udah tua " Seketika semua orang disana menahan tawanya.
“ Baiklah pak, mohon maaf atas ketidak nyamanan nya. Ini barangnya, terimakasih "
Mereka kembali masuk ke mobil, di dalam mobil Renata tertawa puas karena Bian bagai badut di tengah orang orang tadi.
“ Puas ? Ayo ketawa aja terus " Sarkas Bian.
“ Haha maaf ya mas .. Terimakasih udah belain aku tadi. "
“ Mana imbalannya ? "
“ Imbalan buat apa ? "
“ Imbalan karena udah bela dan jaga harga diri kamu di depan orang orang tadi "
“ Kamu mau imbalan apa mas ? "
“ Hmm .. Ini aja " Bian mengangkat dagu Renata lembut lalu mengecup nya, cukup panjang mereka beradu saliva sampai Renata nampak, kehabisan nafas barulah Bian melepaskannya.
Bian menghapus bekas ciumannya di sudut bibir Renata menggunakan ibu jarinya. Ah rasanya jantung Renata melompat lompat di perlakukan semanis ini. Bian lanjut memeluk Renata mengusap rambutnya pelan penuh kehangatan.
__ADS_1
“ Kenapa mas ? " Renata menjadi bingung di perlakukan seperti itu.
“ Saya kangen mami Re, sebentar " Bian semakin erat memeluk Renata.
Ya sedikitnya Renata pun mengerti perasaan ketika orang yang paling di kasihi pergi selamanya, saat rindu tak bisa bertemu, biarpun dekat tak bisa saling menyentuh. Renata membalas pelukan Bian dengan erat dan hangat.
“ Aku juga kangen Kak Tama mas .. " Renata memeluk Bian layaknya melepas rindu pada Tama.
Untuk beberapa saat mereka hanya saling berpelukan, saling melampiaskan rasa rindu pada orang terkasihnya.
“ Udahkan ya ? Kita pulang " Ajak Bian.
“ Ayo mas .. " Bian melajukan kembali mobilnya langsung menuju rumah.
Anya hanya menatap jemu keduanya, mereka sama sama telah menjilat ludahnya. Berkata benci tapi selalu bersama dan nampak mesra.
“ Pagi pagi udah pada pergi kalian gak tau orang disini pada nunggu buat sarapan ? " Gerutu Alvin.
“ Lo sendiri abis dari mana ? Tadi Lo gak ada. "
“ Abis joging .. "
“ Yaudah sekarang kita makan " Bian menarik kursi di meja makannya lalu mulai menyendok nasi ke piringnya.
Mereka makan dalam kesunyian sampai Anya membuka pembicaraan sekedar bertanya kapan mereka akan kembali karena mereka tidak ijin dari kampus.
“ Gak mau disini aja gitu Re ? Nemenin saya ? " Tanya Bian dengan ekspresi tak rela.
“ Gak mau .. Aku masih maba mas, malu lah sering bolos apalagi mendadak pindah. "
“ Ya gak papa, itu juga kampus saya sekarang. "
“ Gak bisa gitu, lagian gak ada yang tau aku istri mas. "
“ Yaudah umumin aja Re "
Sungguh manusia aneh, mengumumkan pernikahan ? Sungguh itu di luar rencana. Renata tak berniat sedikit pun melakukannya. Renata tidak mau di kira aji mumpung dan numpang tenar melalui nama keluarga Mahesa. Lagi pula, mengumumkan pernikahan itu sama saja dengan menyematkan nama belakang Mahesa di namanya dan Renata enggan karena sudah berjanji untuk tidak berurusan dengan keluarga Mahesa lagi.
“ Aku gak tau mas serius atau sekedar memberi angin segar buat aku. Tapi mas, aku gak akan mempertaruhkan masa depan aku pada lelaki yang perasaannya saja masih abu abu "
“ Hmm yasudah bagaimana baiknya kamu. Tapi sebelum pulang, temui saya di atas. " Titah Bian yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
Bian lantas melangkahkan kaki nya kembali ke lantai dua, Bian masuk ke ruang kerjanya untuk sekedar mengecek pekerjaan para karyawannya dari jauh. Di depan laptop yang tampilan layarnya foto keluarga, Bian bergumam.
__ADS_1
“ Bian sudah menepati janji dan permintaan terakhir Mami. Kini giliran Bian hidup seperti yang Bian inginkan Mi. "