Suami Bayangan

Suami Bayangan
Janji


__ADS_3


Bian tengah sibuk dengan gadget dan laptopnya siang itu, di balik sifat kasar dan kerasnya ternyata ada satu hal yang cukup unik. Bian merupakan pecinta hewan berbulu, mau itu kucing atau anjing. Ya tapi tentu untuk anjing hanya di rawat di luar rumah sedang kucing seringkali di biarkan bebas berkeliaran di rumah.


Renata membawakan teh manis hangit yang Bian minta beberapa menit lalu.


" Thanks .. " Ucap Bian.


" Mas Bi .. " Panggil Renata.


" Hmm ? " Sesaat Bian melirik ke arah wanita yang memanggilnya dengan lucu itu.


" Jadi balik Jakarta hari ini ? " Tanya Renata penasaran.


" Gak jadi, jadinya ke Denpasar dulu ada kerjaan. Kenapa ? Kamu seneng kan saya tinggal ? Bisa bebas. " Bian menatap tajam.


" Yee Suudzon mulu dah. Aku kan cuman nanya "


" Jam 2 saya berangkat. Kamu siap siap Re, anter saya ke bandara. Bisa ? "


" Bisa mas .. Yaudah aku ganti baju dulu "


Renata pun mengantarkan Bian ke bandara untuk langsung melanjutkan perjalanannya mennuju Denpasar . Bian turun dari mobil dengan membawa kopernya, dari sissi berlawanan Renata pun mengambil potret Bian.



Renata tersenyum begitu melihat hasil fotonya, Bian nampak tampan meski di foto secara candid. Rasanya masih tak percaya pria tampan ini adalah suaminya. Bian menatap heran Renata yang tersenyum sendiri sambil memandangi ponselnya.


" Chat sama siapa ? Ko senyum sendiri ? " Tegur Bian.


" Apa sih mas .. Gak lagi chatan ko "


" Terus itu senyum senyum kenapa ? " Tanya Bian Posesif.


" Kepo ! Udah ah cepet masuk sana "


" Ck .. Awas ya kamu kalo berani selingkuh di belakang saya. " Ancam Bian.


" Mau selingkuh gimana sih. Sekarang udah banyak orang tau aku istri kamu mas. Kamu pikir siapa yang berani deketin aku ? "


" We never know .. "

__ADS_1


Bukan hanya karena itu aku gak bisa selingkuh dari kamu mas .. Tapi hati aku, aku tulus cinta ke kamu .. Batin Renata.


" Malah ngelamun. Yaudah saya berangkat dulu, sampe ketemu bulan depan. Oya kalo kamu udah telat ceoet kabarin saya Ok ? "


" Iya paham mas " Renata menngambil tangan Bian lallu mencium nya hormat.


Renata melambaikan tangan, dan di balas oleh Bian. Jika sedang tenang begini Bian memang nampak ramah dan menyenangkan. Tentu tidak akan banyak orang menyangka bahwa Bian cukup bringas dan tempramen.


Renata menarik nafas lega, akhirnya Bian menninggalkan kotanya. Renata kini bisa menjalani hidupnya dengan sedikit normal, ya meski tak akan senormal dulu tapi setidaknya kini dirinya takan terlalu terbelenggu.


Karena Bian juga Renata sampai tak bisa masuk kampus hampir 1 minggu lamanya. Meski itu kampus milik Bian, namun rasanya tentu tak nyaman.


" Anya ku sayangg .. " Panggil Renata dalam panggilan telpon.


" Rere ! Eh ko Lo bisa call sih laki Lo manaa ? " Tanya Anya.


" Udah balik dia ke Denpasar. Finally .. Besok gue ngampus Nya bareng ya "


" Ok siap. Eh tau gak Lo jadi tranding topik di kampus. Jadi besok jangan heran kalo banyak mata mandang Lo jealous "


" Why ? "


" Huftt sial banget ya gue. Yaudah thanks infonya see you tomorrow " Ucap Renata lalu menutup panghilan telpon.


Renata menyimpan ponselnya di nakas, membuka laptop nya untuk mengerjakan tugas yang menumpuk karena selama bersama Bian, Bian melarangnya untuk berinteraksi dengan dunia luar termasuk mengerjakan tugas kuliahnya. Memang sudah seperti hidup dengan psikopat.


Di lain tempat setelah terbang beberapa jam, Bian pun sampai di Denpasar. Sebenarnya Bian tak memiliki urusan pekerjaan disana, hanya saja Celine memintanya untuk kesana. Celine sedang ada berlibur disana, dan tentu sangat membutuhkan Bian secara Bian juga termasuk sumber keuangannya.


" Halo sayang " Sambut Celine yang menyambut nya di bandara.


" Hi honey .. " Jawab Bian menerima pelukan yang Celine berikan.


Celine hendak mencium pipi Bian namun Bian mundur selangkah membuat Celine terheran, tak biasanya Bian menolak sentuhannya.


" Kenapa ? "


" Ah engga, aku kan abis dari perjalanan sayang. Kotor " Jelas Bian mencari alasan.


Meski Bian tidak mencintai Renata, namun Bian sudah berjanji untuk tak menyentuh wanita lain selain Renata. Janji yang menjebak sebenarnya, karena kini Bian dilanda bingung. Bian belum sanggup memutus hubungan dengan Celine, namun jika terus bersamanya tentu ini akan menjadi godaan yang berat.


What should I do ?

__ADS_1


Celine menggandeng tangan Bian sepanjang jalan lalu membawanya ke sebuah villa dengan fasilitas lengkap dan mewah. Harga sewa perharinya pun cukup fantastis.


" Kamu disini sama siapa aja ? " Tanya Bian kareba villa itu terdengar riuh.


" Sama temen temen aku. " Jawab Celine.


" Kamu kan tau aku gak terlalu suka banyak orang Cel .. Lagian hubungan kita juga jangan terlalu terekspose. " Bian merasa sedikit kesal.


" Ya kan masa aku liburan sendiri sih "


Bian malas berdebat, sudah terlalu lelah tentunya. Bian memilih diam dan langung masuk kamar yang sudah Celine siapkan dimana dirinyapun akan tidur di kamar itu.


Setelah selesai membersihkan diri, Bian tak keluar lagi kamar. Bian menolak untuk ikut acara dan hiburan yang Celine langsungkan di villa itu bersama teman temannya. Bian hanya beristirahat seharian sampai tengah malam Bian merasakan pergerakan di ranjangnya.


Celine sudah duduk disana dengan menggunakan langerie, jika dulu mungkin Bian akan semangat di layani seperti ini namun sekarang nuraninya seakan melarang Bian melakukannya.


" Kamu lagi ngapain ? " Tanya Bian saat Celine meraba dadanya untuk membuka piyama yang Bian kenakan.


" Ya ngelakuin sesuatu yang kita sukai " Goda Celine.


" I can't .. " Tolak Bian.


" Why ? Kenapa sih kamu jadi berubah gini ? Kamu udah gak sayang lagi sama aku ? " Celine merajuk berharap Bian dapat luluh.


" Bukan gitu sayang "


" Aku kecewa sama kamu .. Kamu berubah sejak nikah samaa dia. Apa karena service dia lebih memuaskan hah ? Ah I see "


" Enggak Cel, kamu tau kamu paling hebat soal ini. "


" Kalo gitu ayo buktiin kamu gak pernah berubah ke aku. Ayo kita lakuin " Pinta Celine manja nan menggoda.


" Oh shitt " Bian pun hanyut dalam godaan Celine.


Sesapan dan kecupan bergantian, mereka saling ******* nikmat. Celine saja sampai mengerang. Bian membuat tanda kemerahan di leher Celine lalu mulai turun ke kedua gundukan yang sudah kencang menantang. Bian menarik gaun tidur Celine hingga mennyisakan bra berwarna merah.


" Kamu benar benar seksi sayang " Ucap Bian lalu menarik pengait bra hingga terlepas dan melucuti penghalang itu.


Bian melahap keduanya dengan rakus dan bergantian. Kini tak sehelai benang pun yang menutupi tubub Celine. Mereka hanya tinggal melakukan aktivitas puncak, posisi Celine pun sudah berada di bawah kungkungan Bian. Namun saat Bian menatap Celine, Bian malah teringat adegan panas yang di lakukannya bersama Renata. Ingatan akan Renata terus menerus terbersit dalam pikirannya.


" Damn it " Bian bangkit, meraih bathrobe lalu keluar begitu saja meninggalkan Celine yang bingung.

__ADS_1


__ADS_2