
Clarisa semakin merasa depresi. Dan kini Yanu memutuskan untuk membawa Clarisa ke rumah sakit jiwa, agar ia bisa kembali pulih. Dalam hati ia tak tega melihat Clarisa menderita.
Sementara Lina, kini ia jatuh sakit. Lina kini mengubur impiannya untuk bisa menimang cucu sebelum ia meninggal. Pasalnya itu semua memang sangat sulit terjadi. Di suatu siang, Lina memanggil Yanu yang sedang melintas di depan kamarnya.
“yan, kemarilah,” kata Lina.
Yanu yang lewat pun akhirnya mendekati sang mama dan ia duduk di samping ranjang sembari mengenggam tangan sang mama.
“Ada apa ma?” tanya Yanu.
“Sepertinya mama nggak lama lagi akan meninggalkanmu, mama setengahnya belum siap. Karena kamu masih belum ada yang urus,” kata Lina
“Mama. Kalau mama memang mau pulang, Yanu ikhlas ma. Dari pada mama tersiksa dengan sakit yang menggerogoti tubuh mama.” Kata yanu dengan mata yang memerah.
Benar saja, tak lama setelah itu Lina menghembuskan nafas yang terahir, dan Yanu memang sudah mengikhlaskan semua yang memang menjadi ketentuannya.
__ADS_1
Yanu langsung menelpon Joko, karena memang ia tak memiliki teman dekat atau pun kerabat yang ada di sini. Tak lama panggilan pun tersambung.
“Jack, maaf aku mengganggu. Bisakah kalian ke rumah? Mama meninggal. Dan untuk Liana, seandainya tak bisa datang tak masalah. Tetapi seandainya ingin datang, Clarisa pun tak ada di rumah. Dia ada di tempat yang aman,” kata Yanu.
“iya deh, aku langsung ke rumah sekarang. Kalau Liana aku nggak janji ya. Semoga saja dia siap. Aku akan bawa Danu juga,” kata Joko.
“Terima kasih,” panggilan pun terputus.
Yanu langsung melapor ke perangkat desa setempat, dan para warga dengan sigap mengurus semua proses pemakaman Lina.
“ ada apa mas?” tanya Liana.
“Mamanya Yanu meninggal, sayang. Aku mau ke sana. Kamu ikut nggak?” tanya Joko.
Liana terdiam. Dan melihat sang istri tampak gelisah.
__ADS_1
“Kata Yanu, Clarisa ada di tempat yang aman, kalau sayang mau ikut, boleh kok. Nanti kita ajak mama, Sinta ada Vivi dan Danu juga,” kata Joko.
“baik mas, kalau begitu aku siap-siap dulu ya mas,” kata Liana
Sementara itu di bawah, Sinta dan Melati sudah siap untuk ikut ke rumah Yanu. Karena tadi saat Yanu telpon dengan Joko, melati mendengar percakapannya. Dan ia langsung memiliki inisiatif untuk ikut.
Tak lama setelah mereka sampai di rumah Yanu, proses pemakaman pun segera di langsungkan. Liana sedari tadi menahan diri agar tak mendekati Yanu. Bagaimana pun juga Yanu pernah mengisi hatinya. Namun kini ada hati yang harus ia jaga.
Setelah selesai pemakam, Liana dan keluarga pun singgah sesaat di kediaman Yanu. Yanu lebih banyak curi pandang pada Liana. Namun ia pun lebih membatasi diri. Ia tak ingin menjadikan masalah untuk kehidupan Liana.
tak lama kemudian, liana dan keluarga pun berpamitan pulang. begitu pula dengan Danu. sampai saat ini Danu masih belum mengetahui kalau Liana dan Yanu sempat memiliki hubungan.
sedangkan kini di rumah sakit jiwa, Clarisa berniat bunuh diri. ia saking depresinya dan memilih mengoreskan pecahan kaca di pergelangan tangannya. ia pun meregang nyawa di sore itu juga tanpa ada petugas yang mengetahuinya.
baru pagi hatinya saat petugas mengantarkan sarapan dan sangat terkejut melihat clasrisa sudah tergeletak di lantai dengan darah sudah mengering di pergelangan tangannya.
__ADS_1