Suami Bayangan

Suami Bayangan
Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

" Mas .. " Panggil Renata ketika terbangun dari tidurnya dan tak jauh dari sana Bian sedang bersandar di sofa dengan laptop di pangkuannya.


" Apa ? " Jawab Bian dingin.


" Jam berapa sekarang ? Udah ada kabar dari dokter kapan Aku bisa pulang ? " Tanya Renata yang berusaha bangkit.


Bian terlihat menarik nafas panjang lalu menutup layar laptopnya, seperti enggan namun tanpa di minta Bian bangkit menghampiri Renata lalu mengangkat tubuh Renata untuk bergeser ke posisi duduk dan mengatur bed Renata senyaman mungkin.


" Jam 11 malam, kamu bisa pulang besok. " Bian menjawab sambil menyandarkan tubuh Renata ke bantal yang sudah di tata untuk menyangga punggungnya.


Renata tak lagi menjawab, hanya menatap bingung mengapa manusia satu ini sering berubah secepat kilat. Benar benar sakit jiwa pikir Renata. Enggan berpikir lebih jauh, Renata meraih ponsel di nakas begitu Bian kembali ke posisi nya di sofa.


" Mas ini rumah sakit sama ruangan apa ? Temen temen ku mau besuk. "


" Memang nya siapa yang ijinin temen kamu besuk kesini ? " Lagi lagi Bian menjawab dengan dingin.


" Masss .. " Rengek Renata dengan nada meninggi.


" Jangan bentak saya. Saya gak suka ! " Bian mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk fokus ke layar laptopnya lalu menatap Renata dengan tatapan menusuk.


Tatapan Bian berhasil membuat Renata bungkam, tanpa rasa bersalah Bian kembali melanjutkan aktifitasnya.



Terdengar suara Renata yang sedikit terisak merasa prustasi karena harus terjebak dengan lelaki yang paling di benci sekaligus di cintainya itu di ruangan ini, tanpa siapapun bisa menghiburnya bahkan sahabat sahabatnya pun tidak di ijinkan menjenguk.


" Untuk seorang gadis yang keras kepala kamu ternyata sangat cengeng Re .. " Tiba tiba saja Bian membuka suara.


" Andai Kak Tama masih ada. Aku pasti gak akan dibiarin kesepian gini. "


" Dua hari saya gak masuk kantor buat nemenin kamu, dua hari saya kurang istirahat jagain kamu sambil tetep handle kerjaan. Kamu gak anggap keberadaan saya ? " Bian menyimpan laptopnya di meja lalu mengambil ponsel.


" Aku gak minta. " Jawab Renata ketus.


" Ck .. Dasar gak tau terimakasih. " Bian mengambil rokok di saku jaketnya lalu memilih keluar daripada berdebat panjang lebar tidak akan ada selesainya jika itu dengan Renata.

__ADS_1


Bian berjalan menuju smoking area di dekat taman, angin malam terasa dingin menusuk. Bian melupakan jaketnya, namun karena malas kembali hanya untuk sekedar berdebat Bian lebih memilih udara dingin mencabik kulitnya.


" Halo siapa ? " Seseorang menjawab panggilan Bian.


" Saya Bian, Renata di rumah sakit saya di ruang VVIP 1. Kamu boleh besuk dia besok sebelum pulang. " Ucap Bian tanpa basa basi, lalu menutup panggilan telponnya.


Bian tersenyum smirk sambil sesekali menyesap asap rokoknya. Agak lucu pikirnya, demi gadis yang dibencinya itu Bian rela menurunkan harga diri dan menghilangkan rasa egois di hatinya dengan menghubungi orang yang paling ingin Renata temui. Satu sisi Bian selalu ingin membalas dendam atas apa yang terjadi padanya kini, namun disisi lain Bian selalu merasa terikat pada Renata. Keterikatan itu membuat Bian mempedulikan Renata.


Hampir sejam Bian termenung di tengah malam dengan udara dingin di luar sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Bian beranjak menyusuri tiap koridor yang terasa sangat sepi. Perlahan Bian membuka pintu di tatapnya Renata sudah kembali terlelap dengan posisi meringkuk. Bian mendekat lalu duduk di samping bed Renata.


" Saya bisa mempedulikan mu lebih dari siapapun di dunia ini, tapi saya juga bisa menyakitimu tanpa siapapun mengira. Kita lihat saja takdir akan menempatkan mu di posisi yang mana " Ucap Bian laly mengelus rambut Renata lembut, membiarkan Renata tidur dengan lelap sedang dirinya kembali ke sofa lalu merebahkan diri menyusul Renata ke alam mimpi.


" Rere .. " Panggil Dirly dan beberapa sahabatnya yang ikut datang.


" Loh kak Dirly, kalian juga .. Kok bisa tau Aku disini ? " Jawab Renata heran. Masih terlalu pagi untuk mendapat kejutan tapi Renata benar benar terkejut.


" Gak penting, Lo belum makan Re ? Ko ini nasi Lo biarin aja disini sih. " Ucap Dirly.


" Gak mood gue, gak semangat pengen balik pengen ketemu kalian. "


" Doi kemana ? " Tanya Anya yang sedang merapikan bekas makan Renata.


Renata menggeleng tak tau, sejak bangun Renata tak melihat keberadaan Bian. Namun dilihat dari laptop dan tas yang masih berada di meja, kemungkinan Bian masih ada di Rumah Sakit hanya saja entah kemana dia.


" Doi siapa ? " Tanya Dirly dengan mengerutkan dahinya.


" Ya siapa lagi kalo bukan dia yang telpon Lo malem malem buat ngasih tau si Renata disini. "


" Oh Pak Bian ? " Dirly mengangguk nganggukkan kepalanya.


" Ah serius Bian yang telpon Lo kak ? " Renata bangkit seketika.


" Heem, semalem jam 12an dia ngasih tau gue. Heran gue dapet dari mana dia no gue. "


Renata terdiam, seingatnya jam 12 malam itu Bian pergi meninggalkan kamar setelah berdebat dan membuatnya menangis.

__ADS_1


Ekheemmn ..


Suara berat itu seketika membuyarkan lamunan Renata juga membuyarkan keceriaan seisi ruangan yang bersuka cita melihat Renata baik baik saja. Keadaan manjadi sunyi mencekam.


" Pak Bian .. " Sapa Dirly sambil menganggukkan kepala sopan.


" Hmm, lanjut aja. Saya cuman mau beresin barang saya. " Bian meraih tas lalu memasukkan laptopnya.


" Mas mau kemana ? " Tanya Renata keceplosan.


Mas ? Seisi ruangan saling menatap satu sama lain, pikiran mereka mulai bertanya tanya hubungan apa yang Renata miliki dengan Bian sehingga bisa sedekat itu.


" Saya mau zoom meet di ruangan Mami. " Jawab Bian cuek masih asik merapihkan barang barangnya.


" Kalo udah selesai, kabari saya. Kita pulang, saya udah urus administrasi dan obat kamu. "


Lagi lagi kata 'kita pulang' membingungkan mereka. Sesaat setelah Bian meninggalkan ruangan, seluruh mata menatap tajam pada Renata seolah menuntut penjelasan.


" Tenang tenang dulu guys, gue pasti jelasin semuanya. " Jawab Renata menyeringai kuda.


" Maaf ya terkesannya gue nyembunyiin sesuatu yang penting, tapi gue pikir awalnya ini itu private. Tapi ternyata gue gak bisa nutupin lebih lama lagi. Gue sama Pak Bian memang punya hubungan .. " Renata menggantung kata katanya.


" Drama banget Lo, malah jeda dulu. " Ucap Dina salah seorang sahabat di BEM.


" Dia cowok atau suami Lo kan ? " Malah Dirly yang tiba tiba menjawab.


" Ko tau ? "


" Udah gue duga, gelagat Lo tiap ketemu dia beda soalnya. Tapi gue gak berani tanya, gue pikir itu ranah pribadi Lo. " Ucap Dirly dengan sedikit nada kecewa.


" Maaf ya gue nyembunyiin ini dari kalian. Gue nikah sama Pak Bian masih baru baru ini ko. Soon gue bakal adain resepsi ya biar gak timbul pikiran pikiran negatif yang bisa ngedampak juga ke organisasi. "


" Gue turut bahagia buat Lo ya Re .. " Dirly menelan kekecewaan, menjabat tangan Renata lalu bergantian dengan yang lain yang ikut menyelamati.


Renata menarik nafas panjang, satu keputusan besar telah di ambilnya. Mulai saat ini Renata resmi menerima nama Mahesa di sematkan di nama belakangnya. Yang berarti Renata harus siap menerima segala belenggu yang akan mengikatnya.

__ADS_1


__ADS_2