
Renata membolak balik pena yang di genggamnya sambil menggaruk kepala bingung, ia sedang mengerjakan tugas nya seorang diri di perpustakaan kampus karena Anya yang biasa bersamanya hari itu harus pulang lebih awal untuk mengisi kerja part time.
“ Rere .. " Panggil seseorang lalu langsung duduk di samping Renata.
“ Ya Kak ? "
“ Kenapa ? Sendiri aja huh ? " Tanya nya yang sering memperhatikan kalau Renata selalu berdua dengan Anya.
“ Iya, Anya ada part time "
“ Oh .. Aku temenin boleh ya ? "
“ Kakak gak ada kegiatan lain selain gangguin aku ya ? Aku makin gak fokus tau kak .. " Gerutu Renata.
“ Haha .. "
“ Dirly berisik " Ucap orang orang yang berada di perpus.
“ Eh sorry lanjut ya guys " Dirly mengangkat tangan mengisyaratkan agar mereka kembali melanjutkan aktifitasnya.
“ See ? Kakak memang pengganggu " Renata merapihkan bukunya, lalu di masukkannya ke tas.
Renata bangkit, meninggalkan ruangan perpustakaan dan langsung di kejar Dirly.
“ Rere .. Aku tuh cuman mau temenan sama kamu " Dirly tak menyerah begitu saja.
“ Kalo aku gak mau gimana ? "
“ Awas Re .. ! "
Brraakk
Karena terburu buru melarikan diri dari Dirly, Renata tidak melihat tanda peringatan lantai licin setelah bagian kebersihan mengepel lantai. Untung saja Dirly bergegas menangkap tubuh Renata yang akhirnya menindih tubuhnya.
Mereka saling bertatapan sesaat ..
“ Permisi Re, kamu berat .. " Dirly menyeringai ngilu.
“ Ya ampun Kak maaf " Renata memulihkan kesadarannya dari pesona Dirly jarak dekat lalu bangkit dan membantu Dirly bangun.
“ Kamu harus lebih hati hati Re, ini udah sore. Orang bagian kebersihan emang suka pel lantai jam segini soalnya udah jarang mahasiswa berkeliaran. "
“ Hehe Rere gak tau Kak .. " Renata menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Karena kaki Dirly sedikit pincang, akhirnya mau tak mau Renata pun membopong tubuh Dirly. Mereka berjalan dan duduk bersama di kursi depan lapangan kampus.
__ADS_1
“ Kayanya harus di urut ya Kak ? "
“ Gak papa ini cuman memar .. Btw kamu bisa naek motor gak ? Aku bawa motor tapi gak mungkin deh naik motor pincang gini. " Ucap Dirly dengan puppy eyes nya.
“ Bisa Kak, ayo Rere anter pulang. Nanti dari rumah Kakak Rere bisa naik angkot. "
Dengan cepat Dirly menyetujui ucapan Renata ya takutnya Renata berubah pikiran kan ? Tapi jika di ingat lagi, Dirly menggunakan motor sport 250cc yang cukup berat untuk ukuran wanita. Apa mungkin Renata bisa ?
Untuk sesaat Renata menatap kaku.
“ Gak bisa ya ? Lupa aku minta boncengin kan sama cewek maklum biasa bareng cowok terus " Dirly tertawa kuda.
“ Bisa Kak, Almarhum Kakak aku yang ajarin. " Renata menatap Dirly sekilas dengan senyum pedihnya.
“ Re ? Maaf ya aku bikin kamu inget Kakak kamu ya ? " Ucap Dirly penuh sesal.
“ Gak papa Kak, Ayo biar kakak bisa rasain di boncengin cewek hehe "
Renata mengendarai motor Dirly dengan kecepatan sedang, cukup lihai untuk seorang gadis, pikir Dirly. Melihat Renata yang seperti ini, membuat Dirly makin jatuh hati pada gadis yang saat pertama kali ditemuinya merupakan gadis pembuat onar dan pembangkang. Belakangan Dirly tau, sikap keras Renata bukan lah watak aslinya, namun lebih untuk melindungi dirinya sendiri yang memang hidup hanya seorang diri.
“ Ini Kak .. " Renata menyerahkan kunci motor begitu mereka sampai di halaman rumah Dirly. Rumah yang cukup besar dengan arsitektur modern.
“ Bawa dulu aja Re, atau tuker sama yang matic deh biar kamu gak repot. "
“ Gak usah Kak .. " Renata menolak lalu menyodorkan kunci motor Dirly ke tangan nya.
Baiklah, Renata berhutang jasa pada Dirly karena telah menyelamatkannya. Mengingat hal itu, Renata pun mengiyakan permintaan Dirly. Sesaat Dirly masuk ke rumah mengambil sebuah kunci motor matic lalu menyerahkannya pada Renata.
“ Besok jam 07.20 jangan telat ya Re ? Aku tau kamu suka ke kampus telat haha " Kekeh Dirly.
“ Bukan telat Kak tapi tepat. Aku sampe kampus selalu jam 07.59 " Bela Renata.
“ Iya .. Iya yaudah kamu pulang sana udah mau maghrib. Apa mau maen dulu disini ? " Dirly menatap dengan mata menggoda.
“ Enggak apaan masa cewek main di rumah cowok "
“ Oh berarti kalo aku yang main di rumah kamu boleh dong ya ? "
“ Gak boleh, aku gak punya rumah Kak. " Renata menyeringai.
Renata segera menaiki motor yang Dirly maksud lalu berpamitan meninggalkan Dirly yang masih saja terpaku, terpesona oleh gadis cantik yang telah meninggalkan rumahnya.
Renata sampai dengan selamat di kamar kost nya, karena waktu pulang Anya masih cukup lama jadilah Renata hanya termenung sendiri. Renata berpikir untuk menyelesaikan tugasnya yang tak tuntas tadi karena di ganggu oleh Dirly. Baru saja membuka buku, ponsel Renata menyala dari nomor tak di kenal.
Renata hanya menatap layar ponsel nya yang terus menyala namun enggan untuk menjawab panggilan itu.
__ADS_1
- Unknown Number
Re .. Ini mas Alvin. Bisa kita bicara sebentar ?
Mas Alvin ? Apalagi ?
Renata menarik nafas panjang menenangkan hatinya yang selalu gelisah jika itu berhubungan dengan keluarga Mahesa. Renata cukup trauma atas kejadian yang tlah lalu.
Kembali panggilan masuk dari nomor yang kini di ketahui nomor Alvin. Dengan gugup Renata menjawab panggilan itu.
“ Halo Re ? " Panggil Alvin dari sebrang suara.
“ Ya mas bagaimana ? "
“ Re .. Mami kritis, beliau ingin bertemu dengan mu " Suara Alvin terdengar sumbang, seperti seseorang yang habis menangis.
“ Maaf mas .. Kali ini Renata gak bisa " Renata menggigit bibir bawahnya.
“ Re .. " Sejenak hening, Renata tak tahu apa yang terjadi dengan Alvin. Renata hanya membeku berusaha mendengarkan.
“ Mas ? " Panggil Renata.
“ Video call saja kalo kamu bersedia Re " Jauh dari perkiraan Renata, Alvin tidak memaksanya untuk bertemu Diana secara langsung. Tapi meminta Renata untuk menerima panggilan video yang akan Alvin berikan pada Diana.
“ Baiklah mas .. " Dengan ragu Renata mengiyakan permintaan Alvin berharap tidak ada Bian disana.
Beberapa saat yang muncul di layar ponsel Renata hanya atap langit berwarna putih, bisa di pastikan itu ruang perawatan Renata. Tak lama kemudian, nampak wajah Alvin yang sembap. Alvin lalu mengalihkan layar ponselnya ke depan Diana yang sudah di pasangi berbagai alat penunjang hidup.
“ Re .. " Panggil Diana dengan suara serak.
“ Mami .. " Renata tak menyangka air matanya justru akan pecah saat melihat keadaan Diana yang begitu parah.
“ Tak apa nak, Mami minta maaf gak bisa nuntasin janji ke Tama buat rawat Rere. Jaga dirimu ya Re, satu hal yang Mami minta .. " Terlihat Diana menarik nafas panjang. Suara nya mulai tersengal oleh sesaknya nafas.
“ Seberapa sulitnya hubungan mu dengan Bian kalian jangan pernah berpisah Re. Mami masih ingin melihatmu wisuda menjadi salah satu mahasiswa lulusan terbaik, Mami yakin kamu mampu Re lalu kamu memiliki anak anak yang lucu .. Tapi .. Mami sudah tak kuat lagi Re .. Mami ter .. siksa Re " Isak Diana yang membuat hati Renata begitu remuk.
Renata tak mengeluarkan suara, hanya terdengar isak tangis Renata di balik ponsel Alvin. Bian yang berdiri tak jauh disana pun bisa mendengar isakan Renata yang memilukan.
“ Mami .. Tak apa jika mami sudah tak sanggup. Beristirahatlah Mi dengan tenang. Renata akan mengabulkan keinginan Mami. Renata akan giat belajar membanggakan Mami. Jika Tuhan ijinkan, Rere akan melahirkan anak anak yang lucu dan membawa mereka menemui Mami nanti .. " Renata tak sanggup lagi meneruskan ucapannya namun Diana yang mendengar perkataan Renata seakan menemukan kedamaian.
Masih sambil menatap layar ponsel Alvin, Diana menarik nafas panjang air matanya bercucuran dengan perlahan mata Diana tertutup kepalanya melemas lalu jatuh kesamping.
“ Mamii .. " Alvin menyerahkan ponselnya pada perawat lalu memeluk Diana erat, perawat membalik kamera lalu memperlihatkan suasana ruangan Diana. Perawat itu mengerti itu yang Alvin inginkan, memberikan kenangan terakhir dari Diana pada Renata.
Nampak di layar ponsel Renata, pria yang sangat di bencinya ada disana merosot duduk di lantai dengan tampilan yang sangat berantakan sedang menangis pilu.
__ADS_1
“ Mami .. maafkan Rere " Ucap Renata terakhir kali lalu menutup panggilan video itu karena Renata tak ingin lebih lama lagi melihat Bian.