
“Sayang, kamu nyaris membuat aku kehilangan nyawa. Kenapa kamu di kolam ikan?” tanya Joko sembari berbaring di samping Liana dan memeluk sang istri.
“Aku tadi hanya terapi ikan kok mas, tiba-tiba,” kata Liana tertahan. Ia ingat kalau sang adik telah mengejutkannya dan membuat ia terjatuh. Namun ia tak tega mengatakan itu kepada sang suami.
“Tiba-tiba apa?” tanya Joko.
“tiba-tiba aku kayak di tarik gitu,” kata Liana sembari tersenyum sembari melihat ke arah adik ipar dan ibu mertuanya.
“Ya sudah, kalau begitu aku pamit. Keadaan pasien baik-baik saja. Kandungannya juga baik,” kata dokter itu sembari berbalik meninggalkan kamar.
Joko masih berada di samping liana, sedangkan Melati merasa tak enak dengan menantunya itu. Ia melirik putrinya yang hanya tertunduk.
“Jack, mama perlu bicara,” kata Melati,
“Mama mau bicara apa? Di sini saja, aku dengarkan kok. Aku nggak mau ninggalin Liana,” kata Joko.
Melati sudah kehabisan akal. Ia kalau mengatakan di sini tentu Liana akan mencegah dirinya berbicara jujur. Tanpa Melati duga, Santi sudah mendekati sang kakak berada di samping ranjang.
“bang, yang membuat mbak Liana jatuh itu aku,”kata santi dengan cepat agar tak sempat di potong oleh Liana
“apa maksudnya?” tanya Joko sembari ia beranjak dari pembaringannya. Ia kini duduk di samping Liana dan menatap ketiganya dengan bergantian, dan tatapan itu sungguh seperti elang yang sedang mengincar mangsanya.
Semua terdiam.
“Bisakah kalian jelaskan apa yang sedang terjadi?” tanya Joko.
“mas,” panggil Liana sembari meraih pindah suaminya.
“Iya sayang,” respon Joko dengan meraih tubuh sang istri dan membantunya duduk.
“Mas janji jangan marah?” kata Liana.
“ Katakan dulu,” kata Joko serius.
Semua kembali terdiam.
__ADS_1
“Bang, aku yang datang dari belakang mengejutkan mbak Liana sampai mbak Liana terjatuh karena terkejut. Maaf,” kata Santi dengan cepat.
“Benarkah itu?” tanya Joko dengan raut serius. Dan semua hanya mengangguk pelan.
“mas janji jangan marah,” kata Liana.
“kok kalian ceroboh sich? Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Siapa yang bertanggung jawab?” tanya Joko dengan suara tegasnya. Sehingga menjadikan ketiganya terdiam.
“Kalian harus di hukum. Mama, di hukum untuk memantau gizi dan apa yang di makan Liana, Sinta kamu di hukum membelanjakan apa yang Liana butuhkan. Dan kau, aku hukum kamu paling berat, yaitu tidak boleh jauh dari pandanganku,” kata Joko.
Ketiganya tersenyum. Namun Santi langsung berlari ke sisi sebelah ranjang. Dan mendekati kakak iparnya. Santi langsung memeluk kakak iparnya itu.
“Maafkan aku mbak,” kata Santi
“Iya. Sudah ah, aku nggak bisa napas,” kata Liana sembari menepuk pundak sang adik ipar dengan pelan.
“Mas, kita pulang yuk. Aku ngantuk dan capek rasanya,” ajak Liana
“tentu sayang, ayo kita pulang,” Joko beranjak dari duduknya dan ia membantu Liana bangun. Namun saat akan menapakkan kakinya, ia merasakan ada yang sakit.
“aduh,” pekiknya.
“apa yang sakit?” tanya Joko.
“kakiku sakit mas, ya Allah,”rintih Liana
Seketika ketiganya langsung mengecek kaki Liana. Dan betapa terkejutnya Joko melihat ada luka goresan sangat banyak di kakinya.
“Ya Allah, ini kenapa? Lukanya banyak, panjang dan lumayan dalam ini,” kata Melati.
“Mungkin terkena pinggiran kolam saat Abang mengeluarkan mbak Liana dari dalam kolam,” kata Sinta.
“bisa jago. Ya Allah, maafkan aku sayang, sin, kotak p3k cepat,” kata Joko panik. Ia terus meniup luka di kaki Liana.
“iya sebentar,” kata Sinta sembari berlari mengambil kotak p3k.
__ADS_1
“tadi pas mama lap kok nggak liat ya,” kata Melati.
“ini bang,” kata Sinta sembari menyerahkan kotak p3k pada abangnya.
Sementara Joko membersihkan luka dengan antiseptik, kemudian ia menutup luka itu.
“ya Allah, sakit ya sayang?” tanya Joko.
“Nyut-nyutan mas,” kata Liana sembari meringis.
“Ya sudah, mas gendong aja pulangnya, mam, kami pulang dulu ya “ kata Joko, sembari ia mencium sang bunda. Kini ia beralih ke adik perempuannya.
“abang pulang dulu, jangan lupa bawakan masakan mam ke kedai,” kata Joko sembari memeluk sang adik dan mencium keningnya.
“dengan senang hati bang,” kata Sinta
“Mama, Sinta. Aku pulang dulu ya. Maaf kalau kedatangan aku merepotkan kalian”kata Liana.
“Nggak sama sekali,” kata melati sembari memeluk sang menantu.
“harusnya aku yang mengatakan maaf mbak,” kata Sinta.
“sudah, ayo kita pulang, sini aku gendong,” kata Joko sembari menggendong sang istri. Dan langsung membawanya ke mobil. Sementara Santi sudah stay dan membukakan pintu mobil untuk sang kakak ipar.
“Terima kasih, Kami pulang dulu,” kata Liana sembari melambaikan tangan ke arah ibu mertua dan adik iparnya itu.
Joko langsung memutu
Ar, dan ia sudah berada di belakang kemudi dan langsung mengemudikan mobilnya menuju kedai. Di dalam mobil Liana terus memperhatikan sang suami sembari tersenyum. Joko yang menyadari sedang di tatap oleh sang istri pun langsung memandang Liana dan tersenyum.
“Kenapa?”tanya Joko.
“ mas kalau lagi khawatir lucu,” kata Liana sembari tersenyum.
“Apa kamu nggak tau betapa takutnya aku?” tanya Joko sembari mengenggam tangan sang istri.
__ADS_1
“ sudah, sekarang fokus nyetir dulu. Nanti di rumah mesranya,” kata Liana sembari tertawa.