
Setelah selesai memanaskan soto Sri langsung meracik soto ke dalam mangkok, ia langsung mengantarkan ke Liana yang sedang terapi ikan.
“ Mbak Liana, ini sotonya. Banyak bayam, kurang nasi,” ulang Sri. Liana langsung mengambil alih nampan dan ia letakkan di tengah, di antara dirinya dan sang ibu mertua.
“ Terima kasih mbak Sri,” kata Liana. Sedangkan Mbak Sri langsung berbalik dan ia mengambi teh hangat untuk kedua wanita beda generasi itu. Sri langsung mengantarkan ke kolam belakang rumah.
Liana langsung menikmati semangkuk soto yang menjadi faforitnya itu. Liana makan dengan sangat lahap bahkan isi mangkuk itu bisa tandas dalam sekejap.
“ Enak Li?” tanya Melati,
Liana langsung mengangguk dan ia mngambil teh hangat yang baru saja di antarkan Sri. Liana mulai menyeruput teh itu perlahan.
“ Mama, dulu waktu hamil Jack, bagaimana?” tanya Liana.
“ Mama sangat manja sama papanya Jack. Dan mama sangat suka apa pun yang menjadi faforit papa. Salah satunya soto yang barusan kamu makan itu,” terang Melati.
“ Itu sangat mirip denganku, ma. Mama tau? Aku bisa langsung tidur atau berada di pelukan mas Jack,” kata Liana sembari tertawa dan ia terus menyeruput teh hangatnya.
“ Iya, mama dulu juga seperti itu. BTW apa kalian sudah melakukan USG kok jack bisa tahu kalau bayi kalian jagoan?” tanya Melati.
“ Hahahaha tentu belum, ma. Kandungan aku baru menginjak tiga bulan. Mungkin nanti lah aku akan melakukan USG,” kata Liana.
Keduanya pun tampak akrab dan bercanda. Sampai keduanya tak menyadari kalau Sinta tengah berada di belakangnya, Sinta yang melihat ke akrapan mama dan kakak iparnya itu langsung tersenyum. Sinta langsung menghampii keduanya. Sinta berniat iseng pada kakak iparnya itu. Ia berjalan mengendap-endap dan langsung,
__ADS_1
“ Da!!” Sinta mengejutkan Liana dari belakang. Namun Sepertinya Melati tak menyukai apa yang di lakukan anak gadisnya.
Liana yang terkejut pun tercebur ke dalam kolam yang terbilang lumayan dalam, sedangkan Liana tak bisa berenang. Awalnya Sinta tertawa melihat kakak Liana tercebur. Namun saat melihat Liana kesusahan ia pun menjadi khawatir. Sedangkan Melati kini tengah histeris melihat menantunya yang nyaris tenggelam sedangkan dirinya tak bisa berenang.
Beruntungnya, Joko saat itu tengah pulang untuk makan siang. Melihat istrinya dalam bahaya ia langsung menceburkan diri dan mengendong sang istri ke tepian. Namun kemalangan tak sampai di situ, Liana kini pingsan, dan Joko tengah memberikan pertolongan petama. Namun ia kini merasakan bimbang, Saat akan menekan bagian perut untuk mengeluarkan air yang masuk, namun ia teringat kalau sang istri tengah hamil. Kemudian ia beralih memandang sang mama.
“Mam?” Joko meminta pertimbangan mamanya. Sedangkan sang biang kerok sudah tak berada di lokasi. Kini Sinta sedang mencari tenaga medis yang ada di sekitar rumah. Untung Sinta anaknya supel dan semua orang kenal dengan dirinya. Ia teringat dengan tetangga sebelah rumahnya yang memang dokter kandungan.
“ Assalmmualikum, Dokter Rian, emergensi cepat,” teriak Sinta.
Tak lama puntu terbuka muncul seorang pria menggunakan celana pendek dan kaus oblong.
“ Ada apa?” tanya pria yang bernama Rian.
“ Sebentar aku ambil alat medis duu,” kata Rian sembari berlari.
Kini keduanya berlari kembali ke rumah Joko, sepanjang jalan Sinta mengatakan seperti apa keadan kakak iparnya. Rian menyimak dengan seksama sembari ia konsentrasi dengan larinya. Sesampai di belakang rumah, tampak Melati dan Joko tengah kebingguan memberikan pertolongan kepada Liana.
“ Permisi, saya tenaga medis,” kata Rian. Kemudia ia mulai melakukan pengecekan terhadap Liana, setelah selesai melakukan pengecekan Danu dapat bernafas dengan lega.
“ Tenang, beliau hanya pingsan. Mungin bisa di pindah ke dalam dan mengganti pakaiannya dengan yang kering,” kata Rian.
Joko dengan cekatan langsung menggendong sang istri dan membawanya ke kamar tamu. Sedangkan Melati berlari ke ke dapur untuk mengambil air hangat. Sedangkan Sinta berlari kekamarnya dan mencarikan baju ganti untuk kakak iparnya.
__ADS_1
Rian menunggu di ruang tamu, sementara Joko tengah melepaskan pakaian yang basah. Santi berlari ke kamar tamu dan ia memberikan pakaian ganti kepada kakaknya itu.
“Bang, ini baju gantinya, sini biar aku bantu melepaskan baju mbak Liana,” kata Sinta dengan gemetar ketika melihat kakaknya sangat panik.
Tak berapa lama Malati muncul dengan membawa basom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil yang akan ia hunakan untuk mengelap tubuhnya.
“ Jack, mingir, tubuh Liana harus di bersihkan dulu dengan air hangat, Ya Allah Liana. Kenapa kamu nak. Kalau kamu nggak bisa renang kenapa malah duduk di pinggir kolam, mana kolamnya dalem,” gumam Melati sembari ia menitihkan air mata.
Jach hanya bisa pasrah, dan ia terus mengusap wajahnya dengan gusar, ia merasa khawatir bila terjadi sesuatu dengan istrinya.
Setelah selesai, membasuh seluruh tubuh Liana dengan air hangat, kini Melati memakaikan baju kepada menantunya dengan sangat telaten. Setelah selesai berpakaian dengan rapi, Joko membuka pintu kamar dan mempersilahkan dokter Rian untuk kembali melakukan pengecekan kepada Liana.
“ Dok, silahkan lakukan pengecekan kembali,” kata Joko yang sudah terlihat sedikit tenang.
“ Oke,” kata dokter Rian sembari beranjak dari duduknya dan ia mengayunkan kakinya menuju kamar tamu dan ia langsung melakukan pengecekan ulang kepada Liana.
“ Sebetulnya pasien tidak apa-apa,dia hanya pingsan karena mengalami panik yang berlebih di tambah dengan kram perut. Kandungannya aman,” kata Dokter Rian.
Kini semuanya bernafas dengan lega. Terutama Sinta. Walau pun ia tak akan bisa lolos dari amarah sang mama dan sang kakak. Namun Sinta sudah lega dan siap menerima konsekwensi itu, karena yang terpenting baginya adalah keselamatan Liana yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri.
Tak lama kemudian Liana siuman, dan ia langsung mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Ia merasa heran kenapa bisa ada di kamar. Melihat istrinya sudah siuman, Joko langsung naik ke atas ranjang dan memeluk sang istri.
“Kenapa mas?” tanya Liana dengan penasaran.
__ADS_1
Semua yang ada di kamar tampak menitihkan air mata. Dan Sinta kini hanya bisa tertunduk dengan lesu, karena saat dalang kegaduhan ini terbongkar maka ia harus terima akhibatnya.