
Pagi harinya, Melati mendatangi kedai Liana di temani dengan Sinta. Keduanya tampak semangat bertemu dengan Liana. Sesampainya di atas, ia langsung mengetuk pintu. Sedangkan Joko yang tengah berada di dapur langsung bergegas membuka pintu.
“mama, Sinta? Kalian datang tepat pada waktunya,” kata Joko lega.
“kenapa?” tanya Melati khawatir.
“Liana sekarang sedang demam. Tubuhnya panas, tadi aku bangunin juga nggak nyaut,” kata Joko.
“ya Allah, kenapa kamu nggak segera telpon mama,” gerutu Melati sembari ia meletakan rantang di atas meja ruang tamu dan ia mencuci kaki dan tangannya. Setelahnya ia langsung menghampiri liana. Melati duduk di samping Liana dan langsung mengecek suhu tubuhnya.
“ Ya Allah, Liana. Kenapa badan kamu panas banget?” gerutu Melati dengan panik.
Melati Kini langsung ke dapur dan memeriksa kulkas.
“Jack? Kamu nggak punya oyong?” tanya melati dengan sedikit panik
“ aku belikan dulu di warung ya ma,” kata Joko sembari ia berlari keluar rumah. Sedangkan Melati langsung meracik beberapa bumbu. Ia ingin memasak sup oyong. Konon katanya oyong bisa menurunkan panas tubuh.
“Ma, kenapa nggak di kasih obat turun panas sich?” tanya Sinta.
“Sembarangan kamu. Kakakmu lagi hamil. Jangan sembarangan minum obat,” kata Melati.
Tak lama kemudian Joko sudah kembali dengan membawa oyong di tangan.
“Mama, hanya tinggal segini,” kata Joko sembari ia menunjukkan oyong di tangannya.
“ya sudah, nggak apa, bawa sini. Biar segera mama masak,” kata Melati.
Joko pun langsung menghampiri mamanya dan memberikan dua buah oyong yang ada di tangannya.
“harum banget ma? Ini apa?” tanya Joko sembari melihat apa yang sedang mamanya masak.
“ ini sup oyong, yang ini mama bikin wedang uwuh. Khas Jogja. Ini pas untuk daya tahan tubuh,” kata Melati.
__ADS_1
“Kok airnya merah?” tanya Joko.
“sudah sana, kamu ambil nasi sedikit, Liana pasti belum makan?” tanya Melati.
“ baik,ma,” Joko langsung mengambil nasi dan ia taruh di piring. Setelah sup matang Melati langsung menunaikannya di mangkuk dan menunggu hangat. Sedangkan untuk wedang uwuhnya, melati sudah menyiapkan di sebuah gelas. Kemudian semua i letakkan di dalam nampan. Kini melati berjalan menuju kamar Liana.
Melati duduk di samping Liana, sedangkan Sinta ada di sisi sebelahnya. Sinta mencoba membangunkan Liana.
“mbak Li, bangun mbak,” kata Sinta.
Liana perlahan membuka matanya, ia pun tersenyum bahagia melihat mama mertua dan adik iparnya ada di kamar
“kok kalian di sini? Mas Jack kemana?” tanya Liana.
“bang Jack ada di luar. Mbak Li, bisa duduk? Sini aku bantu. Mbak Li harus makan dulu,” kata Sinta.
“iya. Ini mama sudah masak sup oyong biar panas tubuhmu turun,” kata melati sembari meniup nasi dan Pyo g yang ada di sendok.
“terima kasih mama,” kata Liana dengan terharu.
Melati terus menyuapi menantu tersayangnya. Sedangkan Jack duduk bersandar di pintu melihat sang istri sudah makan membuatnya lega.
“ini di minum. Supaya kamu kembali fit,”kata melati.
“Mama, ini uwuh ya? Ya Allah. Liana sangat suka. Apalagi seruni, Liana sangat suka,” kata Liana dengan binar bahagia.
“Benarkah? Ya Allah, kita memiliki banyak kesamaan,” kata melati bahagia.
Liana langsung meneguk habis wedang uwuh yang ada di gelas. Ia merasa kerinduan akan kampung halamannya telah terobati. Liana kini menatap sang mertua dengan penuh iba.
“Kenapa?” tanya melati.
“Mama nggak jadi masakin Liana mangut kepala lele?” tanya Liana dengan mata mengiba.
__ADS_1
“ada itu di meja. Mau makan sekarang?” tanya melati.
“Oke, mama. Ayo kita ke ruang tamu saja. Sekarang aku sudah sembuh karena mama dan adikku sudah datang,” kata Liana dengan girang. Sedangkan mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Liana kini duduk di ruang tamu sembari ia membuka rantang yang ada di atas meja. Liana tampak semangat membukanya.
“ mas, mas Jack mau?” tanya Liana pada suaminya
“ Buat kamu saja sayang. Mas sudah bahagia melihatmu bahagia” kata Joko.
“oke. Liana makan ya ma,” kata Liana sembari memindahkan Kemala lele di piringnya.
Sedangkan Melati hanya memandang menantunya sembari tersenyum. Sinta pun tak kalah heran melihat tingkah sang kakak ipar. Joko hanya bisa tersenyum bahagia melihat senyum ceria sang istri sudah kembali lagi.
“ Mama, ini sangat enak sekali. Dan sekarang tubuhku sangat segar. Terima kasih mama,” kata Liana sembari memeluk mama mertuanya
“Sama-sama sayang. Mama melakukan ini karena mama memang sangat menyayangimu,” kata melati sembari mencium pucuk kepala sang menantu.
“Sekarang mama jadi lupa sama aku?” gerutu Sinta
“Tentu tidak sayang, kamu tetap ter the best nya mama. Aku berada di bawah, dirimu itu pasti,” kata Liana sembari beralih memeluk sang adik ipar yang tengah merajuk.
“Terima kasih mbak,” kata Sinta membalas pelukan Liana.
“Kamu mau, mbak suapi kepala lelenya?” tanya Liana sembari menunjukkan bagian belakang kepala lele yang penuh dengan daging.
“nggak usah mbak, buat mbak dan dedek bayi saja,” kata Sinta dengan tersenyum senang
Liana kini terdiam. Dan ia menitihkan air mana, yang membuat semuanya terheran.
“kenapa sayang?” tanya Joko.
“Aku sangat bahagia memiliki kalian. Aku yang sejak kecil hidup sendiri. Dan kini aku memiliki keluarga yang sangat lengkap,” kata Liana sembari ia mengusap air matanya menggunakan lengannya dan tersenyum.
__ADS_1
“Sudah. Jangan sedih. Bumil nggak boleh sedih,” kataelati sembari mengusap punggung Liana.