
Diana menyendok nasi goreng ke mulutnya dengan tidak semangat. Bian hanya memperhatikan perubahan Ibu nya itu yang terlihat tak semangat.
“ Mam .. Kenapa ? " Tanya Bian lembut.
“ Hmm ? Apa Bi ? " Tanya Diana yang sempat kehilangan fokusnya.
“ Mami kenapa ? Bian perhatiin ko sering ngelamun. "
“ Mami inget Renata ? Udah dua bulan Bi .. Apa dia baik baik aja ya ? Ke Mami gak pernah kasih kabar, nomornya juga gak aktif Bi " Keluh Diana pada Bian dengan mata berkaca.
Melihat Ibu nya yang nampak terpuruk, membuat Bian pilu. Ada sedikit penyesalan karena menuntut Renata menjauhi keluarganya. Haruskah Bian menemukan kembali gadis itu ? Meminta maaf lalu membawanya pada Diana ? Bian masih berpikir keras untuk itu, Bian khawatir pilihannya tidak tepat.
Suasana sarapan pun menjadi hening, Diana menularkan kebingungannya pada Bian. Sedang Alvin hanya memperhatikan keduanya yang nampak diam membeku hanyut dalam pikiran masing-masing.
“ Bi ? Mami kayanya kepikiran banget Renata. Apa perlu gue jemput dia ? " Tanya Alvin di tengah perjalanan mereka menuju kantor.
“ Gak usah .. Dia bukan siapa-siapa kita juga "
“ Tapi Mami Bi .. Gue yakin Mami terbebani sama janji dia buat ngerawat Renata. Pasti Mami dihantui rasa bersalah Bi " Bujuk Alvin agar Bian mengerti dan mempertimbangkan untuk mempertemukan Diana dan Renata.
“ Tenang aja biar Mami gue yang urus. " Bian menyalakan pemantik api lalu menyesap rokok nya.
Bian duduk di kursi kebesarannya, selama 29 tahun hidupnya mungkin ini kali pertama Bian melihat Ibu nya terlihat begitu frustasi seperti cangkang tanpa isi.
“ Tolong cancel rapat dan kegiatan apapun hari ini. Saya kurang sehat " Pinta Bian pada Nisa sekertarisnya.
“ Baik Pak .. " Nisa keluar dari ruangan Bian sambil menarik nafas panjang. Setelah ini pekerjaan nya akan semakin banyak karena harus mengatur ulang schedule milik atasannya.
Bian merenung lama sambil membolak balikkan pena di lengannya. Begitu yakin dengan keputusannya, Bian meraih ponsel di meja nya untuk menghubungi Alvin.
“ Vin, bisa Lo cari tau nomor hp nya Renata ? Mami bilang No nya udah gak aktif semenjak kita balik ke Jakarta " Ucap Bian.
“ Akhirnya Lo tergerak buat nyari tau dia. Ok gue usahain dapet secepetnya. "
__ADS_1
“ Ya minimal bisa jadi obat buat Mami biar tau kabar nya dia gimana " Jelas Bian lagi.
“ Ok Bi .. "
Alvin menghubungi orang kepercayaan yang di utus untuk mengelola rumah sakit di kota tempat Renata tinggal. Dari nya Alvin banyak mengenal orang-orang yang bisa mencari jejak Renata. Diketahui selama dua bulan ini Renata sudah tidak tinggal lagi di rumah kontrakan lamanya, tak ada satu tetangga pun yang tau Renata pergi kemana atau pun melanjutkan kuliahnya dimana. Renata hilang bak di telan bumi.
Malam hari nya Alvin mengabarkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan jejak Renata. Seakan mengikuti titah Bian, Renata menghilang begitu saja.
Bukankah ini keinginan mu Bian ? Kenapa kini kamu harus repot-repot mencarinya ? Batin Bian bertanya pada dirinya sendiri.
“ Mi maaf, Bian sudah berusaha mencari tau tentang Renata. Tapi Renata tidak dapat di temukan " Ucap Bian berterus terang.
“ Bi bagaimana ini ? Mami tidak tenang Bi. Bisakan kamu cari Renata demi Mami Bi ? " Diana memohon.
“ Mi, tidak bisakah kita lupakan saja Renata ? Mami bisa sakit jika terus terusan begini "
“ Bian hmm sebenarnya ada yang ingin beritahu pada mu " Suara Diana terdengar begitu bergetar.
“ Kenapa Mi ? "
Deegg
Bian membeku, ini kah yang sebenarnya menjadi beban pikiran Ibu nya selama sebulan ini terlihat murung ? Bahkan tubuhnya berangsur mengurus dan tak seceria dulu.
“ Mami gak lagi becanda kan ? Bian bisa cari Renata tanpa Mami buat lelucon kaya gini " Tanya Bian berharap Diana hanya berbicara omong kosong.
“ Bian .. Mami serius, Mami juga baru tau sebulan yang lalu. Keadaan Mami semakin menurun, mami inget janji mami sama almarhum Tama Bi. Kalau mami meninggal siapa yang akan merawat Renata. Mami takut mami meninggal tanpa pernah bertemu lagi Renata Bi " Diana terisak.
Kepala Bian berputar seakan dunia nya kini runtuh mengetahui Ibu nya mengidap penyakit ganas.
“ Kenapa mami sembunyiin ini dari Bian ? Kita bisa berobat ke luar negeri Mi. Bian akan usahakan apapun untuk kesembuhan mami " Bian menggenggam tangan Diana.
“ Gak Bi, mami gak perlu pengobatan jauh jauh. Mami cuman mau ketemu Renata Bi. Mami harus menuntaskan janji Mami selagi masih ada kesempatan. "
__ADS_1
Bian tak lagi bersuara, air mata bercucuran membasahi wajahnya. Bian bersimpuh di paha Ibu nya, hatinya hancur sehancur hancurnya mungkin ini yang dinamakan karma. Saat itu Bian meremehkan penderitaan Renata dan kali ini Bian sendiri merasakannya.
“ Bian janji, Bian akan cari Renata kemana pun Mi " Ucap Bian dengan sungguh-sungguh.
Keesokan harinya, Bian meminta Alvin untuk menggantikan seluruh tugasnya di perusahaan. Dalam waktu yang tidak dapat di tentukan, Bian akan turun tangan mencari Renata. Bian harap, Renata dapat membujuk Diana untuk mendapatkan pengobatan terbaik di luar negeri dan juga bisa sedikitnya mengurangi rasa sakit dan rasa bersalah yang selama ini menghantui Diana.
“ Good Luck Bro, gue harap Lo bisa cepet balik sama Renata Bi " Alvin merangkul Bian layaknya seorang kakak.
“ Semoga .. Gue titip Mami dan perusahaan, gue pasti fokus buat nyari Renata jadi gue percayain semuanya ke Lo Vin "
“ Tenang Bi, gue pasti jaga semua sebaik mungkin. " Alvin melepas rangkulannya sedang Bian berpindah ke posisi Maminya berada
“ Mi .. Bian berangkat dulu. Do'a kan Bian segera bertemu Renata ya Mi ? Jangan lupa Mami jaga kesehatan dan minum obat teratur. " Pinta Bian tulus.
“ Jangan khawatirkan Mami Bi, ada Alvin disini. Tolong temukan Renata demi Mami "
“ Pasti Mi .. Pasti "
Bian melepas pelukannya dari Diana lalu melangkah menuju mobil SUV hitam nya. Bian pergi bersama seorang supir dan seorang pengawal.
Perjalanan memakan waktu cukup lama sekitar 6-7 jam tergantung keadaan lalu lintas. Bian sampai di kota itu bertepatan dengan jam pulang kerja para buruh pabrik membuat lalu lintas menjadi begitu padat dan macet.
Mau tidak mau mereka harus melewati jalan ini karena jalan ini satu-satunya akses menuju kontrakan Renata meski Bian tau Renata sudah tidak disana namun dimana lagi Bian bisa mencari info jika bukan di mulai dari rumah kecil nan sederhana itu.
Sesampainya disana Bian menepikan mobilnya di sebuah warung kopi, biasanya di warung adalah tempat paling mudah tersebar nya informasi.
“ Oh iya yang Ibu nya di tolong sama Almarhum mas Tama ya ? " Tanya si pemilik warung.
“ Iya betul bu. Barangkali Ibu tau kemana ya Renata pergi ? "
“ Waduh Ibu kurang tau mas, cuman Ibu pernah lihat Renata pergi bawa tas besar gak berapa lama setelah di antar Ibu nya mas. "
“ Ibu tau Renata naik apa dari sini ? " Bian mencari informasi sekecil mungkin.
__ADS_1
“ Naik angkot 016 mas, tuh angkotnya yang kaya gitu tapi saya gak tau tujuannya mau kemana cuman Renata naik angkot ke arah sana mas " Pemilik warung menunjuk ke arah selatan.
Meski terlalu kecil informasi yang di dapat, namun setidaknya Bian bisa mencari Renata di daerah sekitar rute angkot tersebut.