
Matahari pagi mulai naik ke permukaan, memberikan efek warna jingga yang cerah di permukaan air laut. Sinar yang langsung menyorot ke arah Villa membuat Bian membuka mata untuk menikmati indahnya sunrise. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Bian keluar dari kamarnya. Di lihatnya sekeliling namun Renata tidak ada disana. Meski begitu, Bian tidak peduli sekalipun gadis kecil itu kabur. Bian keluar menuju balkon yang langsung berada di tepi laut.
Baru saja melangkahkan kaki nya, Bian menemukan sosok gadis yang semalam berdebat dengannya. Malam itu setelah mengutarakan segala isi hatinya pada Anya, Renata menangis hingga tertidur di luar di temani dinginnya angin malam.
“ Dasar gadis bodoh. Cari mati " Gerutu Bian saat melihat Renata yang meringkuk tertidur di ayunan yang berada tepat di balkon.
Ada sedikit simpati di hati Bian, ingin rasanya sekedar menyelimuti tubuh mungil Renata. Namun ternyata ego lebih kuat menguasai nya. Bian membiarkan Renata begitu saja, sampai terbangun sendiri karena kedinginan.
“ Sudah bangun ? " Tanya Bian begitu melihat Renata menggeliat dalam tidurnya.
“ Bukan urusan anda .. " Renata membuka mata, melihat sosok suaminya yang tengah bertelanjang dada kini berada tepat di hadapannya membuat Renata merasa mual dan bergegas meninggalkan balkon.
Seluruh badan Renata terasa remuk, lelah, kurang istirahat dan juga masuk angin menjadi penyebab utamanya. Renata memilih berendam di air hangat untuk melemaskan tubuhnya yang kaku dan ngilu.
“ Dasar laki laki breng*sek .. Dengan santai nya hanya ngelihatin gue tanpa sedikit pun ada rasa kasihan buat mindahin gue atau minimalnya nyelimutin gue gitu. " Gerutu Renata.
Jika di pikir lagi, itu adalah Bian. Apa yang bisa di harapkan dari pria sedingin dan seangkuh Bian ? Mana mungkin dia bisa bersikap sebaik itu. Jika dia bisa berbuat baik, maka mungkin dia sedang kerasukan.
Setelah puas berendam, Renata bersiap mengenakan pakaian dan sedikit riasan untuk menutupi matanya yang sembap. Renata mengemas rapih lagi semua pakaiannya. Hari ini dirinya sudah berjanji untuk meninggalkan ibu kota dan meninggalkan keluarga Mahesa.
“ Saya akan kembali ke kota saya sekarang, sebelumnya saya akan ke rumah sakit terlebih dulu menemui Bu Diana. " Ucap Renata sambil mengangkat kopernya.
“ Siapa yang mengijinkan mu pergi ? Kamu sadar Mami bisa terluka karena kamu langsung meninggalkan nya. "
“ Dengar Pak Bian Aditya Mahesa. Saya sudah jelaskan semalam adalah hari terakhir dimana saya masih memiliki sedikit rasa hormat untuk anda dan termasuk keluarga anda. Dengan atau tanpa ijin kalian, saya akan tetap pergi. Pagi ini saya merasa sangat menyesali pernikahan ini, jika Anda sudah selesai dengan urusan Anda, kirimkan surat cerai untuk saya segera. " Renata menyeret kopernya pergi meninggalkan Bian yang hanya terdiam tak bisa berkomentar apapun.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Bian merasa terhina. Puluhan wanita cantik akan mengemis memohon untuk dinikahi bahkan sekedar ‘ ditiduri ' namun Renata dengan lantang meminta sebuah perceraian.
“ Tidak semudah itu ! Saya tidak akan pernah menceraikan mu. Saya tidak akan membiarkan kamu bahagia. Saya akan menjerat lehermu dengan pernikahan ini hingga kamu tidak bisa lagi bernafas Renata " Bian meremas koran yang sedang di bacanya tadi sambil bermonolog karena si lawan bicara sudah pergi entah kemana.
Renata melalui perjalanan pulang menggunakan taksi online kembali, sebelum menemui Diana di rumah sakit, Renata lebih dulu ke rumah Bian mengemas seluruh barang miliknya tanpa menyisakan satu apapun barulah Renata menemui Diana yang masih terbaring di ruang perawatan.
“ Mami .. " Panggil Renata lembut.
“ Loh kok Rere udah disini ? Mana suami mu ? "
“ Mas Bian masih disana Mi .. Renata pulang sendiri karena ada urusan di kampus yang tidak bisa di tinggalkan. "
“ Kenapa tidak minta di antar Bian ? " Tanya Diana heran.
“ Gak papa Mi, mas Bian kelelahan. Biarkan dia istirahat. Rere pamit ya Mi. Rere mungkin akan sangat sibuk, jadi Mami tolong jaga kesehatan Mami. Minum obat dan kemo teratur .. "
“ Kami melakukan tugas kami Mi tentu saja seperti apa yang Mami harapkan. " Jawab Renata dengan senyum mantap, usia Renata masih sangat muda namun tentu saja Renata paham apa yang harus di lakukan pasangan suami istri di malam pengantinnya.
Ya Mi .. Tidur terpisah dan menangis di malam pertama kami adalah apa yang aku lakukan. Sungguh aku menyesali pernikahan ini andai Mami tau. Karena hanya itu yang aku dapatkan dari Putramu Mi bukan percintaan panas nan meng-gairah-kan seperti yang pasangan lain lakukan.
“ Syukurlah jika kalian bisa saling menerima secepat itu. Baiklah nak, pergilah jika memang sangat penting. Sekali lagi, terimakasih untuk banyak hal yang telah kamu lakukan untuk Mami dan Bian .. " Diana mengecup kening menantunya itu.
“ Sama sama Mi, Renata pergi dulu .. " Renata memeluk erat Diana lalu melepasnya perlahan.
Setelah ini, mungkin benar-benar kali terakhir mereka saling bertemu. Penyakit ganas yang menggerogoti tubuh Diana, Renata paham itu hanya ada 15% peluang Diana untuk sembuh selebihnya hanya Tuhan yang tau akan kapan memanggil Diana.
__ADS_1
Renata melambaikan tangannya sebelum menutup pintu.
Srreeekk Pintu di tutup. Dengan berurai air mata Renata melangkah cepat meninggalkan rumah sakit, sudah tak ada kembali dan mundur bagi Renata. Bahkan Renata tak membiarkan tubuhnya untuk berbalik sekedar menatap ke belakang.
“ Mau kemana Re ? " Genggaman kuat seseorang menahan Renata yang baru saja keluar dari lobby.
“ Mas Alvin ? " Panggil Renata terbata.
“ Saya mau pulang mas hiks .. " Jawab Renata terisak .. ”
“ Kamu kenapa Re ? Kemarilah " Alvin menarik tangan Renata menuju sebuah kedai di pinggir jalan tidak jauh dari rumah sakit.
“ Ceritakan semua pada saya Re. Bian kan penyebab kamu seperti ini ? " Tanya Alvin.
“ Maaf mas. Rere tidak bisa menceritakan apapun perihal rumah tangga kami. Tapi jika mas menanyakan lagi pertanyaan di malam sebelum kami menikah, maka saya akan menarik jawaban saya waktu itu. Saya menyesal, sangat menyesal menikahi Bian. " Renata menangis terisak menundukkan kepalanya pada kedua lengannya yang bertumpu di atas meja.
Alvin tak berani lagi bertanya lebih jauh, Alvin paham setiap pertanyaan nya malah akan menggoreskan luka yang lebih dalam untuk Renata. Alvin memilih diam lalu tanpa sadar mengelus rambut Renata lembut. Ada simpati di hati Alvin akan nasib gadis yang berada di hadapannya itu.
“ Jadi sekarang kamu mau pulang ? " Renata hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan itu.
“ Baiklah, biar saya antar sampai ke kosan mu. " Ajak Alvin.
“ Gak papa mas, Rere bisa sendiri. "
“ Dengan keadaan mu seperti ini ? Enggak Re, saya gak akan biarin kamu pulang sendiri dalam keadaan terpuruk begini. Setidaknya, ijin kan saya menebus sedikit dosa keluarga kami Re. "
__ADS_1
Mendengar perkataan Alvin Rere justru makin terisak lalu mengangguk mengikuti permintaan Alvin.
Tanpa mengabari Bian ataupun Diana, Alvin pergi mengantar Renata sampai ke kampung halamannya.