
Hari-hari Liana dan Joko lewati dengan bahagia karena ia mendapatkan cinta dan perhatian penuh dari sang suami. Terlebih ketika Liana memasuki masa ngidam. Pagi itu, Liana merasakan sedikit pusing. Dengan sigap Joko menghampiri sang istri yang sedang duduk di ruang tamu, sedangkan dirinya tengah duduk di teras.
“kamu kenapa sayang?” melihat Liana memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya membuat Joko khawatir.
“aku pusing mas,”jawab Liana masih dengan menutup mata.
“ya Allah. Mau mas pijitin? Atau mau mas beliin apa gitu?”tanya Joko.
“mas, aku pusing cium bau bawang dan uap nasi yang mau Mateng itu.” Kata Liana sembari menutup hidungnya.
Joko langsung menepuk jidatnya sembari tersenyum.
“ya sudah, kita pindah ke apartemen saja. Sepertinya Bu Rahmat sedang masak nasi ini.” Kata Joko sembari mengusap kepala Liana Punuh kasih.
“Nggak apa-apa kita pindah dulu?” tanya Liana.
“semua akan baik-baik saja. Mas lebih nggak tega lihat kamu pusing dan mual.” Kata Joko sembari memeluk sang istri.
“mas, menurut mitos itu nggak boleh pindah-pindah kalau lagi hamil. Sepertinya aku menemukan menawarnya,”kata Liana sembari tersenyum.
“Apa?”tanya Joko heran.
“Bau keringat mas, sekarang aku nggak mual dan pusing lagi. Tapi malah ngantuk.”liana tersenyum sembari ia menyembunyikan wajah di dada sang suami. Joko hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang begitu menggemaskan.
“Ya sudah, kita kembali tidur,”kata Joko.
“Mas nggak ngantor? Kita juga belum sarapan lho? Aku juga lapar mas,”kata Liana sembari cemberut.
“Mas nggak tega tinggalin kamu di rumah. Kalau nanti Bu Rahmat masak nasi, trus jamunya pusing gimana? Obatnya kan nggak ada?” tanya Joko rengan raut serius.
“Mas, aku pingin makan soto yang ada campuran bayamnya.”pinta Liana.
“beli dimana?”tanya Joko kebingungan.
“ aku nggak tau mas,”jawab Liana.
“kalau mama yang masakin mau?”tanya Joko.
“mau mas,”jawab Liana antusias.
“oke. Mas telpon mama dulu ya,” kata Joko sembari ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan ia langsung menelpon mamanya. Tak berapa lama, telpon pun tersambung.
“Assalamualaikum ma,”sapa Joko.
“Waalaikum salam, nak. Ada apa?”tanya melati.
__ADS_1
“Ma, Liana ngidamnya aneh. Aku nggak tau belinya di mana. Tapi katanya di masakin mama mau. Bisa minta tolong ma?”tanya jokohati-hati.
“tentu sayang. Menantu mama pengen di masakin apa?” tanya Melati.
“katanya soto ayam, tapi ada bayamnya.”terang Joko.
“baiklah,”jawab Melati dengan sedikit lesu.
“mam? Mam ok?”tanya Joko khawatir
“Ok sayang. Ya sudah. Mama mau masak dulu. Kalian siapg-siaplah kesini,”kata Melati.
“oke mam.” Jawab Joko.
Kemudian panggilan pun terputus, Joko langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan melirik sang istri yang masih berada di dekapannya. Joko tersenyum, pasalnya Liana tertidur di pelukan Joko. Joko memiloh untuk tetap diam dalam posisinya, setelah ia mengambil kembali ponselnya yang berada di atas meja. Joko langsung menelpon anak buahnya yang ada di kantor untuk menghendel semuanya.
“lex, tangani semuanya. Ibu negara sedang ngidam, aku harus stay di rumah,”kata Joko.
“oke, siap bos.” Alex menjawab selalu dengan nada slengekan namun singkat.
Setelahnya panggilan terputus. Namun saat dia ingin meletakkan kembali ponselnya, kini panggilan Video masuk. Setelah di baca deretan nama yang tertera adalah sang adik yang melakukan panggilan video, langsung saja Joko menggeser tombol hijaunya.
“apa?”katanya.
“Hais. Masih belum ke kantor?”tanya Sinta ketika melihat abangnya masih telanjang dada.
“ya Allah, kasihan mbak Liana. Itu wajahnya capek sekali.”
“sebwnarnya pagi ini kita mau ke rumah. Liana ngidam soto yang ada bayemnya. Dan mama yang buatin.” Terang joko.
“oooo” jawab Sinta
“ada apa? Kamu mau ngobrol sama Liana?”tanya Joko.
“Nggak mas, mbak Liana biar istirahat aja dulu, kalau gitu aku tutup ya. Bye”kata Sinta sembari memutuskan panggilan video.
Joko kembali memandang wajah istrinya. Kini dirinya dilema. Kalau Liana nggak bangun, maka dia nggak sarapan. Kemudian ia pun memutuskan untuk membangunkan Liana.
“lian, sayang. Bangun yuk. Katanya kita mau sarapan di rumah mama.”joko mengusap kepala Liana dengan lembut.
“Hem,”jawab Liana masih dengan malas.
“Ayo sayang. Nggak usah mandi deh, kalau memang males mandi,” kata Joko lagi.
“Sebentar,”jawab Liana dengan males.
__ADS_1
“Kalau sebentar terus nanti nggak jadi sarapan, sayang.”bujuk Joko.
“iya deh,”jawab Liana dengan nada sedikit malas ia pun beranjak dari duduknya. Sedangkan Joko langsung bersiap, tak berapa lama kemudian Joko langsung mengandeng Liana menuruni tangga. Sedangkan Liana pergi masih dengan wajah bangun tidurnya, tanpa Menganti baju terlebih dahulu.
“Kamu lucu sayang, kalau wajahnya bangun tidur,” bisik Joko.
Liana tak menyahut. Saat sampai di kedai, aroma nasi dan gawang pada sambel langsung menyeruak. Membuat Liana langsung menutup hidungnya. Sedangkan Santi dan Bu Rahmat hanya tersenyum dan merasa bersalah.
“buk, kami mau ke rumah mama dulu. Mungkin pulang nanti sore,” kata Joko pada Bu Rahmad.
“Baik pak, hati-hati,” kata Bu Rahmad.
Sepanjang jalan Liana hanya diam dan ia tampak terkantuk sembari memegangi perutnya. Sehingga membuat Joko khawatir.
“Kenapa sayang? Kok perutnya di pegangi?” tanya Joko.
“Lapar,” jawab Liana masih dengan menutup mata.
“Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah mama.” Joko mencoba menenangkan Liana dengan mengusap lengannya secara perlahan.
Tak berapa lama sampailah mereka di rumah Melati. Setelah memarkirkan mobil, Joko langsung berlari ke sisi lain mobil. Ia langsung membuka pintu dan menggendong Liana. Liana tanpa protes dan ia tetap menutup mata dan terdiam. Hal itu tentu membuat Joko semakin khawatir. Di tambah suhu badannya yang semakin meninggi.
“mama, mama ini Liana kenapa?” teriak Joko saat sampai di ruang tamu. Joko langsung merebahkan Liana di sofa. Sedangkan Melati, sudah siap membawa nampan berisi semangkuk soto dengan bayam di dalamnya.
“liana, buka mulutmu nak,” kata Melati sembari menyuapkan kuah sotto ke dalam mulut Liana.
Liana dengan gerakan perlahan membuka mulutnya perlahan.
“Bagus. Sekarang ini bayam dan nasinya,”kata Melati.
Melati dengan telaten menyuapi Liana, sampai nasi di mangkuknya telah habis. Sedangkan kini kondisi Liana semakin membaik. Liana mengedarkan pandang kelmudian ia menemukan Joko duduk di samping kakinya, di pinggir sofa.
“maaf mas, aku membuatmu cemas.”liana berusaha tersenyum maskipun masih lemah.
“Nggak masalah sayang, yang penting keadaan kamu sekarang,” kata Joko.
“ini kenapa Liana bisa sampai kayak gini? Apa semalam kamu nggak makan?”tanya Melati.
“iya ma, semalem mual dan nggak nafsu makan,”tetang Liana.
“Ya sudah. Setiap hari mama akan kirim kamu lauk yang bergizi dan nanti tinggal kamu panaskan di rumah. Btw, kamu ngidamnya kayak mama pas hamil Jack. Soto bayem itu, makanan faforit papanya Jack,”trrang Melati sembari tertunduk.
“Pantes, jagoan papa rupanya mirip papa ya,” kata Joko sembari mengusap perut Liana.
__ADS_1