Suami Bayangan

Suami Bayangan
Perkara mangga


__ADS_3

Joko asik menyaksikan tv, sampai ia tak menyadari kalau sang istri terlelap. Melati yang menyadari sang menantu sudah tertidur hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


“jack. Istrimu tidur itu,” kata Melati kepada Joko, langsung saja Joko mengalihkan pandangannya kepada sang istri.


“Eh iya. Aku pindah ke kamar saja ya. Sepertinya capek dia,” kata Joko


“Iya bang. Nanti kita langsung pulang aja ya. Nggak usah pamit ke atas. Kalau dirimu mau tidur juga,” kata Santi sembari ia menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.


“Mama besuk ke sini sekalian ceteringnya Dateng ya Jack. Mama sudah atur semuanya,” kata Melati.


“Iya ma. Aku manut mama aja wis, sudah Jack mau ke atas dulu.” Joko berlalu sembari mengendong Liana. Sedangkan mama dan sang adik melanjutkan makan di depan tv.


Sesampainya di kamar, Joko langsung membaringkan Liana di ranjang. Setelahnya Joko pun berbaring di sampingnya dan memeluk sang istri.


Dan keduanya terlelap.


Sore harinya Liana terbangun dan melihat sang suami berada di sampingnya. Bukannya ia beranjak dari tidurnya, Liana malah mengeratkan pelukannya. Joko yang menyadari istrinya sudah bangun, ia langsung membuka mata.


“halo sayang, love you,” kata Joko sembari ia mencium pipi sang istri.


“Love you too mas Jack,” kata Liana sembari ia membalas ciumannya.


Dan sesuatu hal yang spontan itu mengakibatkan ciuman panas keduanya. Lagi-lagi berahir dengan pertarungan penuh kenikmatan. Kini Liana terbaring sembari menutup matanya, ia masih mengatur nafas. Joko yang berada di atasnya hanya memandang dengan kagum wanita yang sangat ia cintai.


“Terima kasih sayang,” kata Joko masih di posisi semula.


Liana membuka mata dan ia mengalungkan kedua tangan di leher sang suami sembari tersenyum.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Liana.


“terima kasih untuk kenikmatan yang kamu berikan, dan cinta yang kamu percayakan kepadaku,” kata Joko.


“Tak usah berterima kasih, aku juga menikmatinya mas. Cintamu ibarat obat dalam hidupku. ”Liana tersenyum.


Keduanya masih telanjang, sedangkan tanpa sadar perut Joko menempel pada perut Liana. Dan ia merasakan ada yang bergerak di perut Liana. Sontak Joko langsung terbangun dari posisinya. Ia langsung duduk di samping Liana dan memandang penuh takjup pada perut istrinya. Liana yang melihat tingkah sang suami menjadi heran.

__ADS_1


“kenapa mas?” tanya Liana.


“Sayang, dia bergerak?” tanya Joko dengan wajah berbinar. Liana hanya membalasnya dengan senyuman.


“iya, sekarang memang sudah bergerak. Coba deh, mas rasakan,” kata Liana sembari ia meraih tangan sang suami dan meletakkannya di perut.


Joko tersenyum melihat dan merasakan bayi di dalam kandungannya bergerak. Ia langsung mencium Liana tanpa henti. Bahkan kini dirinya menitihkan air mata.


“ kenapa mas?” tanya Liana.


“Aku sangat terharu sayang. Sudah, sekarang kita mandi ya. Kasihan nanti kamu kedinginan,” kata Joko sembari mengendong sang istri masuk ke dalam kamar mandi.


Sungguh Liana merasa bahagia dengan semua yang Joko lakukan untuknya. Saat ini Liana merasa ia mendapatkan semua kasih sayang yang dulu tak ia dapatkan.  Kini Liana di dudukkan di bangku plastik yang memang Joko persiapkan untuk mandi Liana. Sementara Joko menyalakan showes sembari ia menggosok tubuh sang istri.


Begitulah saking perhatiannya Joko kepada liana, bahkan Joko tak segan membasuh dan mencuci bagian inti dari Liana. Terkadang Liana yang merasa sungkan, namun Joko akan terus memaksanya dan akan berakhir dengan kepasrahan Liana.


Setelah selesai dengan Liana, ia pun langsung mandi. Saat Liana ingin bergantian Joko selalu menolak, ia takut Liana terlalu capek. Setelah selesai dan mereka mengenakan baju, keduanya pun turun ke lantai bawah.


“Mas, mama dan Santi sudah pulang?” tanya Liana.


“Apa aja yang ada di rumah mas. Mas kita jalan-jalan di depan yuk. Liat ada buah apa yang sudah masak,” kata Liana.


“Boleh, tapi jangan capek-capek ya,” kata Joko


“Ya Allah mas, Cuma di depan ini,” gumam Liana.


Joko pun berjalan di samping Liana sembari memeluk sang istri. Kini keduanya sudah berada di taman. Liana memandangi semua pohon, namun sejauh ini belum ada yang menarik perhatiannya untuk di petik. Padahal ada beberapa yang sudah masak. Berbeda dengan Joko, Joko langsung berlari memanjat pohon mangga yang sebenarnya belum masak, masih mengkal.


Joko langsung memetik satu mangga dan ia memakannya di pohon sembari matanya berbinar.


“Sayang, enak lo ini. Kamu mau?” tawar Joko. Liana hanya menggelengkan kepala.


“ih mas, jorok. Bau mangga ya. Itu kan masih mentah,” kata Liana. Aroma mangga yang menyeruak di hidung Liana seketika membuat perutnya merasa mual. Liana langsung menutup hidungnya. Namun semua sudah terlambat. Liana langsung muntah seketika dan membuat Joko terkejut.


“sayang, kamu kenapa?” tanya Joko yang langsung turun ke bawah masih dengan membawa mangga di tangan dan mendekati Liana.

__ADS_1


“mas, jangan deket-deket. Mangga ya bau,” kata Liana sembari menjauh dari sang suami dan menutup hidungnya.


“ya Allah dek, segitunya?”seketika wajah Joko sangat sedih.


Joko memandang pada buah mangga yang baru di makan setengahnya itu. Ia sangat merasa menyesal memakannya. Saat Joko ingin membuangnya, dalam hati ia tak tega. Mangga yang seharusnya masih bisa lebih masak sudah ia petik dan ia makan. Kini Joko duduk di rerumputan sembari menghabiskan mangga itu. Namun hatinya sangat sedih ketika Liana memilih untuk menjauh hanya karena aroma mangga.


Setelah selesai makan mangga muda, Joko mencuci tangan. Dan ia memastikan kalau tubuhnya sudah tak meninggalkan bau si mangga. Ia pun mendekati Liana yang masih asik duduk di taman.


“dek,” panggil Joko.


“Iya mas?” jawab Liana sembari memalingkan wajah ke arah Joko.


“mas boleh mendekat?”tanya Joko hati-hati.


“Asal sudah nggak bau mangga,”jawab Liana singkat.


“nggak kok. Aku sudah mencuci tangan dan mencuci mulut dengan jambu dalhari yang ada di belakang rumah.”raut muka Joko tampak penuh penyesalan.


“mas punya? Aku mau dong,” kata Liana antusias dan ia beranjak dari duduknya langsung mengandeng tangan Joko. Joko tersenyum, dan ia menuntun sang istri menuju halaman belakang rumah untuk memetik jambu.


“mas aku petikin satu saja ya,” kata Liana.


“jangankan satu dek. Semua juga mas petikin,” kata Joko sembari memanjat pohon jambu itu.


“jangan. Aku pinginnya hanya satu,” kata Liana.


“baiklah,”jawab Joko.


Kemudian Joko langsung turun setelah berhasil memetik satu buah jambu yang sangat masak dan sesampainya di bawah ia langsung memberikannya kepada sang istri.


“ini sayang,” kata Joko sembari menyodorkan jambu kepada Liana.


Dengan perasaan gembira Liana menerima jambu itu dan langsung memakannya.


“Ya Allah, enak sekali. Terima kasih sayang,” kata Liana sembari memeluk sang suami. Sedangkan Joko hanya tersenyum senang.

__ADS_1


 


__ADS_2