
“ Anyaa .. Hiks " Panggil Renata melalui sambungan telpon.
“ Re Lo kenapa ? Dimana ? " Tanya Anya khawatir.
“ Gue di kostan Nya. "
“ Gue balik sekarang Re .. " Anya segera menutup panggilan telpon. Melepas seragam nya lalu ijin untuk pulang lebih awal.
Dalam waktu 15 menit Anya sudah sampai di kostan dengan menggunakan ojek online.
“ Re buka ini gue .. " Panggil Anya dari luar kamar kost Renata.
“ Anya .. " Renata langsung mendekap tubuh Anya erat menangis sejadi jadinya. Rasanya duka tak pernah berakhir semenjak dirinya mengenal keluarga Mahesa.
“ Kenapa Re ? "
“ Mami Nya .. Mami .. " Bibir Renata bergetar sekilas.
“ Udah gak ada " Renata semakin dalam menangis hingga dada nya terasa begitu sesak.
“ Ya Tuhan .. Gue turut berduka Re, Lo duduk dulu biar gue ambilin air minum " Anya mendudukan Renata di kasur berukuran 120×200cm itu.
Lama Renata larut dalam kesedihannya, perlahan Renata pun lebih tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ingin sebenarnya Renata menghadiri pemakaman Diana, namun Renata enggan bertemu lagi dengan Bian.
- Mas Alvin -
Rere .. Datanglah besok kalau kamu bisa. Mami akan di makamkan jam 9 pagi di pemakaman keluarga, mas share lokasinya.
^^^- Renata -^^^
^^^Aku gak janji mas. Tapi aku usahakan ziarah saat kalian sudah pulang.^^^
“ Gimana ini Nya ? " Renata memberikan ponselnya pada Anya.
“ Kita kesana berangkat dari sini pagi pagi nyampe sana siang, pasti mereka udah pada balik kan Re ? "
“ Iya gue rasa gitu .. "
“ Yaudah sekarang Lo istirahat, gue temenin Re. Besok kita ke Jakarta. " Anya tersenyum menyemangati sahabatnya.
Sesuai rencana mereka berangkat pagi hari dan sampai di Jakarta pukul 1 siang, mengikuti lokasi maps yang Alvin berikan mereka pun sampai di sebuah pemakaman keluarga. Suasana sudah sepi, namun tak jauh dari gerbang depan, terlihat ada satu gundukan tanah merah yang bertaburkan bunga segar. Renata tau, itu adalah makam mertuanya. Dengan cepat Renata menghampiri dan benar saja di nisa kayu itu tertuliskan nama Diana.
“ Mami .. " Diana memeluk gundukan tanah merah dan menangis sesenggukan di atasnya.
__ADS_1
“ Maaf Mi, Renata menantu yang durhaka. Saat sulit Mami, Rere memilih pergi " Anya berdiri ikut terisak tidak jauh dari tempat Renata.
“ Tapi Rere janji bakal kabulin permintaan Mami, Rere bakal jadi mahasiswa teladan. Rere juga bakal bawa anak-anak Rere nanti kesini Mi. " Dalam satu tahun, ini kali kedua Renata bersimpuh memeluk tanah merah yang berbeda.
Saat tengah larut dalam isak tangis dan kesedihannya, seseorang datang menghampiri mereka.
“ Renata .. " Suara bariton yang terdengar tak asing muncul dari belakang mereka. Keduanya berbalik dan mendapati sosok yang membuat jantung mereka melonjak kaget.
“ Mas .. Bi .. an " Ucap Renata gugup.
“ Sudah saya duga kamu akan datang, kenapa baru sekarang ? Kamu tidak ingin bertemu saya ? " Tanya Bian dengan nada lembut, tidak seperti biasanya.
Dia sedang sedih dan mungkin juga lelah sehingga tak menonjolkan taringnya. Pikir Renata
“ Bangunlah Re, Mami sudah tenang disana. Bisa kita pulang sebentar ? Ada yang ingin saya bicarakan. " Seakan terhipnotis, Renata hanya mengangguk.
Anya sempat beberapa kali melirik sahabatnya memberi kode agar Renata menolak permintaan Bian, namun Renata tak menyadari itu. Dengan pasrah Renata dan Anya pun masuk ke mobil Bian yang kini tengah berjalan ke rumah.
Sesampainya di rumah Alvin menatap heran bagaimana bisa mereka bertemu dan nampak ' Akur ' ?
“ Re ? " Panggil Alvin.
“ Tadi aku ke makam Mami mas, terus ketemu mas Bian " Jawab Renata mengerti apa yang hendak Alvin tanyakan.
“ Gak papa mas, aku baik .. " Jawab Renata meyakinkan Alvin bahwa kedatangannya tanpa paksaan.
“ Kenapa ? Lo takut gue nyakitin istri gue sendiri ? Atau gue culik dia kesini ? " Tanya Bian yang datang dari arah belakang setelah berganti pakaian.
“ Bukan gitu Bi, cuman gue kira kalian ada masalah. "
“ Gue gak ada masalah, dan gue juga mau lurusin itu ke Renata itu sebabnya gue ajak Renata kesini. " Bian lalu merangkul pundak Renata.
Renata sempat menepis rangkulan itu, namun tak kuasa karena tenaga Bian yang kuat.
“ Tenang .. Bisa kita bicara di atas Re ? Di kamar saya. " Ajak Bian membuat Renata seketika gugup.
“ Mau apa ? "
“ Ayo sebentar saya ada perlu. " Ajak Bian memelas, wajahnya yang pucat dan sendu membuat Renata iba dan pada akhirnya mengikuti keinginan Bian.
Bian memasukkan kode kunci kamarnya setelah terdengar suara ' bip ' Bian mempersilahkan Renata masuk. Jujur ini kali pertama Renata melihat kamar Bian setalah beberapa minggu mereka menikah, bahkan ini pertama kalinya mereka berdua dalam ruang tertutup. Harusnya kamar ini menjadi kamar pengantin mereka bukan ?
“ Apalagi yang harus kita bicarakan mas ? Apa tentang perceraian yang aku minta tempo hari ? " Bian yang sedang menghadap ke jendela pun berbalik, berjalan pelan menuju Renata.
__ADS_1
“ Aku tak menginginkan perceraian Re. Sebaliknya, aku ingin kita bertahan. "
Renata tak bisa berpikir jernih, jantungnya berdegup cepat. Dengan seorang pria yang berstatus sebagai suaminya, di kamar tertutup dan dikunci. Tentu saja pikiran Renata melayang pada hal yang intim.
“ Mas .. " Ucap Renata begitu Bian mendekat nyaris tanpa jarak.
“ Saya minta maaf Re, saya memperlakukan mu tidak baik. Sekarang saya tahu bagaimana perasaan mu dulu. " Bian memeluk Renata menumpu kan kepalanya di bahu Renata.
Basah ! Renata merasakan bahunya basah, mungkinkah Bian sedang menangis ?
“ Mas kamu baik baik aja ? " Renata berusaha menarik kepala Bian kehadapannya. Dan ya, Bian tengah menangis.
“ Sebentar Re .. " Bian kembali menelusupkan kepala nya di ceruk leher Renata.
Bian menyesap aroma tubuh Renata, setiap hembusan nafas Bian yang mengenai lehernya, membuat Renata meremang seketika.
“ Mas .. " Lagi lagi Renata memanggil nama Bian.
“ Kamu istriku kan Re ? " Tanya Bian dengan nada sensual di telinga Renata.
“ Iya mas, tapi .. " Bian tidak membiarkan Renata melanjutkan kata katanya. Bian mengangkat tubuh Renata ala bridal style menunju ranjang king size milik Bian.
Renata duduk bersandar di kepala ranjang, sedang Bian naik ke ranjang mendekat dan saling berhadapan dengan Renata yang tersudut di ujung ranjang.
“ Re .. biarkan aku menyentuh mu " Ucap Bian dengan ekspresi memohon.
Bian mengangkat dagu Renata lembut lalu menautkan bibirnya di bibir merona milik Renata.
Manis dan kenyal seakan tersengat seketika milik Bian menegang begitu bibir mereka saling bersentuhan bertukar saliva. ******* yang awal nya lembut berubah menjadi penuh ga*irah. Tanpa Renata sadari, Bian sudah membuka satu persatu kancing kemeja Renata hingga kini dadanya terekspose dan menantang. Dada yang berukuran cukup besar itu membuat Bian ingin segera meremasnya.
“ Emm mas .. " Desah Renata begitu kedua gundukan miliknya yang masih tertutup bra berawarna hitam berendra itu Bian remas dengan lembut.
“ Ini masih sore mas .. Aahh "
Suara sialan .. Renata tak bisa menahan desakan dan ******* itu.
“ Apa kamu mau aku menunda nya sampai malam ? " Tanya Bian sambil memainkan kedua puncak gundukan Renata.
“ Hmm " Renata hanya menggigit bibir bawahnya.
Demi apapun ini sangat nikmat, seakan dirinya menolak jika Bian menghentikan permainan panas ini.
Baiklah, Renata memilih bersikap ja*lang dengan menggelengkan kepalanya bahkan meminta Bian melakukan yang lebih lagi.
__ADS_1