Suami Bayangan

Suami Bayangan
Wedding Kiss


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, Bian mendekap pinggang Renata. Mereka saling berhadapan setelah dinyatakan sah sebagai suami dan istri dengan di saksikan para staf medis dan keluarga dekat.


“ Cium .. Cium .. Cium " Sorak para tamu.


Sebelum hendak mencium Renata, Bian mendekat lalu berbisik pelan.


“ Rileks .. Saya hanya akan mencium keningmu " Ucap Bian.


Renata mengangguk mengiyakan perkataan Bian, begitu Bian mendekat untuk yang kedua kalinya Renata pun memejamkan mata. Sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya lembut.


“ Oh Sh*it bukan kah dia bilang akan mencium kening ? Ini salah ini salah ! " Batin Renata


Renata membuka mata dan menyadari Bian benar benar mencium bibirnya sekilas lalu melepaskannya.


Jantung Renata berdegup kencang serasa ingin melompat dari tempatnya.


“ Waahhh romantis sekali " Ucap para tamu setelah melihat adegan berciuman mereka tadi.


Ingin rasanya Renata memaki Bian, namun tentu karena ini di depan umum Renata hanya mengulum senyum menganggap semua yang terjadi hanya sekenario untuk membuat segalanya terlihat lebih natural dan nyata.


“ Selamat ya Pak Bian .. Akhirnya melepas masa lajang " Ucap para staf di rumah sakit.


“ Selamat Bro, turut berbahagia ya .. " Alvin memeluk Bian.


“ Thanks ya semua .. Silahkan menikmati perjamuannya. "


Sedang Bian dan Renata duduk canggung ingin semuanya segera berakhir.


“ Bian .. Rere terimakasih banyak, semoga Mami cukup umur untuk bisa melihat kalian memiliki momongan. "


“ Yang penting Mami sehat dulu aja ya Mi jangan mikirin yang berat berat .. " Jawab Renata mengalihkan pembicaraan.


Ya lagi pula siapa yang berharap sejauh itu ? Setelah menikah saja belum tentu mereka saling menginginkan sentuhan. Setelah melakukan sesi foto dan perjamuan malam, acara itu pun selesai tepat di pukul 10 malam.

__ADS_1


“ Mami sekarang istirahat ya ? Biar Bian jaga disini. "


“ No Bi .. Nikmati lah malam pengantin kalian. Mami sudah boking kan sebuah vila di tepi pantai, tidak jauh hanya sekitar 1 jam perjalanan. Berangkatlah bersama supir agar kalian tidak lelah " Pinta Diana yang tak bisa Bian bantah.


Menggunakan sisa tenaga yang ada, Bian mengemas sedikit pakaiannya begitu juga dengan Renata. Begitu siap, mereka langsung berangkat bersama supir persis seperti yang Diana titahkan.


“ Pak Ujang .. " Panggil Bian


“ Iya Tuan ? "


“ Apapun yang Pak Ujang dengar hari ini, jangan sampai sedikit pun keluar dari mobil ini ya. Bapak paham ? " Ultimatum Bian.


“ Paham Tuan .. " Pak Ujang sudah laksana saksi hidup yang sering menyaksikan dan mendengar apa apa yang Tuannya itu lakukan dan bicarakan di dalam mobil.


Bian mengambil pemantik dan rokok dari saku jaketnya hendak merokok tanpa memikirkan Renata yang berada di sampingnya.


“ Apa mas tidak menganggap ku manusia ? " Tanya Renata.


“ Kenapa ? Tidak suka saya merokok ? Yasudah jalan kaki atau naik angkutan umum saja. " Ketus Bian.


“ Hmm ? " Jawab Pak Ujang bingung.


“ Turuti saja Pak " Jawab Bian cuek.


Dengan pelan Pak Ujang berhenti di sebuah halte yang sepi, jam 11 malam angkutan umum pun sudah berhenti di daerah itu karena mereka sudah melaju menjauhi ibu kota. Tanpa rasa bersalah dan meyiratkan ke khawatiran, Bian menyuruh Ujang untuk kembali melanjutkan perjalanan sedang Renata di biarkan termenung bingung di halte itu.


Sakit .. Jujur saja itu yang Renata rasakan pertama kalinya menyandang status Nyonya Muda keluarga Mahesa. Namun Renata bertekad tidak akan menjadi wanita manja dan berharap belas kasihan dari suaminya maupun keluarga mertuanya. Renata akan berdiri sendiri menggunakan kedua kakinya.


Renata mengambil ponsel dari tas nya, sudah pukul 12 malam. Tanpa terasa 1 jam berlalu Renata merenung di halte itu, Renata berharap jika malam itu masih ada taksi online yang bersedia mengantarnya ke tujuan dan ya setelah 10 menit membuka aplikasi taksi pun tiba.


“ Mba yang pesan taksi ? "


“ Iya Pak, bisa antarkan saya ke alamat itu. Tapi jaraknya masih lumayan jauh. " Tanya Renata.

__ADS_1


“ Gak papa Mba. Disini sudah jarang yang ngalong jam segini. Mari mba .. "


“ Ko sendirian malam malam mba ? Disini daerah rawan, untung saja mba nya baik baik aja. "


“ Saya di tinggal temen pak. Temen saya agak gak waras sih emang haha " Alih alih menangisi nasib, Renata memilih melampiaskan kekesalannya dengan mengata ngatai suaminya sendiri.


“ Wah tega banget mba temennya .. "


Untunglah, supir tersebut benar benar orang baik. Renata di antar sampai ke tujuan, karena sudah tengah malam juga, Renata menyelipkan beberapa lembar uang tips sebagai ucapan terimakasih yang sangat di sambut baik oleh si supir.


Renata menyeret koper kecil miliknya masuk ke area vila yang berada di tepi pantai. Jarak nya tidak begitu jauh dari area parkir namun karena berjalan di pasir pantai, bawaannya terasa menjadi lebih berat.


Renata mengetuk pintu beberapa kali hingga sosok pria bertubuh kekar itu membukakan pintunya. Dengan tersenyum jahat Bian menertawakan kesengsaraan Renata.


“ Saya kira kamu tidak akan sampai disini .. " Sarkas Bian.


“ Saya tidak selemah yang kamu pikir mas. " Renata masuk lalu menghempaskan kopernya dan merebahkan tubuh di sofa.


“ Karena kamu sendiri yang memutuskan untuk tetap kesini, maka nikmati istirahat mu di sofa karena saya akan tidur di kamar. " Ucap Bian dingin.


“ Terserah anda saja. Satu yang anda harus tau, setelah hari ini, rasa hormat saya sudah menghilang untuk anda seiring dengan hilangnya harga diri saya di mata anda. Bagi saya anda tidak pernah ada di hidup saya. " Jawab Renata saat Bian hendak masuk ke kamar.


Perkataan Renata tadi mampu menahan Bian yang sudah memegang handle pintu menjadi terpaku, mencerna setiap kata yang Renata ucapkan tadi.


“ Bagus. Kamu pun bukan apa apa untuk saya " Bian menghilang di balik pintu kamar.


Renata hanya bisa menahan kelu di hatinya, setelah mencuri ciuman pertama mereka, hati Bian ternyata tetap sedingin itu. Renata berusaha untuk tidak menangis, tapi tetesan air mata berjatuhan ke pahanya. Biarpun hidup pas pasan namun baru kali ini Renata merasa di rendahkan, bahkan pelaku utamanya adalah suaminya sendiri. Pria yang harusnya menjaga dan merawatnya seumur hidup.


“ Gue gak tau harus gimana Nya .. " Keluh Renata di jam 3 dini hari pada Anya sahabatnya melalui panggilan telpon.


“ Mau gue jemput kesana sekarang ? Gedek banget gue sama kelakuannya. " Maki Anya dari sebrang suara.


“ Besok, gue balik besok Nya. Dengan atau tanpa ijin dia dan Mami. " Tegas Renata.

__ADS_1


Malam ini, dengan mengorbankan harga diri dan masa depannya Renata sudah mengabulkan permintaan Diana. Setalah hari ini, tak ada lagi hari esok untuk hubungan palsu mereka. Renata bertekad untuk pergi dan tak akan pernah menginjakkan kaki nya kembali di keluarga Mahesa sebelum Bian sendiri yang memohon padanya untuk kembali.


__ADS_2