Suami Bayangan

Suami Bayangan
Kembali


__ADS_3

Tokk .. Tokk


Renata mengetuk pintu kamar Bian, tak lama Bian pun membukakannya.


“ Mas .. Rere udah ngobrol sama Anya fix nya mau pamit sore ini " Ucap Renata.


“ Ok " Bian hanya menjawab dengan singkat.


“ Mas marah ? "


“ Enggak .. " Bian berbalik, lalu mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“ Apa ini mas ? " Tanya Renata saat Bian menyerahkan uangnya ke tangan Renata.


“ Itu uang buat ongkos sama jajan kamu. Kamu punya rekening kan ? "


“ Punya mas .. " Renata masih menatap heran.


“ Yaudah kirim ke no saya norek kamu "


“ Rere gak punya no mas "


“ Astaga, sini hp kamu " Bian meraih ponsel Renata, lalu memasukkan no ponselnya.


“ Masalah kuliah kamu saya yang tanggung. Anggap ini beasiswa dari yayasan saya. Tapi ingat beasiswa gak ada yang cuma cuma, kamu harus berprestasi " Bian memberikan kultum siang.


“ Mas gak minat jadi dosen aja ? Udah cocok loh ! "


“ Mana ada waktu, saya santei gini karena masih cuti berduka. Nanti udah balik kerja ngurus diri sendiri aja kadang gak sempet di tambah sekarang Mami gak ada, saya harus handle semua " Keluh Bian.


“ Makasih ya mas Bian. Aku tau gak mudah buat mas bisa terbuka dan deket sama orang lain kaya sekarang. " Renata memeluk Bian lalu mengelus punggungnya lembut.


Sebuah senyuman terpancar dari bibir Bian, istrinya ini memang keras kepala, kadang kasar, dan juga masih kekanak kanakan tapi di saat saat tertentu faktanya hanya Renata lah yang bisa menghibur Bian. Bian membalas pelukan Renata, karena posisi mereka yang dekat dengan nakas, Bian meraih sebuah remote pengontrol gorden. Dalam satu kali sentuh semua gorden di kamar yang di dominasi oleh kaca itu seketika tertutup.


“ Ko di tutup sih ? Ini masih siang .. " Tanya Renata sambil menengadahkan kepalanya karena Bian lebih tinggi 20cm darinya.


“ Gak mau ngasih salam perpisahan sama suami kamu Re ? " Bian tersenyum smirk memberi kode kode yang mulai Renata pahamai.


“ Mass .. Kan semalem udah " Renata mengerucutkan bibirnya.


“ Itu kan semalem, sekarang beda lagi. Kita juga gak tau bakal ketemu kapan " Tanpa meminta persetujuan Renata, Bian langsung menyambar bibir merah muda Renata mel*umat nya hingga bibir tipis itu sedikit membengkak.


Renata yang seakan terbiasa dengan tempo permainan Bian pun membalas setiap l*umatan dan sesapan yang Bian berikan. Tak ada lagi penolakan, mereka melakukannya dengan saling menginginkan dan menikmati.

__ADS_1


“ Hmm maashh .. jangan di tandain, besok aku masuk kuliah ” Ucap Renata sambil menahan de*sahan.


“ Justru karena itu saya harus nandain semakin jelas biar gak ada yang berani nyentuh milik saya " Dan ya Bian melakukannya dengan memberikan tanda kepemilikan di sepanjang leher Renata lalu beralih ke bagian dadanya.


Dari luar Alvin dan Anya yang sedang mengobrol santai di kolam renang menatap ke atas ke arah kamar Bian yang di kelilingi kaca itu tiba tiba seluruh kamarnya tertutup. Mereka pun saling bertatapan seakan mengerti.


“ Ini pasti lama, mau jalan-jalan ? " Ajak Alvin.


“ Iya mas, mereka lagi puas puasin perpisahan " Anya tersenyum getir.


Akhirnya mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga waktu makan siang tiba, Bian dan Renata baru saja selesai melakukan aktifitas perpisahannya. Renata masih bergulungkan selimut, sedang Bian baru saja keluar dari kamar mandi.


“ Bangun Re .. Kita makan siang dulu " Bian mengusap lembut anak rambut Renata.


“ Cape mas "


“ Mas masakin deh, buat imbalan kamu " Bian mencubiti pipi Renata pelan.


“ Serius ? Bisa masak gitu ? " Renata segera membulatkan kedua matanya.


“ Bisa lah Re, di luar negeri saya biasa urus segala sesuatunya sendiri. " Bian mengangkat tubuh Renata hingga duduk lalu memeluknya, begitupun Renata melingkarkan tangannya dengan manja di pundak Bian. Bian menangkap pipi Renata lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya.


“ Ayo .. Kita makan, packing terus nanti saya anter ke stasiun sambil jalan jalan dulu jadi jangan terlalu sore " Bian melepas pelukannya lalu bangkit keluar menuju dapur.


“ Tuan .. sedang apa ? " Tanya seorang maid.


“ Saya mau masak, lakuin kerjaan lain aja Bi " Titah Bian, dan maid nya pun langsung menuruti titah Bian dengan meninggalkannya.


Bian nampak sibuk seorang diri karena Renata masih bersiap dan sedang merias diri.



Bian mencuci dan mengupas buah buahan yang akan di buat salad buah untuk bekal Renata nanti di kereta.


“ Mas .. " Panggil Renata yang baru saja turun dari lantai dua.


“ Hmm ? " Jawaban khas yang Bian keluarkan ketika ada seseorang memanggilnya.


“ Udah selesai ? "


“ Udah .. Tinggal ini aja buat kamu bawa di kereta "


“ Apaan ? " Tanya Renata penasaran lalu mendongakan kepalanya.

__ADS_1


“ Buah ? " Lanjut Renata


“ Iya, kenapa ? Gak suka ? "


“ Suka ko, tapi kenapa gak beliin aja aku keripik gitu apa ciki cikian "


“ Dasar bocah, di kasih yang sehat malah mau cemilan yang gak sehat. " Bian mendekati Renata lalu menyentil keningnya.


“ Aw mas .. "


“ Nanti udah di kosan, jangan biasain nyemil kaya gitu. Jangan makan junk food juga. " Ultimatum Bian.


“ Kan enak mas .. "


“ Renata .. !!! " Bian menatap dengan sorot matanya yang tajam.


“ Iya iya mas ampun hehe "


“ Haduh enak banget ya penganten baru mesra, sehari kaya tom and jerry sehari kemudian kaya romeo dan juliet " Ucap Alvin yang baru saja tiba.


“ Sirik aja Lo, kalo mau tuh tinggal nikahin Anya biar tau rasanya "


“ Apaan ? Ih gak akan maaf maaf ya saya gak mau nikah muda " Anya segera menggeser posisinya agar jauh dari Alvin.


Seketika semuanya tertawa lepas melihat tingkah mereka. .


“ Udah udah Vin .. nih gue masak jarang kan gue mau masak ? So ayo kita makan dulu " Bian mengajak semuanya untuk duduk di meja makan lalu menikmati hidangan yang Bian sajikan.


“ Soak banget gue lihat Lo tiba tiba berubah gini. Lo kemasukan setan apa Bi ? "


“ Mana ada kemasukan setan jadi baik " Jawab Bian sambil menyendok nasi ke mulutnya.


“ Tapi kan ini Lo Bi. Manusia yang lebih bang*sat daripada setan. Jadi ya kalo Li sedikit baek gue mikirnya Lo pasti ke masukan setan " Canda Alvin yang langsung mendapatkan lemparan tisu tepat di wajah tampannya.


“ Bagus ya lucu banget, mau jadi komedian aja Vin ? Gak papa gue bisa cari asisten lain. "


Skakmat !


“ Eh enggak Bi gak gitu. Ah Lo mah terlalu serius, gue masih betah Bi asli " Alvin langsung menghentikan tawa dan candaannya tadi begitu mendapat ancaman dari Bian.


“ Haha dasar budak korporat " Sindir Anya.


“ Kamu juga calon budak korporat yaelah masih mahasiswa aja belum tau rasanya. " Alvin menjewer telinga Anya gemas.

__ADS_1


Siang itu mereka habiskan dengan bercengkrama, setelahnya mereka sama sama packing saling membantu lalu mengantarkan Anya dan Renata kembali ke kampung halaman menggunakan kereta. Tentu saja Alvin dan Bian hanya mengantar sampai stasiun terdekat.


__ADS_2