Suami Bayangan

Suami Bayangan
Program Membuat Bayi


__ADS_3

Bian sedang sibuk mempacking baju dan beberapa barang milik Renata, sore itu mereka akan pulang. Pulang yang entah kemana karena tentu saja Bian tidak akan mau jika dirinya harus tinggal di kamar kost sempit milik Renata.


" Mas .. " Panggil Renata.


" Hmm ? " Jawab Bian tanpa menghentikan aktifitasnya.


" Hmm .. Makasih ya udah manggil temen temen aku kesini. " Ucap Renata ragu.


" Nevermind, saya lakuin ini biar kamu cepet sembuh, cepet ngelakuin kewajiban kamu ke saya. " Jawab Bian santai.


" Iya mas. Mas udah jangan di lanjutin biar aku aja yang beres beres. " Renata hendak turun dari ranjangnya.


" Udah diem, yang sakit itu kamu bukan saya. " Bian menatap tajam ke arah Renata.


" Mas kenapa repot repot sih ? Padahal mas kan bisa nyuruh orang lain. " Tanya Renata heran.


" Saya gak suka barang pribadi kamu di sentuh orang lain. Coba aja kamu pikir kalo saya nyuruh orang, orang itu bakal beresin underwere kamu sambil bisa aja bayangin tubuh kamu. "


Pipi Renata memerah, antara tersipu malu dan gemas mendengar jawaban suaminya itu. Kini Renata tau, di balik kekejaman dan sikap dingin suaminya, Bian termasuk pria yang posesif.


Wait, bukannya posesif itu karena cemburu ? Cemburu kan tanda cinta ? Pikir Renata.


No .. Jangan di lanjutkan pikiran kotor mu itu Re, cinta ? Seorang Bian Aditya Mahesa tidak akan mungkin jatuh cinta pada gadis sepertimu .. Gumam Renata.


" Udah selesai, sini " Bian menarik tangan Renata untuk melingkar di pundak kekar miliknya. Bian mengangkat tubuh Renata untuk berpindah ke kursi roda.


Dengan lembut Bian mendorong kursi roda itu keluar rumah sakit. Di depan loby supir sudah menunggu, Alvin tidak ikut menyambut kepulangan Renata karena dengan absent nya Bian dari pekerjaan maka Alvin harus ada untuk menggantikan pekerjaannya di kantor.


" Kita kemana ini Mas ? " Renata melihat bahwa arah laju mobil tidak menuju rumah kost nya.


" Ke rumah kita yang baru sudah saya siapkan di sebuah komplek perumahan deket kampus. "

__ADS_1


" Tapi Mas aku masih betah di kost, barang barang aku gimana ? "


" Ayolah Re, kita mau program bikin bayi mana bisa di kamar kost. Yang ada kita di grebek Ibu Kost kamu karena bikin kegaduhan. Barang kamu biar nanti nyusul. " Lagi lagi Bian membuat Renata tersipu malu, terlebih saat ini di dalam mobil ada orang lain yang pasti mendengarkan celotehan Bian.


Renata tak lagi berbicara, sesuai komitmen dan kesepakatan bersama Renata akan menerima permintaan Bian termasuk tentang melahirkan seorang bayi dan ya untuk mendapatkannya tentu membutuhkan usaha juga keleluasaan.


Akhirnya mobil mereka sampai di sebuah gerbang, rumah dua lantai itu cukup mewah bagi Renata. Di design dengan konsep minimalis modern. Renata tersenyum, dia menyukainya.


" Kamu suka ? " Tanya Bian yang melihat senyum menyungging di bibir Renata.


" Suka .. Makasih mas "


" Gak ada yang gratis. Kamu harus ganti pake pelayanan yang memuaskan " Bisik Bian ketika mereka akan masuk.


Renata hanya menatap punggung Bian yang masuk terlebih dulu dan langsung menuju kamar utama. Bian hendak merapikan pakaian milik Renata meski tidak banyak. Harus Renata akui bahwa Bian sangat telaten dan mandiri dalam mengurus banyak keperluan.


" Kamu rajin ya mas ? " Tanya Renata yang duduk di tepi ranjang.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Bian menyiapkan air hangat untuk Renata mandi kemudian. Bagaimana pun lelahnya, Bian tidak ingin jika di antara mereka ada yang membawa virus dari rumah sakit sehingga bagi Bian wajib hukumnya untuk mandi.


" Saya udah siapin air anget buat kamu mandi. " Ucap Bian begitu keluar dari kamar mandi.


" Yaaahh Mas padahal Aku mau rebahan dulu. Cape banget. " Keluh Renata.


" Mau mandi sendiri sekarang atau mau saya paksa mandiin Re ? " Jawab Bian tegas.


" Ampun Mas, Aku mandi sendiri aja. Makasih " Renata bangkit perlahan lalu bergantian kini dirinya yang melakukan ritual mandi.


Selagi menunggu Renata selesai mandi, Bian menyiapkan makan malam untuk mereka berdua karena waktu pun sudah lepas magrib. Renata keluar dari kamarnya dengan rambut tergerai dan masih sedikit basah. Renata duduk begitu saja di meja makan sambil memainkan ponselnya.


__ADS_1


Bian sesekali menatap ke arah Renata, gadis itu terlihat sangat menggemaskan dan polos. Kadang terbersit suatu rasa bersalah di hati Bian karena menyentuh gadis yang usianya masih bisa di bilang kanak kanak. Di saat teman teman seusianya masih sibuk bermain kesana kemari, Renata harus terjebak dengan dirinya dan di tuntut menjadi mesin pembuat keturunan.


" Re .. Udah dulu main hp nya. Makan ! " Gerutu Bian.


" Iya mas iyaa " Renata menyimpan ponselnya, dia tau bahwa Bian bukan tipe pria yang bisa di bantah. Membantah perintah Bian sama saja dengan memancing singa yang sedang tertidur untuk bangun.


Mereka menikmati santap malam tanpa bersuara, setelah selesai dengan urusan perutnya, Bian mencuci piring lalu segera ke kamar. Begitu juga dengan Renata.


Dengan sedikit ragu Renata naik ke ranjang menghampiri Bian yang sudah berada di sana lebih dulu.


" Tenang, saya gak akan apa apain sekarang. Jujur aja saya cape, pengen istirahat. " Bian menggeser badannya agar menempel dengan tubuh Renata lalu melingkarkan tangannya di pinggang Renata.


" Selamat tidur Mas .. Makasih udah ngerawat Aku beberapa hari ini " Ucap Renata tulus.


" Hmm .. " Bian hanya menjawab dengan singkat lalu menelusupkan wajahnya di ceruk leher Renata.


Nafas hangat dan teratur terasa menerpa lehernya, hanya dalam hitungan menit Bian sudah terlelap tidur. Renata mengerti Bian pasti sangat kelelahan setelah 3 hari merawatnya dan mungkin baru malam ini saja mendapatkan waktu tidur yang tepat.


Tak lama Renata pun menyusul Bian terlelap dalam tidurnya. Rasa hangat dari tubuh Bian terasa begitu nyaman menjalar ke seluruh tubuh Renata. Membuatnya semakin nyenyak hinggak tak terasa pagi pun tiba. Renata terbangun karena merasakan sentuhan hangat dan sedikit basah di lehernya.


" Hmm mas udah bangun ? " Ucap Renata dengan suara berat khas bangun tidur.


" Hmm .. Tapi yang bangun bukan cuman saya Re " Bisik Bian membuat Renata bingung karena kesadarannya belum pulih sepenuhnya.


" Emang ada oranglain ya selain kita ? " Renata berusaha membuka matanya perlahan.


" Bukan orang, tapi bagian dari saya ada yang ikut kebangun. " Jawab Bian jujur yang kini tengah merasakan juniornya berkedut dan menegang.


Beberapa saat setelah mencerna perkataan Bian, barulah Renata paham dan seketika membulatkan mata.


Yang bener aja ? Masa mau sekarang ? Jam segini ? Astaga .. Tolong rasanya mau run aja

__ADS_1


__ADS_2