
Kehidupan Liana dan Joko berjalan sangat teratur dan bahagia. Liana memilih tinggal di kedai, sedangkan Joko kini kembali sibuk mengurus beberapa bisnisnya. Tak jarang mereka pulang pergi Jakarta Bali untuk mengurus bisnis Joko yang berada di bale. Sedangkan Sinta, kini kembali tinggal bersama Melati di Jakarta. Losmen yang waktu itu menjadi tempat tinggal Liana adalah milik keluarga Joko. Dan Sinta di sana tengah belajar berbisnis dan ia belajar mulai yang terbawah.
Berbanding terbalik dengan Yanu dan Clarisa. Clarisa kini hatinya tengah hancur, bagaimana tidak? Pasalnya sejak awal kedekatan dirinya dengan Yanu hanyalah sandiwara belaka. Agar Liana bisa melanjutkan hidup tanpa ada bayang Yanu.
Namun setelah itu, Clarisa dekat dengan salah satu pria. Dan kini Clarisa tengah hamil anak dari pria tersebut. Sedangkan pria itu telah pergi entah kemana tanpa mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“cla, sudah. Kamu jangan menangis. Kita selesaikan masalah ini sama-sama. Apa lagi kandungan kamu baru beberapa Minggu.”yanu berkata dengan penuh rasa iba.
“nggak ada solusi lagi Yan selain aku aborsi,”kata Clarisa.
“ada. Kita menikah. Anak kamu akan mendapatkan ayah, dan mama akan mendapatkan cucu,”kata Yanu.
“apa kamu serius?” tanya Clarisa.
“iya. Tapi kamu jangan minta lebih, aku akan berusaha mencintaimu. Tapi seandainya itu tidak terjadi. maaf, cinta tidak bisa di paksakan,” kata Yanu.
“terima kasih yan. Apapun itu, aku tetap bersyukur. Setidaknya aku terbebas dari dosa besar. Dan tentang ini semua, hanya kita yang tahu.” Clarisa hanya bisa tersenyum sembari ia mengusap air matanya yang sudah meleleh di pipi.
“oke. Kalau begitu, segera persiapkan untuk pernikahan kita.”kata Yanu.
“baik. Kita hanya perlu ke kantor urusan agama saja. Tak perlu ada pesta,”kala Clarisa.
__ADS_1
“baiklah, kalau begitu aku akan katakan kepada mama kalau aku ingin rujuk denganmu.” Kata Clarisa.
“terima kasih, Yan.”kembali Clarisa hanya bisa tersenyum.
Hari terus berganti, kini Clarisa dan Yanu sudah resmi rujuk. Yanu memutuskan membawa keluarga kecilnya itu ke singapur, selain ia ingin menghapus bayangan Liana Yanu juga ingin melakukan pengobatan kepada sang mama.
Lina yang tengah sakit, hanya bisa pasrah. Namun ia berharap sebelum ia meninggal ia masih bisa melihat dan memangku bayi yang ada di rahim Clarisa, yang Lina tahu itu adalah darah daging putranya.
Sesampainya di Singapura, dan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan pada Lina. Ia pun kini semakin membaik. Lina bahagia menjalani kehidupan di masa tuanya, Lina dan Clarisa memang sedari dulu sudah sangat klop. Sedangkan untuk pekerjaan, kini Yanu memilih menjual semua aset yang ia punya di Jakarta. Dan ia kini bekerja di salah satu rumah sakit di singapura.
“bagaimana keadaan kamu dan bayimu, Cla?” tanya Lina.
“alhamdulilah mama, berkat doa mama dan kasih sayang dari mas Yanu. Aku dan bayiku baik-baik saja ma, kami sehat,”kata Clarisa sembari tersenyum.
Sedangkan Clarisa hanya tersenyum. Senyum penuh kegetiran. Ia merasakan nyeri di ulu hati ketika Lina menganggap bahwa bayi yang di kandungnya adalah darah daging putranya.
Sedangkan Danu di Jakarta, ia tengah melangsungkan syukuran atas kelahiran putra pertama mereka. Begitu bayi itu lahir, hal pertama yang Danu lakukan adalah tes DNA pada bayi tersebut. Dan ternyata hasilnya sungguh sangat mengejutkan. Karena 70% memiliki kecocokan dengan Danu. Hal itu sudah cukup membuktikan kalau bayi itu adalah anak biologis dari Danu. Danu dan keluarga kecilnya tampak bahagia. Sedangkan Ira, sudah lebih bisa menerima apa yang telah terjadi di dalam hidupnya.
Saat syukuran, Liana dan Joko pun di undang. Namun perlakuan Ira kini lebih hangat kepada Liana. Tak seperti yang lalu-lalu.
“liana, kamu apa kabar?” tanya Ira sembari cipika cipiki.
__ADS_1
“alhamdulilah, semua baik dan sehat,”jawab Liana.
“tentang kejadian yang lalu, saya minta maaf,” kata Ira sembari tertunduk.
“Sudahlah, saya sudah melupakan itu semua.” Kata Liana sembari tersenyum.
Tak lama kemudian Danu muncul bersama dengan Vivi yang sedang menggendong putra pertamanya.
“Hay, pak Joko. Apa kabar?”sapa Danu sembari menjabat tangan Joko.
“alhamdulilah baik, dan kami sehat-sehat saja,”kata Joko sembari membalas Jabat tangan Danu.
“Wah, dedeknya lucu,”kata Liana sembari mengusap pipi sang bayi.
“iya mbak. Semoga cepat menyusul,”kata Vivi sembari tersenyum.
“Aamiin,” Ira dan Danu menjawab sersamaan dan membuat Liana dan Joko tertawa.
“Alhamdulilah, Allah langsung mempercayakan kepada kami. Dan sekarang Liana sedang hamil tiga bulan,”kata Joko sembari mengusap perut Liana yang sedikit membuncit.
“Oh iya, Liana tampak gemukan sekarang,”kata Ita.
__ADS_1
“Iya Tante. Sekarang nggak ada waktu buat berhenti makan. Maunya makan terus,” kala Joko.
Dan semua yang ada di sana pun tertawa. Kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu. Mereka mengobrol kan banyak hal. Sampai tiba saatnya banyak bapak-bapak yang akan pengajian datang, dan mereka mengikuti pengajian untuk prosesi acara potong rambut dan pemberian nama pada anaknya Danu.