
Bian Aditya Mahesa
Alvin Utama
Renata Gayatri
Diana Safitri
Visula yang lain nya menyusul yee guys🤪
...****************...
Hari kelima pencarian Renata masih nihil, Bian memutar otak untuk mempersempit daerah pencariannya dengan memilih kampus terdekat di daerah itu.
“ Ada 2 kampus di sekitar sini bos Universitas Harapan Bangsa dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Guna Karya " Ucap pengawalnya.
“ STIA Guna Karya, bukankah itu di bawah naungan Mahesa University ? Di bawah yayasan perusahaan kita ? " Bian mengingat lebih jauh.
“ Ya betul bos, tapi yang terdekat dari sini adalah Universitas Harapan Bangsa. Bagaimana ? " Jelas supirnya.
“ Ok kita telusuri yang terdekat dulu, dan cari juga data Renata di kampus kita siapa tau justru dia berada disana. " Titah Bian.
“ Baik Bos ! " Pengawal itu segera menghubungi Ketua Yayasan untuk mencarikan data Renata di kampusnya.
Dengan harapan besar mereka bisa menemukan Renata kali ini mengingat pesan Tama yang menuntut Renata untuk kuliah, pasti saja Renata mengikutinya.
Bian sampai di parkiran kampus, tanpa basa basi Bian pergi ke bagian administrasi mencari data Renata dan berharap Renata ada disana.
__ADS_1
“ Maaf pak tapi tidak ada mahasiswa yang bernama Renata di kampus ini. Sudah saya cek berulang kali pun " Jelas seseorang di balik monitornya.
“ Baiklah terimakasih atas informasinya " Lagi lagi harapan Bian kandas.
Di tengah kemelut yang di rasakannya, baru saja lima menit Bian masuk kembali ke mobilnya, seseorang dengan nomor tak di kenal pun menghubungi Bian.
“ Selamat Siang, Pak Bian ? " Sapa seseorang di sebrang sana.
“ Ya betul, siapa ? "
“ Saya Ahmad Pak, Kepala Yayasan Pendidikan Mahesa. Saya tadi di hubungi untuk mencari tau data seorang mahasiswa bernama Renata. " Jelasnya.
“ Ya betul, hasilnya gimana ? "
“ Benar Pak di kampus guna karya ada mahasiswa baru semester 1 berusia 18 tahun bernama Renata Gayatri "
“ Ah thanks God. Finally, ya saya yakin dia orangnya. " Jawab Bian excited.
“ Baiklah Pak Bian, saya kirim data lengkapnya ke email Bapak .. "
Bian menyandarkan tubuhnya, akhirnya kini Bian bisa bernafas lega. Secerca harapan muncul dari tempat yang justru lingkungannya sendiri. Segera mobil yang di kendarai Bian pun meluncur ke kampus Guna Karya. Jarak nya cukup dekat hanya memakan waktu sekitar 15 menit ditempuh dengan kecepatan sedang.
Bian turun dari mobilnya dan segera menjadi pusat perhatian seluruh orang yang berada di kampus itu, bagaimana tidak ? Begitu Bian datang, Bian langsung di sambut para petinggi kampus.
“ Ssuutt beliau wakil pimpinan Mahesa Group. Putra kedua dari CEO kita. " Ucap salah satu dosen yang dapat di dengar oleh mahasiswa.
Kabar pun segera menyebar, tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba tiba saja seorang yang bak dewa Yunani datang ke kampus mereka.
“ Maaf Pak kami tidak memberikan sambutan lebih. " Ucap Beriyanto, Pimpinan Guna Karya orang yang di percayakan Ahmad untuk mengelola salah satu kampus cabang Mahesa University itu.
“ Gak masalah, saya tidak sedang dalam kunjungan resmi. Saya hanya mencari seseorang, apa anda sudah tau ? " Tanya Bian sembari menyusuri koridor menuju kantor Beri.
“ Ya kami sudah tau Pak. Mari kita menunggu di ruangan saya. Saya sudah menyuruh orang untuk membawa Renata kesini. " Ucap Beri.
Hanya berselang 5 menit terdengar suara ketukan pintu, akhirnya yang dinanti dan dicari pun menampakkan batang hidungnya. Ya, dia adalah Renata. Gadis muda yang membuat Diana begitu terpukul setelah kepergiannya.
“ Kamu ? " Ucap Renata bertanya tanya.
“ Ya kita bertemu lagi Re. Bisa tinggalkan kami sebentar ? " Tanya Bian pada yang lain.
“ Baik Pak kami permisi dulu. " Sigap seluruh orang meninggalkan ruangan, pengawal pun berjaga di depan pintu untuk menjauhkan kerumunan.
“ Ada apa kamu kesini ? Saya sudah tidak ada urusan dengan kamu "
__ADS_1
“ Saya juga tidak ingin ada urusan dengan kamu Re jika bukan permintaan Mami .. "
“ Hahaha jadi sekarang anda membutuhkan Saya Bapak Bian Aditya Mahesa ? Waw andai saya tau ini kampus bapak, saya lebih baik mencari kampus lain. " Renata sebenarnya sudah memaafkan Bian, hanya saja ucapan nya yang menyakitkan tempo hari tetap tak terlupakan dan melekat dalam pikiran Renata.
“ Ayolah Re, saya jauh jauh kesini bukan untuk mengajak mu bertengkar. "
“ Ck .. Saya tidak peduli ! " Renata membalikkan tubuh nya lalu hendak menarik handle pintu.
“ Mami terkena kanker Re, stadium tiga ! Dia ingin bertemu kamu, setidaknya untuk terakhir kali. " Bian berbicara dengan nada meninggi.
Seketika tangan Renata membeku, rasa sakit yang Bian berikan tidak sebanding jika harus mengorbankan Diana yang tidak bersalah. Pertemuan mereka saat itu memang singkat dan menyakitkan, namun Renata tidak bisa menutupi bahwa ketulusan Diana layak untuk dihargai.
“ Jangan bicara omong kosong ! " Renata kembali membalik tubuhnya ke arah Bian.
“ Apa saya bisa bercanda dengan nyawa Ibu saya ? "
“ Dimana Bu Diana sekarang ? Saya akan menemuinya. " Ucap Renata yakin.
“ Bersiaplah sore ini kita berangkat ke Jakarta. Selesaikan kelas mu dulu dan saya akan mintakan ijin untukmu .. " Jawab Bian.
Renata hanya mengangguk menuruti titah Bian. Sampai kembali di kelas terdengar begitu riuh tentang Renata yang tiba tiba di panggil ke ruangan untuk bertemu dengan salah wakil pimpinan Mahesa Group.
“ Re ? Ada hubungan apa Lo sama Pak Bian ? " Tanya Anya penasaran, Ya nama Bian sudah menyebar secepat itu sampai ke tiap sudut kampus.
“ Dia nyari gue, Bu Diana sakit. "
“ Oh God .. Terus gimana ? "
“ Gue harus ke Jakarta sore ini, Bu Diana pengen ketemu gue. Jadi ya Pak Bian jemput gue kesini. " Jelas Renata yang langsung di angguki oleh Anya.
“ Hebat banget ya sampe Pak Bian yang langsung turun tangan, btw gue baru tau kalo dia yang punya kampus. Pantesan aja sikapnya ke Lo sombong nya sampe selangit. " Ucap Anya agak kesal mengingat cerita pertemuan Renata dan Bian waktu itu.
“ Udahlah emang dia layak buat nyombongin diri. Gue gak peduli, yang gue pikirin sekarang cuman Bu Diana. Kalo Bu Diana gak sakit mana mau gue hadepan lagi sama dia. "
Sore pun tiba, Bian menunggu Renata berkemas di kamar kost milik nya. Ya kini Renata memiliki kamar kost sendiri yang terletak di samping kamar kost Anya. Bian mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Kamar kost itu tidak lebih besar daripada kamar mandi rumahnya namun cukup tertata rapih.
“ Kenapa ? Jijik ? Tunggu aja di luar takutnya anda alergi sama tempat sederhana kaya gini. " Sarkas Renata.
“ Ck .. Kamu pikir saya tidak pernah susah ? Dulu saya juga pernah tinggal di kamar kontrakan 3 petak kalo saja kamu mau tau "
“ Oh ya ? " Renata meragukan kata kata Bian.
“ Udah, masa lalu saya gak penting. Ayo ! " Bian meminta Renata untuk bergegas.
__ADS_1
Akhirnya merekapun berangkat bersama menuju Jakarta. Hening .. Baik Bian maupun Renata memilih menikmati perjalanan dengan menutup suara rapat rapat.