
“ Harusnya kamu biarin Alvin mukulin saya Re .. " Ucap Bian sambil meringis saat Renata tengah mengobati luka di sudut bibirnya.
“ Saya marah sama mas ! Tapi saya gak suka orang lain yang nyakitin mas. "
“ Terus harusnya kamu yang nyakitin saya ? "
“ Iya ! Harusnya saya yang pukulin mas sampai sekarat. "
“ Lah kenapa sekarang kamu malah obatin saya ? " Bian mengerutkan keningnya heran.
“ Biar saya nanti bisa bikin bekas luka yang sama kaya yang di bikin mas Alvin "
Bian tertawa lalu menangkap tubuh Renata yang berada di hadapannya, entah mengapa tingkah gadis ini begitu menggemaskan, pikir Bian. Bian lalu memeluknya erat meski Renata terus berontak namun tentu Renata tak akan berdaya.
“ Masih sakit ? " Tanya Bian ambigu.
“ Apa ? "
“ Ini .. " Bian langsung saja meraba milik Renata.
“ Mas ! " Suara Renata memekikkan telinga Bian.
“ Kepala saya pusing, jangan teriak teriak " Bian menyentil kening Renata.
“ Udah aku obatin semua, aku mau tidur dulu udah jam 1 " Pamit Renata namun dengan sigap Bian menahan tubuh Renata.
“ Mau kemana ? Karena tadi Alvin mengusir wanita yang harusnya memanaskan ranjangku malam ini, sebagai gantinya kamu yang harus melanjutkan tugas nya Renata ! "
Ssrreekk Bian merobek baju yang di kenakan Renata. Renata yang terkejut langsung menjerit namun tangan Bian segera menutup mulut Renata. Kini Renata sudah berada di bawah kungkungannya, Bian menarik ikat pinggangnya lalu mengikatkan nya pada tangan Renata yang terus berontak. Bian menahan tangan Renata dengan mengaitkan ikat pinggang yang membelit Renata ke kepala ranjang.
“ Semakin kamu melawan, imajinasiku semakin liar Re ," Ucap Bian yang sudah berkabutkan gairah.
Bian kembali melakukan apa yang tadi sore telah dia perbuat pada Renata, padahal Renata saja masih kesakitan karena penyatuan pertama mereka kini sakitnya malah bertambah dengan permainan brutal Bian.
Bian menekan dalam miliknya yang terasa menusuk hingga akhirnya mendapat pelepasan, kembali Bian melepaskan benihnya di rahim Renata.
Renata hanya terkulai lemah, sebelum benar benar ambruk Bian melepaskan ikat pinggangnya. Terlihat tangan Renata yang merah dan membiru karena kencangnya ikatan dan gesekan pada tangannya.
“ Terimakasih sayang, ini jauh lebih nikmat dan memuaskan " Bian tersenyum penuh kemenangan.
...****************...
__ADS_1
Pagi menjelang, sinar matahari merangsak masuk jatuh tepat di wajah mulus dan putih Renata yang perlahan membangunkannya. Setelah percintaan panas semalam, Renata langsung terlelap kelelahan.
Renata membuka matanya perlahan, ah rasanya tubuhnya semakin remuk kali ini. Belum lagi sakit di tangannya yang makin jelas terlihat membiru. Sedang pria di sampingnya masih nyenyak di buaiam mimpi.
“ Lagi lagi kamu memanfatakan ku dasar iblis " Maki Renata yang berusaha bangkit dari ranjang.
“ Apa kamu suka memaki di belakang ku Re ? " Tanya Bian dengan suara seraknya, tak di sangka ternyata Bian bisa mendengar ucapan Renata.
“ Untuk apa memaki di belakang anda Bian Aditya Mahesa ? Pada kenyataannya anda berengsek dan layak untuk di caci maki ! " Renata memukuli lengan kekar Bian namun sejurus kemudian Renata meringis karena luka di tangan nya.
“ Ah damn it " Ucap Renata yang memegangi tangannya.
Bian seketika bangkit lalu mengambil tangan Renata yang nampak membiru, semalam masih terlihat samar namun saat ini memar nya terlihat semakin parah.
Bian bangkit dan melilitkan handuk di pinggangnya, Bian berjalan menuju walk in closet lalu membuka laci yang berisi kotak P3K. Sebagai seorang pria yang menyukai olahraga beladiri, Bian selalu menyediakan beragam obat untuk luka ataupun memar, Bian kembali dengan membawa sebuah salep.
“ Sini .. " Bian menarik tangan Renata ke pahanya.
“ Mau apa ? "
“ Kenapa mas nyalahin aku ? Harusnya mas yang minta maaf aku udah janji kejadian sore itu yang pertama dan terakhir. Tapi mas maksa aku. "
“ Janji macam apa itu ? Kamu istri saya, sudah tugas mu melayani kebutuhan saya. Termasuk kebutuhan di ranjang .. "
“ Cih mas saja tak pernah menganggapku sebagai istri " Keluh Renata.
“ Saya menganggapmu, buktinya saya melakukan ini. Saya memperlakukan mu layaknya seorang istri yang saya nikahi bukan sekedar status. " Ucap Bian serius.
“ Kamu sakit jiwa mas, kamu punya penyakit bipolar sepertinya. Semalam kamu sendiri yang bilang untuk tidak mencampuri urusan mu tapi sekarang kamu terus terusan meminta ku melayani mu. "
“ Semalam itu saya marah Re, sahabatmu dan Alvin mereka mengecam saya karena menyentuhmu. Saya sedang sedih Re, saya butuh seseorang untuk menemani dan merangkul kesedihan saya. Saat itu ada kamu, kamu bisa melakukannya. Tapi menurut mereka saya salah. Apa salahnya saya melakukan hubungan dengan istri saya sendiri ? Mereka .. Selalu berpikir saya buruk " Curhat Bian panjang lebar.
Lelaki itu, ternyata bisa bercerita panjang lebar.
“ Semarah itu sampai kamu nyewa wanita malam ? "
“ Iya, saya cuman mau lihatin ke mereka saya gak akan nyentuh kamu lagi kalo itu yang mereka mau. "
Renata hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya, entah siapa disini yang tidak dewasa nyatanya umur tidak menentukan kedewasaan. Bisa bisanya pria berusia 29 tahun mengambil keputusan kenakan seperti itu.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati luka Renata, Bian bangkit langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Renata hanya menatap jengah kepergian Bian. Ya lelaki itu memang datang dan pergi sesuka hatinya tanpa ada kata yang bisa di ucapkannya.
Renata segera memungut kemeja Bian yang nampak kebesaran di pakainya, mau bagaimana lagi ? Bian sudah merobek pakaiannya belum lagi tidak ada handuk lain di kamar ini.
Tak lama setelah Renata berpakaian, Bian keluar dari kamar mandi lalu menatap Renata terpesona.
“ Kamu cocok memakai itu Re "
“ Cocok matamu ! Gak sudi aku pake ini kalo bukan karena mas ngerobek baju aku. "
“ Nanti saya belikan satu lemari penuh lingerie buat baju dinas mu ya ? "
“ Hah ? " Renata menatap bingung.
Lingerie ? Baju dinas ? Apa yang sebenarnya Bian maksud ?
“ Dasar bocah ! " Bian tersenyum manis, ini kali pertama Renata melihat ketulusan dalam senyum Bian.
“ Emang itu apaan mas ? "
“ Cek google deh ya sekalian pilih yang kamu suka nanti saya yang beliin " Bian terkekeh.
“ Apa sih mas ? "
“ Udah pokoknya kamu lihat-lihat dulu aja. " Bian duduk di ujung ranjang hendak mengeringkan rambutnya yang panjang.
“ Kenapa lihatin saya ? " Tanya Bian dengan tatapan tajam.
“ Hmm ? Enggak ! Siapa yang mau lihatin. " Renata mengalihkan pandangannya.
“ Saya tampan ? Tubuh saya menawan ? Saya tau itu yang kamu pikirkan Renata. "
“ Kamu terlalu percaya diri mas. "
“ Dengan wajah dan tubuh seperti ini, tentu saja saya percaya diri Re. Kamu juga harusnya bersyukur saya suami kamu, cuman saya yang nyentuh kamu, setidaknya setiap kita ber*cinta kamu bisa melihat pemandangan indah, right ? "
“ Kamu benar benar tidak waras mas " Renata memutar bola matanya malas lalu melarikan diri keluar hendak pergi ke kamar tamu tempat Anya menyimpan barang barang mereka termasuk pakaiannya.
__ADS_1