
“Iya ma, Risa itu menikah dengan sahabatnya Liana. Dan kini Risa sudah bercerai dengan Liana. Nah, pas aku mengaku sebagai suaminya Liana ternyata Risa juga ada di sana,” kata Joko sembari melirik Liana.
“ Dasar ya, kalian ini.” Melati pun mencubit halus sang putra.
“ Dan karena itu pula, ma. Sekarang jeck makin cinta sama Liana,” gumam Joko.
Dan kini mereka pun kembali bercanda gurau, haru semakin siang, Joko pun kini merasa sangat lamar. Ia pun beranjak menuju dapur.
“ Mama masak apa?” tanya Joko.
“Mbak Sari masak sayur asem ada sambel terasi juga. Kalian makanlah dulu,” titah Melati.
“Dek, ayo kita makan. Mas sudah sangat lapar,” ajak Joko.
Kini Joko pun sudah berada di samping Liana sembari ia membawa nadi berisi sayur dan lauknya. Liana hanya melirik sekilas.
“Kayaknya enak,mas?”tanya Liana sembari menelan salifanya kasar.
“Masakan mama memang paling enak. Mau mas suapin sekalian?” tanya Joko sembari mengarahkan sendok ke mulut Liana.
“ Ah, Jeck. Kamu bisa aja, mama dari dulu masak ya seperti itu. Nggak pernah ada istimewanya,” terang Melati.
Hari pun kini beranjak sore, dan mereka kini berpamitan untuk pulang. Dan Liana menjabat tangan Melati dengan penuh hormat, sedangkan Melati langsung mencium Liana penuh kasih sayang.
“ Mama, kamu pulang dulu ya,” kata Joko sembari ia mencium sang Mama.
“ Hati-hati ya, sebelum kembali ke Bali mampirlah ke rumah. Mama mau menitipkan sesuatu buat kalian,” pesan Melati kepada Joko.
“ Iya, Ma. Nanti Jeck akan tunggu sampai proses Liana selesai. Sementara semua yang ada di sana sudah Jeck titipkan pada Roxy,” terang Joko. Joko memang sering di panggil Jeck oleh Melati.
“ Ya sudah, Tante kami pamit dulu. Terima kasih untuk waktunya,”kata Liana sembari tersenyum.
“ Sama-sama sayang. Jangan sungkan sama mama. Mama senang karena kamu, sekarang Jeck telah kembali,” Terangnya sembari mengusap lembut rambut Liana.
__ADS_1
Liana dan Joko pun kini beranjak meninggalkan kediaman Melati. Sepanjang jalan mereka membicarakan banyak hal.
“ Mas, kenapa mama kamu panggilnya Jeck? Bukan Joko?” tanya Liana sembari tersenyum.
“ Itu ceritanya panjang. Yang jelas nggak akan selesai kalau aku ceritakan sekarang,”jawab Joko sembari tertawa.
“ Ah kamu mah gitu,” kata Liana seolah ia merajuk.
“ Kakekku yang orang Semarang nggak bisa memanggilku dengan nama Jeck, makanya dia memanggilku dengan Joko. Padalah aslinya Jeck,” terang Joko.
“ Oh gitu. Aku pikir karena apa.” Liana.
Saat ini mereka sedang berada di lampu merah, dan liana tengah mengalihkan padang ke arah luar jendela. Ia melihat Clarisa sedang makan malam bersama Yanu. Liana sontak menepuk pundak Joko dan langsung menunjuk tempat Yanu dan Clarisa berada.
“ Mas, lihat ada Clarisa dan yanu,”kata Liana.
Joko langsung memalingkan wajah ke arah yang di tunjuk Liana.
“ Apa pun itu yang terbaik buat mereka aku pasti setuju,” Kata Liana sembari tersenyum.
Padahal hatinya kini masih terasa sakit ketika ia melihat Yanu tengah bersama Clarisa. Namun Liana harus menjaga perasaan Joko yang saat ini sedang ia perjuangkan untuk namanya berada di dalam hatinya.
Kini lampu telah hijau kembai dan Joko kembali melajukan kendaraannya. Joko menyadari kalau Liana sedang bersedih ketika ia melihat kebersamaan Clarisa dan Yanu. Joko kini perlahan mengambil tangan Liana dan ia menggenggamnya.
“ Liana. Aku tak akan membiarkan kamu larut memikirkan pria selain aku. Dan aku tak akan pernah membiarkan kamu mengeluh akan sikapku,”kata Joko dengan sangat lembut.
“ Aku juga nggak akan membiarkan pikiran ini terlalu larut memikirkannya lain, Yanu memang orang dari masa laluku, namun sekarang mas Jeck lah yang menjadi masa depanku,” Kata Liana sembari ia mencium tangan Joko dengan lembut.
“Kenapa sekarang panggilnya jadi Jeck?” tanya Joko dengan tertawa.
“ Bukan apa-apa Mas, aku hanya ingin menjadi orang spesial dalam hidupmu,” terang Liana.
“ Kamu sudah menjadi orang teristimewa bagiku. Bahkan Mama pun mengakuinya, bukan?” kata Joko.
__ADS_1
“ Iya. Dan aku bahagia menjadi teristimewa untukmu. Apa mas Jeck ngga keberatan dengan status janda yang akan aku sandang?” Tanya Liana sembari tertunduk.
“ Tentu saja tidak. Apa kamu nggak tahu kalau sekarang itu janda semakin menggoda?” goda Joko sembari mencubit pipi Liana dengan lembut.
“ Kamu bisa aja, Mas,” kata Liana tersipu malu.
Tak berapa lama mereka sampailah di ruko. Saat Liana keluar dari mobil, bersamaan dengan Danu yang ingin bepergian dengan Vivi, Danu berjalan menghampiri Liana. Sedangkan Joko langsung menghampiri Liana dan ia berdiri di samping Liana sembari ia mengeratkan genggaman tangannya.
Danu langsung menjabat tangan Joko dan memeluk khas pria.
“ Apa kabar, bro?”tanya Danu sembari menepuk pundak Joko dengan halus.
“ Alhamdulilah, semua baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?” Tanya Joko.
Sedangkan Danu kini langsung merengkuh pundak Vivi sebagai isyarat kalau mereka baik-baik saja.
“ Kami baik. Oh iya. Liana, pergerakan pengacara kamu sangat cepat ya. Tadi aku sudah mendapat surat panggilan untuk sidang pertama kita, Semoga kedepannya akan lebih lancar,”kata Danu dengan wajah yang ia buat sebahagia mungkin.
“Terima kasih Mas Danu. Aku pun tak menyangka kalau akan secepat ini. Bahkan aku juga belum tau kalau sudah sejauh itu prosesnya,” kata Liana.
“ Ya sudah, kami permisi dulu, aku ingin mengantarkan Vivi cek kandungan,” Terang Danu sembari ia berbaik meninggalkan Liana dan Joko. Sedangkan Vivi kini memeluk Liana dengan sangat erat.
“ Semoga mbak Liana segera menemukan kebahagiaannya. Dan terima kasih untuk kebahagiaan ini, mbak.” Vivi berbisik di telinga Liana. Liana hanya membalas dengan senyuman.
Kemudian Vivi pun kini langsung mengekor di belakang Danu dan memasuki mobil dengan perlahan karena memang sekarang perutnya sudah semakin membesar.
Joko kini langsung melepaskan genggaman tangan pada Liana, namun ia kini langsung mengusap pundak Liana dengan lembut.
“ Sabar sayang. Nanti setelah kita menikah, aku akan dengan cepat membuatmu seperti itu,” goda Joko sembari mengusap rambut Liana dengan penuh kasih sayang.
“ Mas memang pengacara yang kamu sewa sangat cepat ya mas? Kok sampai minggu depan sudah jadwal aku sidang?” tanya Liana.
“ Bisa di biang seperti itu, sudah yuk. Masuk. Mas mau mandi, sudah lengket semuanya,” Ajak Joko. Dan kini keduanya pun langsung mengayunkan kaki memasuki ruko. Sedangkan mobil Danu sudah jauh melesat membelah kemacetan malam. Joko langsung ke lantai atas, sedangkan liana singgah di kedainya sesaat untuk mengontrol perkembangan kedainya. Liana kini memutuskan kalau gaji ketiga karyawannya akan ia naikkan. kebetulan hari ini adalah tanggal gajian mereka.
__ADS_1