
Renata terlelap sejenak di perjalan, karena berada di samping Bian sering kali kepala Renata terjatuh ke pundak Bian.
“ Heh bangun .. " Ucap Bian sambil menggerakan bahunya.
“ Hmm bentar nya gue ngantuk "
“ Nya apaan ? Nyonya ? " Jawab Bian Heran.
“ Ah ? Sorry sorry .. " Renata segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi bertumpu pada pundak Bian nyaman.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, mereka baru saja sampai di rumah Bian. Rumah yang cukup mewah namun di design minimalis modern itu terlihat sangat cantik. Berbeda dengan kebanyakan konglomerat yang akan memiliki rumah bak istina, rumah Bian masih tergolong rumah yang masuk di akal manusia.
“ Kenapa bengong ? Masuk .. Ini rumah saya. Mami punya rumah sendiri tapi sejak Papi meninggal Mami tinggal disini. " Jelas Bian tanpa ditanya.
“ Gak banyak perabotan ya disini ? " Tanya Renata sambil melihat lihat.
“ Saya gak suka berantakan, saya juga gak suka hal yang berlebihan. Apa yang ada disini hanya yang saya butuhkan " Ucap Bian menjawab rasa penasaran Renata.
“ Dimana Bu Diana ? "
“ Mami di atas sepertinya sudah tidur, lebih baik kamu istirahat dulu di kamar tamu. " Titah Bian menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan.
Renata menjatuhkan tas nya di atas ranjang berukuran Queen size itu, kamar seluruh dindingnya berwarna coklat tua yang di padukan warna hitam dengan jendela berukuran raksasa. Renata mengeluarkan seluruh pakaian nya lalu di rapihkan ke lemari. Tak banyak, hanya pakaian untuk seminggu kedepan karena Renata memang di beri ijin untuk seminggu ini tidak masuk kuliah.
“ Kosong banget sih, itu manusia hidupnya kaya hampa gak ada sentuhan accessories sedikit pun gitu ? " Renata bermonolog sambil menatap heran.
Renata sudah membersihkan diri, berganti pakaian dan kini hanya berbaring menatap langit langit kamar. Waktu menunjukkan pukul 1 malam namun mata Renata enggan terpejam. Perasaannya gelisah, entah apa yang akan terjadi disini. Atau hanya karena asing dengan lingkungan baru ? Entahlah Renata memilih memaksa matanya untuk menutup meski pikirannya masih melayang entah kemana.
Alarm di ponsel Renata memaksanya membuka mata, kebiasaan lama. Alarm yang bersuara nyaring itu terasa terlalu mencolok di tempat sesunyi ini. Renata bergegas mematikan alarm nya lalu bangkit dari ranjang empuknya.
Sambil mengendap Renata memberanikan diri keluar dari kamar melihat situasi rumah. Sama seperti pertama kali masuk, sepi dan hening. Begitu Renata turun ke dapur untuk mencari minum, seseorang menepuknya dari belakang.
“ Aahhh .. " Jerit Renata
“ Sssuut diam ! Ini saya Bian .. " Bian menyumpal mulut Renata dengan tangannya dari belakang hingga seperti pasangan yang memeluk dan bermesraan.
__ADS_1
“ Bian .. Siapa itu ? " Suara Diana sontak mengagetkan keduanya.
“ Hmm ini Mi ini Renata " Ucap Bian seraya melepaskan tangannya dari mulut Renata.
“ Renata benarkah ? " Diana mendekat agar melihat lebih jelas.
“ Ya Tuhan Renata .. Sini sayang " Diana membawa Renata dalam pelukannya.
“ Mami kangen sekali sama kamu Re. Kemana aja kamu selama ini ? Tega sekali tidak mengabari Mami .. "
Mami ? Batin Bian
“ Rere sibuk ospek dan adaptasi sama kehidupan kampus. "
“ Syukurlah, Rere kuliah dimana ? "
“ Di Guna Karya Bu .. "
“ Loh Guna Karya kan di bawah Mahesa University satu yayasan pendidikan Mahesa. Jadi kamu kulish di kampus Mami Re " Ucap Diana excited.
Bian yang habis berolahraga pagi tadinya hendak minum namun melihat Renata yang keluar mengendap ngendap Bian jadi curiga Renata akan melakukan tindakan kriminal, mencuri misalnya ? Jadilah Bian memperhatikannya namun saat hendak menegur, Renata malah menjerit membuat Bian terpaksa memeluknya dari belakang lalu menyumpal mulut Renata. Jeritan itu terdengar sampai ke kamar Diana dan membangunkan Diana. Saat Diana akan melihat apa yang terjadi, Diana menatap kaget melihat putranya sedang bermesraan dengan wanita di dapur.
“ Selamat gue .. Mami bisa ngira gue pedofil yang mau ngelecehin anak orang. Untung gak di perpanjang. " Ucap Bian lega, Bian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap menggunakan setelan jas dan kemeja nya.
Semua telah berkumpul di meja makan, hanya tinggal menunggu Bian. Aturan di rumah ini adalah selalu sarapan tepat waktu dan tidak boleh saling mendahului, semua harus mulai bersamaan.
“ Lama banget sih Bi, kasihan itu Renata udah laper pasti .. " Gerutu Diana.
“ Maaf Mi tadi Bian nyiapin dulu berkas yang mau di bawa, semalem Bian kan gak keburu. "
“ Oh iya. Makasih ya Bi Vin kalian udah nemuin Mami sama Renata. Rere juga, makasih ya udah mau nemuin Mami " Diana menggenggam tangan Renata.
Baru saja beberapa bulan mereka tak bertemu namun Renata bisa melihat perubahan drastis pada fisik Diana. Tubuhnya menjadi lebih kurus dengan mata yang sendu dan wajah pucat.
“ Sama sama Bu, ayo ibu makan dulu. Selama disini Rere bakal rawat Ibu ya ? " Renata berusaha menghibur Diana sebisa mungkin.
“ Iya Ayo makan Mi. Mami mulai sekarang harus makan dan minum obat tepat waktu. Mami juga harus mulai kemo ya Mi ? " Pinta Bian, sesuatu yang selalu di tolak Renata sebelumnya.
__ADS_1
“ Loh Ibu belum kemo ? Bukannya harus segera ya ? "
“ Iya harusnya gitu tapi Mami nolak. Mami pengen ketemu kamu dulu "
“ Kapan Ibu mau konsul ke dokter buat minta jadwal kemo ? Rere mau anter Ibu. " Ucap Renata yakin.
Dengan bujukan Renata, akhirnya Diana bersedia untuk menjalankan kemoterapi dan berobat. Lagi lagi Bian berhutang jasa pada Renata yang tidak ternilai harganya.
“ Thanks Re, kamu udah bikin Mami saya mau berjuang ngelawan penyakitnya. Tapi Re .. "
“ Tapi apa ? "
“ Kalau Mami sudah stabil saya harap kamu jangan terlalu dekat dengan Mami " Ultimatum yang sama seperti saat itu.
Renata pikir waktu dan pengalaman sudah merubah sikap Bian. Namun nyatanya tidak. Entah apa salahnya hingga Bian senantiasa menganggap remeh dirinya.
“ Apapun yang kamu pikirkan, saya tidak seperti itu. Saya kesini murni karena Bu Diana. " Tegas Renata.
“ Saya tidak meragukan niatmu, hanya saya menjaga agar niatmu senantiasa lurus. "
“ Terserah anda saja Bapak Bian yang terhormat ! "
Serasa hilang sudah harga diri Renata di depan Bian, sikap baik Bian ternyata hanya karena ada mau nya yaitu untuk memanfaatkan kehadiran Renata demi kesehatan Diana.
Sungguh kejam bukan ?
“ Apa yang kamu pikirkan Re ? " Alvin mendekat begitu melihat Renata yang melamun di pinggir kolam.
“ Memangnya terlahir miskin itu salah ya mas ? " Renata bertanya begitu saja.
“ Pertanyaan macam apa ini. Tentu tidak Re. Bukankah setiap yang di lahirkan tidak tau akan hidup dalam keluarga seperti apa. Kenapa kamu nanya begitu ? "
“ Enggak mas. Rere ngerasa beda aja sama kalian. Rere ngerasa asing disini. "
“ Bian kan yang bilang yang enggak enggak ke kamu ? Maaf ya Re, sikap Bian memang gitu. Anggap aja gonggongan ayam. Eh anjing maksud saya "
“ Haha mas Alvin lucu banget sih jauh beda sama manusia arogan di dalam sana " Renata menatap tajam ke arah Bian yang sedang asik berkutat dengan laptopnya.
__ADS_1