
Setelah peristiwa siang yang tidak mengenakkan, Sarah benar-benar tidak bisa lagi fokus. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi kepantai, sejenak membuang keresahan yang sedang mengguncang hatinya.
Ia berjalan disepanjang bibir pantai dengan membawa 1 buah kelapa muda yang siap untuk diminum. Merasa lelah berjalan, Sarah pun memutuskan untuk duduk ditepi pantai sembari menyesap kesegaran dari buah kelapa itu. "Jadi, begini yang namanya cinta. Sungguh miris dan menyakitkan hati. Bahkan kesegaran buah kelapa ini saja tak mampu meredam rasa panas yang tersisa didalam hatiku setelah tadi melihat Zayyan bersama wanita itu" gumamnya.
Sarah kembali menyesap es kelapa itu, sampai ia tak menyadari jika airnya sudah habis, yang tersisa hanyalah daging dari buah tersebut. "Astaga! Sudah habis rupanya. Sebegini parahnya jika sedang gelisah, air kelapa 1 biji saja tak terasa habis"
kemudian ia menaruh biji kelapa itu, dan teringat akan pertanyaan Reza yang tak sempat ia jawab "Aku harus bagaiamana? Pak Reza sudah sangat baik selama ini terhadapku. Akan tetapi aku sudah tidak memilki perasaan apa-apa lagi dengannya. Lagi pula besok aku akan diperkenalkan dengan laki-laki pilihan Mama. Argh! Ini semua karena Zayyan, aku sudah tak sempat lagi untuk menjawab"
"Apa aku harus menelpon Pak Reza? Ah. . . tidak-tidak! Sangat tidak sopan jika aku menolaknya lewat telpon. Nanti saja setelah aku sudah kembali bekerja, karena besok aku akan libur"
Namun ditengah-tengah ia mencoba berdamai dengan pikirannya lagi-lagi ia teringat dengan perkataan Zayyan, entah yang keberapa kali ia menghembuskan nafas beratnya tatkala mengingat laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya itu "Yah. . . Zayyan! Laki-laki itu yang membuatku gelisah dalam 2 bulan belakangan ini. Andai saja ia pergi dengan berpamitan, mungkin aku tidak akan semenyedihkan ini! Mungkin aku juga akan bahagia bersama pasangan baru ku"
"Kenapa saat aku mulai berdamai dengan hatiku, tiba-tiba ia muncul lagi, namun kehadirannya kali ini sungguh menambah goresan luka dihatiku, saat ia bermesraan dengan wanita lain dihadapanku! Haissh. . . perasaan tak berbalas ini menyedihkan sekali"
Cukup lama Sarah menghabiskan waktunya dipantai tersebut. Saat bulan mulai menjalankan tugasnya untuk menerangi malam, barulah ia beranjak pergi untuk kembali kerumah.
.
.
Sesampainya halaman rumah pun, ia masih sempat saja berpikir didalam mobil "Apa benar yang dikatakan Tuan Zayyan? Ah. . . Aku sangat pusing! Sebaiknya aku masuk rumah dulu"
Sarah pun keluar dari mobil, ia berjalan dengan begitu lesu, sampai-sampai Bibi Ratna saja yang menegurnya tak dapat ia dengar. Didalam otaknya saat ini hanya ada Zayyan dan Zayyan seorang. Akan tetapi, lamunan Sarah tiba-tiba buyar tatkala mendengar seseorang yang tak asing memanggilnya, dengan segera ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik "Daddy!"
"Ia sayang, ini Daddy"
Sarah segera mendekat dan memeluk Daddy Rehan sangat erat. Setelah pelukan mereka terlepas, Daddy Rehan memperhatikan raut wajah putrinya dengan intens "Sepertinya putri kecil Daddy sedang ada masalah?"
"Aku baik-baik saja, Dad" Sarah mengalihkan pandangannya kesembarang arah, agar tidak terlihat gugup.
"Kau bisa menyembunyikan pada semua orang, tapi tidak dengan Daddy dan Momi"
Sarah menghela nafas beratnya "Ini hanya tentang perasaan, Dad"
Daddy Rehan mengelus lembut kepala putrinya "Ternyata, putri kecil Daddy sudah dewasa. Katakan, siapa laki-laki yang sudah berhasil merebut hati putri Daddy?"
"Itu tidak penting Dad. Aku tidak mungkin dengannya, karena dia sudah memilki calon, dan mungkin akan segera menikah"
"Mungkin dia bukan laki-laki yang tepat untukmu, sayang"
Sarah mencoba tersenyum "Iya, Dad. Sarah sudah menerimanya. Oh ya, Daddy kenapa datang kerumah tanpa memberi kabar?"
__ADS_1
"Bukankah besok kau akan bertemu dengan laki-laki yang akan dijodohkan Momi untukmu? Sabab itulah Daddy datang kemari"
Sarah kembali menghela nafas beratnya kemudian tersenyum "Daddy benar, aku sampai melupakan acara itu besok"
Mama Dessy yang telah menguping dari tadi, segera datang menghampiri "Sarah, apa kau tidak apa-apa, Nak? Jika kau keberatan, Momi akan membatalkannya"
"Bukankah setiap ibu menginginakn yang terbaik untuk anaknya? Aku yakin, Momi pasti sudah mengetahui bagaimana sifat dan sikap laki-laki yang akan dijodohkan untukku, dan pilihan Momi pasti yang terbaik" ujar Sarah dengan tenang sembari tersenyum
"Lalu bagaimana dengan Zayyan?"
"Mom, aku dan Tuan Zayyan hanya sebatas kenal, tidak ada yang spesial diantara kami berdua. Lagi pula, tadi siang aku tak sengaja bertemu dengannya disebuah restoran, ia bersama seorang wanita. Sudah dipastikan, wanita itu adalah kekasihnya yang sebentar lagi akan berubah status menjadi istri"
Momi Sabrina mengerutkan keningnya "Dari mana kau tahu itu Sarah?"
"Dua bulan yang lalu, Tuan Zayyan pernah bercerita tentang masalah yang sedang dialaminya. Ia akan menerima perjodohan dengan pilihan Mamanya jika ia belum mendapat kekasih, dan wanita yang menemani Tuan Zayyan tadi siang sudah pasti calon istrinya"
"Tapi Sarah, Momi tidak ingin kau menerima perjodohan ini karena terpaksa"
Sarah kembali tersenyum, ia meraih telapak tangan Mominya dan denganntenang berkata "Mom, aku sama sekali tidak terpaksa! Lagi pula, bukankah besok hanya pertemuan sekaligus pengenalan saja. Jika kami cocok, maka akan berlanjut ketahap berikutnya, jika tidak maka kami berhak memutuskanya. Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan bukan?"
Momi Sabrina pun tersenyum, ia bangga dengan pemikiran putrinya yang semakin dewasa "Terimakasih, sayang! Mama hanya berharap kebahagiaan bagimu"
Momi Sabrina pun segera memeluk putri sematawayangnya itu. Setelah cukup lama berpelukan, Sarah perlahan melepas pelukannya "Kalau begitu, aku harus masuk kedalam kamar dulu. Sekujur tubuhku rasanya pegal sekali"
"Beristirahatlah, sayang"
Sarah hanya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar. Daddy Rehan mendekat kearah Momi Sabrina, setelah dirasa putrinya sudah memasuki kamar "Sayang siapa Zayyan?"
"Dia seorang laki-laki yang Sarah kenal hampir empat bulan yang lalu"
Daddy Rehan mengerutkan keningnya "Apa mereka berdua dekat?"
"Dulu! Tapi dua bulan belakangan ini mereka sudah hampir tak terlihat lagi jalan berdua, dan semenjak 2 bulan terkahir ini pula aku melihat Sarah tidak begitu bersemangat menjalani hari-harinya" ujar Momi Sabrina sembari menghela nafas beratnya.
"Kasihan sekali putri kita, baru jatuh cinta, justru cintanya tak berbalas"
"Terkadang harus merasakan pedihnya terlebih dahulu, agar suatu saat tidak lagi mudah untuk menjatuhkan hati kesembarang orang"
Daddy Rehan mengangguk-angguk membenarkan perkataaan istrinya "Kasihan sekali putri kita"
"Yah. . tapi aku bersyukur, dengan adanya kejadian ini. Sarah semakin terlihat dewasa"
__ADS_1
"Kita harus bersyukur untuk itu, sayang. Karena banyak diluar sana yang frustasi hanya karena cinta"
Momi sabrina pun mengangguk, dan membenarkan perkataan suaminya "Kau benar, sayang"
.
.
Sementara itu didalam kamar mandi. Sarah menyalakan semua keran yang ada didalam kamar mandinya dengan kecepatan tinggi, lalu ia berendam didalam bath-up dan menangis sejadi-jadinya
"Ya Tuhan! Kenapa hatiku sesakit ini?" sembari menepuk-nepuk bagian dadanya karena merasa sangat sesak.
"Kenapa bayangan Zayyan terus saja muncul dihadapanku? Perkataannya siang ini membuatku bingung. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu, sementara ia sudah bersama wanita lain"
Cukup lama ia menangis, meluapkan segala emosi, kekecewaan, dan kesedihannya dalam bentuk buliran air mata. Setelah merasa sedikit nyaman, Sarah pun segera menghapus air matanya dan mengatur nafasnya untuk lebih tenang "Baiklah, Sarah! Kau harus semangat. Jangan mau merasa bersalah hanya karena laki-laki yang tidak jelas itu. Lebih baik aku fokus mempersiapkan diriku untuk menikah dengan laki-laki pilihan Momi. Aku yakin, laki-laki itu pasti sangat baik"
****
Dilain tempat.
Zayyan mondar mandir menghubungi nomor ponsel Sarah, namun selalu saja sibuk. "Kenapa nomornya selalu sibuk? Apa dia sedang melakukan panggilan dengan laki-laki tadi siang itu?"
Ah. . . Tidak-tidak! Aku tidak mungkin kalah dengan laki-laki itu! Jelas-jelas aku lebih diatas segala-galanya daripada laki-laki itu" Gerutunya
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan tampaklah sosok Mama Dessy berjalan mendekat kearahnya "Zay?"
Zayyan tentunya menyambut baik kedatangan Mamanya dengan memberikan senyuman "Ia Ma?"
"Kau tidak apa-apa sayang?"
"Tidak apa-apa, Ma?"
Mama Dessy tersenyum, dan meraih kedua tangan putranya "Mama hanya khawatir kau gugup menghadapi hari besar esok"
"Gugup pasti selalu ada, Ma. Tapi aku harus melewatinya"
"Baiklah, persiapkan dirimu untuk acara masa depanmu besok"
Zayyan hanya mengangguk, dan Mama Dessy segera keluar karena tidak ingin menganggu waktu istirahat Putranya.
"Apa ini sudah menjadi keputusan yang tepat untukku?" batin Zayyan, sembari memandangi bintang-bintang dari depan balkon kamarnya.
__ADS_1