SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
SARAN PAPA WILDAN


__ADS_3

"Pesanan tibaaaa...!" Ujar Sarah yang baru saja masuk kedalam ruang rawat Zayyan setelah tadi mengambil pesanannya dihalaman rumah sakit yang ia pesan melalui aplikasi Go*Jek. 5 kantong plastik segera ia letakkan diatas meja, didalam plastik tersebut sudah ada beraneka macam buah, nasi padang, dan cemilan-cemilan lainnya untuk menemani waktu santainya.


"Banyak sekali!" keluh Zayyan


"Aku tidak menyurumu untuk langsung menghabiskannya. Kau dan aku butuh tenaga bukan untuk saat ini, tapi siapa tahu tengah malam mengeluh lapar" jelas Sarah


Zayyan hanya mengangguk tanpa menjawab "Kalau masalah perhitungan, wanita memang jago" batinnya sembari menarij sedikit sudut bibirnya.


Setelah Sarah membuka karet gelang yang mengikat pembuungkus nasi padang, ia segera memindahkan isinya kedalam piring dan membawanya mendekat pada laki-laki yang sedang duduk santai diatas ranjang pasien itu. Dan ia duduk diatas kursi "Kau mau makan pakai sendok, atau melalui suapan tanganku?"


Pertanyaan Sarah sedikit mengerutkan kening Zayyan "Pakai tangan? Huh... Itu suatu hal yang menggelikan bagiku" batinnya


Sarah yang sudah paham dengan raut wajah Zayyan, beralih menggunakan sendok dan segera mencampur lauk serta sayur yang ada didalam satu wadah itu.


"Tunggu!"


Ativitas Sarah terhenti dan menatap Zayyan "Ada apa?"


"Pakai tangan saja!"


"Kau tidak geli?"


"Tidak. Bukankah makan nasi padang lebih enak memakai tangan?"


Sarah tersenyum dengan cepat ia meletakkan sendoknya dan menggunakan tangannya yang seblumnya sudah ia cuci untuk menyuapi Zayyan. "Buka mulutmu aaaa...." pintanya bak ibu yang menyuapi anaknya.


"Enak juga. Bahkan rasanya lebih nikmat saat disuapi menggunakam tangan" batin Zayyan ditengah kunyahannya.


Lagi-lagi Sarah tersenyum dan bernafas lega saat melihat 1 bungkus nasi padang yang nasinya 2x lipat lebih banyak dari kebanyakan nasi bungkus lainnya, kini habis tak tersisa "Terimakasih Zayyan kau sudah mau makan" ucapnya tulus


"Tak usah besar kepala! Aku seperti ini karena ingin memulihkan tenagaku agar bisa mengusirmu keluar dari sini!" ketus Zayyan


Ocehan Zayyan bagiakan angin lalu. Sarah yang sudah kebal menghadapi hanya menaggapi dengan santai sembari tersenyum "Terserah!" Jawabnya singkat, kemudian melihat jam dipergelangan tangannya "Setengah jam lagi kau akan minum obat, jadi beristirahatlah dahulu!"


"Hemm.."

__ADS_1


"Kau mau aku bercerita, atau memainkan ponselmu?"


"Ponsel!"


Sarah pun mengambil ponsel Zayyan yang tersimpan rapi didalam laci meja, kemudian menyerahkan pada pemiliknya. Ini kali pertama ia memainkan ponselnya lagi setelah 5 hari drop "Bersenang-senanglah! Aku akan berbaring sejenak diatas sofa" pamitnya sembari mencium pipi laki-laki yang sedari kesal tak beraturan itu


Tentunya sikap Sarah yang sedikit agresif itu mampu membuat Zayyan menarik kedua sudut bibirnya sembari memandangi punggung Sarah yang semakin menjauh. "Beristirahatlah! Terimakasih, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika hari ini kau tidak datang" batinnya.


****


Sudah 3 hari berturut-tutut Zayyan dirawat oleh Sarah. Walapun dipagi harinya ia harus kekantor karena banayaknya pekerjaan yang tertunda selama lebih sepekan ini. Tak jarang Zayyan mengusirnya untuk pulang dan beristirhat dirumah karena tidak tega melihat Wanitanya itu kelelahan, namun Sarah yang sudah bertekad akan merawatnya sampai sembuh tak bisa diganggu gugat. Setiap kali Sarah pergi bekerja, ia akan meminta tolong Mama Dessy untuk menjaga calon suaminya. Bila jam istirahat kantor tiba, ia juga tak pernah absen untuk datang memantau keadaan Zayyan.


.


.


Sore ini terlihat Papa Wildan yang berjaga, dikarenakan Mama Dessy sedang pergi arisan bulanan bersama teman-teman sosialitanya. Papa Widan yang baru saja selesai berinteraksi melalui telpon genggam miliknya, segera mendekati putranya yang terlihat sedang asik menonton acara berita disalah satu stasiun televisi tanah air.


"Boy, kau sudah terlihat sangat segar sekarang" Ujar Papa Wildan sembari tersenyum


"Kau sudah tampan dari dulu, jadi tak perlu mempermasalahkan itu. Hanya saja tubuhmu perlu asupan nutrsi lebih lagi, agar kau kembali pada bentuk tubuh yang proporsional" Saran Papa Wildan


"Aku akan mengembalikannya setelah keluar dari sini, Pa"


"Papa lihat kau tidak begitu bosan, sangat berbeda saat awal-awal kau baru dimasukkan keruangan ini"


Zayyan mengangkat kedua bahunya "Entahlah! Perhatian Sarah membuatku benar-benar betah"


Papa Wildan tersenyum dan menepuk ringan sebelah bahu putranya itu "Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan dia? Apa sudah ada kejelasan?!"


"Belum, Pa" Jawabnya dengan lesu, sembari menghembuskan nafasnya secara kesar.


Kening Papa Wildan mengerut "Kalian sudah 3 hari bersama tapi mengapa belum ada kejelasan sama sekali?!"


"Dia tidak pernah menyinggung masalah pernikahan. Dia hanya fokus memperhatikan pola makanku, obatku, juga keperluanku yang lainnya"

__ADS_1


Papa Wildan menagguk-anggukkan kepalanya membenarkan perbuatan Sarah, karena selama tiga hari belakangan bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan masalah pernikhan yang dibatalkan itu pikirnya "Lalu, bagaimana denganmu, Zay. Apa kau masih memiliki niatan untuk melanjutkannya?"


Lagi-lagi Zayyan menghela nafas beratnya dan melihat lurus kedepan dengan tatapan yang sayu "Aku tidak tahu, Pa"


"Kenapa?"


"Perkataannya yang dulu saat membatalkan rencana pernikahan membuatku sangat kecewa. Bahkan jika aku mengingatnya, aku sedikit kesal" jelas Zayyan


Papa Wildan pun ikut menghela nafas beratnya kemudian meraih ponselnya yang terleletak diatas nakas, membuka galerry dan mencari sebuah rekaman video lalu ditunjukkan pada Putranya "Mungkin ini bisa mengubah jalan pikirmu, Zay"


Zayyan pun membuka rekaman video tersebut yang mana didalamnya ada Momi Sabrina dan Sarah sedang beradu mulut saat putrinya mengatakan telah membatalkan pernikhan. Menit berikutnya bibir Zayyan sedikit tertarik keatas saat mendengar pernyataan


"Kau sangat salah! Sekarang, Momi mau bertanya, apa kau masih menyayangi Zayyan?" Tanya Momi Sabrina


"Aku sangat menyanyanginya, Mom" Jawab Sarah


"Itu berarti kau sangat kehilangan dia selama seminggu ini?!"


"Aku kehilangan, bahkan aku selalu merindukannya setiap malam"


*Sebagian isi percakapan dalam rekaman tersebut.


"Bagaimana, Zay. Apa kau masih ragu?!" Tanya Papa Wildan setelah melihat putranya menyelesaikan tontonan tersebut.


"Aku tidak pernah ragu akan cinta tulusnya, Pa. Hanya saja sifatnya yang mudah mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak yang diterima oleh lawannya menjadi pertimbanganku. Tidakkah dia itu terlalu egois?!"


"Kau benar, jika dipikirkan Sarah memang egois. Tapi Saat itu dia sedang sangat tertekan dengan keadaan. Jika kau berniat tak meneruskan pernikahan ini, bukankah kalian sama saja egoisnya? Ingat! kalian itu saling mencintai, jadi tak usah menyakiti diri sendiri"


Zayyan membisu, ia tengah mencerna baik-baik ucapan Papanya "Apa aku harus menerimanya kembali?" batinnya


Kembimbangan Zayyan membuat Papa Wildan kembali menepuk ringan sebelah bahu Putranya itu "Dengar Zay, menikah itu mampu menjadikan seorang bersikap dewasa. Mungkin diawal pernikahan meredam ego akan sangat sulit. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kalian akan bisa dengan sendirinya. Ini juga merupakan satu tugasmu untuk membimbingnya menjadikan pribadinya lebih baik. Apalagi wanitanya adalah Sarah, wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Tak akan sulit untuk mengajarinya, dia pasti akan patuh terhadapmu"


"Aku akan memikirkannya kembali, Pa"


"Papa percaya dengan keputusanmu, Zay. Besok kau sudah bisa pulang, Papa harap kau sudah membuat keputusan saat keluar dari sini"

__ADS_1


Zayyan menatap wajah lelaki yang telah tulus membesarkannya dengan cinta dan kasih itu, kemudian tersenyum "Baiklah, Pa. Terimakasih telah mengingatkanku"


__ADS_2