
Dua hari semenjak kepergian Daddy Rehan. Momi Sabrina lebih banyak diam dan menyendiri. Begitu pula dengan Sarah, sudah dua hari ia tidak masuk bekerja, dan selama itu pula ia tak pernah menghubungi Zayyan. Ponsel selalu ia matikan, beberapa kali Zayyan datang menemuinya, amun selalu tak pernah bisa bertemu. Sedangkan Darrel, sementara ini ia dirawat oleh babby sitter.
****
Sarah merebahkan dirinya diatas kasur sembari memadangi langit-langit kamar, beberapa kali ia menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Aku masih belum bisa menerima semua kenyataan ini"
"Sebentar lagi aku akan menikah, apa kah kami akan bahagia?"
"Arghh! ini memsuingkan diriku. Aku tidak bisa terus seperti ini, perbuatan Daddy benar-benar membuatku ragu untuk menikah" gumamnya.
Ia pun segera bangun, dan meraih ponselnya yang terletak diatas meja rias. Kemudian mengaktifkannya setelah 2 hari berturut-turut ia matikan. Rentetan pesan bela sungkawa serta panggilan tak terjawab menyerbu ponsel Sarah, namun sama sekali tak ia pedulikan. Ia hanya mencari kontak Zayyan dan segera menghubunginya.
****
Suara deburan ombak dan hembusan angin menerpa wajah cantik Sarah yang tengah asik berdiri ditepi pantai sembari menunggu seseorang. Tiba-tiba saja lengan kekar melingkar tepat diperutnya, membuat Sarah segera menoleh.
"Zayyan"
"Aku merindukanmu, Sarah" Ujar Zayyan sembari tersenyenyum. Ia segera memeluk wanitanya itu dengan sangat erat.
Sesaat setelah pelukan mereka berdua terputus Sarah menuntunnya untuk segera duduk diatas pasir pantai. kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Zayyan "Aku sangat mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu, Sarah"
Sejenak Sarah memejamkan kedua bola matanya menghirup dalam-dalam udara sejuk yang disajikan pantai sore itu kemudian menghembuskannya secara kasar. "Biarkan aku besandar sejenak, menikmati ini untuk yang terkhir kalinya" batinnya.
Zayyan merasa ada yang aneh dari sikap wanitanya itu, namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Setelah cuku puas Sarah bersandar ia segera menatap Zayyan dengan begitu sendu "Zayyan"
"Ada apa?" Tanyanya sembari tersenyum
Sarah meraih telapak tangan Zayyan dan mengenggamnya dengan hangat "Kau laki-laki yang sangat baik dan begitu tulus mencintaiku"
"Aku tahu"
"Tapi kau tidak tahu, jika aku adalah wanita paling jahat karena harus mengakhiri ini semua"
__ADS_1
Kening Zayyan mengerut, perasaanya mulai tidak baik "Apa maksudmu?"
"Zayyan sebelumnya aku berterimakasih atas segala kasih sayang yang tulus telah kau berikan untukku. Aku sempat begitu yakin akan sangat bahagia setelah menjalin rumah tangga dengan orang yang mencintaiku. Tapi, kejadian yang menimpa Daddyku, yang baru aku ketahui beberapa hari belakangan ini membuat ku sedikit ragu untuk meneruskan rencana pernikahan ini" Terang Sarah
"Kau mau memutuskannya?!" Tanya Zayyan dengan nada dinginnya
Sarah segera menunduk kemudian mengangguk
Zayyan segera menangkup kedua pipi Sarah "Tatap aku!" lalu pandangan mereka saling mengunci, terlihat jelas kesedihan yang mendalam pada raut wajah Sarah "Apa kau akan bahagia jika melepas hubungan ini?!" sambungnya
Sarah kembali menganngguk dengan mata yang berkaca-kaca
"Kau berbohong! Raut wajahmu tidak bisa disembunyikan Sarah!! Bagaimana mungkin kau mau melepas kebahagiaanmu hanya karena kau menilai satu hal?!"
"Aku telah memikirkannya, Zay. Lagi pula, dahulu aku tenang-tenang saja walapun tidak memilki pasangan" Sanggah Sarah sembari mebuang pandangan kesegala arah karena tak tahan untuk mengeluarkan air matanya
Zayyan menekan kedua bahu Sarah dan menatapnya dengan tajam "Itu dahulu! Dahulu kau tidak mengenal cinta. Tapi sekarang berbeda, jika kau memutuskan ini aku tidak yakin kau akan bisa melewati semuanya. Sarah dengarkan aku!"
Sarah kembali menatap Zayyan dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Kau tidak bisa menilai hanya dari satu sisi. Kau juga tidak bisa menyamakan satu dengan yang lainnya, karena itu sangatlah berbeda. Lihatlah kehidupan rumah tangga Papa Mamaku, mereka sangat baik-baik saja bukan? lihat lah kehidupan rumah tangga orang lain yang sampai kakek nenek, mereka juga baik bukan?"
"Itu karena mereka mampu mengatasinya. Sarah ku mohon hentikan niat gilamu itu untuk memabatalkan pernikahan ini. Bukan hanya kau dan aku yang sakit tapi ada kedua orang tuaku dan juga Momimu yang kecewa." Pinta Zayyan yang sedikit melemahkan suaranya
"Aku benar-benar tidak bisa Zayyan! keputusanku sudah bulat" Tegas Sarah
Zayyan menghela nafas beratnya, kedua bola matany mulai memerah namun sebisa mungkin ia menahan air matanya "Kenapa kau mengambil keputusan disaat sedang gelisah seperti ini, heh?! Apa kau yakin tidak akan menyesalinya?"
"Aku akan berusha untuk tidak menyesali keputusan ini"
Nafas berat Zayyan kembali mengudara. Perlahan bahu Sarah yang ia cengkaram berangsur-angsur melonggar dan terlepas "Baiklah! jika ini keputusanmu, aku menghargai. Aku juga tidak bisa hidup bersama wanita yang tidak ingin menikah. Kurasa tidak ada yang perlu dibucarakan lagi. Aku permisi" Zayyan segera bangkit, dan berjalan meninggalkan Sarah yang masih terduduk diatas pasir pantai, tanpa sedikit pun menoleh.
Sedangkan Sarah sudah menangis sejadi-jadinya sembari menatap punggung Zayyan yang semakin menghilang dari pandangannya "Kenapa rasanya sakit sekali!" gumamnya sembari menepuk-nepuk bagian dadanya dengan kasar.
Yah. . . sepertinya Sarah telahmenyesali keputusannya.
***
Zayyan berjalan masuk kedalam rumah kedua orang tuanya, melewati ruanng keluarga untuk masuk kekamarnya. Perasaannya yang penuh kekecewaan benar-benar membuatnya hilang fokus, hingga tak sadar jika Mama Dessy dan Papa Wildan memperhatikannya.
__ADS_1
"Zayyan kau sudah kembali? Bukannya kau bilang ingin menemui Sarah" Tanya Mama Dessy
Langkah Zayyan tiba-tiba terhenti dan menoleh pada asal suara "Sudah, Ma. Sepertinya rencana pernikahan kami batal"
"Kenapa tiba-tiba? Zayyan kau bercanda?! persiapan pernikahan kalian sudah 89%" Sembur Mama Dessy
"Dia telah membatalkan pernikhan ini. Aku sudah mencegahnya tapi dia keras kepala. Katanya ia sedikit takut menjalin komitmen setelah melihat kejadian yang menimpa kedua orang tuanya" Jelas Zayyan
Kedua bola Mama Dessy terbelalak, tak mempercayai pernytaan Putranya itu "Apa?!"
Zayyan yang sudah lelah hati dan pikiran segera pergi tanpa menjawab keterkejutan Mamanya.
"Papa, bagaimana ini?! Tidak bisa, aku harus menelpon Sabrina"
"Jangan, Ma!" Cegah Papa Wildan
"Kenapa?!"
"Acara pernikahan mereka masih ada 1 bulan lagi. Biarkan Sarah berpikir, jika mereka memang jodoh pasti akan kembali"
"Lalu jika tidak?"
"Maka pernikahan batal" Jelas Papa Wildan dengan santainya
"Papa, mudah sekali kau mengatakan itu" Sembur Mama Dessy
"Tenanglah, Ma. Papa yakin Sarah akan menyesali keputusannya ini, sebab ia mengambil keputusan dengan perasaan yang bimbang, sedang ia dan Zayyan saling mencintai"
Sejenak Mama Dessy terdiam, ia membenarkan perkataan suaminya itu "Baiklah kita tunggu sampai 2 minggu ini. Kalau begitu aku harus menghubungi Sabrina"
"Jangan, Ma!"
"Ck.. Kenapa lagi?!" Tanya Mama Dessy dengan begitu kesal
"Biarkan Sabrina tenang dulu. Kau jangan menambahkan masalahnya lagi"
Mama Dessy Menghela nafas beratnya "Huh... Baiklah aku akan berusaha tenang beberapa hari ini, tanpa menghubungi mereka"
Papa Wildan tersenyum dan mengacak-acak rambut istrinya itu "Istri baik"
__ADS_1