SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
KEJELASAN DAN BUKTI


__ADS_3

— itulah cerita sebenarnya, Rina" jelas Papa Wildan


Momi Sabrina tak henti menitikkan air matanya saat Papa Wildan menceritakan semua kebenaranya "Astaga! Kenapa kau baru memberitahukanku?! Aku sudah sempat berprasangka buruk dengannya!"


"Maafkan aku. Aku perlu mencari waktu yang tepat untuk menceritakan kebenarannya, dan kurasa ini lah waktunya. Kemarin aku tak mengatakannya, karena aku khawatir kau akan mengataiku hanya mengada-ada " terang Papa Wildan


"Tak apa, Wildan. Walaupun sudah berlalu, setidaknya hatiku merasa tenang karena telah menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang begitu membuatku kesulitan beberapa hari ini"


"Kau tidak marah atau kecewa?"


"Untuk apa?! Aku pun bersalah disini. Seandainya saja aku mengikuti kemauannya untuk tinggal di Kalimantan pasti tidak akan ada peluang bagi wanita itu untuk dekat dengannya" ujar Momi Sabrina, dan kembali menitikkan air mata kesedihannya.


"Kau memang wanita yang luar biasa. Dari dulu sampai sekarang, tak pernah menaruh dendam bahkan dengan mudahnya memaafkan. Wajar saja jika Rehan sangat menyayangimu" batin Papa Widan, kemudian berkata "Lalu, apakah kau akan melakukan tes DNA?"


"Aku sangat menyayangi Darrel, aku rasa tidak perlu untuk melakukan tes itu"


"Ini sangat perlu Sabrina, bagaimana saat ia besar nanti? Saat ia hendak menikah, bukankah kita perlu walinya, kita juga harus tahu asal usul anak itu" Terang Papa Wildan


"Tapi bagaimana? Rehan telah meninggal, bagaimana caranya melakukan tes DNA?!"


"Kau bisa melakukannya dengan uji kekerabatan. Bukankah Rehan memiliki adik laki-laki?"


"Apa itu bisa?"


Dengan mantap Papa Wildan mengangguk "Ya.. Jika benar ia anak Rehan, sudah pasti akan memiliki satu garis keturunan"


Sejenak Momi Sabrina membisu. Kemudian ditengah-tengah keheningan itu tiba-tiba seorang tukang pos datang, berdiri tepat didepan pintu yang terbuka "Permisi! Ada paket!"


Sontak Momi Sabrina dan Papa Wildan menoleh, terlihat Bibi Ratna tengah menerima paketan tersebut lalu mengantarkannya pada Nyonya Rumah


"Permisi, Nyonya. Ini ada paketan untuk Almarhum Tuan Rehan, dari Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin" Ujar Bibi Ratna sembari menyerahkan amplop tersebut


Momi Sabrina segera menerimanya, dan tak menunggu lama ia membuka amplop tersebut. Sejenak ia begitu serius membaca isi surat tersebut, tak lama setelah itu kedua bola matanya terbelalak bagai menemukan suatu hal yang besar "Astaga. Wildannnnn! Coba lihat ini, aku tak salah baca kan?!" pintanya dengan begitu heboh


Papa Wildan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Momi Sabrina. Surat yang ada ditangan istri sahabatnya itu segera ia ambil kemudian dengan tenang membaca isi suratnya.


...*HASIL IDENTIFIKASI DNA*...

__ADS_1


Penemuan profil DNA dilakukan dengan metode standar terhadap sampel darah atas nama Rehan Atmaja sebagai terduga Ayah dan sampel usapan selaput lendir pipi atas nama Darrel Atmaja sebagai anak.


Bukti ilmiah yang diproleh dengan mengacu pada sampel yang diperiksa menujukkan bahwa 6 dari 21 alel loci marka STR yang dianalisis dari terduga ayah Rehan Atmaja TIDAK COCOK dengan alel paternal dari anak Darrel Atmaja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Probabilitas Rehan Atmaja sebagai Ayah Biologis dari Darrel Atmaja adalah 0%. Oleh karena itu Rehan Atmaja sebagai terduga ayah dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis dari Darrel Atmaja.


"Alhamdulillah! Terimakasih Ya Allah atas jawabanmu" Batin Papa Wildan. Begitu senangnya sampai ia bersujud syukur karena sahabatnya tidak seperti yang dipikirkan oleh orang lain


Sedangkan Momi Sabrina menangis sambil memeluk Bibi Ratna yang kebetulan masih ada disana "Bi, ini bukan mimpi kan? Suamiku ternyata tidak mengkhianatiku?!" ucapnya dengan penuh haru


"Benar, Nyonya. Ini lah fakta yang sebenarnya, Tuan Muda Darrel bukanlah anak kandung Tuan Besar. Anda bisa tenang sekarang" Jawab Bibi Ratna


Setelah beberapa menit lalu terharu, kini mereka telah kembali pada posisi semula. Duduk dengan tenang diatas sofa, namun dengan raut wajah yang sudah begitu ceria.


"Ini berarti, kepergian Rehan ke Kalimantan bukan hanya mengurus beberapa kelengkapan berkasnya. Ia juga menyempatkan diri untuk melakukan tes DNA" ujar Papa Wildan


Mama Sabrina mengangguk membenarkan perkataan sahabat suaminya itu "Kau benar. Hasil DNA ini biasanya keluar 1-2 minggu. Sedangkan kepergian suamiku sudah 9 hari"


Papa Wildan menghela nafas beratnya, ia mengerejapkan kedua bola matanya berkali-kali sembari menharahkan pandangannya kesembarang arah karena kesulitan menahan air matanya yang hampir keluar "Malang sekali nasibmu, Rey. Kenapa semuanya terbongkar saat kau tiada. Jika saja wanita yang menyebabkanmu gundah selama 2 tahun belakangan ini masih hidup. Sudah kupastikan ia tak akan selamat dari jeratanku" batinnya dengan penuh kekesalan, kemudian beralih menatap calon besannya "Sabrina, aku turut senang mendengar ini. Segala kegundahan hatimu terjawab sudah" ujar Papa Wildan


"Terimakasih, Wildan. Kau telah mengatakan hal sebenarnya, dan lagi aku mendapatkannya bukti jika Rey, bukan ayah biologis Darrel. Kenyataan ini benar-benar mengangkat beban dipikiranku. Aku harus segera memberitahu kabar bahagia ini pada Sarah" Ucap Momi Sabrina kemudia mengarahkan pandangannya pada Bibi Ratna "Bi, tolong panggilkan, Sarah!" pintanya


"Kau terburu-buru sekali. Tunggulah sebentar, apa kau tidak ingin bertemu Sarah?"


"Aku khawatir dia akan canggung saat melihatku, lebih baik mengindari saja saat ini" Jelas Papa Wildan sembari tersenyum "Sampaikan saja salamku untuknya" sambungnya.


Momi Sabrina menghembuskan nafasnya secara kasar "Baiklah.. Mau bagaimana lagi, semua ini salah anak itu. Membuat suasanan keakraban kita menjadi sedikit canggung. Kalau begitu berhati-hati lah! Sampaikan salamku untuk Dessy dan juga Zayyan"


"Pasti! Oh ya, Rina. Aku lupa mengatakan sesuatu, Zayyan saat ini sedang berada dirumah sakit. Sudah 5 hari ia terbaring disana" ujar Papa Wildan dengan sedikit lesu


"Apa?! Mengapa kai baru mengatakannya?" Sembur Momi Sabrina


Sarah yang ternyata sudah dari tadi mendengarkan pembicaraan antar Momi dan Papa Wildan segera mendekat saat mendengar kabar tak menenakkan tentang Zayyan "Paman!"


Papa Wildan segera menoleh pada asal suara kemudian tersenyum "Sarah"


"Paman, Zayyan sakit apa? Kenapa ia selama itu berada dirumah sakit?! Kenapa Paman tidak memberitahukan kabar ini?!" tanya Sarah dengan air mata yang kembali bercucuran setelah tadi sempat mengering saat sudah mengetahui kebenaran tentang Daddynya.


"Maafkan Paman, Sarah. Kami sengaja merahasiakan ini, karena tidak ingin menambah beban kalian" Sesal Papa Wildan

__ADS_1


Rasa sesak dihati Sarah semakin menjadi "Ya Tuhan! apa yang sudah kulakukan? Mengapa aku jadi wanita sejahat ini?!" batinnya. Kemudian kembali mengarahkan pandanganya pada Papa Wildan "Paman, jika boleh. Izinkan aku menemui Zayyan" pintanya sembari mengatupkan kedua tangannya


Papa Wildan tersenyum, karena memang inilah tujuan utamanya datang kemari "Tentu saja! Ayo kita menjenguk Zayyan"


Dengan segera Sarah mengangguk, mereka bertiga pun segera ke Rumah Sakit.


****


Siloam Hospitals Kebon Jeruk


"Dessy!"


Mama Dessy yang sedang duduk diluar ruang perawatan putranya segera menoleh. Senyumnya mengembang saat menyadari siapa yang tengah menyapanya. Ia segera bangkit dari duduknya dan menhhambur memeluk sahabatnya itu dengan begitu erat "Sabrina! Aku merindukanmu!!"


"Kenapa kau jahat sekali! Tak memberi tahukan tentanh kabar Zayyan?!" Sembur Momi Sabrina, sesaat setelah pelulan mereka terlepas.


"Maaf! Ini semua ide suamiku, ia melarang memberitahukan kabar Zayyan karena takut membebani kalian" sesal Mama Dessy


"Kau ini! Aku sungguh terbebani jika seperti ini, mana calon menantuku?!" Tanya Momi Sabrina sembari mengedarkan pandangannya


"Dia ada didalam!"


"Bolehkah aku masuk?!"


"Tunggulah sebebtar, aku harus bertanya padanya dulu. Karena sudah beberapa orang yang mencoba menjenguknya namun tak satu pun ada yang boleh masuk"


Momi Sabrina segera menagguk, namun sesaat niat Mama Dessy terurungkan tatkala ada yang kembali memanggilnya.


"Bibi!"


Suara yang tak asing itu sontak membuat Mama Dessy menarik sedikit sudit bibirnya "Papa memang bisa diandalkan. Entah jurus apa yang digunakannya sehongga mampu memboyong 2 wanita itu kemari" natinnu, kemudoan ia kembali memasang wajah menyedihkannya "Sarah, akhirnya kau datang sayang"


Sarah mendekat dan segera memeluk calon Mama Mertuanya "Bibi, bagaimana keadaan Zayyan? Bolehkah aku masuk?!" tanyanya dengan panik


"Tunggu sebentar! Bibi harus meminta izinnya dulu"


Sarah mengangguk kemudian bergabung dengan Momi Sabrina untuk menunggu jawaban Zayyan.

__ADS_1


__ADS_2