
Kini kandungan Sarah sudah memasuki usia 36 Minggu, tinggal menunggu hari untuk kelahiran sang buah hati kembarnya. Zayyan terlihat begitu gusar, hari ini ia harus pergi meninggalkan istrinya ke kantor karena ada rapat darurat yang harus ia hadiri, sementara Papah Wildan masih berada di luar negeri dan tidak bisa menggantikan posisinya.
"Sayang. Kamu gak apa-apakan aku tinggal?"
"Gak apa-apa mas cuma kekantor aja kok, kan kalau udah selesai kerjaannya langsung pulang juga"
Zayyan pun berjongkok mengelus-elus perut istrinya "Hei twins, tungguin Papah ya? InsyaAllah gak akan lama kok. Jangan nyusahin Mamah selama Papah gak ada. Oke!!" pintanya kemudian beberapa kali menciumi perut Sarah karena merasa begitu gemas saat mendapat respon berupa gerakan-gerakan yang diberikan calon anaknya.
Sarah begitu senang melihat suaminya yang selalu saja aktif mengajak calon anaknya berkomunikasi "Hati-hati ya mas"
Zayyan segera bangkit dan mencium kening istrinya "Iya Ra, do'ain aku ya"
"Iya mas, semoga masalahnya bisa segera ditangani"
Mereka pun melangkah keluar, terlihat Momi Sabrina sudah menunggu didepan pintu "Mom. Maaf ya aku harus nyusahin lagi" ujar Zayyan sungkan
"Gak apa-apa Zay. Sarah kan anak Momi juga, gak usah sungkan gitu" ujar Momi Sabrina
"Iya Mom, makasih banyak. Kalau gitu aku permisi dulu"
"Hati-hati nak, semoga lancar urusannya"
^^
Sarah terlihat asik membuat kue bersama mominya, tiba-tiba merasakan kontraksi pada perutnya, ia pun memutuskan untuk duduk karena menganggap hanya kontraksi palsu. Momi Sabrina yang menyadari, segera mendatangi putrinya
"Baby kamu kenapa?"
"Gak apa-apa mom. Cuman kontraksi palsu, mungkin kelamaan berdiri"
"Makanya dengerin apa kata mominya gak usah banyak beraktivitas soalnya kamu gampang capek!"
"Iya mom, tenang aja. Lagian cuman buat kue doang gak bikin sampai brojol juga" Ujar Sarah mencoba membela diri
Momi Sabrina pun mendengus kesal "Ya udah, kalau kamu ngerasain lagi bilang ya kita langsung ke Rumah Sakit"
"Siap mom!!"
__ADS_1
Baru saja Momi Sabrina memasukkan adonan kue kedalam oven, ia sangat terkejut saat mendengar putrinya memanggil.
"Baby kamu kenapa?"
"Mom, lihat! Apa ini namanya air ketuban?"
Momi Sabrina sedikit kaget, saat melihat air ketuban yang sudah merembes membasahi lantai, namun ia berusaha tetap tenang agar tidak memperkeruh suasana "Kamu tunggu disini!! Momi panggil mang Ujang dulu. Gak usah panik ya, ini normal untuk ibu yang mau melahirkan"
^^
Sedangkan Zayyan yang sedang melakukan presentasi, tiba-tiba ucapannya terpotong saat melihat Lyra mendekat dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Zayyan begitu terkesiap mendengar ucapan sekretarisnya itu.
"Apa!! Mau Lahiran!?" ujar Zayyan mengulangi kata-kata sekretarisnya, dan didengar jelas oleh semua hadirin didalam rapat tersebut. Mereka tampak saling berbisik satu sama lain.
Salah satu direktur langsung bangkit dari duduknya "Maaf Tuan Zayyan jika kami telah lancang mendegar perbincangan anda. Apa istri anda akan melahirkan?"
"Iya Pak. Maaf sepertinya rapat ini harus kita tunda"
"Tidak masalah tuan, kami semua mengerti!"
Tiba-tiba Zayyan mengehentikan larinya, sejenak ia berpikir "Astagaaa!! Gue lupa nanyain di Rumah Sakit mana?" ujarnya sambil menepuk jidatnya, ia pun mencari ponselnya namun tak menemukannya "Yaa ampun masih diruang meeting" dengan terpaksa Zayyan kembali berlari menuju ruang meeting
Orang-orang yang masih berada didalam sana tiba-tiba mengerahkan pandangannya pada Zayyan yang berteriak-teriak memanggil nama Lyra. Mereka menatap bingung. Sedangkan Zayyan sudah tidak lagi fokus dengan semuanya, ia seperti orang yang kehilangan wibawa
"Lyra!! Nama rumah Sakitnya apa? Mana ponsel saya?? Kenapa kamu tidak memberitahukan dan mengingatkan saya?!"
Lyra hanya menundukkan kepalanya "Maaf Pak Zayyan, baru saja saya mau mengantarkannya. Istri anda berada di Rumah Sakit XXX dan ini ponsel anda"
Tanpa menjawab Zayyan segera meraih ponselnya dan kembali berlari, sekali lagi orang-orang yang berada didalam sana masih setia menjadi penonton. Mereka benar-benar tidak menyangka dengan sosok Zayyan yang ternyata memiliki rasa panik, karena yang mereka tahu selama ini Zayyan adalah orang yang datar, dan terlihat hanyalah raut wajah dinginnya.
^^
Zayyan menggunakan motor yang ia pinjam dari security untuk menghindari kemacetan. Sepanjang perjalanan, ia sudah tidak memperdulikan lagi berapa banyak pelanggaran lalu lintas yang dilakukanya, yang ada dipikirannya saat ini adalah menemui istrinya. Hanya memakan waktu sepuluh menit Zayyan telah tiba di Rumah Sakit, beruntung karena lokasinya tidak terlalu jauh dari kantornya.
"Sayang! maaf aku baru datang" ujar Zayyan yang sudah berdiri disamping ranjang istrinya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
Seketika Sarah tersenyum, rasa sakitnya sedikit berkurang saat melihat suaminya datang "Gak apa-apa mas"
__ADS_1
"Kami harus semangat ya, demi anak kita. Bayangin lucunya wajah mereka jangan bayangin sakitnya" pinta Zayyan. Ia banyak belajar tentang perjuangan wanita melahirkan. Walaupun Zayyan tahu jika saat ini Sarah tengah merasakan sakit yang luar biasa, tetapi ia harus berusaha untuk tetap tenang. Ia terus membisikkan kata-kata positif agar istrinya tetap semangat.
Jika rasa sakit pada Sarah datang, maka lengan suaminya yang akan menjadi sasaran empuknya, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara mengeluh. Sarah terlihat begitu tenang menjalani prosesnya, karena setiap kali ia ingin berteriak ia akan teringat akan pesan Mominya, sebelum kedatangan Zayyan "Jangan malu-maluin ya Baby! Kalian buatnya diam-diam, jadi ngeluarinnya juga harus tenang, jangan berisik!"
Tiba-tiba dokter datang dan menghampiri Zayyan "Maaf tuan, bisa kita bicara diluar"
Zayyan pun mengangguk dan mengikuti langkah dokter keluar "Ada apa dok?"
"Posisi kedua janin sungsang, sangat tidak memungkinkan untuk melahirkan normal. Sebelumnya kami sudah memberitahukan, namun Nyonya bersikeras ingin normal"
"Apa itu berbahaya dok?"
"Resikonya sangat berbahaya Tuan bisa menyebabkan kematian pada ibu atau calon anaknya, apalagi Nyonya akan melahirkan dua anak. Oleh karena itu kami mohon kerjasama untuk membujuk istri anda" pinta dokter tersebut
"Berikan saya waktu untuk berbicara dengan istri dok"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi. Kami tunggu secepatnya"
Zayyan pun melangkah masuk dengan segera menemui istrinya yang terlihat sedang ditemani oleh Momi Sabrina "Ra, kamu serius gak mau Cesar?
"Dari seminggu yang lalu kan aku dah bilang mas, kalau aku mau normal!!"
"Sekarang kasih aku alasannya, karena dari kemaren kamu gak mau jawab?"
"Aku mau ngerasain jadi wanita yang sepenuhnya berjuang melahirkan, dan merasakan nikmat sakitnya"
Zayyan menghembuskan nafasnya secara kasar "Sayang, dengerin aku!! Normal atau pun Cesar keduanya sama-sama mulia, sama-sama merasakan sakitnya. Aku hargain keinginan kamu, tapi keadaan memaksa kita harus memilih jalan ini. Kamu mau kan, hidup dan membesarkan anak-anak kita, sampai dia menikah dan melahirkan cucu-cucu untuk kita?"
"Iya"
"Kalau gitu aku mohon, kamu jangan egois! Sungsang memiliki resiko tingkat tinggi, bahkan bisa menyebabkan kematian antara ibu dan anak. Emang kami mau kalau aku jadi duda keren? Atau kamu mau anak kita yatim??" ujar Zayyan yang sudah sangat terpaksa mengancam dengan cara seperti itu, karena bingung menghadapi sikap keras kepala istrinya.
Tanpa pikir panjang akhirnya Sarah mengangguk setuju "Iya mas aku mau, tapi temenin aku ya diruang operasi?"
"Pasti!! Kita udah buat sama-sama, dan udah sepantasnya gue harus ikut andil didalamnya, walaupun aku gak bisa ngapa-ngapain setidaknya aku akan memberikan support buat kamu "
Momi Sabrina pun menghela nafas lega mendengarnya, walaupun ia kurang setuju dengan ancaman yang diberikan sang menantu kepada putrinya.
__ADS_1