SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
LIBURAN SINGKAT MENYENANGKAN


__ADS_3

Selama kurang lebih 1 jam lamanya, sampailah mereka pada sebuah pulau. Birunya laut dan pasir yang putih menjadikan sambutan pertama untuk mereka, membuatnya tak sabar untuk mengeksplor lebih jauh tentang pulau yang terlihat sepi itu.


Sudah ada petugas yang menunggu untuk membawa mereka meuju villa pribadi milik keluarga Raditya. Tak menunggu 10 menit mereka sudah tiba didepan villa. Lagi-lagi mata mereka tersajikan dengan penampakan halaman villa yang begitu asri penuh dengan tanaman, pepohonan, dan yang utama adalah laut biru yang tepat berada didepan villa.


Seluruh penjaga dan pengurus villa berkumpul menyambut kedatangan Nona dan Tuan Muda mereka. "Selamat datang Tuan dan Nona-Nona, semoga liburan hari ini menyenangkan!"


"Terimakasih!" ujar Zahra sembari tersenyum, sedangkan Zayyan jangan ditanya lagi. Moodnya sudah jelek selama


perjalanan membuatnya tambah malas untuk menyapa seluruh pengurus villa. Mereka semua pun sudah mengetahui akan sifat Tuan Mudanya, yang tidak bisa sembarang orang dapat berbicara dengannya jadi, tidak ada yang ambil pusing dalam masalah ini.


Sarah yang memperhatikan Zayyan pun hanya bisa menggelangkan kepalanya "Benar kata Zahra, dia memang arogan" batinnya


"Silahkan Tuan dan Nona-Nona ikut saya menuju kamar masing-masing" pinta kepala pengurus villa


Mereka semua pun masuk beriringan menuju lantai 2, lantai yang dikhususkan hanya untuk kamar. Seteleh kepergian keempat orang itu, seluruh penjaga dan pengurus villa mulai berbisik-bisik


"Calon istri Tuan Zayyan yang mana?"


"Kau ini bagaimana? Jelas yang berdiri dekat dengannya tadi, yang memakai baju berwarna kuning itu"


"Oh iya, kau benar. Mana ada yang berani berdiri sedekat itu dengan Tuan jika bukan orang yang spesial. Tuan Muda kan sedikit risih berada didekat orang, walaupun itu adiknya sediri"


"Kau benar! Lagi pula, Nona yang berdiri disamping Nona Zahra itu pernah kemari, dia adalah sekretaris pribadi Tuan Zayyan, jadi sudah bisa dipastikan Nona yang memakai baju kuning itu adalah calon istrinya"


"Kelihatannya dia wanita yang baik?"


"Yah. . . aku berharap demikian! Cukup Tuan Muda kita saja yang berkepribadian aneh seperti itu, istrinya jangan. Mau jadi apa rumah tangganya jika memiliki sifat yang sama-sama egois"


"Kau benar! Semoga saja Tuan Zayyan benar-benar mendapatkan calon istri yang dapat menerima segala kekurangannya"


Itu lah sebagian bisik-bisik para pengurus villa yang sangat penasaran sejak kemarin malam, ketika mendapat kabar jika Tuan Muda dan calon istrinya akan berlibur kepulau ini.


.


.


Sarah yang baru saja meletakkan barang-barang, membuatnya tertarik untuk mengelilingi kamar yang sedang ia tempati, kamar yang berada tepat dilantai 2, dengan fasilitas yang super mewah, membuatnya tak henti berdecak kagum. Ia pun perlahan membuka jendela kamar, pemandangan yang pertama kali terlihat adalah hamparan birunya laut dan pasir putih. Oh. . . benar-benar menyejukkan hati bagi yang memandang.


Tiba-tiba Zahra dan Lyra datang, mereka berdua segera menjatuhkan tubuh diatas kasur yang membuat tubuh mereka sedikit terguncang. Sarah seketika mengalihkan pandangannya, dan mendekat kepada dua wanita yang tengah berbaring itu


"Oh ya Zahra, apa kita menyewa villa ini?" tanya Sarah


"Tidak!"


"Jadi, ini villa pribadi?"


"Benar, villa ini milik Papa"


"Kau sering kemari?"


"Hanya sesekali, karena Mama jarang sekali mau berkunjung kemari dengan alasabln tidak bisa berbelanja. Oleh karena itu saat aku mendengar kalian mau kemari aku memutuskan untuk ikut"


"Kau menyukai pantai?"


"Sangat!" Sembur Zahra cepat


"Lalu , bagaiaman dengan pulau ini?"

__ADS_1


"Pulau ini pribdai kak, milik Papa dan teman-temannya. Tak jauh dari sini juga ada beberapa villa yang tak kalah mewah milik teman papa"


Sarah hanya menagguk, membuatnya sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun inilah kenyataannya. "Lalu kemana kau pergi selama ini jika berlibur?"


"Aku ikut Mama berlibur, lebih tepatnya jalan-jalan keluar negeri. Tetapi aku juga tidak terlalu suka"


"Kenapa?"


"Karena Mama akan menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan dan berbelanja. Ooh. . . itu sungguh membuat kakiku pegal dan bosan" ujar Zahra sembari memijit keningnya membayangkan liburannya yang melelahkan bersama mamanya


"Lalu hal apa yang kau sukai?"


"Membaca buku dan menghabiskan berkantong-kantong snak dikamar"


"Wah. . . ternyata selera kita tidak jauh beda"


"Jelas beda!"


Sarah mengerutkan keningnya "Apanya?"


"Kaka menyukai Pria berwatak arogan dan sedikit narsis seperti kakaku. Sedangkan aku lebih menyukai laki-laki yang romantis"


Ucapan Zahra membuat Sarah tak kuasa menahan tawanya "Percayalah! Searogan dan senarsis apapun dia jika dia telah jatuh cinta pasti akan sangat romantis seperti yang kau bayangkan"


"Hem. . . kakak benar! Bahkan kakakku yang sangat tidak peduli tentang perasaan wanita saja pada akhirnya bisa melabuhkan hatinya pada kak Sarah"


"Ya seperti katamu sewaktu diatas kapal tadi, jika aku istimewa"


"Ya. .ya. . aku percaya"


.


.


Kini mereka berempat telah berada dikawasan snorkeling area, setelah tadi berganti pakaian. Yah. . . Pulau pribadi ini menyajikan fasilitas air yang tak kalah lengkap dari pulau wisata pada umumnya.


sekitar 1 jam lamanya menyelam pada kedalaman 2,5 meter, akhirnya mereka berempat mengistirahatkan diri diatas kursi malas sembari menikmati segarnya es kelapa.


"Ah. . Rasanya lemak didalam tubuhku habis terbakar setelah berenang tadi" ujar Zahra


"Anda benar Nona, ini membuka kesempatan untuk kita bisa makan sepuasnya setelah ini" sahut Lyra


"Ide bagus!" ujar Sarah menimpali


"Ya. . ya. . . Kita harus segera meminta pengurus Villa menyajikan hidangan laut yang enak-enak dan berlemak jahat!"


"Setuju! Walaupun itu musuh yag nayata, tapi kita tak bisa menghindari kelezatannya"


"Tunggu apa lagi, pesan sekarang!" Teriak Sarah dengan semangat


Zayyan yang mendengar hanya bisa menggelangkan kepala tanpa mau mengikuti obrolan yang menurutnya sangat menyesatkan.


.


.


Glass bottom boat, disnilah mereka berempat berada setelah tadi menyelesaikan makan siangnya. Seolah tak puas melakukan snorkeling, mereka berempat kembali menikmati pemandangan bawah laut tapi kali ini tidak harus basah-basahan.

__ADS_1


Tepat jam 4 sore setelah berisitirahat beberapa jam, kini mereka kembali melakukan kegiatan pantai dengan bermain jetski dan banana boat. Zayyan mengendarai jetski, sedangkan ketiga wanita itu menjadi ekornya yang duduk dibanana boat. Cukup lama mereka bermain pantai, hingga matahari menampakkan warna jingganya.


Semuanya pun bergegas kembali kedalam kamar masing-masing untuk berganti pakaian, karena inilah saat yang mereka tunggu, yaitu menikmati sunset dipantai.


Terlihat Zahra dan Lyra sedang asik mengabadikan fotonya diatas ayunan pantai. Sedangkan Sarah dan Zayyan sedang duduk berdua dibibir pantai, itu karena Zayyan telah memberi peringatan keras kepada dua wanita itu untuk tidak mengikutinya saat ini.


"Terimakasih Zayyan! Walau hanya 1 hari, tapi rasanya semua pikiran tentang pekerjaan yang ada diotakku menghilang. Angka nol yang selalu berjejer rapi dkpikiranku, langsung tergantikan dengan ketengan suasana pantai ini"


Zayyan tersenyum dan mengelus lembut rambut kekasihnya itu "Terimakasih, Sarah! Kau sudah mau merelakan hari minggu ini untuk tidak kesalon, dan memilih berjalan denganku"


"Tidak apa, Zay! Lagi pula, aku sudah membuat janji dengan kedua wanita itu jika minggu depan akan kesalon bersama-sama"


"Pergilah! Yang penting kau tidak mengajakku saja"


"Haha. . jika kau mau maka ikutlah"


"Tidak! tidak! Terimakasih!" Tolak Zayyan segera


"Kau takut sekali!"


"Tentu! Aku sangat ingat disalon itu ada laki-laki berpenampilan wanita yang sangat menjengkelkan" ucapnya sembari bergidik ngeri membayangkan


Kening Sarah berkerut "Dari mana kau tahu? Apa jangan-jangan kau sering kesana?"


"Bicara sembarangan! Aku pernah mengantar Mama kesana 1 X dan tidak akan pernah mau lagi!"


Sarah kembali tertawa melihat ekspressi Zayyan yang begitu geli "Ha. . ha. . . Kau ini! Dia seperti itu karena tuntutan ekonomi"


"Tetap saja aku tidak bisa"


"Baiklah! Jadi, kau pergi kemana untuk perawatan? Sangat tidak mungkin bukan, jika kau tidak keslon, sedangkan kau memilki wajah tampan dan bersih seperti ini"


Pujian Sarah benar-benar membuat Zayyan hampir melayang, dan sebisa mungkin ia menybunyikan senyumannya "Aku memilki therapist sendiri. Ia akan datang setiap bulannya kerumah untuk untuk melayaniku"


"Perempuan?"


"Bicara sembarangan! Aku tidak bisa sembarangan disentuh, Sarah" sembur Zayyan


"Owh. . . Pantas saja sewaktu awal pertemuan dibioskop dia sangat tidak mau disentuh, apalagi berjabat tengan denganku. Ku pikir karena dia kesal, ternyata memang seperti ini" batinnya, kemudian tersenyum kearah Zayyan "Kau benar-benar tidak bisa berbaur rupanya, bahkan tidak ingin"


Zayyan menghela nafas beratnya "Entahlah. . .! Aku terkadang bingung dengan diriku. Sering aku mencoba untuk mengubah namun sifatku yang sudah mendarah daging ini sangat sulit untuk ku hilangkan"


Sarah menepuk-nepuk halus bahu Zayyan, untuk menangkan "Bersabarlah! perlahan semuanya akan membaik"


"Terimakasih, Sarah. Apa kau tidak keberatan dengan sikapku ini?"


"Aku tulus mencintaimu, Zay. Segala kekuranganmu akan kuterima, semoga kau juga seperti itu terhadapku"


"Aku tulus mencintaimu Sarah, segala kelakuan unikmu justru membuatku selalu tertarik padamu"


Sarah segera bersandar pada bahu Zayyan "Terimakasih! Oh ya, kemana dua wanita itu, tumben sekali dia tidak kemari"


"Biarkan saja! Biarkan aku menikmati pemandangan indah ini hanya bersamamu, tidak dengan mereka" pi ta Zayyan


"Baiklah!"


Akhirnya mereka pun benar-benra menghabiskan waktu satu hari bermain dipantai, dan setelah mereka makan malam barulah bersiap-siap untuk pulang, kembali menikmati suasana laut yang tenang dimalam hari tepatnya diatas kapal.

__ADS_1


__ADS_2