SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
KESEDIHAN ZAYYAN


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan lewat udara kurang lebih 20 menit lamanya, kini Sarah sudah ditempatkan diruang ICU, tepatnya disebuah Rumah Sakit Inernasional yang berada didaerah tempat tinggalnya.


Suara langkah sepatu heel dan pantofel yang begitu cepat menggema sepanjang lorong rumah sakit. Terlihat Momi Sabrina, Mama Dessy, juga Daddy Rehan melangkah mendekat kesebuah ruang ICU tempat Sarah dirawat. Langkah mereka terhenti saat melihat Papa Wildan sedang duduk sembari memejamkan kedua matanya untuk mengisitirahatkan tubuhnya yang mulai terasa lelah karena belum tidur semalaman.


"Wildan, dimana Sarah!?" Tanya Daddy Rehan


Mata yang baru saja terpejam seketika tebuka saat mendengar suara orang memanggilnya, lalu menoleh kesamping dan segera bangkit dari duduk setelah menyadari siapa yang menyapanya "Kalian sudah datang rupanya, masuklah! Sarah ada didalam, hanya 3 orang yang diperbolehkan masuk"


Daddy Rehan menepuk ringan bahu sahabatnya itu "Terimakasih, Dan"


Kemudian mereka bertiga segera memakai Gaun Proteksi ICU untuk menjaga kesterillan ruang perawatan. Momi Sabrina mendorong pintu, pandangannya seketika menyapu seluruh ruang tempat perawatan putrinya. Perasaan sulit bernafas tiba-tiba menghampiri saat melihat ruang perawatan putrinya dipenuhi dengan alat-alat yang terlihat begitu mencekam.


Dengan langkah yang berat dan nafas yang menderu, Momi Sabrina mendekat kearah Putrinya yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri itu. Perlahan, ia meraih salah satu tangan putrinya yang tidak terkena jarum infus lalu menempelkan pada salah satu pipinya yang sudah basah akibat linagan air mata yang tak hentinya menerobos keluar "Kenapa kau menjadi seperti ini, Nak? Apa salahmu, sehingga orang itu tega sekali berbuat hal mengerikan seperti ini??"


"Kenapa anak kita seperti, sayang? Dia anak yang baik, tidak pernah memiliki musuh, tapi kenapa harus mengalami kejadian nahas ini??" Momi Sabrina mengadu pada suaminya.


Daddy Rehan pun segera memeluk istrinya untuk menenangkan, walapun sebenarnya ia juga tidak kuasa melihat kondisi putri semata wayangnya yang saat ini dipenuhi dengan perban "Sarah wanita yang kuat sayang, oleh karena itu Tuhan memberikan ujian seperti ini. Kita banyak-banyak berdo'a saja untuk kesembuhan putri kita"


Mama Dessy yang juga tak hentinya menangis, mendekat kepada calon besannya untuk memberikan semangat. Ia mengelus-elus punggung Momi Sabrina "Hanya kata sabar yang saat ini bisa ku ucapakan untukmu. Tenanglah! Sarah wanita yang kuat. Kita harus membantu Sarah untuk segera sadar dari mimpinya. Semangatlah untuk terus membisikkan kata-kata positif untuknya"


Isakan tangis Momi Sabrina perlahan berhenti, ia menatap sahabat sekaligus calon besannya itu kemudian tersenyum membenarkan perkatanya "Kau benar! Terimakasih, Des"


Setelah merasa cukup lama didalam ruang ICU, kini mereka semua keluar karena tidak ingin menganggu proses penyembuhan Sarah. Sementara itu, Zayyan yang menyadari ketiga orang itu keluar, ia segera mendekat lalu bersimpuh dihadapan kedua orang tua Sarah "Paman dan Bibi, tolong maafkan aku. Ini semua kesalahnku, jika saja aku terlebih dahulu menyelesaikan permasalahanku, Sarah tidak mungkin terkena imbasnya seperti ini"


Momi Sabrina terkejut, ia pun segera membungkukkan tubuhnya, lalu meraih kedua lengan bahu Zayyan dan berusaha menuntunnya agar beridri, namun Zayyan tidak mau bergerak sama sekali. Kemudian dengan lembut Momi Sabrina berkata "Jangan begini nak, bangunlah! Semuanya sudah terjadi, tidak ada gunanya menyesali. Bibi sangat berterimakasih karena kau rela meninggalkan pekerjaanmu demi menyelamatkan Sarah. Bibi tidak tahu apa jadinya Sarah jika kau tidak datang dengan cepat"


"Bibi, benar Zayyan. Bangunlah nak, semua sudah terjadi. Lebih baik kita berdo'a untuk kesembuhan Sarah" Timpal Daddy Rehan yang juga ikut memegangi bahu Zayyan agar segera berdiri.


Zayyan pun menghela nafas leganya, karena kedua orang tua Sarah tidak marah atau pun menyalahkannya. Lalu dengan perasaan yang masih berat ia berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya "Sekali lagi maafkan aku!"

__ADS_1


Peristiwa itu disaksikan langsung oleh kedua orang tua Zayyan. Mereka berdua saling bertatapan penuh arti, lalu mengulas sebuah senyum hangat pada wajah mereka masing-masing.


"Sabrina benar-benar berhati lembut, dan Putrinya telah mewarisi semua sifatnya" batin Mama Dessy.


.


.


Malam itu mereka semua masih berkumpul didepan ruang perawatan Sarah


"Rey, bagaimana dengan April?" Tanya Papa Wildan kepada Daddy Rehan


"Kita tunggu hasil putusan sidang aja, Dan"


Papa Wildan sedikit tidak terima saat mendengar pernytaan sahabatnya itu "Kau tak ingin menuntut dia?"


"Biarlah hukum yang menentukan, aku hanya berharap dia bisa sadar dan tidak akan ada lagi korban berikutnya" Jawab Daddy Rehan yang begitu tenang sembari menghela nafasnya.


Momi Sabrina yang mendengar penuturan Zayyan, membelalakkan kedua bola matanya, ia sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja calon menantunya itu ucapkan "Jangan pernah lakukan itu Zayyan! Sarah tidak akan pernah suka jika api dibalas dengan api. Biarkan saja pengadilan yang menentukan"


"Tapi, Bibi—"


Ucapan Zayyan langsung terhenti saat Papa Wildan menepuk sebelah pundaknya "Tenang boy! Jangan kotori tangan mu! Kau tidak boleh gegabah mengambil tindakan hanya karena emosi sesaat. Jika kau melakukan itu, apa bedanya kau dengan April? Lagi pula, jika Sarah sampai mengetahui kau berbuat seperti itu, Papa tidak yakin ia mau menikah dengan seorang pembunuh"


Zayyan pun terdiam dan berusaha mencerna dengan baik ucapan Papanya "Baiklah pah" Ujarnya dengan menurut.


Semua orang yang berada disana pun menghela nafas lega saat mendengar penuturannya. Yah. . karena bagaimana pun sifat keras Zayyan sangat sulit untuk dikalahkan, oleh karena itu Papa Wildan mengancam dengan menggunakan nama Sarah.


Kemudian Zayyan kembali teringat suatu hal yang masih membuatnya begitu sangat penasaran "Bibi, bolehkah aku bertanya satu hal!?

__ADS_1


"Hal apa itu, Zay?"


"Apa Sarah punya semacam kemampuan bela diri?"


"Iya, Sarah memiliki kemampuan bela diri, ia belajar dari Paman dan juga beberapa kali mengikuti kursus latihan. Memangnya ada apa, Zay?"


"Itu berarti, kejadian tadi malam bukan karena bantuan dari orang lain melainkan ulahnya sendiri?" Batin Zayyan


Daddy Rehan yang juga penasaran ikut menimpali "Memangnya ada apa, Zay?"


Lamunan Zayyan buyar, kemudian menatap Daddy Rehan "Tadi malam saat kami tiba ditempat penyekapan, Sarah sudah berhasil melarikan diri. Tempat itu sedikit menarik perhatian karena dipenuhi dengan beberapa pengawal yang terlihat memekik kesakitan akibat cidera pada beberapa bagian tubuh. Aku pikir saat itu Sarah dibantu seseorang, namun sepertinya itu adalah ulahnya sendiri"


Kedua orang tua Sarah yang mendengar penuturan Zayyan langsung tersenyum. Mereka merasa sangat bangga dengan putrinya, karena masih menguasai ilmu bela dirinya walaupun sudah lama ia tidak menekuni


"Sarah hanya menggunakan kemampuannya itu ketika dalam keadaan genting, Daddynya melarang keras agar Sarah tidak pamer" Ujar Mama Sabrina


Kekaguman Zayyan semakin bertambah pada sosok wanita yang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri itu.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika calon Menantuku jago beladiri. Jika Zayyan nantinya berani macam-macam, Sarah pasti tak akan segan-segan untuk mematahkan tulangnya" ujar Mama Dessy yang berusaha mencairkan suasana, tentunya orang-orang yang berada didalam ruangan itu tertawa tak terkecuali Sarah yang sedang asik sendiri berada dialam mimpinya.


.


.


Kini hanya Zayyan yang tinggal di Rumah Sakit untuk menemani Sarah, setelah tadi melewati drama panjang dengan kedua orangtuanya dan juga Momi Sabrina yang menyuruhnya agar pulang untuk beristirahat, namun sifat egoisnya tidak ada yang bisa mengalahkan dan membuat semuanya terpaksa mengalah, memilih pulang dari pada terus berdebat.


Zayyan meraih satu tangan Sarah yang tidak terkena jarum infus, kemudian menciumnya dan menggenggamnya dengn hangat "Hei, kenapa kau belum juga bangun? Apa kau tidak kasihan denganku yang sudah menahan rindu sejak kemarin!?


"Berjanjilah, besok kau sudah harus bangun! Ingat ya, Sebentar lagi kita akan menikah, dan apa kau lupa setelah aku pulang dari luar negeri kita akan melakukan prewed? Jadi, bangunlah dan tepati janjimu!"

__ADS_1


Air mata sudah tak dapat terbendung lagi, kala kesunyian juga kerinduan menyantu. Zayyan semakin mengenggam erat telapak tangan wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan penuh kasih dan cinta itu "Terimakasih Sarah! kau sudah berjuang melewati masa kritismu semalam. Semoga kau cepat keluar dari alam mimpimu itu, karena aku benar-benar tidak suka melihatmu tenang seperti ini, aku merindukan dirimu yang cerewet"


Isakan tangis Zayyan berlomba dengan suara alat monitor yang ada didalam ruang tersebut.


__ADS_2