
Zayyan yang tengah tertidur sedikit dikejutkan dengan suara Mama Dessy yang memanggilnya. "Zayyan, apa kau tidur?" tanyanya dengan lembut
Dengan terpaksa Zayyan membuka sedikit matanya yang terasa berat itu "Mama ini bagaimana, aku jelas-jelas terpejam seperti ini masih saja ditanya!" ucapnyabdengan suara yang parau
Mama Dessy terkekeh "Maafkan Mama, sayang. Diluar ada, Sarah"
Sontak kedua bola mata Zayyan terbuka sempurna saat mendengar nama wanita yang sudah membuat hatinya luluh lantah selama 1 minggu ini. Bukannya bahagia ia jusrtru memasang wajah dinginnya "Suruh dia pulang!"
Dahi Mama Dessy mengerinyit, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar "kau bercanda? Bukankah wanita itu yang kau damba-dambakan kehadirannya beberapa hari ini?!" tanyanya penuh telisik
"Semenjak hari putusnya aku dengan dia. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah mau melihatnya lagi!" Tegas Zayyan
"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapakan?!"
"Sangat S.A.D.A.R.! Lagi pula aku tak butuh dikasihani, tak usah datang jika hanya untuk menjenguk. Itu hanya akan menambahkan pedihku! Katakan padanya untuk segera pergi, dan jangan pernah lagi menemuiku!" ujar Zayyan dengan membara, lalu berbalik memunggungi Mamanya
Mama Dessy menghembuskan nafasnya secara kasar melihat kesungguhan Zayyan dalam berucap "Baiklah.. jika ini yang kau inginkan, Mama bisa apa!"
Terdengar suara langkah kaki Mama Dessy yag begitu lemas, wajahnya pun tak seceria saat masuk.
Sarah bangkit dari duduknya dan segera mendekat saat pintu terbuka dari dalam "Bagaimana, bi?!"
Helaan nafas berat Mama Dessy kembali mengudara, sesaat ia membisu kemudian "Maafkan Bibi, sayang. Dia sedang tidak mau bertemu dengan siapa pun"
"Apa?!"
Mama Dessy menggenggam telapak tangan Sarah sembari tersenyum "Kau bisa datang kembali lain waktu, sayang. Sikap Zayyan beberapa hari belakangan ini benar-benar berubah, Bibi harap kau memakluminya"
"Dia berubah karena aku. Aku telah merusak impiannya" batin Sarah, kemudian ia segera menyeka air mata yang mulai menetes pada kedua pipinya. Ia menatap mata Mama Dessy dan dengan mantap berkata "Bibi, jika kau mengizinkan ku masuk. Aku akan berusaha memperbaiki segalanya, termasuk melanjutkan rencana pernikahan ini. Aku tidak peduli mau dia bersikap dingin bagaimana, karena aku sadar ini semua adalah salahku! Aku pantas menerimanya!"
Senyum Mama Dessy mengembang, perkataan Sarah yang sangat menyakinkan membuatnya segera menganggukkan kepala. Begitu pula dengan Momi Sabrina dan Papa Rehan, mereka terlihat menghela nafas lega.
.
.
Sedangkan Zayyan, sepeninggal Mamanya, ia tak henti mengrutuki dirinya sendiri
__ADS_1
"Dasar mulut bodoh, berani-beraninya berbicara seperti itu!"
"Haih... Padahal aku sangat merindukan wanita itu"
"Tapi... Aku sedikit malu menemuinya dengan keadaanku yang lemah seperti ini. Belum lagi tubuhku yang mulai kurus, wajahku jangan ditanya lagi bagaimana kusamnya. Ini sungguh memalukan"
"Semoga saja Mama tak menyampaikan kata-kataku tadi. Karena aku tak bersungguh-sungguh. Aku akan sangat menyesal jika itu tersampaikan"
Sederet ungkapan kekesalan yang ia lontarkan dengan pelan, sampai dinding saja jika memilki telinga tak akan bisa jelas mendengarnya.
"Krieettt" suara pintu terbuka, membuat Zayyan kembali mengaktifkan mode galaknya. Tubuhnya masih saja setia menghadap tembok, sehingg ia tidak tahu siapa yang saat ini masuk. Ia pikir itu adalah Mamanya, karena hanya Mama dan Papanya lah yang boleh masuk.
"Mama! Sudah kubilang jangan ganggu aku! Aku ingin istirahat" Pinta Zayyan dengan sekuat tenaga meninggikkan suaranya.
Tak ada sahutan, yang terdengar hanyalah suara pintu yang kembali ditutup dan langkah kaki yang semakin mendekat.
"Pergi, Ma! Aku sungguh malas mendengar ceramahmu!!" Pinta Zayyan
Masih tak ada jawaban membuat Zayyan berdecak kesal "Ma—" Ucapannya terhenti saat namanya dipanggil dengan begitu lembut oleh suara yang sangat tak asing baginya. Suara yang selalu ia rindukan
"Zayyan!"
Merasa tak mendapat jawaban Sarah segera memegang bahu Zayyan untuk menuntunnya berbalik menghadapanya
"Jangan berani-berani menyentuhku!" Pinta Zayyan dengan suara dinginnya
Perkataan Zayyan sontak membuat hati Sarah meringis, namun ia sudah berjanji akan memperbaiki segalanya memdapatkan kembali cintanya Zayyan. Dengan helaan nafas yang berat ia berkata "Maaf! Aku hanya ingin berbicara denganmu"
"Aku tidak tertarik!"
"Zayyan, aku tahu kau begitu marah padaku. Biasakah kita membicarakannya baik-baik?" tanya Sarah dengan lembut
Tak ada jawaban...
"Bisakah kau memberikanku kesempatan untuk berbicara?"
Masih tidak ada jawaban...
__ADS_1
Sarah pun menghela nafas beratnya dan ikut terdiam. Sembari menunggu Zayyan berbalik, ia memilih duduk diatas kursi yang terlelak disamping ranjang Zayyan.
Cukup lama mereka dalam mode senyap, membuat Zayyan mulai merasa pegal akibat memiringkan tubuh terlalu lama "Kenapa dia masih saja ada didalam sini?! Aku belum siap bertemu dengannya! Badanku sedikit pegal dengan posisi ini, belum lagi aku ingin sekali buang air kecil, perutku juga lapar. Arrgghh! Mama kemana?!" batinnya, kemudian dengan terpaksa ia berkata "Keluarlah! Kau sungguh menganggu aktivitasku!!"
"Tidak mau!" Sarah membalas dengan nada yang tak kalah dingin.
Karena Zayyan sudah tidak tahan akan hajatnya, terpaksa memutar tubuhnya. Sesaat pandangan mata mereka saling mengunci ada kerinduan yang terbesit diantar masing-masing pemilik bola mata itu.
"Mengapa Sarah menjadi kusam seperti itu. Matanya sembab, belum lagi memilki lingkaran hitam dibawah matanya. Apa dia juga tersiksa sepertiku?!" batin Zayyan
"Astaga! Aku hampir tak mengenali laki-laki didepanku ini. Badannya sedikit kurus terlihat dari tulang pipinya yang mulai mendominasi. Wajahnya pun kusam, benar-benar seperti bukan dia. Ya Tuhan.. Apa yang telah kulakukan padanya, perbuatanku benar-benar menyiksa raga jiwanya" batin Sarah.
Zayyan segera mengakhiri pandangan itu dengan membuangnya kesembarang arah. Kemudian dengan tangan yang lemah ia mencoba menekan tombol yang menghubungkannya dengan perawat, namun secepat kilat Sarah menahan lengannya
"Kau pelu sesuatu?" tanya Sarah.
"Aku tidak perlu bantuanmu!"
"Aku akan membantumu"
"Tidak!" Sergah Zayyan
"Ya sudah! Lakukan saja aktivitasmu, memangnya kau bisa sendiri?" Ejek Sarah sembari bersedekap dada menahan senyumnya. Yahh.. Itu karena ia sangat merindukan sosok Zayyan yang dingin dan cuek itu.
Zayyan berdecih, tak mau menjawab perkataan Sarah. Ia beralih menatap pintu dan dengan kesal ia mencoba memanggil Mamanya "Ma... Mama!!"
"Percuma kau memanggil, Bibi. Aku telah menyuruhnya untuk pulang agar bisa beristirahat"
"Ck.." Zayyan pun kembali berusaha untuk menekan tombol, dan lagi-lagi ditahan oleh Sarah
"Percuma kau menekan tombol itu, aku sudah meminta Paman untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk kemari" Jelas Sarah
"Apa maumu, hah?!" Pekik Zayyan
"Aku ingin merawatmu"
"Aku tidak butuh dikasihani!"
__ADS_1
"Apa merawat hanya karena kasihan? Ck.. Aku sama sekali tidak kasihan denganmu, atau bahkan merasa bersalah atas ucapanku yang lalu. Aku kemari sebagai orang yang menyayangimu, yang akan tulus merawatmu tidak hanya disni, tapi sampai kita menua" Ujar Sarah