
1 minggu berlalu semenjak Sarah memutuskan hubungannya dengan Zayyan, selama itu pula ia tak begitu tenang. Jam makan dan tidurnya pun sudah tidak teratur, sehingga kedua kantung matanya berwarna sedikit kehitaman yang biasa disebut mata panda.
Dengan langkah yang lemas dan wajah yang sedikit ditekuk ia menuruni anak tangga. Langkahnya berhenti pada hitungan anak tangga yang ke 10 saat melihat pemandangan yang tak biasa "Momi?!" Gumamnya
Ini kali pertama Sarah melihat Mominya tersenyum dan bermain dengan Darrel semenjak kepergian Daddynya. Hal itu tentu mebuat Sarah bahagia. Ia pun segera mendekat dan bergabung
"Mom!" Sapanya sembari memeluk Mominya dari belakang
"Sarah! Kau tidak kesalon?" tanya Momi Sabrina
"Aku malas!"
Kening Momi Sabrina berkerut "Tumben sekali, kau tidak pernah malas sebelumnya jika menyangkut salon?"
"Minggu depan saja, Mom. Aku ingin ikut bermain-main dengan kalian"
"Yasudah, ambil lego itu dan ajari Darrel menyusunnya" pinta Momi Sabrina
Dengan semangat Sarah pun mengambil mainan yang dimaksud oleh Mominya itu, dan segera bermain dengan Darrel.
Yah.. Sesuai dengan janji Momi Sabrina yang terakhir kali saat berada didepan jasad Daddy Rehan, jika dia akan memperlakukan Darrel layaknya Putra sendiri. Begitu pula dengan Sarah, ia tak pernah menyinggung sedikit pun masalah statusnya dengan Darrel, justru ia teramat sayang dengan bayi laki-laki berusia 2,5 tahun itu.
Senyum Momi Sabrina mengembang saat melihat keakraban antara Sarah dan Darrel "Terimakasih, Sarah. Kau tak pernah mempermasalahkan bayi ini. Mama berharap kau benar-benar tulus menerimanya" batinya, kemudian berkata "Mama kedapur dulu ya, mau lihat Bibi Ratna menyiapkan makanan untuk Darrel"
"Ia, Mom" Sahut Sarah sembari menganggukkan kepalanya
Setelah kepergian Mominya, Sarah segera menggendeong Darrel. Ia meneliti setiap inchi wajah bayi laki-laki itu "Kau ini adikku, atau bukan? Kenapa wajahmu tidak mirip sekali dengan Daddy atau memilki kemiripan denganku. Kau justru terilhat seperti Bule, apa Momimu keturunan orang luar?!" cicitnya kemudian terkekeh "Tak masalah kau mirip siapa, yang jelas kau adalah adikku" sambungnya kemudian mencium Darrel dengan begitu gemas.
Ucapan Sarah ternyata didengar oleh Momi Sabrina, membuat Momi kembali mengembangkan senyumnya. Ia pun segera mendekat sembari membawa 1 buah nampan berisi makanan "Darrel, kita makan dulu ya sayang!"
"Yeaayy makan! Ayo Darrel makan yang banyak biar cepat besar seperti, Kaka" timpal Sarah dengan semangat
Sedangkan Darrel hanya tertawa sembari bertepuk tangan karena kesenangan.
.
.
Seusai makan, Darrel dibawa oleh Nanny untuk ditidurkan. Kini tinggallah Momi Sabrina dan Sarah didalam ruangan itu.
"Oh ya Sarah, hampir satu minggu ini Momi tidak pernah melihat Zayyan. Apa dia sedang perjalanan bisnis keluar negeri?" tanya Momi Sabrina
__ADS_1
"Berarti Momi tidak tahu jika aku sudah membatalkan pernikahan ini? Apa jangan-jangan keluarga Zayyan tidak memberi tahu? Tapi kenapa?!" batin Sarah sembari mengerutkan keningnya.
Momi Sabrina yang tak kunjung mendapat jawaban kembali bertanya "Sarah! Apa kau mendengar, Momi bertanya?"
"Eh.. I-iya, Mom" Jawab Sarah gugup
"Kalau begitu jawab!"
Sarah menunduk sembari meremas kedua telapak tangannya dengan sedikit takut ia menjawab "Mom! Seminggu yang lalu Sarah membatalkan pernikahan dengan Zayyan"
Kedua bola mata Momi Sabrina terbelalak, ia tak percaya apa yang baru saja didengar "Apa?!"
"Benar, Mom. Sarah telah membatalkannya, memangnya pihak dari keluarga Zayyan tidak ada yang memberi tahu?"
"Tidak ada! Apa kau gila, heh? Pernikahanmu tinggal 3 minggu lagi, kenapa tiba-tiba membatalaknnya?!" Sembur Momi sabrina dengan emosi yang meluap-luap
Sarah masih menunduk "Maafkan aku, Mom"
"Apa alasannya?!"
Tak ada jawaban. Karena Sarah sedikit berat mengungkapkan alasannya khawatir jika Mominya merasa bersalah
"BRAK!" Suara hentakan diatas meja tercipta dari hasil gebrakan tangan Momi Sabrina "Jawab?!" desaknya
"Kenapa? Apa Zayyan berselingkuh?!"
Sarah menggeleng
"Lalu apa?! Jawab dengan benar, jangan berbelit-belit!"
"Keraguan itu timbul ketika aku melihat Daddy yang begitu setia dan menyayangi Momi, tiba-tiba saja membawa kabar tidak mengenakkan saat akhir hidupnya. Aku takut jika itu juga terjadi padaku, Mom. Aku tidak sekuat, Momi" Jelas Sarah, air matanya mulai membasahi kedua pipi mulusnya
Momi Sabrina terkesiap mendengar pernyataan Putrinya itu, ia segera mendekat dan memeluk Sarah.
Hingga pelukan mereka terlepas, buru-buru Momi Sabrina menyeka air mata putrinya "Maafkan Momi, sayang"
Sarah hanya terdiam
Kemudian Momi Sabrina menangkup kedua pipi putrinya itu "Dengarkan, Momi!"
Sarah segera menatap Mominya
__ADS_1
"Kau harus tahu! Setiap rumah tangga memilki masalah yang berbeda-beda, namun tingkat kesulitannya semua sama diatas rata-rata. Ada yang diuji dengan sedikitnya harta, ada yang diuji dengan jahatanya mertua, ada pula diuji dengan pasangannya. Seperti Momi, yang diuji melalui pasangannya. Kau tahu mengapa Momi mendapat ujian seperti ini?"
Sarah menggeleng
"Itu karena, Momi Kuat! Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya diluar dari pada batas kesabaran dan kekuatannya. Lagi pula Momi sadar mengapa Daddy sampai memilki wanita lain"
"Kenapa, Mom?" Tanya Sarah yang masih terisak
"Karena Momi jauh dari Daddy. Bertemu setiap 3 atau 6 bulan sekali. Keperluan Daddy tidak ada yang menyiapkan juga kebutuhan Daddy tidak ada yang memenuhi, mungkin ini salah satu alasannya"
"Tapi jika Daddy suami yang setia seharusnya ia akan tahan terhadap godaan!" Sergah Sarah
Momi Sabrina menggeleng, ia tak membenarkan perkataan putrinya yang menurutnya sangat egois itu "Jika Momi istri yang baik, seharusnya mengikuti keinginan suaminya untuk ikut merantau walau sampai keujung bumi sekalipun. Tapi apa? Momi justru memilih untuk tidak ikut dan hanya menerima uang bulanan dari Daddy tanpa Momi harus bersusah payah mengurusnya" jelasnya. Ia tak ingin suaminya dipojokkan
Sarah terdiam, ia membenarkan perkataan Mominya.
"Sarah, kau tidak boleh menilai hanya dari satu sisi sayang. Bukan berumah tangga namanya jika tidak ada masalah. Masalah itu hadir untuk meningkatkan rasa sayang diantara pasangan"
Perlahan Sarah menghapus air matanya dan menatap Mominnya dengan begitu dalam "Perkataan, Momi mirip sekali dengan ucapan Zayyan seminggu yang lalu. Apa aku salah mengambil keputusan ini?"
"Kau sangat salah! Sekarang, Momi mau bertanya, apa kau masih menyayangi Zayyan?"
"Aku sangat menyanyanginya, Mom"
"Itu berarti kau sangat kehilangan dia selama seminggu ini?!"
"Aku kehilangan, bahkan aku selalu merindukannya setiap malam"
Momi Sabrina menyentil hidung putrinya "Gadis Bodoh! Masih ada waktu 3 minggu lagi jika kau mau melanjutkan pernikahan ini?"
"Tidak, Mom" Sergah Sarah
Kening Momi Sabrina mengerut "Kenapa?!"
Sarah menghembuskan nafasnya secara kasar ia sangat mengingat bagaimana raut wajah Zayyan terakhir kali saat bertemu dipantai. Raut wajah yang penuh emosi dan kekecewaan "Zayyan sudah sangat kecewa terhadapku. Lagi pula aku sudah memutuskan untuk melajang"
Hembusan kasar nafas Momi Sabrina mengudara "Momi benar-benar tidak tahu apa yang kau pikirkan! Tapi perbuatanmu itu sangat jahat Sarah. Bukan hanya Zayyan yang kau patahkan hatinya, tapi Momi, Paman Wildan, dan juga Bibi Dessy. Kau egois sekali, pernahkah kau memikirkan perasaan kami saat mengambil keputusan itu, hah?!"
Sarah hanya terdiam mendengarkan kekesalan Mominya
"Pantas saja Dessy tak pernah lagi menghubungiku, mungkin ia sudah sangat kecewa dengan keputusan gila mu ini" ujar Momi Sabrina dengan nada yang penuh kekecewaan. Lalu melangkah meninggalkan Sarah yang masih mematung.
__ADS_1
"Apa benar Bibi Dessy dan Paman Wildan kecewa?! pantas saja tidak pernah menghubungi, untuk mengonfirmasi masalah ini. Arrgh! Aku memang wanita bodoh!" batin Sarah.
Tanpa mereka Sadari, pecakapannya didaksikan oleh PaPa Wildan.