SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
MANCARI LOKASI KEBERADAAN SARAH


__ADS_3

Seorang pengawal pribadi datang menemui Papa Wildan dengan tergesa-gesa, dan segera berlutut dihadapannya "Tolong maafkan saya, Tuan!"


"Apa-apaan ini!?"


"Maafkan saya. Nona Sarah luput dari pengawasan saya"


Kedua bola mata Papa Wildan terbelalak, ia sangat terkejut saat mendengar kabar yang tak mengenakkan tentang calon menantunya "Apa! Ceritakan! Kenapa kau bisa sampai kehilangan jejak?!"


"Maaf tuan! Saat itu Nona sedang makan siang bersama rekan-rekannya, tepatnya di Restoran seberang kantor. Saat itu ada seorang teman Nona meminta untuk ditemani ketoilet, dan Nona Sarah pun segera menemaninya. Saya mengawasi hanya sampai pintu depan masuk toilet saja karena khawatir akan dituduh macam-macam" ujarnya terpotong lalu menundukkan kepalanya


"Saya menunggu cukup lama, namun yang keluar hanya teman wanita Nona seorang dengan wajah yang sudah terlihat panik. Saya pun bergegas mengikuti teman Nona Sarah, dan menguping pembicaraannya dengan salah seorang rekan prianya. Ia mengatakan jika Nona tidak ada didalam toilet dan hanya menemukan ponselnya yang terletak diatas meja westafel"


"Lalu bagaimana dengan teman Nona Sarah? Apa kau sudah memeriksanya, bisa saja ia merencanakan kejatahan, lalu berpura-pura sedih"


"Saya sudah memeriksa gerak gerik teman Nona Sarah, dan mencari tau latar belakangnya. Wanita itu hanya berasal dari keluarga biasa dan mereka berteman dekat, tidak ada yang mencurigakan, Tuan"


"Bagaimana dengan Rekaman CCTVnya!?"


"CCTV di restoran, dan juga seluruh CCTV yang terdekat dari resto tersebut sudah kami periksa, Tuan, namun tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Semuanya terlihat seperti biasa saja Tuan."


"Mulus sekali rencana orang ini. Aku bisa memperkirakan jika ini adalah ulah April" gumam Papa Wildan kemudian mengarahkan pandanganya pada pengawalnya tersebut "Baiklah kau boleh pergi! Tunggu perintah ku selanjutnya"


Papa Wildan Segera mengambil ponsel yang terletak diatas meja, kemudian menghubungi Putranya


📞


"Boy!"


"Iya pa?" Jawab Zayyan diseberang telepon


"Tunda semua agenda pertemuan kau disana, dan segera kembali ke Indonesia!"


"Kenapa tiba-tiba sekali, Pa? Ini sama sekali tidak professional namanya"


"Papa akan mengurus segalnya, kau tenang saja! Kembalilah! Ada tugas yang lebih penting untukmu!!"


"Baiklah, Pa" Zayyan hanya menurut dengan nada yang sedikit melemah. Ia merasa sangat tidak enak dengan seluruh kolega bisnisnya, karena tiba-tiba saja harus menunda semua jadwal pertemuan yang sudah ditentukan jauh hari.


Ia pun segera mengemasi barang-barangnya setelah meangkhiri obrolan singkat dengan Papanya, lalu bersiap-siap untuk pulang saat itu juga.

__ADS_1


****


Satu jam berlalu, kini Zayyan telah tiba dikediaman kedua orang tuanya. Ia segera melangkah masuk dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang


"Pa!"


Papa Wildan bangkit dari duduknya dan segera merangkul Putranya, lalu membawanya menuju sofa "Boy, syukurlah kau cepat sampai. Ayo duduk Nak!"


"Sepertinya ini hal yang sangat penting!?" Tanya Zayyan yang baru saja mendudukkan tubuhnya diatas sofa.


Ragu-ragu Papah Wildan berucap, sembari menatap dalam raut wajah putranya "Sarah sepertinya diculik!"


Zayyan yang mendengar seketika mebelalakkan kedua bola matanya. Dadanya serasa ditusuk dengan sebuah belati, tiba-tiba saja seluruh badannya menjadi lemah seperti tak bertulang. "A-apaa!? Bu-bukannya Papa sudah mengirim seseorang untuk mengawasi Sarah!?"


"Tenanglah, Boy!" Papah Wildan pun segera menceritakan semuanya, sesuai apa yang telah disampaikan oleh pengawalnya tadi.


Sedangkan Mama Dessy yang baru datang, juga tak kalah terkejut saat mendengar berita itu. Nampan yang berisikan cemilan dan minuman langsung terlepas digenggaman kedua tangannya, tak terasa lagi sakit saat gelas mendarat dikaki mulusnya. "Apa!?"


Mama Dessy pun segera menghampiri suaminya. "Pa, cari calon menantu kita! Aku tidak ingin dia kenapa-napa"


"Sabar Ma. Papa juga sedang menunggu informasi selanjutnya" ujar papah Wildan yang berusaha menenangkan istrinya


"Halo"


". . . ."


"Baiklah, perluas pencarian kalian! Jangan sampai ada yang terlewat" Papa Wildan mematikan sambungan teleponya dan kembali menatap Zayyan sembari menghela nafas beratnya


"Bagaimana, Pa!?" Tanya Zayyan segera


"Seluruh Harta tak bergerak milik keluarga Mahveen sedang dalam penyelidikan, namun para anak buah Papa belum ada yang menemukan tanda-tanda adanya Sarah pada salah satu rumah, Villa, dan sejenisnya"


Otak Zayyan mencerna dengan baik ucapan Papanya, kemudian ia mengingat akan ajakan April tahun lalu untuk berlibur bersama ke villa yang baru ia beli


"Lyra!" Zayyan berteriak memanggil nama sekretarisnya yang juga saat ini sedang ikut bersamanya


Dengan cepat Lyra melangkah masuk "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Kau masih memiliki arsip data tentang harta kekayaan Aprillia bukan?"

__ADS_1


"Masih, Tuan!"


"Segera periksa harta tak bergerak milik April, dan laporkan kepadaku dimana saja alamatnya"


"Segera tuan!" Lyra mengangguk dan segera berjalan mengambil laptopnya yang ia letakkan didalm mobil.


Tak butuh sepuluh menit Lyra sudah berhasil menemukan semua titik lokasi Asset pribadi milik April. Sungguh beruntung karena mereka bekerja pada bagian pajak, dan tentunya segala macam harta setiap karyawannya terdaftar dalam laporan SPT tahunan.


"Saya sudah mengirim semua rinciannya pada e-mail anda, Tuan" Ujar Lyra


Dengan segera Zayyan mengambil ponselnya dan mencari transaksi terbaru April mengenai pembelian Villa setahun terakhir ini "Papa, ini adalah alamat Villa baru April, aku curiga ia membawa Sarah kemari"


Papa Wikdan segera melihat alamat Villa tersebut "Boy! Alamat Villa April tak jauh dari kediaman Paman Hendri yang juga berada dipuncak"


"Itu berarti kita bisa minta tolong paman untuk menyelidikinya?"


"Tunggu apa lagi!?" ujar Papa Wildan. Kemudoan ia kembali meraih ponselnya dan menghubungi saudaranya, yang kebetulan tinggal dipuncak kota B


Sedangkan Zayyan terlihat sedang menelpon langsung Pilot Pribadinya untuk menyiapkan helikopter untuk perjalanan kepuncak Kota B


.


.


20 Menit berlalu, ponsel Papa Wildan kembali berdering


"Bagaimana, Hen?"


"Villa yang kakak maksud, saat ini dijaga oleh banyak pengawal. Biasanya Villa itu selalu kosong, aku bisa memastikan jika calon menantuku disekap disana" ujar Paman Hendri diseberang telepon


"Baiklah, aku akan segera kesana Hen. Tunggu aku jangan gegabah!"


"Terlalu lama menunggumu, Kak. Biarkan aku jadi pahlawan untuk calon menantuku"


"Tidak bisa, Hend. Kita harus mengatur strategi! Tunggu aku!" Pinta Papa Wildan dengan tegas kemudian dengan segera mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana, Pa!?"


"Kemungkinan besar Sarah disekap disana. Kita harus pergi sekarang! Waktu kita tidak banyak"

__ADS_1


Zayyan segera mengangguk dan bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti langkah Papa Wildan menuju landasan Heli atau Helipad yang berada tepat disamping Mansion.


__ADS_2