
Dilain tempat, tepatnya dibalik jeruji besi terdengar suara yang terus meraung-raung meminta dibebaskan, tak hentinya mengutuki nama Zayyan, serta mengumpat dengan begitu kasar.
"Bebaskan! Apa kalian semua tidak tahu siapa aku, hah!? Berani-beraninya kalian mengurung ku ditempat busuk seperti ini. Bebaskan aku, brengs*ek!!" Suara April memekik, sembari memukul-mukul jeruji besi yang menghalngi jalan kebebasannya.
Namun tiba-tiba ia terduduk lemah diatas lantai dan menangis terisak. Ia merasa sangat terkhianati, saat halusinasinya tentang menjalin hubungan dengan Zayyan kembali "Aku telah mengorbankan segalanya! Aku sudah mencoba untuk melenyapkan Sarah agar kita berdua bisa hidup bahagia, karena kau selalu saja mengeluh jika kau tidak ingin menikah dengan jal*ang itu. Tapi apa yang kudapat? Kau justru memasukkanku ketempat ini!?"
"Kau telah mengkhianatiku, Zayyan! Aku tidak bisa menerima ini" Suaranya kembali meninggi lalu mengacak-acak rambutnya dan sesekali menghantamkan kepalanya pada dinding
Tak lama, datanglah kedua orang tua April yang menjenguk Putri semata wayangnya tersebut. Nyonya Mahveen ikut menitikkan air matanya saat menyaksikan anaknya menangis dibalik jeruji besi dan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan "Sayang! Apa yang telah kau lakukan sehingga berakhir ditempat ini?"
Kedua bola mata April terbuka saat menyadari kedatangan Mamanya. Ia segera berdiri dan memegang jeruji yang menjadi pembatas itu, air matanya kembali tumpah karena tidak bisa memeluk Mamanya yang biasanya selalu menjadi penenag disaat ada masalah "Mama, keluarkan April dari dalam sini! Aku tidak salah apa-apa"
"Sebenarnya apa yang terjadi, Nak?"
"Aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan Zayyan. Dia tidak ingin menikah dengan wanita yang telah dijodohkan untuknya, oleh karena itu aku menculiknya"
Kedua orang tua April menghela nafas beratnya, ia cukup mengerti jika apa yang sedang diucapkan putrinya bukanlah kenyataan "Tenanglah sayang! Mama dan Papa percaya kau tidak salah, dan kita juga akan berusha mengeluarkanmu dari sini."
"Cepat keluarkan aku, Ma. Aku sungguh muak didalam disni, aku belum puas menyakiti wanita jala*ng itu!"
"Bersabarlah! Papa dan Mama akan segera pergi menuju kediaman Raditya dan membicarakan masalah ini"
Tuan Mahveen yang mendengar pernytaan istrinya merasa sedikit berat "Tapi, Ma. April sudah melakukan tindak penculikan dan sekarang orang yang diculik mengalami luka yang cukup serius dan masih belum sadarkan diri sampai sekarang"
Mama April langsung mengalihkan pandangannya kearah suaminya dan menatap tidak suka, dengan suara yang meninggi ia berucap "Oh. . Itu berarti Papa tega membiarkan putri kita tinggal ditempat busuk ini!"
"Bukan begitu, Ma —"
Perkataan Tuan Mahveen langsung dipotong oleh istrinya "Ah sudahlah, Pa! Aku tidak peduli dengan kondisi wanita yang tengah koma itu!! Aku hanya khawatir dengan putriku yang mendekam didalam sel ini. Pokoknya setelah ini kita harus pergi meuju kediaman Raditya!"
"Pokoknya Papa harus bisa membebaskan April dari jerat pidana ini! Aku tak peduli bagaimana pun caranya!!" April menimpali
Tuan Mahveen hanya terdiam, ia memilih mengikuti kehendak dua wanita yang ada didepannya saat ini saja karena jika melawan juga tetap akan kalah.
"Tenanglah sayang! Kau pasti akan segera bebas. Jaga diri baik-baik, jangan berteriak-teriak seperti tadi lagi, sayangi dirimu! Mama janji akan secepatnya mengeluarkanmu dari sini" Ucapan Nyonya Mahveen mampu membuat April mulai bersikap sedikit tenang.
"Ayo, Pa! Sekarang kita harus kerumah Raditya, menyelesaikan masalah ini. Berani sekali dia berurusan dengan keluarga Mahveen!"
Tuan Mahveen mengangguk dan segera mengikuti langkah istrinya yang sudah lebih dulu pergi.
***
Saat ini kedua orang tua April sedang bersitegang dengan kedua orang tua Zayyan. Mereka saling melemparkan tatapan tajam setelah perdebatan beberapa menit yang lalu.
"Tuan Mahveen! Sudah berapa kali saya katakan, jika Putri anda telah melakukan tindak penculikan dan juga kekerasan terhadap calon menantu saya. Jadi, sudah sepantasnya jika ia mendekam dipenjara untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya" Jelas Papa Wildan
__ADS_1
"Saya tidak peduli terhadap calon menantu anda! Tujuan kami kemari hanya untuk meminta pencabutan gugatan anda kepengadilan, agar putri kami bisa bebas!!" Timpal Nyonya Mahveen dengan begitu angkuhnya
Papa Wildan menarik sedikit sudut bibirnya "Sekalipun kalian memohon dengan mencium telapak kaki saya, pencabutan gugatan itu tidak akan pernah terjadi! Oh ya, kalian juga harus tahu satu hal, jika saja bukan karena kemurahan hati calon besanku, Nona April sudah kubereskan sejak semalam saat kami berada dipuncak!"
"Anda sombong sekali, Tuan! Sepertinya anda lupa dengan siapa saat ini anda berhadapan!!" Timpal Tuan Mahveen yang juga tak kalah angkuh dari istrinya.
Papa Wildan menyandarkan punggungnya pada sofa sembari tersenyum, kemudian dengan nada yang sedikit mengejek ia berkata "Lalu!! Untuk apa kemari memohon pembebasan, jika anda adalah segalanya"
"BRAK!" Suara gebrakan meja tercipta dari hentakan tangan Tuan Mahveen yang benar-benar sudah tersulut emosi. Jari tekunjuknya mengarah pada wajah Papa Wildan dan dengan kasar berkata "Saya pastikan! Seluruh saham yang ada disetiap perushaan akan saya tarik dan memutuskan segala bentuk kerja sama kita selama ini!"
"Silahkan!" Jawab Papa Wildan begitu santai, kemudian menyeringai "Sekalipun anda banyak menginvestasikan saham dan memutuskan kerja sama, tidak akan ada dampak yang signifikan bagi kemajuan perushaan saya! Saya bisa bisa memastikan itu"
"Kurang ajar! Beraninya anda menghina kami!"
"Ck. . . . Melawan orang gila sombong seperti mereka tidak akan ada habisnya, menganggu waktu istirahatku saja!" Batin Papa Wildan "Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi. Kalian tahu pintu keluarnya kan? Silahkan!"
Tuan Mahven segera bangkit dari duduknya "Saya pastikan kalian tidak akan pernah bisa bahagia!!"
Papa Wildan hanya tersenyum menatap kepergian kedua orang tua April, namun berbeda dengan Mama Dessy yang sudah bergidik ngeri menyaksikan perdebatan sengit itu.
"Pa jangan sampai ada kejadian lagi" pinta Mama Dessy
"Mama tenang saja, mereka sama sekali bukan tandingan Papa" ujar Wildan dengan seringainya.
***
Rekan kerja selalu datang bergantian untuk menjenguk Sarah termasuk Reza. Walaupun mendapat tatapan tajam dan respon yang tidak menyenangkan dari Zayyan namun tak menyurutkan niat baiknya untuk menjenguk anak asuhnya.
Malam ini Zayyan kembali duduk disamping tempat tidur, kemudian menggenggam tangan Sarah dengan penuh harapan yang besar "Sarah! Kau serius tidak ingin bangun sekarang?"
"Ingat Sarah! Sudah hampir satu bulan kau tidak ke salon, memangnya kau sanggup?"
"Lihat tubuhmu! Sekarang mulai bengkak akibat tidur yang berkepanjangan"
"Cepatlah bangun Sarah! Kecuali kau mau menyaksikan berat badanmu yang semakin hari semakin bertambah"
Itulah sederet canda dari Zayyan yang berharap jika wanita pujaanya itu mendengar dan akan segera bangun. Benar saja, tak lama setelah Zayyan berucap kalimat panjang yang penuh ejekan itu, Sarah mulai menggerakkan sedikit jari-jemarinya, beruntung Zayyan menyadari hal itu dan segera menekan tombol yang menghubungkan langsung dengan perawat.
Tak lama datang lah seorang dokter dan perawat yang langsung memeriksakan kondisi Sarah
"Bagaimana dokter?" Tanya Zayyan sangat antusias setelah dokter memeriksakan kondisi Sarah.
"Ini merupakan suatu kemajuan, ia sudah bisa merespon dari bawah alam sadarnya, terus bisikkan kata-kata yang positif untuk merasangnya agar segera bangun"
"Apa masih lama dokter?"
__ADS_1
Dokter tersebut menghela nafas beratnya "Saya tidak bisa memastikan. Kita hanya berharap sebuah keajaiban. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Terimakasih, dokter!"
Sepeninggal dokter, Zayyan kembali duduk diatas kursi berada tepat disamping ranjang pasien. Ia menatap Sarah kemudian tersenyum "Kau tidak sadarkan diri tapi masih saja merspon saat aku mengatakn salon! lucu sekali" gumam Zayyan
Kemudian Zayyan mencoba kembali dengan mengeluarkan kata-kata bualan "Sarah! Kumohon bangunlah! Besok adalah hari minggu, aku berjanji akan menemanimu pergi kesalon jika diperlukan aku pun akan ikut serta dalam rutinitasmu. Tapi ku mohon Sarah, bangunlah!!"
Tanpa Zayyan sadari, sedari tadi ada seorang yang berdiri diambang pintu dan merekam semua ucapannya "Dapat!" ujar Zahra
Zayyan langsung mengalihkan pandangannya kearah pintu. Ia mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan perkataan adiknya itu. "Kau sedang apa!?"
Zahra segera melangkah masuk dan mendekat kearah Kakaknya "Aku disuruh Mama untuk membawakan baju ganti kakak" ujarnya sembari menyerahkan sebuah tas kecil.
"Pulanglah! Kau sungguh merusak mood ku saja!!" pinta Zayyan dengan ketus setelah megambil tas tersebut
"Bukannya mengucapkan terimakasih, justru mengusir"
"Te.ri.ma.ka.sih!!"
Zahra yang mendengar ucapan kakaknya tersebut memutar malas kedua bola matanya "Tak usah galak-galak bicara pada adik sendiri, lihatlah kegantenganmu jadi sedikit berkurang. Berbicarlah dengan lembut seperti saatt Kakak bicara dengan kak Sarah"
"Kau melihatnya!?" tanya Zayyan kemudian menaikkan satu alisnya dan menatap tajam kearah adiknya mendesak meminta jawaban
"Sudah aku rekam"
"Zahraaaaa!!" Zayyan sedikit meninggikan suaranya
"Husssss... jangan berisiikk! Kecuali Kakak mau diusir dengan perawat karena membuat kegaduhan"
Hembusan nafas Zayyan mengudara dengan pelan ia berkata "Cepat hapusss!"
"Aku tidak mau! Bagaimana jika nanti Kakak terlupa dengan janji Kakak saat Kak Sarah sudah sadar? Aku melakukan ini karena ingin memiliki Kakak yang bertanggung jawab dengan janjinya"
Zayyan sejenak terdiam membenarkan ucapan adiknya, tapi tetap saja ia bersi keras ingin menghapus rekaman tersebut. Sedangkan Zahra yang melihat kakaknya sedang lengah, berinisiatif untuk segera pergi karena tidak ingin hasil rekamannya benar-benar dihapus oleh kakaknya.
"kalau begitu aku pulang ya kak, Byeee!!" Pamit Zahra dengan melambaikan tangannya dan segera melangkah keluar dengan terburu-buru
Zayyan yang baru saja tersadar dari pikirannya kembali meninggikan suara saat melihat adiknya mulai menghilang dibalik pintu "Zahraa! Kemarikan ponselmu!!"
Baru saja ingin mengejar adiknya, langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara samar-samar "Hausss..."
Membuat Zayyan segera mengalihkan pandangannya kearah Sarah
"Hausss..." Suara itu kembali terdengar
__ADS_1
Kedua bola Zayyan terbelalak saat meyakini jika suara itu benar keluar dari mulut Sarah.