SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
KEPERGIAN DADDY REHAN


__ADS_3

3 minggu sudah berlalu semenjak Sarah menjabat sebagai Manajer bagian Akuntansi. Kenaikan jabatannya tak serta merta menjadikan pekerjaannya berkurang, justru tanggung jawab yang diembannya semakin besar. Membuatnya memilih untuk beristirahat dirumah daripada menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan dengan Zayyan. Bisa dimaklumi karena Sarah belum begitu terbiasa dengan pekerjaan barunya.


***


Hari minggu tiba, Sarah memilih untuk berisitirahat ketimbang pergi kesalon. Kini ia berada diruang keluarga berbaring diatas pangkuan Mominya sembari memainkan ponsel ditangannya membalas rentetan chat yang dikirimkan Zayyan.


"Mom, rumah terasa sepi sekali semenjak 4 hari yang lalu Daddy pergi ke Kalimantan" Ucap Sarah


"Yah.. kau benar! Mau bagaimana lagi, Daddy masih mengurus segala berkas kelengkapannya disana. Bersabarlah, 3 hari lagi Daddy kembali dan akan menetap disini" jawab Momi Sabrina


"Tapi mengapa perasaanku sedikit tidak enak ya?"


"Kau juga merasa ada yang menganjal sedari tadi?"


"Iya, Mom. Aku berharap Daddy baik-baik saja"


"Kita do'akan saja semoga segala urusan Daddy selesai dan segera kembali"


Ditengah-tengah obrolan mereka berdua tiba-tiba ponsel Momi Sabrina berdering. Sang pemilik pun segera meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja. "Nomor baru?" ucapnya diikuti dengan keningnya yang mengerut


"Kenapa tidak diterima panggilannya, Mom?" Tanya Sarah


"Ini nomor baru. Nanti saja kalau menelpon lagi, Momi curiga jika ini dari asuransi menwarkan produknya. Huh... Momi sungguh malas mendengarnya mengoceh"


Sarah terkekeh mendenger curhatan Mominya "Momi ini bagaiama? Mana ada pihak asuransi menawarkan kerja sama dihari minggu"


"Hm.. benar juga ya"


Kembali lagi ponsel Momi Sabrina berdering, dengan mantap ia menerima panggilan tersebut. "Halo"


"Selamat pagi. Apa benar dengan Nyonya Sabrina, istri dari Tuan Rehan Atmaja?" Tanya orang diseberang telepon


"Benar"


"Kami dari pihak Ciputra Mitra Hospital Banjramasin mengabarkan, jika suami anda yang bernama Rehan Atmaja mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya sedang kritis"


"DEG!" Jantung Momi Sabrina seakan berhenti terpompa saat mendengar kabar tak mengenakkan itu, tangannya tak sanggup lagi mengenggam ponsel sehingga terjatuh diatas ambal.


Sarah yang terkejut segera bangkit "Mom?!" panggilnya sembari menggerak-gerakan lengan Mominya yang terlihat mematung dan wajah yang mulai pucat


"Momi?! Kau tak apa?" Tanya Sarah kembali


"Sarah! Kita ke Kalimantan!"


Kedua bola mata Sarah terbelalak memdengar permintaan Mominya itu "Apa?!"

__ADS_1


"Panggil Paman Eko untuk mengantarkan kita menuju bandara, dan segera pesan tiket untuk penerbangan paling awal menuju Kalimantan Selatan"


Tanpa banyak bertanya Sarah mengikuti semua keinginan Mominya. Ia tahu jika Daddy Rehan sedang tidak dalam keadaan baik.


***


Hampir 2 jam lamanya mereka berada didalam pesawat, kini Sarah dan Momi Sabrina telah mendarat di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Tak menunggu waktu lama mereka segera keluar, karena memang tak membawa apapun kecuali tas kecil yang masing-masing mereka bawa.


Keduanya segera menaiki Taxi yang sudah standby diluar, kemudian menuju Rumah Sakit sedikitnya memakan waktu kurang kebih 45 menit jika jalanan tidak sedang macet.


.


.


1 Jam berlalu...


Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin


Disinilah Sarah dan Momi Sabrina berada, tepatnya didalam ruang ICU. Kondisi Daddy Rehan yang kritis mengharuskannya untuk berada didalam ruangan ini.


Momi Sabrina menggengam erat telapak tangan suaminya. Air mata yang sedari beberapa jam tadi tertahan, tak dapat lagi dibendung saat melihat kondisi laki-laki yang telah menjadi pendamping hidupnya selama kurang lebih 30 puluh tahun lamanya itu tengah terbaring lemah dengan berbagai macam perlatan yang menempel pada tubuhnya.


"Lekaslah sembuh" Itu adalah kata pertama yang berhasil diucapkan Momi Sabrina setelah sekian jam membisu tanpa menjawab setiap pertanyaan Sarah.


Sarah menangis melihat kondisi Daddynya "Ya Tuhan! Ini kah jawaban atas perasaan yang sedari tadi mengganjal itu?" batinnya. Tak dapat ia berucap, hatinya saat ini begitu sakit.


"Aku tidak akan memaafkanku jika kau belum sembuh" sahut Momi Sabrina


"Ma-maafkan aakkku. Aku telah membohongimu selama lebih 2 tahun ini"


Kening Momi Sabrina berkerut "Apa maksudmu?!"


"Tolong rawat anak yang ikut bersamaku. Rawat dia dengan cinta kasihmu, aku benar-benar meminta maaf dan—" Ucapan Daddy Rehan terpototong tatkala ia mulai kesulitan untuk bernafas.


Momi Sabrina segera menekan tombol yang menghubungkannya langsung dengan perawat dan memasang kembali ventilator yang sempat dilepas oleh Daddy Rehan. Ia kesampingkan rasa penasarannya, yang terpenting saat ini hanyalah kesembuhan bagi suaminya. "Sayang ku mohon bertahanlah! Aku akan memaafkan semua kesalahanmu, yang penting kau harus hidup!" pintanya


"Momi, tenanglah!" Sarah memeluk Mominya yang terasa semakin lemah dan menuntunnya keluar dari dalam ruangan tersebut karena dokter harus memeriksakan keadan Daddy Rehan.


.


.


20 Menit berlalu...


Pintu Ruang ICU terbuka, nampaklah seorang dokter dengan wajah yang terlihat lesu. Sarah segera menhampiri dan menghujaninya dengan berbagaia pertanyaan

__ADS_1


"Dokter, bagaimana kondisi Daddy?"


"Dia baik-baik saja, kan?"


"Dokter jawablah?!"


Dokter tersebut menghela nafas beratnya "Maafkan kami, Nona. Kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi sang pencipta berkehendak lain, Tuan Rehan Atmaja telah pergi untuk selama-lamanya" sesalnya


Bagai dihunjam ribuan belati, Momi Sabrina yang mendengar langsung tak sadarkan diri membuat sang dokter dan perawat segera turun tangan untuk membawanya menuju ruang UGD.


Sedangkan Sarah, ia sudah seperti orang yang tak tahu arah. Ia bingung harus kemana terlebih dahulu, kemudian ia putuskan untuk memastikan Daddy Rehan terlebih dahulu. Sebelum kembali masuk kedalam Sarah menutup singkat kedua bola matanya sembari menghembuskan nafasnya secara kesar, lalu dengan langkah yang berat, ia mulai melangkah masuk.


Kain putih menutupi sekujur tubuh orang yang tengah terbaring diatas ranjang pasien, siapa lagi jika bukan Daddy Rehan. Perlahan Sarah membuka kain yang menutupi wajah lelaki yang telah membesarkannya dengan penuh cinta itu. Wajah pucat, badan kaku, serta hawa dingin, itulah gambaran Daddy Rehan saat ini. Tangis Sarah benar-benar pecah sembari memeluk jasad cinta pertamnya itu.


"Daddy! Kenapa tega sekali, hah?!"


"Aku sebentar lagi akan menikah, siapa yang akan menjadi wali nikahku?!"


"Siapa yang akan menjaga, Momi?!"


"Daddy, kumohon bangunlah! Kau hanya bercanda, bukan?"


"Kau jahat sekali!!"


"Kau berjanji hanya 1 minggu meninggalkan kami, tapi mengapa dokter mengatakan kau telah pergi selama-lamanya?! Katakan, jika ini hanya gurauan semata"


"Daddy bukalah matamu!!"


Rentet jeritan hati Sarah, ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya yang sedari tadi tertahan. Suara isak tangisnya memenuhi ruangan. Kemudian ia teringat dengan Momi Sabrina, dengan segera ia menyeka air matanya "Aku harus kuat! Aku tidak boleh menambah kesedihan hati, Momi" batinnya


Setelah itu, ia bergegas meunju Ruang UGD menemui Momi, setelah tadi meninggalkan jasad Daddynya dengan seorang perawat yang akan memindahkannya menuju ruang jenazah.


***


"Ting..tong!" Suara bel rumah kediaman orang tua Sarah berbunyi


"Krieett" bunyi suara pintu terbuka, tampaklah Bibi Ratna dari balik pintu "Tuan Zayyan" sapanya


Yaa.. Dia adalah Zayyan, setelah hampir 3 jam chatnya tak kunjung dibalas oleh Sarah. Ia mulai penasarn sedang sibuk apa, karena di telpon pun tidak dijawab. Akhirnya memutuskan untuk pergi kerumah calon istrinya itu.


"Bibi, dimana Sarah?" Tanya Zayyan


"Bibi sebenranya kurang begitu mengerti, tapi kata supir rumah ia mengantarkan Nona dan Nyona ke Bandara. Ia juga sempat mendengar jika kedua wanita itu akan pergi Kekalimantan" Jelas Bibi Ratna


Kening Zayyan mengerut "Ke Kalimantan?"

__ADS_1


"Benar, Tuan. Sepertinya Tuan Rehan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, karena supir mengatakan jika Nyonya Sabrina terlihat sangat panik"


"Baiklah, Bi. Terimakasih. Kalau begitu aku permisi dulu" Pamit Zayyan, sembari melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Bibi Ratna.


__ADS_2