
Pagi itu, Sarah menerima kabar jika Zayyan telah tiba dinegara tujuan. Tentunya ia bersyukur akan hal itu, kemudian melanjutkan kembali aktivitas pekerjaannya. Akan tetapi, baru saja jam 10 pagi perasaanya sedikit tidak enak dan entah mengapa terlihat sangat malas mengerjakan pekerjaanya yang tidak pernah ada habisnya itu.
Sarah merebahkan kepalanya diatas meja, dan berulang kali menyalakan ponselnya berharap ada pesan dari Zayyan. Yah. . . itu semua karena kebiasaanya yang selalu chat melalui aplikasi berwarna hijau itu "Hum. . . Rasa sepi sekali tidak ada chat dari Zayyan. Rasanya setengah semangatku pegi ini menghilang"
Entah kemana fokusnya seorang Sarah, hingga Reza saja yang masuk keruangannya tidak ia sadari. Sedangkan sang Direktur yang melihat pemandangan tak biasa itu mengerutkan keningnya "Ehem. .!" Tegurnya
Seketika saja Sarah mengakngkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada sumber suara "Pak Reza?"
"Siapa lagi?" Ujar Reza sembari tersenyum kemudian mendudukkan tubuhnya diatas kursi salah satu rekan Sarah yang kebetulan saat itu sedang cuti.
"He. . . Ada apa pak?"
"Tidak apa-apa, justru aku penasaran dengan sikapmu pagi ini. Apa kau sedang ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa, hanya kurang bersemangat saja, soalnya hari minggu tadi saya tidak kesalon"
"What!?" Reza sedikit dibuat melongo dengan pernyataan bawahannya itu kemudian tertawa "Ha. . ha. ucu melihat wajah bahawannya yang terlihat menggemaskan itu
"Dasar betina! Baru sekali tidak kesalon kau sudah seperti ini, bagaimana jika bulan berikutnya kau tidak kesalon lagi, bisa-bisa kau seperti mayat hidup"
"Haisshh. . . Pak Reza sangat menyebalkan!" Sembur Sarah sembari mengebrak meja
Ancaman Sarah sama sekali tak membuat Reza takut, justru ia semakin semangat untuk mebuat bawahannya itu kesal "Baiklah! Maaf. Aku hanya sedikit mengantuk dan mencari hiburan"
Sarah tak lagi menjawab, ia hanya mendengus dan kembali merebahkan kepalanya.
"Baiklah, Sarah! Terimakasih, untuk waktunya. Kembalilah bekerja jika sudah semangat"
"Ya. . .!" Jawab Sarah dengan singkat dan lemas
Reza pun segera melangkah keluar dan kembali masuk bekerja kedalam ruangannya, niatnya yang ingin bertanya perihal Zayyan apa dia benar-benar CEO Grup perushaan ini pun terurungkan, tatkala melihat Sarah yang sepertinya tidak memilki daya tarik untuk sekedar mengobrol. Yah. . . . Walaupun Sarah telah menolaknya, bukan berarti mereka berdua harus membuat batas permusuhan, mereka tetap sama seperti dulu, dan bersikap professional.
.
.
Waktu istirahat tiba
Sarah yang masih saja terlihat uring-uringan, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang rekan kerjanya sekaligus teman dekat Sarah dikantor.
"Saarah!!"
Kepala Sarah langsung terangkat karena terkejut saat mendengar namanya dipanggil dengan begitu keras, dengan perasaan sedikit kesal ia berucap "Nada! Kau ini kebiasaan sekali memanggilku seperti orang membunyikan klakson, bahkan klason saja kalah nyaring dengan suaramu!"
"Oh ya! Aku harus berbangga dengan hal itu"
__ADS_1
Sarah memutar malas kedua bola matanya "Ck. . . Menyebalkan! Kau mau apa kemari!?"
"Galak sekali!" ujar Nada sembari mencebikkan bibirnya
"Katakan! Kau mau apa kemari!?"
"Kita semua 1 tim, hari ini akan makan bersama diluar!"
"Tap—" Nada yang sudah mengetahui jika wanita didepannya ini akan menolak, dengan segera memotong ucapannya
"Tidak ada penolakan!!"
Membuat Sarah menghela nafas beratnya "Tapi dalam rangka apa?"
"Hari ini aku ulang tahun! Dan kau adalah teman yang paling tega tidak pernah mengucapkan ulang tahun kepadaku setiap tahunnya" protes Nada
"Aku tahu kau ulang tahun, rasanya beberapa tahun yang lalu ada yang marah saat diucapkan selamat, karena tidak ingin dianggap tua" Goda Sarah, seketika membuat Nada terkekeh
"Haish. . . Sudahlah! Jangan diungkit lagi, ayo kita kebawah semua sudah menunggu. Awas jika kau menolak! Aku tidak akan mau berteman denganmu lagi selama 1 minggu"
"Alang-alang sekali mengancamnya!"
"Aku tidak peduli!" Pekik Nada, kemudian meraih lengan Sarah dan menariknya agar segera bangkit dari duduknya "Ayo kebawah!"
.
.
Hello Cafe n Resto
Kini mereka semua telah tiba disebuah restoran yang hanya bersebrangan dengan kantornya. Kemudian memilih tempat duduk lesehan agar terkesan lebih santai.
Sarah yang kala itu baru saja mendudukkan tubuhnya, tiba-tiba mendapat tepukan bahu yang sedikit mengagetkan "Ra!"
Seketika Sarah menoleh kesamping mencari asal suara yang memanggilnya "Ada apa Nada?"
"Temani aku ke toilet!"
Sarah menggelengkan kepalanya, karena sangat mengetahui sifat temannya ini, jika ketoilet harus ditemani entah karena takut atau hal lain "Kebiasaan!" ucapnya
Nada hanya terkekeh sembari menatap temannya dengan penuh harap. Tanpa menjawab Sarah segera bangkit dan melangkahkan kakinya lebih dulu menuju toilet, lalu disusul oleh Nada dibelakangnya.
"Tunggu aku? Ingat! Jangan ditinggal!" Pinta Nada dengan penuh ketegasan, saat mereka sudah berada di dalam toilet.
"Ia. . . Cerewet sekali! Cepat masuk sana!!"
__ADS_1
Tanpa menjawab Nada pun masuk kesalah satu bilik yang ada di dalam toilet tersebut untuk menyelesaikan hajatnya.
Sambil menunggu, Sarah pun meletakkan ponselnya diatas meja westafel lalu merapikan sedikit rambutnya yang mulai aut-autan didepan kaca.
Tiba-tiba dua orang wanita tidak dikenal, berpakaian serba hitam berdiri dibelakngnya, dan langsung menyergap dengan membekap mulut dan hidung Sarah menggunakan sapu tangan yang telah diberikan obat bius. Kedua bola mata Sarah yang sempat terbelalak perlahan menyurut ketika obat bius itu bekerja, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
.
.
Nada yang baru saja selesai dengan hajatnya melangkah keluar dari dalam bilik. Ia menyapu pandangannya pada seluruh ruang toilet, mencari sosok Sarah namun ia tidak berhasil menemukannya. Kemudian pandangannya terhenti saat melihat sebuah ponsel yang tidak asing tengah terletak diatas meja wastafel, lalu dengan segera meraihnya.
Ia amati ponsel itu, karena takut jika salah perkiraan. Nada pun menekan tombol ponsel tersebut dan muncullah foto Sarah sebagai wallpapper "Benar, ini ponsel Sarah. Apa dia juga sedang menyelesaikan hajat? Ck. . . Ceroboh sekali" gumamnya
Namun kening Nada berkerut saat menyadari senua pintu bilik terbuka, yang menandakan tidak adanya orang didalamnya. Perasaanya mulai tak tenang, namun sebisa mungkin ia mencoba menepis. "Mungkin Sarah mau mengerjai aku?" gumamnya
Dengan langkah yang sedikit berat Nada segera keluar dari dalam toilet sembari mengenggam ponsel Sarah dan menuju rombongannya tadi, berharap jika orang yang ia cari ada disana, namun harapannya pupus tatkala pandangannya tak berhasil menemukan temannya itu" Kemana Sarah? Apa dia sedang membuat kejutan untukku!?" batinnya mulai gugup
Nada pun memutuskan mendekati Direkturnya untuk bertanya, karena selain ia, hanya Pak Reza yang juga dekat dengan Sarah "Pak Reza!"
Reza yang sedang sibuk dengan ponselnya seketika menolah kebelekang saat mendengar seseorang memanggil namanya, lalu tersenyum simpul kearahnya "Ada apa nad?"
"Apa Bapak melihat Sarah?"
Kening Reza berkerut, karena merasa bingung dengan pertanyaan Nada "Bukannya kalian tadi ketoilet nersama-sama?"
"Benar, Pak. Akan tetapi saat saya keluar, Sarah tidak ada" Ucap Nada dengan panik
"Apa kau sudah memastikan semua bilik? Barang kali ia juga sedang menyelesaikan hajatnya"
"Sudah, Pak. Tapi semua pintu bilik terbuka, sudah dipastikan Sarah tidak ada disana"
"Aneh sekali!" Batinnya
Nada cepat-cepat menyerahkan ponsel Sarah pada Direkturnya itu "Saya hanya menemukan ini, Pak"
"Ini kan ponsel milik Sarah?"
"Benar, Pak. Saya menemukan ponsel itu diatas meja westafel"
Reza pun mulai merasa ada yang tidak beres namun ia tidak menampakkan raut kekhawatirannya, karena tidak ingin merusak acara makan siang Nada.
"Kita makan dulu ya, mungkin Sarah sedang ada urusan yang mendesak sehingga taknsadar meninggalkan ponselnya" Pinta Reza yang berusaha meyakinkan Nada agar tidak terlalu khawatir.
Nada pun mengiyakannya walau sedikit kahwatir, namun memilih melanjutkan acara tersebut karena tidak enak dengan yang lainnya.
__ADS_1