
Dikediaman Raditiya
Mama Dessy dan Nenek Bianca tengah duduk bersantai di ruang keluarga setelah tadi berkunjung kerumah calon besannya.
"Mama, rasanya lega sekali ya?" Mama Dessy menghela nafas lega
"Kau benar. Rasanya tidak sia-sia selama beberap bulan ini kita memantau dan mencoba mendekatkan mereka berdua" ujar Nenek Bianca yang juga ikut menghela nafas leganya.
Zayyan yang tengah berlalu tak sengaja mendengar perbincangan antara Nenek dan Mamanya. Niatnya yang ingin melangkah kedapur untuk mengambil air karena haus tiba-tiba pun berubah haluan. Ia ikut bergabung dalam perbincangan dua wanita itu.
"Apa maksud Nenek mendekatkan kami berdua?" tanya Zayyan yang baru saja mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
Tentunya Mama Dessy dan Nenek Bianca saling melempar senyum, kemudian tertawa kecil "Sebenarnya beberapa kali pertemuan tak sengaja kalian itu ada andil Mama dan Nenek didalamnya"
Zayyan menarik kedua sudut bibirnya "Sudah kuduga! Apa jangan-jangan saat makan siang di restoran cepat saji itu Mama yang menyuruh Zahra agar aku menemaninya?"
Mama Dessy mengangguk, membenarkannya
"Pantas saja dia begitu memaksa. Padahal yang kutahu selama ini dia sangat jarang makan diluar"
"Zahra bilang, demi kakak ipar, dia rela makan diluar"
"Ck. . . Lalu pertemuan di acara seminar pajak itu?" Tanya Zayyan penuh telisik
"Itu semua Nenek yang mengatur, kebetulan sekali ada undangan seminar pajak, kalian berdua kan sama-sama mengurus bagian pajak. Akhirnya papa meemerintahkan langsung atasan Sarah untuk menunjuk Sarah mewakili perushaan. Dan lebih beruntungnya lagi, ternyata pihak penyelenggara seminar itu adalah Pamanmu, jadi papa juga meminta kalian agar ditempatkan dalam satu meja dalam acara tersebut"
"Aku benar-benar tak menyangka! Mungkin jika Sarah bukan wanita yang kudambakan, aku akan sangat marah mendengar pernytaan ini. Aku sangat menghargai kerja keras kalian. Mama dan Nenek terimakasih banyak, kalian tak salah memilihkan aku wanita sebaik Sarah"
"Sama-sama, Zay. Persiapkan dirimu dari sekarang. Jadilah suami yang dihormati bukan karena ditakuti" Pesan Mama Dessy
"Zayyan akan memastikannya, Ma"
****
Sehari setelah Sarah libur bekerja, kini ia kembali beraktivitas seperti biasanya. Sampailah waktu istirahat, ia pun memutuskan mengajak Reza makan siang direstoran yang terakhir mereka kunjungi bersama, untuk membahaa perihal pertanyaan Reza 2 hari yang lalu.
.
.
Mama Resto
Sarah dan Reza telah selesai menikmati makan siangnya. Perlahan Sarah meletakkan sendoknya diatas piring yang ia gunakan makan, kemudian meraih gelas yang berisikan air minum lalu menguknya beberapa kali. Ia letakkan kembali gelas itu, kemudian mengarahkan pandangannya lurus kearah Reza yang juga baru saja selesai menikmati makan siang.
Sejenak Reza menyandarkan punggungnya pada kursi , kemudian tersenyum "Jadi bagaimana jawabannya, Sarah?"
Sarah menarik nafasbya dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara kasar, sembari menyusun kata-kata yang baik untuk menolak "Pak Reza. Sebelumnya, saya mengaku memang benar-benar menyukai anda, tapi saya tidak tahu apa itu suka karena kagum atau lebih daripada itu Dua bulan anda pergi, bayak peristiwa yang terjadi dalam keseharian saya, termasuk masalah hati."
Reza mengerutkan keningnya, ia gagal mencerna ucapan sarah "Maksud mu?"
"Beberapa bulan belakangan ini saya dekat degan seseorag. Namun dia menghilang tak ada kabar selama dua bulan, bertepatan dengan anda juga yang pergi keluar kota."
__ADS_1
"Lalu?"
"Dari kepergian kalian berdua, saya tersadar. Ternyata hati ini lebih condong memikirkan laki-laki itu daripada anda. Segaka kekhawatiran, kegelisahan, semua untuknya. Bahkan saya sampai tidak bisa untuk memikirkan anda sedang apa disana selama dua bulan itu. Entah mengapa perasaan saya benar-benar telah berubah, setelah mengenal dia"
Reza menutup singkat kedua bola matanya kemudian menghela nafas nafas beratnya, setelah itu ia tetap tersenyum "Baiklah, Sarah. Aku mengerti maksud dari perkataanmu"
"Sekali lagi, maafkan saya Pak Reza. Sebenarnya saya telah mecoba melupakannya, akan tetapi kami justru terikat dalam sebuah perjodohan yang telah direncanakan oleh pihak keluarga setahun yang lalu"
"Jadi, kalian dijodohkan?"
"Kami baru mengetahuinya sekarag! Ini benar-benar diluar daripada dugaan"
"Baiklah. .! Mau bagaimana lagi? Kalian ternyata telah dijodohkan dan juga saling menncintai. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku berharap kebaikan untuk kalian, semoga bahagia" ujar Reza sembari tersenyum, namun raut wajahnya tak bisa menyenbunyikan kekecewaan yang saat ini menyelimuti dirinya.
Tiba-tiba pandangan mereka berdua teralihkan tatkala seorang laki-laki tengah berdiri tepat diantar mereka berdua, dengan tatapan tajam.
Kedua bola mata Sarah terbelalak "Zayyan!?"
Ya! Laki-laki itu adalah Zayyan. Ia baru saja memasuki restoran, karena ada janji makan siang bersama kliennya direstoran ini. Namun saat melangkah menuju meja yang tekah dibooking khusus untuk pertemuannya, tiba-tiba pandangannya terlaihkan saat melihat calon istrinya tengah duduk berdua dengan seorang laki-laki yang ia anggap sebagai rival itu.
Benar saja, ia lagsung menyerahkan segala tugasnya kepada Lyra—sekretaris pribadinya, dan meninggalkan segala tugas tanggung jawabnya demi mencari jawaban dari sang pujaan hati.
"Tuan! Apa perkataan saya dua hari yang lalu kurang jelas?!" ujar Zayyan begitu dingin
Reza lagi-lagi terseyum saat mendapat tatapan tajam itu, kemudian mengarahkan pandangannya pada Sarah "Apa dia laki-laki yang kau maksud?"
"Iya Pak Reza, dialah calon suami saya"
Zayyan tak membalasnya, hanya tatapan tajamnya lah yang menjadi jawaban jika ia tidak sudi. Reza yang menyadari pun segera menurunkan tanganya.
Sarah segera bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Zayyan "Pak Reza sekali lagi maafka saya. Semoga anda segera mendapatkan wanita yang tulus mencintai dan memahami setiap kondisi anda. Maaf, saya permisi"
Reza tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya
Sedangkan Zayyan yang lengannya sudah ditarik Sarah agar segera mengikutinya menahan sejenak langkahnya, ia kekuarkan semua uang yang ada didalam dompetnya dan menaruhnya diatas meja tepat dihadapa Reza "Ini sebagai ganti biaya makan yang telah Sarah makan bersama anda yang entah sudah keberapa kali. Saya tidak ingin calon istri saya makan dari traktiran laki-laki lain selain saya. Perimisi, Tuan"
"Posesif sekaki!" Batin Reza sembari menggeleng-gelangkan kepalanya. Kemudian tersenyum hnagat memperhatikan Sarah yang sudah menghilang dibalik pintu "Lagi-lagi kau meninggalkanku, tapi kali ini untuk selamanya. Semoga kebahagiaan utnukmu, Sarah" gumamnya
.
.
Kini mereka berada diparkiran tepatny didalam mobil milik Sarah.
Sarah yang menyadari jika Zayyan sedang kesal segera mengenggam telapak tangan calon suaminya itu, kemudia tersenyum, dengan kemah lembut ia bertanya "Kau masih marah?"
"Tidak!" balasnya singkat sedikit ketus lalu membuabg pandangannya kesembarang arah
"Baiklah! Itu berarti kai sedang cemburu"
Zayyan hanya terdiam, entah kemana pandanganya saat itu, yang jelas ia tidak ingin melihat wajah Sarah
__ADS_1
"Kau tida ingin bertanya mengapa aku bisa bersama Pak Reza?" tanya Sarah
"Tidak perlu aku harus bertanya, karena sudah sepantasnya kau menjelaskan" Zayyan dengan ketusnya
"Aku makan siang dengan Pak Reza karena ingin mejawab pertanyaannya 2 hari yang lalu, saat kau mengacau itu."
"Apakah harus dengan makan siang bersama!?"
Sarah menghela nafas beratnya, kemudian tersenyum "Ini hanya makan siang. Lagi pula, sangat tidak sopan jika aku menolaknya melalui sambungan telpon, sedangkan ia menanyaiku melalui makan siang. Jadi, sudah sepantasnya aku memberikn jawab itu ditepat yang sama bukan?"
Zayyan hanya mendengus, tak mau lagi menjawab, ia benar-benar sedang terbakar saat itu.
Perilaku Zayyan tentunya membuat Sarah semakin gemas. Tanpa rasa canggung sedikit pun ia segera menangkup kedua pipi calon suaminya itu agar pandangan mata Zayyan fokus melihatnya "Kau masih marah?"
"Aku hanya sedikit kecewa! Karena kau tak meminta izin dariku. Bagaimana jika aku salah sangka?"
"Oh. . seperti itu? Baiklah. . .maafkan aku. Aku hanya belum terbiasa meminta izin sebelumnya, lain kali akan ku usahakan"
"Hm. . ."
Tanpa aba-aba sarah segera melayangkan kecupan singkat pada pipi Zayyan sembari berbisik "Terimakasih!"
Tentunya perbuatan sarah benar-benar memancing hasrat Zayyan yang selama ini berusaha ia tahan setiap kali melihat wanita pujaanya itu mengigit-gigit bibir tipisnya. Tanpa adanya aba-aba Zayyan justru membalas kecupan itu dengan sebuah ciuma hangat. Kedua bola mata Sarah terbelalak, ia terkejut saat menerima serangan dadakan itu.
Namun lama-lama Sarah mulai mengikuti gerakan bibir Zayyan hingga terciptalah ciuman panas diantara mereka berdua. Bibir mereka saling bertautan, yang terdengar hanyalah suara decakan dari lidah mereka memenuhi isi mobil.
Rasanya semua energi keamarahan Zayyan tiba-tiba menghilang setelah percumbuan itu "Maafkan aku Sarah"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kau dan aku sama-sama menikmati"
Zayyan terkekeh dan segera memeluk Sarah.
"Oh ya Zayyan, mengapa kau bisa ada dini? Apa kau mengikutiku??" Tanya Sarah ditengah-tengah pelukannya
"Aku sedang makan siang dengan klien"
"Apa sudah selesai?"
"Aku tidak fokus saat melihatmu bersama laki-laki itu, jadi aku menyerhkan semuanya pada sekretarisku"
Kedua bola mata Sarah terbeblalak saat mendnegar pernytaan Zayyan "Astaga! Itu sangat tidak professional dan lagi tidak sopan. Kembalilah kedalam!"
"Tidak perlu!"
Sarah segera meraih tangan Zayyan dan dengan lembut ia berkata "Kembalilah! Aku berjnji akan menunggumu disni"
"Benar!?"
Sarah mengangguk, dengan semangat Zayan pun menuruti keinginan calon istrinya. Ia segera keluar dari mobil, dan melangkah masuk kemabli kedalam restoran tersebut.
"Benar-benar, labil!" batin Sarah, kemudian terkekeh
__ADS_1