SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
TEGARNYA HATI MOMI SABRINA


__ADS_3

Langkah kaki terdengar begitu cepat sepanjang lorong rumah sakit sembari mencari ruangan Momi Sabrina dirawat.


"Sarah"


Dengan wajah yang sembab Sarah menoleh kebelakang saat mendengar seseorang memanggil namanya "Zayyan" ucapnya lirih


Setelah Zayyan mendengar penjelasan Bibi Ratna, ia tak henti menghubungi nomor Sarah entah pada panggilan keberapa Sarah baru menerima panggilan tersebut. Sarah mengatakan jika Daddynya sudah meninggal dan saat ini Mominya sedang tak sadarkan diri akibat syok. Membuat Zayyan memutuskan untuk menyusul calon Istrinya ke Kalimantan, diikuti dengan Papa Wildan dan Mama Dessy.


Zayyan melangkah cepat, ia masuk dan segera memeluk Sarah mencoba menenagkan. Sedang Mama Dessy dan Papa Wildan mendekati calon Besannya yang tengah terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang pasien.


"Tenanglah!" ucap Zayyan sembari mencium pucuk kepala Sarah. Walau pada kenytaannya ia juga saat ini begitu terpukul ketika melihat wanitanya itu bersedih.


"Zayyan! Daddy telah meninggal, dan sekarang Momi tak sadarkan diri. Sudah lebih dari dua jam ia seperti itu. Aku takut jika Momi juga meninggalkanku" pekik Sarah


"Tenanglah! Jangan berpikir seperti itu dulu. Kau harus semangat untuk bisa membangunkan Bibi dari mimpinya" Pinta Zayyan dengan lembut


Sementara itu, Mama Dessy juga tak kuasa melihat sahabatnya tengah terbaring lemah seperti itu "Hei sister! Mengapa kau tertidur disaat seperti ini, hah?! Bangunlah! Apa kau tidak malu dilihat oleh kami?" ujarnya diiringi dengan isakan tangis "Sabrina! Kumohon bangunlah!! Kau sungguh jelek tertidur seperti ini" sambungya.


"Mama, tenanglah! Biarkan Sabrina berisitiraht sejenak. Ia butuh tenaga untuk menerima kenyataan" Pinta Papa Wildan


"Aku hanya tak biasa melihat dia lemah seperti, Pa. Dia adalah wanita yang tangguh, sungguh sulit dipercaya saat melihatnya seperti ini" Adu Mama Dessy


Papa Wildan segera memeluk istrinya "Kau tidak boleh menujukkan kesedihanmu ini pada Sabrina saat ia sudah terbangun. Aku tidak ingin dia semakin terpuruk, sebagai sahabatnya kau harus menguatkan dia"


Mama Dessy hanya mengangguk dan kembali menitikan air matanya.


.


.


20 Menit berlalu


Perlahan Mama Sabrina mebuka kedua bola matanya. Ia berharap semua hanyalah mimpi, namun saat melihat tubuhnya yang saat ini berbaring diatas ranjang pasien membuatnya kembali menangis saat mengingat dokter menyatakan kepergian suaminya "Rehannnn!" pekiknya


Semua orang yang ada didalam ruangan itu segera mendekat "Mom, tenanglah" pinta Sarah sembari memeluk


"Dimana Daddy, Nak? Dimana?!"


"Daddy sekarang sudah berada didalam ruang jenazah"


Betapa sakitnya hati yang dirasakan oleh Momi Sabrina saat dihadapkan kenyataan jika suaminya benar-benar telah pergi, belum lagi ia teringat akan pesan suaminya mengenai anak. Entah anak siapa yang dimaksud.


Tiba-tiba pintu terbuka, seorang suster melangkah masuk sembari menggendong seorang bayi laki-laki berumur sekitar 2,5 tahun "Selamat siang, maaf saya menganggu"


"Ada apa, sus?" tanya Sarah

__ADS_1


"Anak ini adalah salah satu korban yang selamat dari peristiwa nahas yang dialami Tuan Rehan"


"Lalu, itu anak siapa suster?"


"Dia adalah anak Tuan Rehan"


Semua orang yang yang ada didalam ruangan begitu syok mendengar pernyataan dari suster itu, namun tidak dengan Momi Sabrina. Entah mengapa air matanya berhenti mengalir, saat memandangi anak yang tengah menangis-nangis didalam gendongan suster tersebut.


"Tuan Rehan sebelumnya berpesan kepada saya untuk meminta Nyonya Sabrina merawatnya, dikarenakan ibu korban yang tak lain istri Tuan Rehan telah meninggal dilokasi kecelakaan tersebut" terang suster


"Suster, aku adalah Sabrina. Biarkan aku merawatnya" Pinta Momi Sabrina dengan tulus


Suster tersebut mendekat dan segera menyerahkan bayi itu "Namanya Darrel Atmaja, Nyonya"


"Darrel. Namamu sangat bagus sayang" ujar Momi Sabrina sembari memeluk anak tersebut. Sontak si bayi segera berhenti menangis saat berada dipelukan Momi Sabrina.


Peristiwa itu tentunya membuat semua orang bingung dengan tingkah Momi Sabrina yang tiba-tiba berubah drastis.


"Mom, kau tak apa?!" tanya Sarah setelah suster tersebut pamit untuk pergi


Momi Sabrina tersenyum sembari menggeleng "Tidak apa. Oh ya, tolong antar Momi untuk melihat jasad Daddy mu"


"Momi yakin?!"


"Tenanglah! Momi tak akan berbuat macam-macam"


"Papa, apa kau mengerti maksud semua ini?" tanya Mama Dessy yang memijat halus pelipisnya karena merasa syok dan pusing memikirkan peristiwa ini


"Papa hanya bisa menyimpulkan, Ma. Namun itu semua tidak pasti" jawab Papa Wildan


"Apa?!"


"Jika Rehan selama berada dikalimantan menikah lagi, dan memilki seorang anak dari istri keduanya itu"


"Oh.. ini sungguh membuatku pusing"


"Mama benar! Aku sedikit tidak mempercayai ini semua. Terakhir kali aku bertemu Paman Rehan beliau memberi pesan layaknya laki-laki sejati yang hanya setia pada satu wanita. Tapi apa yang kusaksikan sekarang?!" timpal Zayyan


"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Boy! Paman Rehan seperti ini ada alasannya" ujar Papa Wildan


"Apa alasannya? Apa papa tahu?!"


Papa Wildan mengangguk sembari menghela nafas beratnya "Ya Papa tahu, dan sangat tahu"


"Apa, Pa? Jelaskan pada kami?" Desak Mama Dessy

__ADS_1


"Sebenarnya—"


.


.


Kamar Jenazah


Momi Sabrina tersenyum memandangi jasad suaminya "Hei Darrel, lihatlah Daddy! Dia tertidur pulas sekali, Momi sampai tak tega membangunkannya"


Darrel si bayi yang berusia 2,5 tahun itu hanya terdiam memandangi Momi Sabrina yang sedari tadi mengoceh seolah-olah dia mengerti.


Sedangkan Sarah, semakin dibuat tak kuasa menahan tangisnya saat melihat pemandangan yang sungguh aneh itu "Mengapa Momi jadi setegar itu? Apa sebenarnya yang terjadi?! Ya Tuhan.. ini sungguh membingunkan" batinnya


"Mom, biarkan aku menggendong Darrel. Momi bicaralah sejenak dengan Daddy! Rasanya anak sekecil dia tidak baik berada didalam ruangan ini" pinta Sarah


Momi Sabrina tersenyum dan segera menyerahkan bayi itu pada Sarah "Tinggalkan Momi sebentar, sayang"


"Baiklah, Mom. Panggil aku jika sudah selesai" ujar Sarah, kemudin melangkah keluar sembari menggendong Darrel.


Sepeninggal Sarah, Momi Sabrina mulai menangis. Ribuan pertanyaan diotaknya tidak bisa terjawab karena orang yang akan diajukan pertanyaan telah tiada "Bagiaman bisa aku menjawab teka teki ini, Rey?!"


"Kau belum menjelaskan segalanya, beraninya kau pergi?"


"Kau hanya menyuruhku untuk merawat anak itu, yang entah aku tahu itu anak siapa?"


"Mengapa kau sejahat ini denganku, hah?!"


"Bangunlah Rey, ku mohon! Aku akan memaafkan kesalahanmu, dan mengikuti semua keinginanmu, asal kau kembali bangun"


"Aku juga akan berjanji akan merawat itu seperti anak kita, asal kau bangun!"


"RE-HAN! Bangunlah!!"


Tangis Momi Sabrina pecah, ia sudah tak sanggup lagi menahannya. Namun sesaat perasaan itu sedikit lega setelah ia berhasil melontarkan segala keksalannya. Segera ia menghapus air matanya dan mencium kening juga kedua pipi suaminya untuk yang terakhir kali "Aku maafkan segala kesalahanmu. Tenanglah disana, aku berjanji akan merawat anak itu, kupastikan dia tak akan kekurangan kasih sayang. Aku mencintaimu Rehan, dari dulu dan selamanya"


"Aku tahu kau laki-laki baik, tidak pernah berniat untuk mengkhianati cinta suci kita. Biarlah semua ini menjadi rahasia"


Setelah puas, Momi Sabrina segera keluar. Tak disangka ia disambut dengan pemdangan yang begitu hangat, saat melihat Sarah begitu senang dan berhasil membuat Darrel tertawa, namun tawa Sarah terhenti saat menyadari Mominya kini berada diambang pintu.


"Momi, kau sudah selesai rupanya" Ujar Sarah sembari mendekat


"Ayo kita kembali, Nak. Urus segera penerbangan jenazah Papa ke Jakarta" pinta Momi Sabrina


"Tenang saja! Momi kembali ruang rawat dulu ya, sambil menunggu semua kelengkapannya selsesai"

__ADS_1


"Ia sayang. Berikan Darrel, Momi ingin memeluknya"


Dengan segera Sarah menyerahkan Darrel kepangkuan Momi Sabrina. Setelah itu mereka kembali kedalam ruang perawatan.


__ADS_2