
Zayyan kembali masuk kedalam ruangan sesaat setelah ia menyelesaikan meeting bulanannya. Dengan segera ia mendudukkan tubuhnya diatas kursi kebesarannya, menyandarkan kepalanya dibelakang kursi, sembari melonggarkan ikatan dasi yang sedari tadi rasanya mencekik lehernya. Sesaat Zayyan menutup kedua bola matanya dan menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Knock. . Knock. . " Suara ponsel Zayyan berdering menandakan pesan masuk. Ia pun segera membuka kedua bola matanya dan meraih ponsel yang terletak diatas tumpukan berkas. Keningnya mengerut saat melihat notif pada layar ponselnya "Bibi Sabrina?" gumamnya. Dengan gerakan cepat Zayyan segera membuka pesan tersebut yang ternyata didalamanya ada 3 video. Tak menunggu waktu lama ia mendowload video tersebut kemudian menontonnya.
"Ha. . ha. . ." Tawa Zayyan menggema mengisi satu ruangan. Tak henti ia tertawa saat melihat video yang dikirim oleh Mominya Sarah yakni tentang kelakuan unik calon istrinya dalam belajar memasak. "Astaga, Sarah! aku pikir kau pandai memasak!"
Tak puas dengan satu video, Zayyan kembali membuka video selanjutnya. Tawanya kembali menggema saat melihat Sarah memasukkan 1 buah telur utuh kedalam teflon yang berisi minyak begitu banyak, layaknya hendak memasak sayur "Ini lucu sekali, ya Tuhan! Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu dalam membuat telur dadar. Bahkan aku lebih jago memasak dari pada dia"
Rasanya lelah Zayyan saat itu menghilang, ketika mendapat humor pagi menjelang siang. Bahkan sang sekretaris yang sudah berada didapannya saja tak ia sadari.
Kening Lyra berkerut saat menyakasikan kejadian yang begitu langka didepan matanya "Daebak. . . Tuan Zayyan tertawa?! Aku ingin sekali mengabadikan momen ini, dan membagikannya pada seluruh karyawan kantor agar mereka tahu jika Tuan Zayyan tak semengerikan yang mereka duga. Haih... tapi aku takut diterkamnya" batinnya. Kemudian ia berdehem
Tawa Zayyan perlahan berhenti, seraya memutar kursinya menghadap Lyra dengan menghunuskan tatapan tajamnya. "Astaga! Sejak kapan anak ini berdiri disini?! Ini benar-benar gawat, wibawaku sebagai pria dingin terancam turun tahta" batinnya, namun sama sekali tak memperlihatkan raut kecemasan pada wajahnya ketika menatap Lyra. Dengan dingin Zayyan berakata "Sejak kapan kau berdiri disitu?!"
"Haih! Aku harus jawab apa? Bisa-bisa tidak dapat gaji aku bulan ini, jika aku berkata sudah sedari tadi berdiri disini" batin Lyra, dengan gugup ia menjawab "Ennngg. . . Baru saja, Tuan. Saat melihat anda tertawa"
Zayyan mendengus "Kenapa tidak meminta izin dulu?!"
"Saya sudah melakukannya, Tuan. Tapi anda sama sekali tidak merespon dari dalam, akhirnya saya memutuskan untuk masuk karena ada hal yang urgent" Jelas Lyra
"Ck. . . Ada apa?!"
"Tamu dari PT. Samudera, sudah datang, Tuan"
"Baiklah! Tunggu sebentar, aku akan bersiap-siap. Teliti kembali segala berkas-berkasnya, lalu bawakan keruang meeting!" Pinta Zayyan
"Segera, Tuan"
"Lyra!"
Lyra yang sudah melangkah sedikit jauh, segera menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kebelakang "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Lupakan kelakuanku yang tadi! Jika sampai terdengar gosip antar karyawan, kau duluan yang akan ku cari! Mengerti!!" Ancam Zayyan
Lyra tertunduk sembari meremas kedua telapak tangannya "Ba-baik, Tuan"
"Ya sudah, kau boleh keluar!"
Dengan langkah yang tergesa-gesa Lyra keluar dari dalam ruangan Zayyan. Ia bersandar pada dinding sembari mengelus-elus pelan dadanya, untuk mentralkan perasaannya. "Sabar. . . Ini resiko memiliki boss berkepribadian aneh! Untung saja tampan, eh bukan tampan tapi gajinya besar hi. .hi. ." cicitnya. Kemudian menyiapkan segala berkas sesuai perintah Zayyan tadi.
***
1 jam berlalu
Zayyan kembali masuk kedalam ruangannya setelah meetingnya berakhir dengan kesepakatan kerja sama. Ditengah-tengah istirahatnya, ia teringat sesuatu yang membuatnya selalu penasaran. Ganggang telpon yang berada diatas meja ia raih sembari menekan nomor ekstensi yang menghubungkannya langsung dengan Lyra.
"Masuk!" pintanya tanpa menunggu jawaban dari sang sekretaris ia segera mengakhiri panggilannya
Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Lyra dengan langkah tergesa segera menghadap Zayyan "Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Zayyan yang tengah menikmati pemandangan dari lantai 20, sembari menyesap secangkir kopi segera memutar kursinya dan menghadap Lyra "Jelaskan, mengapa kau dan laki-laki itu sangat akrab?!"
Kening Lyra mengerut ia sedikit bingung dengan ucapan Bossnya itu "Maaf Tuan, siapa yang anda maksud laki-laki itu?"
"Laki-laki yang bersamamu ditaman, hari minggu yang lalu?"
"Maksud anda Reza?"
__ADS_1
Zayyan mendengus ia sedikit kesal jika mendengar nama Reza langsung disebut "Hemm..." jawabnya dengan malas
Lyra menggaruk tengkuknya, ia sedikit malu mengatakan. Namun tidak dengan Zayyan, ia semakin tak sabar untuk mendengar penjelasannya. Cangkir berisi kopi yang sedari tadi ia pegang, segera ia letakkan dengan sedikit kasar diatas piring kecil sehingga menghasilkan bunyi.
Perbuatan Zayyan sontak membuat sang sekretaris terkejut "Emm... Bisa dibilang kami CLBK" jawabnya cepat
Kening Zayyan mengerut mendengar singkatan aneh yang rasanya baru ia dengar "CLBK?!"
Lyra mengangguk dengan antusias membenarkan
"Apa itu?"
"Hah?!"
"Aku bertanya?"
"Anda tidak mengetahuinya?!" Tanya Lyra mencoba meyakinkan
"Hm..."
"Cinta Lama Bersemi Kembali, Tuan"
"Ck... Ada-ada saja, singkatannya" Zayyan menarik sedikit sudut bibirnya sembari menggeleng karena tak habis pikir ada singkatan semacam itu "Jadi, kalian pernah bersatatus mantan?" tanyanya
"Hehe.. Bisa dibilang seperti itu, dulu kami pernah menjalin kasih sewaktu SMA" ucap Lyra dengan malu-malu
"Lalu bagaimana kalian kembali bertemu?"
"Takdir, Tuan"
Lyra pun menceritakan kejadian 2 bulan yang lalu, hari saat dimana Sarah diculik
Flash back
Sekitar 30 menit perjalanan, kami telah tiba ditujuan. Nyonya Dessy bergegas masuk, sedang aku menunggu diluar karena harus memantau keberadaan Tuan Zayyan. Cukup lama aku berdiam diluar, berkutat dengan laptop dengan sisa tenagaku yang rasanya hampir habis terkuras karena begitu banyaknya pertemuan yang harus dihadiri selama berada di Singapur, belum lagi dengan rencana pulang yang begitu sangat mendadak.
Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dari arah pintu utama, aku tak memperhatikannya, dan laki-laki itu segera menegurku "Lyra!"
Aku pun menengadahkan kepalaku untuk melihat siapa lelaki yang menyapaku, yang suaranya seperti sudah sangat familar "Reza" ucapku.
Sesaat pandangan kami terkunci, buru-buru aku mengakhirinya, dan segera bangkit dari tempatku duduk, tepatnya dikursi teras "Kau sedang apa?!"
Reza tersenyum. Senyuman khasnya yang begitu manis membuat siapa saja akan betah berlama-lama memandangnya "Aku menemui ibu dari rekan kerjaku"
"Siapa rekan kerjamu? Nona Sarah?!"
"Kau mengenalnya?"
"Iya. Karena Nona Sarah, adalah calon istri Bossku"
"Tuan Zayyan maksudnya?"
"Benar!" ucapku sembari mengangguk
Reza tersenyum "Kebetulan sekali"
"Ya.. sangat kebetulan"
__ADS_1
Sesaat Reza memandangiku dari atas sampai bawah, mungkin ia sedikit aneh melihat penampilanku yang sedikit kusam, sedangkan yang ia tahu aku adalah wanita yang sangat mementingkan penampilan "Lalu, kau sedang apa disini?"
"Aku mengantar Nyonya Dessy, menemui calon besannya. Apa kau tak bertemu? Beliau sedang ada didalam"
Sejenak Reza kuperhatikan terdiam kemudian menghela nafas beratnya "Aku sudah bertemu dengan beliau dan sempat mengobrol sebentar"
"Oo" Karena merasa sedikit nervous aku hanya menjawab seadanya
"Oh ya, apa kau tahu jika Sarah diculik?"
Aku mengangguk
"Kau tahu siapa dalangnya?"
"Masih belum bisa dipastikan, tapi tersangka utama adalah wanita yang cemburu kepada Nona Sarah"
"Apa maksudmu, Nona Aprillia Mahveen?"
Kedua mataku membulat "Kau tahu?!"
"Ya.. beberapa hari yang lalu dia mengajakku bekerja sama untuk memisahkan Sarah dan Tuan Zayyan"
Keningnku berkerut, ucapannya yang masih menggantung membuatku penasaran "Lalu?!"
"Aku jelas menolaknya. Kemudian, dia marah besar dan bersumpah akan menyakiti Sarah. Ku pikir hanya emosi sesaat, ternyata ia mewujudkannya"
Kuhembuskan nafas kasarku "Nona April, memang seperti itu"
"Aku benar-benar tidak menyangka"
"Tapi, mengapa Nona April meminta tolong kepadamu?" tanyaku penuh telisik
"Yah... mungkin karena aku pernah menyukai Sarah sebelumnya, lalu ia hendak menfaatkanku menjadikanku membuat keretakan hubungan mereka"
"Kau menyukai, Nona Sarah?!" tanyaku sedikit terkejut
"Dulu, sebelum Tuan Zayyan melamarnya. Tapi sekarang aku telah merelakannya" jawabnya kemudian tersenyum.
Aku pun hanya mengangguk, entah mengapa ada perasaan tidak enak setelah mendengarnya. Namun aku sadar aku hanyalah bagian dari masa lalunya.
Kemudian setelah itu dia mengajakku mengobrol sebentar, sebelum akhirnya kami bertukar nomor ponsel.
Selama 2 bulan itu kami sering membuat janji temu dan tak ada yang menyangka jika kami kembali menjalin cinta.
Flash back off.
"Apa benar, laki-laki itu sudah tidak memiliki rasa apa-apa lagi terhadap Sarah? Ah.. Aku tidak boleh percaya begitu saja! Bisa saja ini aka-akalannya" batin Zayyan sembari mengangguk mendegarkan cerita Lyra "Emm... Jadi begitu"
"Aneh sekali! Aku baru kali ini bercerita panjang lebar dan dia mau mendengarkanku tanpa protes sedikit pun. Tapi aku benar-benar malu karena menceritakan masalah pribadi" batin Lyra, kemudian berucap "Benar, Tuan. Saya harap anda dan Reza bisa berdamai, karena dia benar-benar sudah tak memiliki perasaan apapun kepadanya Nona Sarah"
"Ck.. Aku akan berdamai jika kalian sudah menikah!"
Ucapan Zayyan membuat Lyra menggelengkan kepalanya "Baiklah, Tuan. Saya akan segera menagihnya"
"Hemm..."
"Masih ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?"
__ADS_1
"Tidak ada, kau boleh keluar"
"Kalau begitu saya permisi, Tuan" Pamit Lyra sembari membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum ia beranjak pergi.