
Selama perjalanan Zayyan hanya sendiri, bahkan Sarah yang sedari tadi hendak menemuinya terasa sulit sekali dikarenakan kedua wanita itu terus saja mengajaknya berbicara.
"Oh ya kak Sarah, kenapa kau menyukai kak Zayyan?" Tanya Zahra yang sedari dulu sangat penasaran akan alasan Sarah menerima Kakaknya. Padahal ia sangat tahu jika Sarah adalah wanita yang lemah lembut, sudah pasti menyukai laki-laki yang lemah lembut pula, tidak seperti kakaknya.
Sarah tersenyum, sembari menghela nafasnya "Entahlah! Asal kau tahu ya, Zahra. Dia tak seburuk pandangan orang. Aku selalu mendapat perlakuan spesail darinya"
Kedua bola mata Zahra terbelalak, ia hampir tak mempercayai pengakuan calon Kakak Iparnya itu "Benarkah?!"
Sarah mengangguk membenarkannya
"Yah. . . itu karena Kak Sarah ada wanita yang spesial, jadi wajar saja"
"Memangnya Zayyan itu seperti apa?" Tanya Sarah yang mulai penasaran
"Kak Zayyan itu adalah laki-laki yang super cuek, sombong, dan narsis. Kau tahu Kak, bahkan dia tidak pernah peduli dengan perasaan wanita yang menyukainya. Dia terlalu menganggap dirinya itu sempurna, sehingga wanita manapun tidak pernah ada yang menurutnya bisa bersanding dengannya"
Kini giliran Sarah yang membelalakkan kedua bola matanya, ia hampir tak percaya dengan pernyataan calon Adik Iparnya itu "Benarkah? Lalu mengapa ia menginginkanku?? Apa karena terpaksa dijodohkan?"
"Terpaksa itu tidak mungkin, Kak! Kak Zayyan memilki pendirian yang keras. Seperti yang ku katakan tadi, kau adalah wanita spesial baginya"
"Benarkah!?"
Zahra mengangguk membenarkannya
"Lalu kau bilang tadi, jika dia itu narsis. Benar begitu?"
"Benar, kalau tidak percaya sanjung saja dirinya. Pasti Kak Zayyan akan tersenyum bahagia"
"Bukankah setiap orang suka akan pujian. Jadi wajar-wajar saja dia akan tersenyum"
"Bukan hanya itu saja, ada lagi hal yang lebih mencolok"
"Apa itu?"
Zahra menengok kekanan dan kekiri, ia mencari sosok Kakaknya, saat merasa aman ia mulai mengeluarkan suara pelan hingga yang mendengar hanyalah Sarah dan Lyra "Kak Zayyan suka sekali bercermin, memperhatikan setiap inchi dibagian wajahnya. Ia tidak ingin ada noda sekecil apapun, belum lagi masalah penampilannya, semua harus sempurna"
"Astaga! Gadis kecil ini, berani sekali mengatakan kekurangan Kakaknya dihadapan calon istrinya. Aku tidak yakin dia akan selamat. Padahal Tuan Zayyan sudah berpesan untuk tidak membicarakan kekurangannya, akan tetapi meminta kami untuk menyanjung kehebatanya saja. Huh. . . Semoga saja Nona Sarah tidak mengatakannya pada Tuan Zayyan" batin Lyra
"Tapi selama aku bersamanya ia tidak pernah memakai cermin" ujar Sarah yang tak kalah pelan mengeluarkan suara
"Mungkin dia menahannya Nona?" ujar Lyra menimpali. Ia yang sudah tidak tahan akan obrolan yang sangat menarik itu, akhirnya membuka suara "Urusan dimarahi Tuan Zayyan belakangan saja, yang penting bergosip dulu" batinya
Sarah mengalihkan pandangannya pada Sekretaris kekasihnya itu "Kau juga mengetahui?"
Lyra mengangguk dengan mantap "Sangat! Saya sudah lebih dari 5 tahun bersama beliau, jelas sangat memahami sifat dan perliaku beliau sehari-hari"
"Oh astaga. . . Apakah dia akan menjadi SUAMI NARSIS setelah nanti kami menikah?"
"Mungkin saja!" Sahut Zahra
Kemudian mereka pun tertawa
"Tidak apa, aku akan tetap mencintainya" Ujar Sarah ditengah-tengah tawanya
"Begitulah kalau wanita sudah jatuh cinta, tulus sekali menerima segala kekurangan pasangannya" ejek Zahra
"Itu karena perasaan wanita yang benar-benar tulus, jadi tidak mempermasalahkan akan sikap pasangannya. Dengan catatan selama itu masih batas wajar, tidak sampai main tangan"
"Hm. . .Kau benar juga kak!"
"Oh ya, apakah Zayyan memiliki mantan kekasih?" Tanya Sarah pada kedua wanita itu
"Tuan Zayyan tidak memiliki kekasih, tapi sering melakukan kencan buta, namun tak pernah ada yang jelas. Para wanita banyak yang menginginkannya, tapi dia justru tak perduli akan hal itu. Apalagi Aprillia. Ops. . .!" ujar Lyra yang kecoplosan "Mati aku! Padahal Tuan Zayyan sudah berpesan untuk tidak menceritakan nenek sihir ini" batinnya
Kening Sarah berkerut "Aprillia!?"
__ADS_1
"Aprillia itu wanita yang sangat terobsesi oleh kak Zayyan dari bangku kuliah hingga sekarang, tapi tidak pernah bisa mendapatkan hatinya" jawab Zahra
"Lalu kenapa dia tidak menyerah?"
"Kalau tidak salah, aku pernah mendengar Papa berkata jika April adalah orang yang tak akan pernah puas jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia terlalu obsesi terhadap sesuatu. Oleh karena itu kak Zayyan tak pernah mau menerimanya, walau hanya sebagai teman dekat"
"Lalu di mana dia sekarang"
"Di jepang"
"Dia baru saja pulang, Nona" Lyra menimpali
"Oh ya, kapan dia pulang?" Tanya Zahra
"Untuk waktu kapan ia kembali, saya kurang tahu, Nona. Namun yang jelasnya, kemarin sore dia datang kekantor mencari Tuan Zayyan"
"Apa mereka bertemu?" tanya Sarah
"Beruntung saat itu Tuan Zayyan sudah pulang lebih dulu sebelum Nona April datang"
"Lalu apa yang ia lakukan?" Tanya Zahra
"Ia marah besar ketika saya mengatakan jika Tuan Zayyan sudah pulang, karena sibuk mempersiapkan kencannya malam ini."
"Cih. . . Seperti diselingkuhi saja!" Zahra dengan kesalnya
"Dia memang seperti itu. Oh ya, Nona Sarah. Saya sarankan kepada anda untuk berhati-hati. Dia bukan Wanita pada umumny. Orang ini mengerikan! Dia akan melakukan apa saja selama itu bisa membuatnya puas termasuk meluakai lawannya"
"Kau sepertinya banyak tahu?" Ujar Sarah
"Bagaimana tidak, 5 tahun lebih saya menjadi sekretaris Tuan Zayyan, selama itu pula saya terus melihat wanita itu berusha menempel pada Tuan Zayyan"
Sarah menghela nafas beratnya "Kenapa aku jadi kasihan dengannya?"
Sarah pun tersenyum, dan kembali menghela nafas beratnya "Baiklah! Terimakasih atas informasinya. Aku akan berhati-hati dari sekarang. Oh ya, aku akan menemui Zayyan dulu"
"Biarkan saja dia sendiri, Kak" Pinta Zahra
"Kasihan! Aku akan segera kembali"
Sarah pun berlalu pergi meninggalkan kedua wanita yang terus memaksanya untuk tidak pergi itu.
.
.
Zayyan yang kala itu sedang duduk berselonjor diatas kursi malas, sedikit menggerutu "Argh! Ini semua karena Mama yang menyuruh Zahra untuk ikut. Aku benar-benar menjadi orang yang terbaiakan disini" gumamnya.
Ia pun mengingat momen kejadian, dimana Zahra memaksa untuk ikut.
Flash back,
Zayyan yang baru saja kembali dari makan malam bersama Sarah mendapati kedua orang tuanya beserta Adiknya Zahra masih asik berkumpul diruang keluarga
"Ma. Pa" panggilnya
"Eh. . . kau sudah pulang rupanya. Bagaimana Zay?" Tanya Mama Dessy
"Semuanya berjalan baik, Ma. Lyra benar-benar pandai memberi ide"
"Itu berita bagus"
Zayyan tersenyum kemudian beralih menatap Papanya "Oh ya Pa, besok aku pinjam Speedboatnya 1 hari untuk trip kepulau xxxx"
"Kau pergi bersama siapa?" Tanya Papa Wildan
__ADS_1
"Dengan Sarah saja"
Zahra yang mendengar kata liburan, segera meletakkan ponselnya diatas meja dan berkata dengan lantang "Kakak aku ikut!"
"Tidak!" Tolak Zayyan segera sembari memberikan tatapan tajamnya yang begitu menusuk
Tak merasa takut akan ancaman kakaknya, Zahra justru bergelayut dilengan Mamanya dengan manja kemudian memohon dengan berkata "Mama, aku ingin ikut kakak berlibur"
Sejenak Mama Dessy terdiam, kemudian tersenyum jahil "Sepertinya jika hanya kalian berdua tidak akan asik, Zay. Bagaimana kalau kita semua ikut?"
"Tidak!"
"Kau pelit sekali, Kak! Apa kau tidak kasihan dengan kak Sarah, dia pasti akan merasa sangat bosan karena hanya berdua dengan kakak" ujar Zahra
"Iya, Zay. Adikmu ada benarnya juga. Lebih baik kau ajak Zahra, atau kau mengajak kami semua" ujar Mama Dessy begitu santainya, namun penuh dengan pilihan yang memberatkan Zayyan
Kemudian Zayyan mendengus kesal, tak ada pilihan lain ia pun berkata "Aku akan membawa Zahra saja!"
"Yeayy... Terimakasih Kak Zayyan" Ujar Zahra, namun tak direspon oleh Zayyan.
"Baiklah kalau begitu aku permisi" Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya Zayyan segera berlalu untuk masuk kedalam kamarnya.
"Argh! Menyebalkan sekali! Aku menyesal mengatakan izin ku pada Papa dihadapan kedua wanita itu" gumamnya. Kemudian ia berpikir, lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lyra
"Selamat malam, Tuan Zayyan" Suara Lyra diseberang telepon
"Lyra besok pagi sebelum jam 8 kau sudah ada pelabuhan Rad's Holding! Aku akan memberimu upah 2x lipat dari sore tadi, jika kau bersedia membatalkan kencanmu besok dan memenuhi permintaanku malam ini" Pinta Zayyan tanpa basa basi
"Tapi intuk apa, Tuan?"
"Ikut aku berlibur ke pulau xxx, temani adikku yang cerewet itu!"
"Maksud anda Nona Zahra"
"Siapa lagi?"
"Apa Nona Sarah juga akan ikut?"
"Ya... Bwa perlengkapan pantaimu, dan jangan banyak tanya lagi!"
"Siap, Tuan!"
Flash back end.
"Zayyan!"
Zayyan segera melepas kacamata hitamnya dan menoleh pada asal suara, terlihat Sarah yang tersenyum sambil berjalan mendekat kearahnya.
"Maafkan aku sedari tadi dicegat oleh mereka berdua" sesalnya sembari duduk dikursi sebelah kekasihnya itu
"Tak apa Sarah! Apa kau senang?"
"Terimakasih Zayyan kau telah mengundang mereka berdua untuk bergabung dengan kita, tentunya aku sangat senang karena kita berama-ramai"
Zayyan menghela nafas leganya "Syukurlah! Itu berarti ide Zahra tidak salah"
"Oh ya Zay, ayo kita berfoto! Aku ingin membagikan kedekatan kita berdua pada akun isntagramku"
"Tapi aku tidak begitu bisa bergaya"
Sarah mengerutkan keningnya "Kedua wanita itu tadi berkata jika Zayyan narsis. Kenapa ia tidak bisa bergaya dikamera? Bukankah kebanyakan orang narsis itu suka sekali berfoto?" batinya, tak mau ambil pusing kemudian berkata "Kau hanya perlu tersenyum, itu sudah lebih dari cukup menambah ketampananmu"
Tentunya pujian Sarah membuat Zayyan berbesar kepala, dan Sarah yang menyadari itu sedikit menggelngkan kepalanya "Tapi kau yang memegang kameranya, karena aku tidak ingin terlihat gendut" pinta Sarah
Zayyan tertawa, kemudian mengambil ponsel Sarah dan mulai mengabadikan momen mereka berdua diatas kapal.
__ADS_1