
Hari terus berlalu, kandungan Sarah sudah semakin membesar dan Zayyan pun sudah berhasil melewati masa ngidamnya beberapa bulan yang lalu, beruntung drama yang dilewatinya tidak lah sesulit papahnya dulu, karena saat itu hanya makanan pokoknya saja yang berubah yaitu rujak dan masih sanggup mengerjakan yang lainnya seperti biasa.
Semenjak Sarah hamil Zayyan lebih sering menitipkannya pada mertuanya jika ia pergi keluar kota. Ya karena Zayyan saat itu tidak mengetahui istrinya tengah berbadan dua, ia langsung menerima kontrak kerja sama untuk menangani proyek besar yang kebetulan berada diluar kota dan mengharuskannya untuk selalu bepergian. Beruntung untuk perjalanan keluar negeri Papah Wildan mau bermurah hati untuk menggantikannya sementara.
"Sayangggg aku pulang!!" teriak Zayyan dengan nafas yang terengah-engah, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang menghantui pikirannya.
Kemudian terdengar langkah kaki dari arah dapur, Zayyan segera mengalihkan pandangannya. Ia terkejut saat melihat istrinya sudah memberikan tatapan yang tidak ramah "Astagaaa!! Mam*us gue, bakalan kena marah lagi" gumamnya dalam hati
"Kamu telat sepuluh menit!!" ujar Sarah begitu ketus sambil mensedekapkan kedua tangan diatas dadanya.
"Maaf sayang, kamu kan tahu kalau jam segini jalanan lagi macet-macetnya" ujar Zayyan melemahkan suaranya agar Sarah tidak marah-marah
Ya, semenjak Sarah mengandung, tingkat kecerewetan dan sikap posesifnya bertambah. Sarah selalu berpikiran lebih, ia takut Zayyan akan kelayapan kemana-mana karena bosan melihat tubuhnya yang sudah bengkak.
Sarah pun tersenyum manis kearah suaminya "Iya aku tahu mas. Ya udah! Kamu mandi dulu ya, aku siapin air anget biar badan kamu enakan" ujarnya begitu lembut
Zayyan terperangah saat mendengar ucapan lembut dari mulut istrinya, rasanya sudah lama ia tidak mendengar nada lembut itu."Alhamdulillah!! Selamat gue, senengnya denger bini baik gini, dari pada marah-marah pas lagi pulang ngantor" gumamnya dalam hati "Makasih Ra. Kamu emang selalu ngertiin aku" ujarnya dan segera mengecup kening istrinya
"Iya mas" ujar Sarah dan berlalu meninggalakan Zayyan yang masih diam mematung.
"Dasar istri labil, coba aja labilnya gitu terus. Aman gue ha.ha.." gumam Zayyan dalam hati seraya memperhatikan Sarah yang mulai menghilang dari pandangannya
^^
Kini mereka sudah berada didalam kamar setelah tadi menyelesaikan makan malam. Zayyan begitu disibukkan dengan laptop dan ponselnya. Sedangkan Sarah begitu asik makan buah jeruk, entah sudah berapa banyak buah jeruk yang dihabiskannya sambil memperhatikan suaminya.
"Arrghhh ngeselinn!! Gak di kantor, gak dirumah, laptop terus yang dibelai" gumam Sarah dalam hati. "Mas!?" panggilnya sedikit ketus
Zayyan tak langsung merespon pandangannya masih tertuju pada layar laptopnya "Kok perasaan gue gak enak gini ya, cara manggilnya ngeri banget" gumamnya dalam hati
"Massssssss?!" panggil Sarah kembali saat tidak mendapat respon dari suaminya
Zayyan mengarahkan lurus pandangannya pada Sarah yang kebetulan duduk tak jauh didepannya "Iya sayang?" ujarnya lembut dan tersenyum
"Istri kamu siapa sih?"
Zayyan mengerutkan kedua keningnya ia gagal mencerna ucapan Sarah "Istri? Istri gue, ya elo lah"
__ADS_1
"Yakin!!" tanya Sarah mulai sinis diiringi pandangannya yang mulai menajam
"Iya" ujarnya mantap, namun tidak dengan perasannya yang sedikit was-was saat melihat raut wajah Sarah yang mulai dingin "Waduhhh.. kayaknya bakalan ada jebakan batman lagi ini" gumamnya dalam hati
"Jadi!! kenapa laptop terus yang kamu pegang bukan aku? Hampir dua puluh empat jam kamu sama itu laptop!!"
Zayyan kesusahan meneguk salivanya "Lucu tapi mencengkram!! Waduh jawab apa nih" gumamnya kembali "Maaf Ra. kamu kan tahu sendiri, aku sedang menangani proyek besar, jadi aku harus hati-hati dalam cross check laporannya" ujarnya berusaha tenang menjelaskan
"Emang kamu pikir rumah itu kantor mas? Pokoknya aku gak mau tahu ya, besok kalau kamu kerja lagi dirumah, jangan salahin aku kalau tuh laptop bakalan jadi abu!!" ujar Sarah penuh ancaman
Zayyan membelalakkan kedua bola matanya "Astagaaa!! Baru aja tadi sore dia baik-baik Ama gue, dan dipuji penuh pengertian. Eh tau-taunya malam ini malah nanduk lagi" gumamnya. "Ra. Maaf ya! Bukan maksud aku gak perhatian sama kamu. Oke.. besok aku bakalan gak kerja lagi dirumah. Janji" ujarnya sangat lembut dan penuh kehati-hatian
"Good Boy!!" ujar Sarah sambil mengacungkan kedua jempolnya dan melanjutkan kembali makan jeruknya.
"Alhamdulillah.. Selamat.. selamat!!" gumamnya dalam hati, sambil memejamkan singkat kedua bola matanya dan menghela nafas lega. Ia pun memilih aman untuk segera menutup laptopnya, dan mendekat ke arah istrinya "Ra. aku boleh nanya gak?"
"Bertanyalah sebelum bertanya itu dilarang"
"Jangan marah ya?"
"Ngak!!"
"Iya!!"
"Kamu kenapa sih suka banget marah-marah?" tanya Zayyan begitu hati-hati
"Nggak tau mas! Aku kesel aja kalau kamu nggak tepat waktu pulangnya, pikiran aku jadi kemana-mana. Apa lagi semenjak aku hamil, kamu sibuk banget sama pekerjaan, aku jadi merasa diabaikan aku takut kamu kelayapan kemana-mana soalnya bosan ngelihat bentuk tubuh aku yang udah bulat gini" ujar Sarah lalu mencebikkan bibirnya
Zayyan berlutut dihadapan Sarah yang sedang duduk diatas kursi lalu menggenggam erat telapak tangan istrinya "Denger baik-baik!! Andai aja aku bukan cowok yang setia, aku udah lama pacaran sana sini, dan gak akan fokus sama usaha aku yang dulu. Kamu kan tahu sendiri, kalau kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Jadi aku mohon, kamu jangan pernah mikir hal buruk seperti itu lagi!" ujarnya begitu serius
"Maafin aku mas!" ujar Sarah, ia menghela nafas lega saat mendengar jawaban dari mulut suaminya
"Iya sayang! Aku juga minta maaf ya! Mungkin kamu bosan dengar jawaban yang selalu sama kalau aku benar-benar sedang disibukkan dengan proyek baru, tapi itu lah faktanya"
"Iya mas aku sebenarnya ngerti kok. Mungkin karena bawaan bayi yang aku kandung. Kan kamu orangnya suka marah-marah, jadi nular deh ke anaknya he.hee.."
Zayyan pun ikut terkekeh mendengar jawaban dari mulut istrinya, bagaimana pun ia mengakui bahwa dirinya memang suka marah-marah "Iya.. iya.. Maaf ya Sayang?!" ujarnya, lalu menciun hangat kening Sarah dan segera memeluknya.
__ADS_1
Cukup lama mereka berpelukan, perlahan Zayyan melepas pelukannya, lalu netranya tertuju pada sebuah gundukan kulit jeruk diatas meja "Sayang, jeruk yang satu plastik mana?"
"Habis!"
Zayyan langsung membelalakkan kedua bola matanya "Se-serius!?"
"He'em" jawab Sarah begitu santai sambil menganggukkan kepalanya
"Emang kamu gak takut sakit perut apa? Itu jeruk banyak banget loh??"
"Hee.. Abisnya enak banget mas" ujar Sarah tanpa sedikit pun merasa bersalah
"Emangnya kamu gak kasihan ama anak kita? Pokoknya aku gak mau tahu, kalau besok kamu kayak gini lagi, gak akan ada jeruk untuk seterusnya!!" ancam Zayyan penuh penekanan
"Yaahh mas kok gitu sih? Kamu kan tahu aku tanpa jeruk itu rasanya hambar" ujar Sarah lalu mencebikkan bibirnya
"Oh.. Jadi gitu! Bukan karena gak ada aku hidup kamu hambar?" ujar Zayyan yang mulai memberikan tatapan tajamnya
"Astagaaa! Salah ngomong, gimana ini? Mas Zayyan pasti merajuk lagi" gumam Sarah dalam hati, ia langsung menundukkan kepala dan mengeluarkan jurus andalannya dengan cara menangis sejadi-jadinya
Zayyan kelabakan saat melihat Sarah yang tiba-tiba menangis begitu kencang "Arrghh! Yaa ampunn!! Kok gue bisa kelepasan gitu ngomongnya sih?" gerutunya dalam hati seraya mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tanpa memperdulikan istrinya yang sedang menangis ia memilih untuk keluar dari kamar lalu menutup pintu dengan begitu keras membuat Sarah seketika terdiam dan menyadari suaminya sudah tidak ada
"Mas Zayyan kemana? Apa dia marah?? Biasanya dia langsung luluh kalau aku nangis kayak gitu. Apa jangan-jangan mas udah gak sayang sama aku!???" tanyanya pada diri sendiri, Sarah pun memutuskan untuk mencari Zayyan keluar kamar namun ia tak menemukan sosok yang ia cari dan mendengar suara mobil yang sudah melaju meninggalkan kediamannya
"Itu kan mobil mas Zayyan?"
"Bik.. bibik!!"
Bik Endang segera mendekat saat mendengar Nonanya memanggil " Ia nona?"
"Mas Zayyan keluar ya?"
"Iya nona, tuan tadi keluar tapi gak bilang mau kemana? Tuan kayak abis marah gitu, bibik aja takut ngelihatnya, tatapannya gak bersahabat kayak biasanya"
"Oh gitu. Ya udah makasih ya bik?" ujar Sarah dan berlalu meninggalakan bik Endang. Perasaanya hancur saat mengetahui Zayyan pergi meninggalkannya tanpa pamit
Sarah berbaring dan menangis sejadi-jadinya, kini tangisannya tidak dibuat-buat lagi "Maaf mas" ujarnya sambil terisak, cukup lama Sarah menangis dan selalu mengulang kata-kata maaf, maaf, dan maaf disetiap isakannya.
__ADS_1
"Hei baby twins!! Maafin keegoisan mamah ya? Papah kalian gak salah kok! Dia marah untuk kebaikan kita bertiga, tapi mamah malah bikin papah kamu kesel" ujar Sarah seraya mengelus-elus perut buncitnya