
Paman Hendri hanya mengangguk. Sesaat kepergian Zayyan, pandangannya menyapu dekorasi acara akad pernikahan yang terbilang sangat mewah itu. Kemudian netranya terhenti pada sosok yang tak asing baginya 'Kak Sabrina?!' gumamnya sembari mengerutkan keningnya. Tak mau salah terka ia memdekati Papa Wildan "Kak!" panggilnya
Papa Wildan yang juga sedang asik berbincang dengan teman-temannya segera menoleh "Ada apa, Hend?!"
"Wanita yang sedang mengobrol dengan Kakak Ipar itu bukannya, Kak Sabrina?" tanyanya sembari mengarahkan pandangannya pada seorang wanita yang terlihat asik bersenda gurau dengan Mama Dessy
"Benar!"
Kedua bola mata Paman Hendri terbelalak "Apa?!"
"I.Y.A" jawab Papa Wildan dengan penekanan
"Apa dia juga tamu diacara ini?!"
"Bukan! Dia tuan rumah acara ini"
Kening Paman Hendri mengerut "Tunggu sebentar! Jangan bilang dia adalah besanmu?!"
"Dia memang besanku!"
"Apa?!"
"Haha.. Tak usah terkejut! Kau kenapa sangat gugup seperti itu? Jangan bilang kau masih memendam perasaan terhadapnya?"
"Ti-tidak! A-aaku mana mungkin masih menyukainya." Sanggah Paman Hendri dengan terbata-bata
"Benarkah?!" Goda Papa Wildan sembari menyenggol sedikit bahu adiknya itu
"Tak usah memperjelasnya lagi! Lalu dimana Kak Rehan? Mengapa aku tak melihat mantan rivalku itu?"
Papa Wildan menghela nafas beratnya "1 bulan yang lalu ia meninggal karena kecelakaan"
Ada rasa sedih saat Paman Hendri mendengar kabar duka tersebut, namun secara bersamaan ia juga bahagia. Bahkan perasaan senangnya lebih mendominasi sehingga ia tak bisa menyembunyikan senyumannya yang kini telah mengembang.
Papa Wildan yang menyadari itu segera menjitak kepala adiknya 'Pletak!'
"Aawww" Paman Hendri meringis memegangi kepalanya yang sedikit sakit "Kenapa kau menjitak kepalaku?!"
"Kau memang pantas mendapatkannya! Berani-beraninya tersenyum diatas kesedihan orang lain!" Sembur Papa Wildan
"Sebenarnya aku tidak ingin tersenyum, tapi bibir dan hati ini tidak bisa berdusta jika ia sedang senang"
"Lalu?! Kau ingin mendekatinya lagi, heh? Apa tidak cukup dengan penolakan Sabrina saat kalian duduk dibangku kuliah dulu?? Ingat Hend, dia tidak mau menerimamu karena kau lebih muda 5 tahun darinya"
__ADS_1
"Yaah.. namanya juga usaha, bukankah jika gagal harus coba lagi. Apa lagi lowongan terbuka besar seperti itu" Jawab Paman Hendri dengan santainya
"Ck... Aku tidak yakin Sabrina mau denganmu, terlebih ia sangat menyayangi Rehan"
"Ayolah, Kak! Harusnya kau mendukungku, bukankah kau ingin aku menikah?" Rengek Paman Hendri
"Ck.. Ternyata benar apa kata Almarhumah Mama, kau tidak ingin menikah karena belum bisa move oleh pesona Sabrina."
"Tak usah membahasanya!" Ketus Paman Hendri
Papa Wildan terkekeh melihat ekspressi adiknya itu "Ya sudah.. Kalau begitu selamat mencoba!" ujarnya sembari menepuk ringan sebelah bahu adiknya, lalu meninggalkannya.
Paman Hendri kembali memperhatikan Momi Sabrina dari kejauhan, sembari mengulas senyumnya 'Kak Sabrina semakin cantik saja? Kak Rehan pasti menafkahinya dengan sangat baik. Huh.. Aku jadi berkeinginan untuk menggantikan posisi Kak Rehan untuk menafkahinya. Tapi.. Apa dia mau menerimaku?! Sekarang aku sudah sangat mapan, walapun usia kami selisih sedikit jauh tapi aku tak mempermasalahkannya' batinnya
Kemudian Paman Hendri mendekat saat melihat Momi Sabrina sendiri "Halo, Kak Sabrina" sapanya
Momi Sabrina menoleh pada sumber suara, keningnya sedikit mengerut memperhatikan laki-laki yang ada dihadapannya. Seperti sedang mengingat-ingat "Kau.. Hendri?!"
Paman Hendri mengangguk kemudian tersenyum "Kakak ternyata masih mengingatku"
"Daya ingatku masih sangat bagus! Kau bersama siapa kemari?"
"Aku datang sendiri"
Tengkuk yang tidak gatal menjadi sasaran Paman Hendri untuk ia garuk karena sesikit salah tingkah dengan pertanyaan wanita yang ada dihadapannya "Enggg... Ituuu.. aaa... Aku belum beristri" jawabnya sedikit malu
"Ha..ha.. Kau masih saja suka bercanda, Hend! Sekarang tunjukkan istrimu yang mana?"
"Aku serius, Kak"
Momi Sabrina menatap bola mata Paman Hendri mencoba mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran "Owh.. Baiklah! Maafkan aku. Bagaimana kabarmu?!"
"Seperti yang Kakak lihat, aku selalu terlihat baik"
"Syukurlah!"
Tiba-tiba jari kelingking Momi Sabrina ditarik-tarik oleh seorang anak kecil "Mommm!" panggilnya
Pandangan mata Momi Sabrina mengarah kebawah diikuti senyumnya yang mengembang saat melihat anak kecil tersebut "Darrel!" dengan segera berjongkok dan menggendong anak kecil tersebut
"Ini anakmu yang keberapa, Kak?" Tanya Paman Hendri
"Ini anak kedua ku. Hendri, maaf ya aku tak bisa menemanimu sepertinya Darrel mengantuk"
__ADS_1
Paman Hendri mengangguk "Tidurkanlah! Aku juga sedikit terburu-buru" ucapnya sembari tersenyum.
'Anak yang digendong Kak Sabrina sangat berkharisma. Andai dia adalah anakku, jelas pasti akan menjadi penerus Night Wolf. Huhhh...' Batinnya, diiringi dengan helaan nafas berat sembari memperhatikan punggung Momi Sabrina yang semakin menghilang dari pandangannya.
****
...SARAH, nama itu lolos begitu saja dari pikiran Daddy saat mendengar tangisan pertamamu didunia ini....
...Melihat paras wajahmu yang begitu cantik mengingatkan Daddy akan kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam., yang memiliki istri bernama Sarah, wanita tercantik didunia dan juga berakhlak mulia. Daddy berharap kau bisa seperti istri Nabi Ibrahim Alais Salam., tak hanya cantik namun berakhlak mulia....
...Hari ini, 09 September 2020, hari dimana janji suci pernikahan kalian ucapkan dihadapan Tuhan. ...
...Segala tanggung jawab Daddy padamu telah berpindah ketangan suamimu, yang berarti kau wajib mematuhinya sebagaimana patuhmu terhadap Daddy....
...Nak... Jagalah harga diri dan kehormatan Suami mu. Berbuat baik dan patuh lah terhadapnya. Jangan pernah membantah apapun yang diinginkannya selagi itu masih wajar tidak melanggar hukum-hukum Allah SWT.,namun jika kau lelah, maka tolak lah dengan lembut, karena sesungguhmya laki-laki sangat suka akan kelembutan....
...Jangan pernah sekalipun meninggikan suaramu dihadapannya atau seolah-olah kau hendak menerkamnya, karena sejatinya laki-laki adalah pemimpin. Ia bisa saja menampakkan tanduknya jika merasa tidak hargai....
...Jangan pernah coba menyembunyikan kesalahan sekecil apapun karena bisa saja itu bisa menjadi boomerang suatu hari nanti....
...Mintalah pendapatnya jika ingin mengambil sebuah keputusan, atau saat kau ingin keluar dari rumah mohon lah ijin dengannya....
...Jika kamu marah, maka mintalah maaf. Jika dia marah, maka jadilah air yang mendinginkannya. Tetaplah santun dan berlemah lembut, karena dialah jalan yang akan mengantarkan mu menuju surga-Nya....
...Ingat, Sayang! Ridho Suami adalah Ridonya Allah SWT....
...Kalian seperti lembar demi lembar buku yang tidak akan habis dibaca. Untuk itu, tetaplah belajar dan mempelajari satu sama lain. Tetaplah saling mencintai. Percayalah bahwa kalian adalah dua makhluk yang memang ditakdirkan bersama selamanya DUNIA hingga AKHIRAT....
'Hiks.. Hiks..' Terdengar suara tangis Sarah setelah membaca surat dari Almarhum Daddy Rehan, yang rencana akan ia bacakan, namun tak sempat karena ajal lebih dulu menjemputnya. 'Daddy! Aku sangat merindukanmu, rindu akan pelukanmu, nasihat dari mu, dan kasih sayangmu. Aku berjanji akan menjalankan semua amanat dari mu agar kau bisa tenang dan bahagia disana' gumamnya sembari terisak.
'KRIETT' Suara pintu terbuka, mengalihkan pandangan Sarah, dengan segera ia menyeka air matanya saat menyadari siapa yang masuk "Zayyan!" sapanya
Zayyan yang masih mengenakan peci putih diatas kepala, segera melepasnya, kemudian mendekat kearah wanita yang baru beberapa puluh menit lalu sah menjadi istrinya "Sayang! Kau kenapa?!" Tanyanya dengan khawatir
Sarah tersenyum dan menggeleng "Aku tidak apa-apa, Zay! Aku hanya merindukan Daddy. Terlebih surat ini, kata Momi ini adalah surat yang sempat di tulis Daddy untukku. Rencananya akan dìbacakan saat akad nikah kita, namun rencana hanya tetap rencana" jelasnya
Tanpa mengambil surat itu, Zayyan segera merengkuh tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya "Tenanglah! Walapun aku tidak sesempurna Daddy, tapi aku akan berusha untuk terus membuatmu nyaman dan merasa aman bersamaku"
"Terimakasih, Zayyan! Kau adalah laki-laki terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku" Ucap Sarah, dan semakin mempererat pelukannya.
Perlahan pelukan mereka lepas, Zayyan tersenyum sesekali menyeka air mata istrinya menggungakan ibu jari "Kalau begitu, berhentilah menangis. Lihatlah riasan wajahmu, kelihatan sangat mengerikan"
Bibir Sarah mengerucut dan dengan gemas ia segera mencubit perut Zayyan "Jadi suami, jangan menyebalkan!!"
__ADS_1
"Awwww" Pekiknya, kemudian tertawa setelahnya, membuat Sarah semakin bersemangat untuk mencubit laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.