
Sarah begitu kesulitan membuka matanya, namun sayup-sayup ia mendengar langkah sepatu heels berjalan semakin mendekat kearahnya dan terdengar seseorang sedang memerintah "Guyur dia!"
"Byyyuuuurrrrr" 1 ember air berhasil mendarat membasahi tubuh Sarah. Dengan terpaksa ia membuka kedua matanya, perlahan ia mulai tersadar akan posisinya yang saat ini sedang duduk bersandar lemah diatas lantai dengan kedua tangan yang sudah terikat kebelakang.
Lalu seorang wanita cantik dengan seringai jahatnya, serta tatapan yang sangat membunuh, berjalan menghampiri Sarah. Ia berjongkok dan segera menangkup kasar kedua pipi Sarah menggunakan satu tangannya, lalu menengadahkan wajah Sarah untuk mensejajarkan pandanganya.
Kedua bola mata Sarah terbelalak saat menyadari siapa wanita yang ada dihadapannya ini "Nona April"
April menyeringai, kemudian dengan kasar ia melepas cengkramannya, membuat Sarah sedikit kesakitan "Siapa lagi!? Nona Sarah, kau tertidur sangat nyenyak, membuatku tak sabar untuk membangunkanmu, lalu kupustuskan untuk mengguyurmu dengan air"
"Baiklah, aku maafkan! Kau mau apa sekarang" Tanya Sarah yang masih saja berusaha tetap kuat
"MA-TI!"
"Cih. . . Kau bahkan bukan Tuhan! Beraninya mengatur hidup dan matiku!?"
April kemudian bangkit setelah beberapa saat berjongkok kemudian tertawa sangat keras, membuat suaranya menggema didalam ruangan kosong itu "Haha. . . Nona Sarah, kau masih saja sombong, padahal sebentar lagi kau akan mati!"
"Aku tidak peduli! Aku yakin, aku tidak akan mati, karena Zayyan akan datang menyelamatkanku!!"
"W.o.w. . . Anda terlalu berbesar kepala, Nona. Zayyan saat ini sedang berada diluar negeri, bagaiman mungkin ia menyelamatkanmu, dan lagi pula tidak ada yang menyadari jika kau sedang diculik. Tapi mereka akan menyadari ketika kau telah mati ha. .ha. . ."
"Cih. . . Dasar wanita sinting! Pantas saja Zayyan tidak mau denganmu, kau berbuat seenaknya dan memenuhi setiap keinginan ego dan pikiran gilamu. Cobalah berubah sedikit jika kau benar-benar ingin mendapatkan hati seseorang dengan tulus"
"DIAMMMM!!" Pekik April, ia kembali menangkup kedua pipi Sarah dengan kasar "Semua ini karena kau ja*lang! Jika saja Zayyan tidak bertemu denganmu, dia pasti akan menikah denganku!!" lalu menghempaskannya kembali dengan sangat kasar
"Wanita gila!" Sarah tak kalah meninggikan suaranya
"Haha. . . Oh, Nona Sarah yang malang, kau pasti sangat ketakutan bukan? Puas-puas lah mengataiku, sebelum kau berakhir menjadi santapan serigala ku yang mulai mengaung kelaparan"
Kedua bola mata Sarah terbelalak, ia jelas mempercayai ucapan April karena sebelumnya ia juga sudah pernah diancam jika akan dilenyapkan dari muka bumi ini. Sekarang April benar-benar sudah melakukannya walapun masih setengah jalan.
April kembali menyeringai saat menyadari jika tawananya itu ketakutan, namun tiba-tiba pandangan matanya berhenti saat melihat sebuah benda yang melingkar dijari manis Sarah, kemudian mengeluarkan cincin itu dengan paksa. "Jadi ini cincin yang diberikan Zayyan sebagai tanda jika kau telah menjadi milikinya?"
"Kembalikan!!!" Pinta Sarah dengan nada yang meninggi.
Dengan santai April segera membuang cincin tersebut kesembarang arah "Ambil saja jika kau bisa ha..ha.."
Namun, tiba-tiba saja emosinya memuncak ketika mengingat momen kedekatan Sarah bersama Zayyan saat dinner dulu, entah mengapa ia benar merasa dikhianati, dengan penuh keamarahan April mendekat dan segera melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi sebelah kanan Sarah "Plak!" namun sama sekali tak membuat Sarah meringis
"Ini belum seberapa! Dasar jal*ang!!" Pekik April, dan hanya dijawab senyuman meledek dari Sarah.
Dengan Kasar April menjambak rambut panjang Sarah yang tergerai "Silahkan nikmati hidupmu, karena sisa waktu kau didunia ini tidak akan banyak lagi!" kemudian dengan kasar melepaskannya.
__ADS_1
April segera melangkah keluar dari tempat Sarah disekap, kemudian menghampiri anak buahnya yang sedang berjaga diambang pintu "Jaga dia baik-baik! Berikan makanan, aku tidak ingin dia sakit! karena aku masih ingin bersenang-senang"
Perintah April hanya dijawab dianggukan oleh pengawalnya, kemudian akhirnya April melangkah pergi.
.
.
Selang satu jam setelah kepergian April, datanglah seorang penjaga membawa sebuah nampan yang berisikan makanan, kemudian meletakkannya diatas lantai tepat dihadapan Sarah duduk "Habiskan!!" pintanya
"Bagai mana aku mau makan? Tanganku saja diikat seperti ini" ujar Sarah, lalu penjaga tersebut menatap Sarah seolah sedang berpikir
Sarah menarik sedikit sudut bibirnya, mucul ide didalam otaknya. Walapun tidak bisa dikatakan berhasil setidaknya ia harus mencoba "Atau anda ingin menyuapi saya? Tentunya tidak mungkin bukan? Bagaimana jika istri dan anak anda melihat, mereka pasti akan sangat sedih"
Tentunya ucapan Sarah sedikit membuat pengawal itu terkecoh "Benar juga, lagi pula dia hanya wanita biasa mana bisa melawan! Ia juga tak bisa lolos, karena pengawalan disni sangat ketat" batinya
Tanpa menjawab, penjaga itu langsung melepaskan tali yang mengikat tangan Sarah. Baru saja tali itu terlepas Sarah dengan sigap langsung memukul tengkuk penjaga itu hingga tak sadarkan diri
Tak ingin ambil resiko, ia menciderai beberapa bagian tubuh penjaga itu kemudian mengikat dan menempelkan plaster kemulutnya agar saat sadar tidak mengeluarkan suara.
"Selesai! Maafkan aku, pak penjaga. Setelah ini kau pasti akan terkena masalah dengan, Nonamu" ujar Sarah sembari menepuk ringan sebelah pipi penjaga itu.
Dengan segera Sarah mengendap-endap melangkah keluar. Beruntungnya Villa itu tidak terlalu besar sehingga mudah mencari jalan keluarnya. Akan tetapi tak sedikit penjaga yang harus ia lewati, ada yang mulus dan ada pula sebagian yang terpaksa ia lawan.
Sarah terus berguling, ia tak dapat meraih apapun yang dapat menghentikannya. Bebrapa kali menghantam bebatuan serta tumbuhan-tumbuhan liar yang tajam, hingga akhirnya tubuhnya tersangkut disebuah pohon besar. Sarah kesusahan mengatur nafasnya membuatnya perlahan hilang kesadaran.
.
.
Tak lama setelah kepergian Sarah, April memasuki ruangan tempat dimana ia menyekap wanita yang ia anggap sebagai perebut itu, dan betapa dibuat terkejutnya saat ia mendapati tawanannya berubah menjadi laki-laki berbadan kekar.
"Sial*nnnnnnn!!" Pekik April. Ia pun segera menghampiri penjaga yang masih tak sadarkan diri itu, dan mendaratkan sebuah tendangan keras ke perutnya.
Seketika penjaga tersebut tersadar dan berusaha menahan sakit pada seluruh tubuhnya akibat ulah dari Sarah yang sempat menciderainya ditambah lagi tendangan April yang begitu kuat mengenai bagaian dadanya membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas.
Penjaga tersebut terkejut dengan keadaannya yang sekarang, terbaring lemah diatas lantai dengan keadaan tangan yang terikat. Penjaga itu menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap bossnya yang sudah dipenuhi amarah.
"Dasar bo*doh! Tidak bisa diandalkan! Sekarang cari dia sampai dapat, kalau tidak keluarga mu yang akan mendapat ganjaran!" Pinta April penuh ancaman
Tanpa jawaban penjaga tersebut berusaha bangkit dengan menahan segala sakit pada seluruh tubuhnya lalu berjalan keluar. Belum sempat mencapai pintu utama, tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat melihat segerombolan pria berpakaian serba hitam memasuki villa.
Salah satu orang itu segera mendongkan pistol kearah penjaga tersebut, lalu dengan pasrah penjaga itu terduduk lemas diatas lentai sembari mengakat kedua tangannya karena tak sanggup lagi berdiri akibat cidera yang didapatkannya dari Sarah.
__ADS_1
Tak menunggu lama, April yang menyadari kedatangan orang-orang tersebut segera melarikan diri, namun sayang ia tak berhasil kabur karena sebagian romobongan itu berjaga diluar, dan akhirnya ia berhasil diringkus.
Zayyan yang sudah menunggu langsung menghampiri April dan dengan kasar meraih kerah baju wanita itu "Dimana Sarah?!"
"Apa kau menemukannya?" Tanya April, kemudian menyeringai "Itu karena ia sudah tidak ada, serigala peliharaanku telah habis mengoyak-ngoyak tubuhnya ha. .ha. . ."
Zayyan yang mendengar seketika menjadi gelap mata ia langsung mencekik leher April tanpa ampun. Papa Wildan yang melihat segera menghampiri dan menyadarkan putranya tersebut dengan memberikan sebuah tepukan ringan pada sebelah bahu putranya "Jangan kotori tanganmu, boy!"
Perkataan Papa Wildan tentunya membuat Zayyan segera sadar dan menghentikan aksinya "Maafkan aku, Pa. Aku hanya tidak terima dengan jawaban wanti gila ini!"
"Tidak usah mepercayainya! Pengaja itu sudah mengaku, jika Sarah berhasil kabur"
"Benarkah!?"
"Ya. . . Perkataan penjaga itu diperkuat dengan ditemukannya benerapa penjaga yang lain mengalami hal yang sama, yaitu cidera pada beberapa bagian tubuh"
Kening Zayyan berkerut "Ini aneh sekali! Apa ada orang yang membantu Sarah!?" batinnya, kemudian berkata "Lalu, kemana perginya Sarah?"
Papa Wildan kembali menepuk sebelah bahu putranya sebagai pertanda agar bisa sedikit tenang "Kemungkinan besar ia masih berada di hutan, kita harus segera melakukan pencarian"
Zayyan mengangguk, sebagian rombongan pergi kedalam hutan menyusuri jalanan yang gelap dan sedikit berlumpur akibat hujan yang sempat menguyur beberapa puluh menit lalu, dan sebgainnya lagi sibuk mengurus para anak buah April.
.
.
"Saraaahhhh!!... Saraaahhhh..!!" Teriakan Zayyan menggema ditengah hutan.
Hampir 30 meit mereka menyusuri jalanan yang gelap itu membuat Zayyan hampir berputus asa "Papa bagaimana ini? Kita sudah berjalan sejauh ini tapi belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Sarah?"
"Tenang boy! Coba lihat anjing paman Hendri, dia sedang menggonggong kearah bawah jurang" Ujar Papa Wildan
Kedua bola mata Zayyan terbelalak, ia mencerna baik ucapan Papanya namun sebisa mungkin ia tolak sembari menggelangkan kepalanya "Tidak mungkin Pa"
"Kita lihat dulu! Beberapa orang dari tim SAR sudah ada yang kebawah kita tunggu kabarnya, semoga baik-baik saja" ujar Papa Wildan.
Tam lama seorang petugas berteriak-teriak dari bawah jurang "Ada orang! Segera ambil tandu!!" Pintanya, kemudian yang lainnya segera berlari mengambil peralatan yang dibutuhkan.
Berkat kerja sama Paman Hendri dengan tim kepolisian Setelah mereka berhasil mengevakuasi orang yang jatuh dikedalaman jurang kurang lebih sepuluh meter. Zayyan segera mendekat untuk melihat korban tersebut, dan betapa terkejutnya saat ia melihat wanita yang dicintainya sedang terbaring diatas tandu dengan kondisi yang cukup parah.
"Saaarrraaahhhh!!" Pekik Zayyan, ia benar-benar frustasi melihat keadaan wanitanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan tak sanggup lagi terbendung, ia menangis sejadi-jadinya.
"Tenang Boy!! Ayo kita cari rumah Sakit terdekat di daerah sini, semoga saja perlatannya memadai " pinta Papa Wildan dan dijawab anggukan oleh Zayyan.
__ADS_1