SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
BELAJAR MEMASAK


__ADS_3

Setelah kemarin melewati serangkaian foto prewedding yang sangat melelahkan membuat sarah pagi ini benar-benar mlas beranjak dari atas kasurnya. Suara ketukan pintu dari luar kamarnya sudah beberapa kali berbunyi, namun ia sama sekali tak mau bergerak bangun dari tempat tidurnya. Tiba-tiba saja selimut yang menutupi seluruh tubuhnya terjuntai kebawah lantai saat seseorang menariknya


"Sarah!"


Kedua bola mata Sarah begitu sulit untuk terbuka, dengan suara yang berat ia berkata "Ada apa, Mom?"


"Cepat bangun! Ini sudah jam 9 pagi tapi kau masih saja bermalas-malasan" pinta Momi Sabrina dengan nada yang meninggi.


Tak mendapat respon dari putrinya, membuat Momi segera membuka tirai yang menutupi seluruh kamarnya sehingga silau matahari yang sedari tadi memaksa untuk menyusup, seketika mengenai wajah Sarah, membuatnya segera mencari selimut yang sedari malam menemaninya tidur untuk menutup wajahnya namun tidak ada. Ia pun perlahan membuka mata sama-samar melihat sosok Mominya yang masih berdiri sembari memegang sebuah benda


"Kau mencari ini?" Tanya Momi Sabrina sembari memperlihatkan selimut


"Momi, berikan! Aku sungguh mengantuk, aku tidak ingin sarapan, aku ingin tidur!" rengek Sarah


"Tidak bisa! Kau sebentar lagi akan menikah, kau harus didisiplinkan dari sekarang! Cepat bangun?!"


"Besok saja, Mom. Aku lelah sekali!"


"Tidak bisa!" Sergah Momi Sabrina


"Apa menjadi istri harus bangun awal?"


"Tentu, bangun paling awal dan tidur paling akhir"


"Tidak asik sekali" Gerutu Sarah


"Kau akan merasakannya nanti, sekarang bangunlah!"


Dengan perasaan yang berat Sarah bangun


"Mandi dulu sana" Pinta Momi Sabrina


Sarah kembali menurut ia pun masuk kedalam kamar mandi.


.


.


Setelah lima belas menit lamanya, ia pun beranjak keluar dari dalam kamar mandi. Perasaanya sedikit terkejut karena masih mendapati mominya yang setia menunggu "Momi kenapa masih disini!?"


"Pakai baju dulu sana!!" pinta Momi Sabrina


Tanpa perlawanan Sarah pun menurut, setelah itu ia duduk disamping Mominya.


"Sekarang, rapikan tempat tidurmu!"


Permintaan Momi Sabrina membuat sarah melayangkan protesannya "Kenapa harus aku? Bibi Ratna kan ada??"


"Dengar sayang! Disaat nanti kau sudah menikah, salah satu pekerjaan pagi yang akan kau kerjakan adalah merapikan tempat tidur saat suamimu sedang mandi"


"Kenapa harus begitu, Momi? Lalu untuk apa memperkejakan ART"


"Walaupun nanti ada ART dirumah yang kamu tinggali, suami akan lebih senang jika kau yang merapikannya sendiri. Kamar adalah tempat privasi kalian, sudah pasti suamimu tak mau ada sembarangan orang yang masuk"


Sarah pun mengangguk. Ia membenarkan perkataan Mominya, dan dengan segera ia bangkit dari duduknya lalu mendekati tempat tidurnya yang sudah tak dapat dijelaskan lagi kacaunya, kemudian dengan semangat merapikannya "Sudah!"


Momi Sabrina yang sedari tadi memperhatikan, tersenyenyum meledek "Ternyata kau pintar juga"


"Aku saja yang sebenarnya malas, Mom he. . he. ."


"Yasudah! Ayo kebawah, kita sarapan dulu. Daddy sudah menunggu dari tadi" ajak Momi Sabrina


Mereka berdua pun segera melangkah keluar, menuruni satu persatu anak tangga, dan menuju ruang makan. Terlihat Daddy Rehan begitu asik dengan tabletnya

__ADS_1


"Selama pagi, Daddy" Sapa Sarah sembari memberikan ciuman pada salah satu pipi Daddynya.


"Selamat pagi, sayang" Balasnya, kemudian menaruh tabletnya diatas meja dan mengalihkan pandangannya pada Momi Sabrina yang baru saja duduk "Jadi bagaimana, Mom? Apa Putri kita lulus??"


"Lulus! Ternyata dia cukup cekatan merapikan kamar tidur, hanya saja sifat pemalasnya itu yang mengalahkan segalanya"


Daddy Rehan tertawa mendengar penuturan istrinya yang penuh ejekan itu


"Momi! Sudah ya, jangan membuatku malu dihadapan Daddy" Pinta Sarah sembari mencebikkan bibirnya


"Makanya jangan malas!" Sembur Momi Sabrina


"Sudah-sudah! Ayo, sarapan dulu! Makan yang banyak ya, Sarah. Karena zetelah ini Momi akan memberikan les khusus untukmu"


Hampir saja Nasi goreng yang sudah masuk kemulut Sarah tersembur keluar akibat terkejut dengan pernyataan Daddynya. Dengan segera ia minum air putih yang ada disebelah piringnya. Setelah merasa baikan ia bertanya "Les khusus apa lagi?"


"Tak usah banyak tanya! Makan dulu!" Sergah Momi Sabrina, tanpa perlawanan Sarah pun kembali memakan nasi gorengnya walaupun pikirannya mulai tidak enak.


***


Sarah dan Momi Sabrina kini berada didalam dapur setelah tadi menyelesaikan sarapannya.


"Kau bisa memasak apa, Sarah?" Tanya Momi Sabrina


"Masak air" Jawab Sarah singkat


"Momi, sedang tidak bercanda!"


"He. . he. . . Memangnya Momi pernah lihat aku memasak?"


"Tidak!"


"Ya itu, karena aku sungguh tidak tahu apa-apa soal dapur mom"


Jawaban Sarah membuat Momi Sabrina memijat halus pelipisnya, ia bingung harus memulai dari mana "Apa kau juga tidak tahu nama bumbu-bumbu dapur?"


Hembusan nafas berat Momi Sabrina mengudara "Baiklah! Lenihbbaik kita belajar nama bumbu dapur dan juga kegunaanya dahulu"


Dengan semangat Sarah mengangguk. Momi Sabrina pun mulai mengajari nama-nama bumbu dan bahan-bahan serta kegunaannya, karena Sarah cepat belajar dan mengingat hanya memakan waktu satu jam ia sudah menghapal nama dan kegunaannya.


"Nah karena sekarang kamu udah tau nama-nama bumbu dan kegunaannya, apa kamu siap praktek" tanya Momi Sabrina


"Siappp!!" Jawab Sarah antusias


"Kita belajar yang kecil-kecil dulu, sekarang kau buat telur dadar!"


Dengan penuh percaya diri Sarah mengangguk dan segera melakukan perintah Mominya. Kepalanya bergerak kanan dan kekiri memperhatikan kompor. Karena merasa bingung, ia pun memanggil Momi Sabrina yang sedang duduk diatas kursi "Mom, bagaimana caranya menyalakan kompor?"


Momi Sabrina kembali menghela nafas beratnya, ia segera bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Putrinya lalu dengan sabar mengajarinya. Setelah Sarah mengerti, Momi sabrina pun kembali duduk menunggu pesanannya.


Sarah beraksi! Ia mulai dengan menaruh teflon diatas kompor, lalu memutar kenopnya, dan tak lupa ia tambahkan minyak yang sangat banyak hampir memenuhi ruang teflon tersebut, setelah itu ia langsung memasukkan satu buah telur beserta kulitnya kedalam teflon yang bahkan minyaknya pun belum panas.


Merasa ada yang aneh dari suara dadar telur biasanya, Momi Sabrina mendekati putrinya. Kedua bola matanya terbelalak saat melihat hal aneh itu "Astagfirullah, Sarah! Apa kau tidak pernah lihat orang membuat telur dadar?!"


Gelengan pelan kepala Sarah menjadi jawaban atas ketidak tahuannya.


"Jadi tutorial apa selamaa yang kamu pelajari?"


"Tutorial makeup heheee.." Jawab Sarah dengan polosnya


Momi Sabrina mendengus kesal mendengar pernyataan putrinya "Coba kamu pikir, apa ini bisa dimakan?"


Sarah kembali menggelengkan pelan kepalanya saat Mominya memperlihatkan hasil perbuatannya memasak telur memakai minyak.

__ADS_1


"Ayam saja yang melihat ini menangis Sarahhhh" Ujar Momi Sabrina yang sedikit frustasi. Ia pun segera mengambil ponselnya, dan memperlihatkan sebuah video disebuah aplikasi You*Tube cara mendadar telur "Lihat lah, Sarah! Bahkan yang memberikan tutorial mendadar telur saja anak kecil"


Sarah pun memperhatikan secara menyeluruh cara pembuatnnya, membuat wajahnya sedikit merona karena malu "Momi, maafkan aku he. .he. . "


"Jadi, apa kau sudah tahu?"


"Siap laksanakan!" ujar Sarah kembali semangat.


30 menit kemudian jadilah sebuah telur dadar, dengan beberapa kali percobaan, dan pada pembuatan yang ke 5 sedikit menujukkan penampilan telur dadar pada umumnya serta rasa yang mulai pas dilidah. Tidak seperti sebelumnya yang rasa garamnya mampu membuat lidah terasa diiris.


Sarah pun meletakkan telur dadarnya diatas meja makan tepatnya dihadapan Momi Sabrina "Selamat menikmati!"


Tanpa melakukan protes Momi Sabrina mengambil garpu dan juga pisau makan. Ia memotong sedikit lalu memasukkannya kedalam mulut "Rasanya sudah pas, hanya saja modelnya kau percantik lagi. Jadi, ingat ya takaran bumbunya dalam membuat 1 buah telur dadar. Jika kau membuat lebih dari 1 tambahkan lagi bumbunya 2 X lipat. Mengerti!"


"Mengerti, Mom"


"Dan satau lagi! Membuat telur dadar itu hanya memerlukan waktu 5 menit, tidak selama ini. Jika sampai kau membuat telur dadar selama ini lagi, bisa-bisa menangis cacing yang ada didalam perut suamimu. Bukan hanya cacing tapi Zayyan juga akan meneteskan air matanya"


Sarah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Aku akan belajar lebih keras lagi, Mom. Ini berarti, aku telah lulus ujian memasak?!"


"Kata siapa?"


"Memang masih ada?!"


"Banyak!"


Hembusan nafas berat Sarah mengudara "Apa lagi selanjutnya, Momi?!"


"Bersihkan dapur yang telah kau buat jadi sangat kacau itu"


Tanpa menjawab Sarah menuju tempat kitchen set dan merapikan segalanya "Sudah beres!"


Momi Sabrina mendekat melihat kondisi yang sudah kembali seperti semula, namun ada satu yang menarik perhatian yaitu piring yang belum dibersihkan "Ternyata kau hebat dalam masalah merapikan dan membersihkan"


"Tuntutan pekerjaan yang mengaruskan rapi serta bersih baik dalam segi arsip atau pun pelaporan membuatku mempraktekkannya dalam keseharian" Terang Sarah dengan bangga


"Good girl! Kalau begitu kita akan membuat nasi goreng, tapi sebelumnya kita harus memasak nasi terlebih dahulu"


"Bagaimana caranya?"


Momi Sabrina mulai menjelaskan, mulai dari cara membersihkan beras sampai ukuran airnya yang digunakan untuk memasak. Hingga akhirnya Sarah mangut-mangut seolah sudah mengerti segalanya


"Jadi sudah ingat kan takaran airnya?"


"Iya mom" Sarah meyakinkan


"Sekarang kamu coba masak satu cup dulu!" Pinta Momi Sabrina


Sarah mengangguk lalu memulai melakukan langkah-langkah yang sudah diajarkan mominya. Sekitar 20 menit nasi tersebut sudah matang dengan sempurna lalu ia sajikan untuk meminta penilaian terhadap Mominya


Segera Momi Sabrina memasukkan setengah sendok nasi kedalam mulutnya.


"Bagaimana?" Tanya Sarah yang sudah sangat tidak sabar


"Perfect!" Jawab Momi Sabrina sambil mengacungkan kedua jari jempolnya, membuat Sarah tersenyum puas "Nah. . Sekarang kau olah nasi ini menjadi nasi goreng!"


"Mom, jeda sebantar dulu! Aku sedikit lelah" Rengek Sarah


"Kau ini, baru saja memasak nasi sudah lelah! Bagaimana dengan yang lainnya"


"Namanya saja masih belajar, Mom. Kalau sudah terbiasa semuanya pasti akan cepat"


Momi Sabrina membenarkan perkataan Putrinya. Merasa tidak tega ia pun memberikan kelonggaran "Baiklah! Waktumu 20 menit dari sekarang!"

__ADS_1


Tanpa menjawab Sarah langsung berlari menuju kamarnya untuk memanfaatkan waktu istirahatnya.


****


__ADS_2