
"Selamat sore, Zay! Aku merindukanmu" Sapa Sarah yang baru saja datang sembari menenteng 1 kantong plastik yang berisi makanan dan segera mendaratkan kecupan pada kedua pipi laki-laki yang tengah asik menonton televisi itu.
Ya.. begitulah aktivitas Sarah selama 3 hari belakangan ini setiap pergi dan pulang bekerja ia tak pernah lupa memberikan kecupan ringan pada Zayyan. Pada awalnya hal itu membuat sang pemilik pipi sedikit terkejut saat menerima perlakuan yang tidak biasa itu, namun seiring berjalannya waktu ia sudah menerima.
"Kau bawa makan apa hari?" tanya Zayyan
"Nasi goreng kambing saja, tak apa kan?"
Zayyan mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian beralih menatap televisi. Sedang Sarah yang sudah terbiasa dengan respon cuek pria yang tengah ia rawat itu tak mau ambil pusing.
"Apa kau sudah ingin makan?" tanya Sarah
"Hmm.."
Sarah tersenyum, dengan cepat ia membuka kotak nasi goreng tersebut. Aroma khas nasi goreng kambing mengalihkan fokus Zayyan dan membuat cacing didalam perutnya mulai berdisko. Belum lagi melihat wanita yang menawarinya itu lebih dulu memasukkan 1 sendok kemulutnya sembari berjalan mendekat arahnya, membuat Zayyan benar-benar tak tahan untuk tidak membuka mulutnya. Entahlah.. Zayyan sudah seperti manusia yang tak pernah diberi makan beberapa hari, setiap kali melihat Sarah makan nafsu makannya ikut terpompa, bahkan ia tak pernah menyisakan makanan yang dibawa wanitanya itu walau hanya sebutir nasi.
Sarah segera duduk diatas kursi yang ada disamping ranjang seraya menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng tepat didepan mulut Zayyan."Makanlah! Aku tahu kau lapar" pintanya dengan lembut
"Sok tahu!"
"Aku tahu, terlihat dari ekspressimu. Sudahlah! Kau dan aku adalah dua hati yang menyatu, apa yang kurasakan saat ini, kau juga merasakannya"
"Jika kau tahu, katakan apa yang ku rasakan sekarang?"
"Kau lapar bukan? Aku pun begitu"
"Tidak" Sergah Zayyan
"Tidak salah makasudmu? Sudahlah tidak usah berdebat, cepat makanlah!"
"Baiklah... Karena kau memaksa aku akan memakannya"
Sarah memutar malas kedua bola matanya "Tanpa ku paksa pun kau juga akan makan"
Tak mau berdebat panjang, Zayyan dengan tanpa berdosanya memakan suapan dari wanita yang selalu mengaturnya selama beberapa hari ini.
****
Selesai dengan rutinitas memberikan makan dan meminumkan obat untuk Zayyan. Sarah juga sudah terlihat rapi dengan piyama tidurnya setelah tadi membersihkan dirinya hampir setengah jam lamanya didalam kamar mandi. Ia berjalan mendekat kearah laki-laki yang sedari tadi asik menonton acara televisi.
__ADS_1
"Zayyan!"
Segera sang pemilik nama menoleh pada sumber suara. Namun tak menjawab, baginya menoleh sudah menjadi respon terbaik baginya saat ini.
Sarah segera duduk disamping Zayyan, ia sedikit menunduk sembari mengigit bibir bagian bawahnya "Em..Aku ingin bicara serius"
"Katakan!"
"Ini tentang acara pernikahan yang dulu aku batalakan"
"Lalu?!"
"Em.. Mau kah kau memberiku lagi kesempatan untuk memperbaikinya?" Tanya Sarah, kemudian menggenggam tangan Zayyan dan menatapnya dengan sungguh-sungguh "Aku ingin melanjutkan pernikahan ini!" sambungnya tegas.
"Jika aku tidak mau?!"
"Maka aku akan memaksamu!"
Zayyan mendengus "Ck.. Kenapa kau jadi agresif seperti ini, hah?!"
"Karena aku mencintaimu!" Sarah semakin mempererat genggamannya "Zayyan! Ku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku pernah berkata untuk berusaha tidak menyesali keputusanku, tapi aku justru sangat terpuruk setelah pengakuanku. Aku tak henti mengrutuki diriku. Jiwaku benar-benar hampa setelah kau tidak ada. Aku sadar jika aku tidak bisa tanpamu" jelasnya dengan air mata yang sudah berderai.
Merasa tak mendapat jawaban Sarah kembali mendesaknya "Zayyan! Jawablah?!"
"Apa yang harus lakukan? Jika aku tolak, bukankah aku sama saja egoisnya?!" batin Zayyan, sembari menghela nafas beratnya. kemudian berkata "Maafkan aku, Sarah"
Sarah menghentikan tangisnya, matanya yang sudah kuyu menatap laki-laki dihadapannya itu dengan penuh pertanyaan. Perlahan ia melepas genggaman tangannya dan menyeka air matanya, sembari menghela nafas beratnya. Kemudian tersenyum dan berkata "Baiklah... Aku sudah tahu kelanjutannya, tak usah diperjelas lagi! Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu. Aku akan memanggil Bibi untuk menjagamu"
Niat Sarah yang hendak melangkah tertahan saat tangan kekar Zayyan menarik lengannya. Sarah segera menoleh menatap sang pemilik tangan yang tengah tersenyum padanya
"Kenapa kau suka sekali berasumsi sendiri? Bahkan aku belum meneruskannya" Ujar Zayyan
"Kau sudah mengatakan maaf. Itu sudah memperjelas segalanya"
"Maaf, aku tidak bisa menolak permintaanmu!"
Kedua bola mata Sarah terbelalak ia mendekat kearah Zayyan sembari menatap pemilik bola mata berwarna cokelat itu untuk memastikan jika ia sedang tidak bercanda "Benarkah?!"
Zayyan mengangguk lalu tersenyum
__ADS_1
Air mata Sarah kembali berderai, ia segera memeluk Zayyan dengan erat "Menyebalkan! Aku hampir tak bisa membayangkan hari-hariku nanti tanpa kabar dan pesan darimu"
"Kau dan aku saling mencintai, rasanya sangat bodoh jika kita saling menyakiti. Aku harap ini menjadi pelajaran untukmu, jangan mengambil keputusan disaat sedang marah" terang Zayyan ditengah-tengah pelukannya
"Maafkan aku Zayyan. Aku tidak akan mengungalinya lagi! Itu adalah hal terbodoh yang pernah ku lakukan"
Perlahan Zayyan melepas pelukannya dan menyeka air mata wanita yang tengah menangis sesegukan itu. "Berhentilah menangis! Kau terlihat sangat jelek seperti itu"
Sarah mencebikkan bibirnya, kemudian mencubit gemas lengan calon suaminya itu "Tak usah mengejekku!"
Perbuatan Sarah mengundang tawa Zayyan. Tawa yang hampir 2 minggu ini tak terlihat. Ada ketenangan tersendiri bagi Sarah saat menyaksikan itu, kemudian ia kembali memeluk Zayyan.
'KRIEETT!!' suara pintu terbuka, tapi kedua insan yang tengah berbahagia itu tak menyadari. Mereka sungguh larut dalam dekapan hangat.
"Oh My! Aku rasanya ingin pulang memeluk suamiku" Suara orang yang tengah bersandar didaun pintu sembari bersedekap dada.
Segera pelukan pasangan yang baru saja rujuk itu terlepas, dan menoleh pada arah pintu
"Mama?!" Panggil Zayyan
Mama Dessy tersenyum dan mendekat "Maaf telah mengganggu momen kalian"
Kedua pasangan itu tersipu dan salah tingkah dibuatnya.
"Mama tunben tidak memberi kabar jika ingin kemari" Tanya Zayyan mencoba mencairkan suasana
"Mama baru pulang arisan, dan kebetulan ponsep drop, oleh karena itu tidak memberi kabar. Oh ya Zay, Papa bilang besok kau sudah bisa pulang. Benar kah sudah baikan?!" tanya Mama Dessy sedikit khawatir
Zayyan tersenyum sumringah memperlihatkan deretan gigi putihnya "Terimakasih telah mengkhawatirkanku, Ma. Seperti yang Mama lihat, aku sudah sangat baik sekarang. Terlebih lagi, 2 minggu kedepan kami akan menikah"
Kedua bola mata Mama Dessy terbelalak diiringi senyumnya yang mengembang sempurna "Jadi, kalian berdua tak jadi membatalakan pernikahannya?!"
"Tidak, Ma"
Mama Dessy langsung menegadahkan kedua tangannya "Alhamdulillah... Terimakasih, ya Tuhan! Do'a ku terkabul" ucapnya penuh haru
Sarah yang menyaksikan itu ikut terharu dan kembali menyesali dampak dsri perbuatannya. Membuat semua orang pusing karena keputusan gilanya 2 minggu yang lalu "Bibi, maafkan aku telah membuatmu kerepotan beberapa minggu ini" Sesalnya sembari menundukkan pandangannya
Mama Dessy mendekat dan meraih telapak tangan Sarah dengan lembut ia berkata "Tidak apa, sayang. Bibi, sangat mengerti dengan keadaamu yang kemarin. Jika bibi, ada diposisimu mungkin bibi sudah sangat frustasi"
__ADS_1
"Terimakasih, Bi" Sarah segera memeluk calon Mama mertuanya itu dengan tulus. Ia bersyukur, hidupnya dikelilingi dengan orang baik.