SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
ZAYYAN VS REZA


__ADS_3

Setelah Zayyan menghabiskan waktu 15 menit untuk berlari, ia memutuskan untuk segera berhenti karena tidak tega meninggalakn wanita pujaanya terlalu lama duduk sendiri dibangku taman. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat menyadari dengan siapa saat ini Sarah bersenda gurau "Tuan Reza?!" gumamnya, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi dingin. Rasanya ia ingin sekali menerkam laki-laki yang ia anggap sebagai rival itu dihadapan Sarah, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia harus mencari tahu alasannya terlebih dahulu, kemudian dengan langkah yang berat ia mendekat "Sepertinya aku banyak ketinggalan cerita"


Tawa Sarah dan Reza seketika terhenti saat menyadari suara seorang tengah menegurnya, secara bersamaan mereka berdua menoleh pada sumber suara.


"Zayyan, kau seudah selesai?" tanya Sarah, tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Aku sebenarnya masih ingin melanjutkan, tapi entah mengapa perasaanku tidak enak meninggalkamu terlalu lama, dan ternyata benar, kau tengah asik berbincang dengan pria ini!" sembur Zayyan dengan ketus sembari menatap Reza dengan tajam, namun tatapan itu sama sekali tak menciutkan nyali Reza, ia justru membalasanya dengan senyuman manis.


Sarah berdiri dan berjalan mendekat kearah Zayyan, dengan lembut ia meraih telapak tangan laki-laki yang tengah cemburu buta itu. Namun sepertinya saat ini Sarah salah, perbuatan manis yang biasa ia lakukan untuk meluluhkan hati Zayyan sedang tidak berfungsi, karena dengan kasar sang pemilik telapak tangan melepaskannya kemudian menatap Sarah dengan penuh kekesalan juga kekecewaan.


Hal tersebut membuat Sarah benar-benar terkejut "Astaga! Zayyan menyeramkan sekali!" batinnya, kemudian dengan nada yang tetap lembut ia berkata "Apa kau ingin mendengarkan penjelasanku?"


"Sepertinya peristiwa tadi telah menjelaskan semuanya!"


"Kalau begitu ungkapkan pikiran negatifmu mengenai peristiwa tadi?" Tanya Sarah


Zayyan berdecih sembari menyunggingkan senyumnya "Ck. . . Untuk apa?"


"Hai, semua! Aku sudah membawakan soft drink sesuai pesanan kalian!" Ujar seorang wanita dengan hebohnya.


Ketegangan diantara 3 insan itu berangsur-angsur hilang saat menyadari siapa yang baru saja datang. Kening Zayyan berkerut saat melihat sekretaris pribadinya juga sedang ada ditaman "Lyra?!"


Kedua bola mata Lyra terbelalak ketika menyadari dengan siapa saat ini berhadapan "Tu-tuan Zay-yan" ujarnya dengan terputus-putus.


"Tuan Zayyan. Apa anda tidak pemasaran mengapa kami ada disini?" Timpal Reza sembari bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Zayyan


Zayyan memasukkan kedua tangannya kedalan kantong saku dengan gaya cool-nya ia berkata "Tunggu apa lagi? Jelaskan!"


"Saya dan Lyra sedang jogging ditaman ini. Secara kebetulan kami melihat Sarah duduk sendiri dikursi taman, kami pun mendekat untuk bertanya. setelah itu Lyra pergi sebentar untuk membeli soft drink karena merasa sangat haus setelah berlari-lari" ujar Reza dengan santainya sembari tersenyum


Tak merasa puas dengan jawaban Reza, ia segera mengalihkan tatapan tajamnya pada Lyra. Membuat sang sekretaris mengerti maksudnya "I-iya Tuan. Reza mengatakan sebenarnya"


"Sekarang sudah ada aku, kalian tak perlu menemani!" Kilah Zayyan, dengan segera ia menggendong Sarah a-la bridal style membuat sang pemilik tubuh terkejut dan meronta-ronta meminta untuk diturunkan.


"Zayyan turunkan aku!"


"Zayyan apa kau gila, hah?!"


"Zayyan, aku sungguh malu orang-orang melihat kita"

__ADS_1


Sederet perkataan Sarah hanyalah angin lalu, Zayyan sama sekali tidak menggubris ucapan wanita yang tengah ia gendong itu. Merasa lelah dan malu, akhirnya Sarah membenamkan wajahnya pada dada bidang milik calon suaminya itu. Membuat Zayyan tersenyum penuh kemenangan. Langkahnya terhenti setelah sampai didepan mobil.


Zayyan segera membukakan pintu untuk Sarah "Masuklah!"


Dengan wajah yang ditekuk, Sarah segera masuk tanpa mengeluarkan protesan sama sekali. Membuat Zayyan hanya, kemudian melajukan mobilnya.


.


.


Sedangkan ditempat lain, Reza dan Lyra tak hentinya melemparkan tawa saat melihat adegan romantis Sarah dan Zayyan.


"Tuan Zayyan benar-benar gila. Laki-laki yang perfeksionis itu sudah memutuskan urat malunya karena cemburu terhadapamu" ujar Lyra sembari menyesap soft drink yang baru ia beli


"Kau benar! Aku tak habis pikir dengannya. Padahal aku sudah ikhlas melepas Sarah, akan tetapi ia sepertinya masih saja menganggapku sebagai rival. Apa aku begitu keren sehingga pantas bersaing dengan laki-laki segagah dia?" Tanya Reza


"Aku akui kalian berdua sangatlah tampan, tapi soal hati tidak ada yang bisa menebak. Jika aku melihat dari satu sisi kau sebenarnya yang paling unggul, karena kemurahan hatimu, sangat berbeda dari Tuan Zayyan. Akan tetapi Nona Sarah memilih Tuan Zayyan, mungkin beliau memiliki sisi yang lebih menantang yang membuat Nona tertarik"


"Kau benar, Lyra. Tuan Zayyan adalah laki-laki yang berbeda dari kebanyakan pria lainnya. Jika kuperhatikan dia itu selalu ingin tampil sempurna, cuek, dan dingin terhadap siapa saja. Mungkin Sarah telah mempertimbangkan itu semua"


"Yah. . . Kau benar! Jika saja sifat Tuan Zayyan tidak mengerikan, aku mungkin juga akan jatuh cinta dengannya, dan beruntung itu tidak terjadi"


"Jika sampai terjadi, kau dan akau tak akan menjalin kasih seperti ini"


"Oh ya, Lyra. Aku selalu lupa bertanya sesuatu padamu"


Lyra menaruh gelas soft drinknya yang telah habis kedalam bak sampah yang tidak jauh dari tempatnya duduk "Apa itu?"


"Tuan Zayyan apakah CEO dari Rad's Holding?"


"Benar! Kenapa?"


"Tidak. Aku hanya penasaran saja, dan tidak menyangka jika wajah CEO baru kami adalah orang yang memusuhiku. Aku tidak yakin aku bisa bertahan diperushaan itu" Hembusan nafas berat Reza mengudara


Lyra segera menepuk ringan sebelah bahu Reza, mencoba menenagkan kegundahan dihatinya "Tenang saja! Tuan Zayyan sangat professional, dia tidak akan menyangkut pautkan masalah pribadinya dengan pekerjaan"


"Aku sedikit lega mendnegarnya, aku pikir setelah ini aku akan di blacklist"


"Pikiranmu jelek sekali!" Sembur Lyra sembari terkekeh pelan

__ADS_1


"Apa kira-kira Sarah mengetahui ini?"


"Aku tidak yakin dia tahu, soalnya saat kami pergi berlibur tepatnya satu bulan yang lalu, Tuan Zayyan melarangku untuk mengatakan siapa dia sebenarnya"


Reza mengangguk-angguk "Pantas saja!"


"Apanya?"


"Pantas, Sarah merasa biasa saja! aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika ia sudah mengetahui siapa Zayyan sebenarnya. Sedangkan aku saja yang posisinya masih Direktur, selalu dapat penolakan, apa lagi CEO perushaan itu"


"Tenang saja! itu tidak akan terjadi, Nona Sarah sangat menyayangi Tuan"


"Aku berharap demikian! Aku tidak bisa membanyangkan jika laki-laki itu patah hati"


"Haha. . . Kau ini"


****


Mobil Sport Zayyan membelah jalanan ibu kota, setelah 20 menit lamanya perjalanan, mereka berdua hanya saling diam. Kini pasangan itu telah tiba disebuah apartemen mewah, membuat Sarah yang berniat mogok biacara dengan terkpasa bertanya "Mau apa kesini, Zay?"


Zayyan hanya tersenyum, bukannya menjawab ia justru keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Sarah "Ikut saja!" pintanya


Kembali dengan wajah yang ditekuk Sarah segera keluar dari mobil, ia mengikuti langkah Zayyan yang sudah lebih dulu masuk kedalam lift.


"Ting!" Suara pintu lift terbuka, sampailah mereka pada lantai 10 apartemen tersebut. Pintu terbuka setelah Zayyan berhasil memasukkan password-nya


"Apa kau akan terus berada disitu?" tanya Zayyan setelah lebih dulu masuk. Tanpa menjawab, Sarah ikut masuk walapun saat ini langkahnya sangat berat


"Untuk apa kita kesini!?!" tanya Sarah setelah ia mendudukkan tubuh diatas sofa, matanya menyapu seluruh interior apartemen yang terlihat sangat mewah itu.


Zayyan segera duduk, dengan gaya yang nakal ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sarah "Menurutmu?" bisiknya.


Tentunya hal tersebut membuat Sarah bergidik "Zayyan kau jangan macam-macam!"


Wajah Zayyan semakin mendekat membuat Sarah perlahan menurunkan kepalanya agar tidak bersentuhan langsung, namun sayang kepala Sarah sudah mentok berada diatas sofa dan kini posisi mereka berdua atas dan bawah.


Zayyan menatap intens lekuk wajah Sarah dan mengelus lembut pipinya, kemudian dengan nada suara yang menggoda ia berkata "Untuk apa lagi aku membawamu kemari jika tidak dengan satu tujuan"


"Apa maksudmu?!"

__ADS_1


"Kita sebentar lagi akan menikah, sepertinya tidak masalah untuk memulai malam pertamanya duluan"


Kedua bola mata Sarah terbelalak. . . .


__ADS_2