SUAMI NARSIS

SUAMI NARSIS
TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Kini Sarah sudah ditangani disebuah rumah sakit yang letaknya sedikit jauh dari puncak. Beruntung karena peralatan medisnya memadai sehingga nyawanya dapat segera tertolong. Sarah berhasil melewati masa kritisnya, dan kini telah dipindahkan ke ruang perawatan ICU karena belum sadarkan diri. Terlihat kedua tangan Zayyan tengah menggenggam erat salah satu tangan wanitanya, dan tak henti menghujaninya dengan kecupan.


"Maafkan aku, Sarah! Harusnya aku menyelesaikan masalahku terlebih dahulu dengan April sebelum berangkat"


"Maaf! Aku sudah membuatmu mengalami hal yang mengerikan ini!"


"Maafkan aku Sarah! Ku mohon bangunlah, kau bebas memarahiku setelah ini. Aku benar-benar tidak suka melihat kau berbaring seperti ini, kau sangat mengacuhkanku"


Sederet kata maaf dan penyesaln tak henti keluar dari mulut Zayyan, terlebih lagi dengan suaranya yang sudah begitu parau karena sedari tadi tak henti menitikkan air mata saat melihat kondisi wanita pujaannya terbaring lemah tak sadarkan diri.


Papa Wildan dan Paman Hendri sedari tadi hanya terdiam menyaksikan hal itu.. Tanpa sadar, Papa Wildan menarik sedikit salah satu sudut bibirnya sembari menggeleng pelan "Melihat Zayyan yang seperti itu, rasanya sangat aneh. Matanya hampir bengkak karena terus menerus menangis, untung saja kau tetap tampan, Boy!" Batinnya.


Paman Hendri menarik Papa Wildan keluar dari ruang perawaatan, saat sudah berada diluar dengan suara yang berbisik ia bertanya "Kak! Kenapa keponakanku menjadi terlihat lemah seperti itu dihadapan wanita? Bukankah Zayyan mewarisi sebagian sifat angkuhmu?"


"Kau tidak akan tahu, Hend! Makanya menikah lah agar kau tahu rasanya setengah kehilangan orang yang sangat kau cintai" jawab Papa Wildan tak kalah pelan


Perkataan Papa Wildan seketika membuat Paman Hendri mendengus sedikit kesal. Ia benar-benar malas jika setiap perkataanya disangkut pautkan dengan pernikahan, karena Paman Hendri tak pernah tertarik untuk menjalin kehidupan rumah tangga seperti kakaknya "Ck.. Menyusahkan!"


"Selalu saja jawabanmu seperti itu! Aku yakin setelah kau melihat keponakanmu itu memilki anak, kau juga akan sangat terpompa untuk memiliki sebuah keluarga"


"Itu tidak mungkin terjadi!" Sembur Paman Hendri dengan nada yang begitu malas.


"Terserah kau saja. Tapi satu hal yang harus kau ingat! Para pengawalmu itu tak akan mungkin selalu berada disampingmu, berbeda dengan istri yang akan menemanimu sampai akhir hayat"


"Benarkah, lalu mengapa orang banyak yang bercerai!?


"Itu karena ego dari masing-masing pasangan yang tidak bisa mereka kendalikan"


"Haih. . . Itu lah yang ku pikirkan selama ini, aku tidak bisa meredam egoku sendiri, oleh karena itu aku tidak mau menikah"


"Kau lihat bagaiamana Zayyan? Dia sangat persis sepertimu, dia sombong dan tidak peduli terhadap perasaan wanita yang menyukainya. Tapi saat wanita yang terbaring lemah itu datang, sikapnya benar-benar berubah. Ia mampu meredam egonya bahkan dengan rela ia meninggalakn usahanya hang sudah bertahun-tahun ia rintis demi melanjutkan bisnisku"


"Itu berarti calon menantuku adalah wanita yang sangat spesial!?"

__ADS_1


"Kau benar! Dia sangat spesial. ketulusan, kelembutan, dan kesedrahanaanya mampu meluluhkan hati Zayyan"


"Apa masih ada lagi wanita seperti itu!?"


"Ada!"


"Benarkah!?" Paman Hendri bertanya dangat antusias


"Iya, dialah Mamanya Sarah haha. . ."


Paman Hendri menyenggol pelan bahu kakaknya itu saat mendapat jawaban yang sangat tidak ingin ia dengar "Ck. . . Kau ini kak! Padahal aku juga ingin coba berkenalan"


"Kau bilang tak ingin menikah, jadi tak usah berkenalan" Sembur Papa Wildan dan berlalu meninggalakn adiknya yang masih terlihat kesal itu.


Kemudian Papa Wildan kembali masuk kedalam ruang perawatan lalu mendekati putranya dan segera memberikan sebuah tepukan ringan pada sebelah bahu Zayyan "Sudahlah, Boy! Jadikan semua ini pelajaran! Karena sangat tidak ada gunanya untuk terus menyesali semua yang telah terjadi. Lebih baik kita berusha memperbaiki"


"Kita harus bersyukur karena Sarah memilki semangat hidup yang kuat, sehingga ia mampu melewati masa kritis hanya dalam beberapa jam saja. Walapun kita tidak tahu kapan ia akan segera sadar"


"Ingat kata dokter! Kita harus terus membisikkan kata-kata positif untuk membangunkan ia dari rasa traumanya, Papa yakin kau bisa memberikan kata-kata semangat itu, Boy"


"Terimakasih, Pa. Zayyan akan berusaha!"


"Baiklah! Sekarang kita harus bersiap-siap! Sarah akan segera dipindahkan ke rumah sakit di daerah kita, disana fasilitasnya jauh lebih memadai" ujar papah Wildan kembali.


.


.


Setelah semua persiapan beres, Papa Wildan pun pamit kepada adiknya dengan melayangkan sebuah tepukan ringan disebelah bahunya "Hend, terimakasih untuk segala persiapan yang sangat matang. Namun sayang sekali, semuanya berjalan tak sesuai rencana"


Paman Hendri balas menepuk jemudian tersenyum "Tidak apa kak, aku justru bangga memiliki calon menantu yang tangguh seperti dia. Yah. . . calon istri sang penerus Night Wolf memang harus seperti itu"


Night Wolf adalah sebuah nama Organisasi Mafia yang banyak ditakuti oleh kalangan pejabat dan politik dinegaranya. Organisasi ini diketuai langsung oleh Papa Wildan dan Paman Hendri sebagai wakilnya, namun selama ini mereka memakai nama inisial dan selalu menggunakan topeng sehingga banyak orang yang penasaran bagaimana wujud asli sang pemimpin organisasi tersebut.

__ADS_1


Kening Papa Wildan mengerut "Bicara sembarangan! Sudah pernah ku katakan bukan, jika Zayyan tidak akan ku izinkan untuk meneruskannya!"


"Lalu siapa yang akan meneruskannya, Kak!?"


"Kau dan calon anakmu!?" Sembur Papa Wildan


"Itu sangat tidak mungkin!!"


"Sangat mungkin jika kau mau menikah?"


"Berhentilah menyuruhku menikah!" balas Paman Hendri dengan begitu ketus


Papa Wildan terkekeh melihat adiknya yang mudah sekali marah jika disinggung soal pasangan hidup "Ya sudah, itu berarti masa keemasan Night Wolf akan berakhir digaris kita saja"


"Sungguh sangat disayangkan jika kita tidak meneruskannya, nama kita cukup ditakuti oleh banyak kalangan. Jika kita berhenti, apa kau yakin usahamu akan berjalan lebih baik"


"Usahaku sudah sangat baik! Dengan mendangalkan kekuatan pikiran dan jaringan teknologi, itu sudah lebih dari cukup"


"Haih sayang sekali!" Jawab Paman Hendri dengan penuh kekecewaan


Tepukan ringan pada sebelah bahu Paman Hendri kembali mendarat saat Papa Wildan menyadari adanya sepercik kekecewaan pada raut wajah adiknya "Maafkan aku"


"Yah. . .Mau bagaimana lagi!?"


Papa Wildan tersenyum kemudian melihat jam dipergelangan tangannya "Oh ya, aku harus segera pergi. Jaga dirimu baik-baik, datanglah saat peenikahan keponakanmu, siapa tahu kau menemukan tambatan hati"


"Tak usah menyangkut pautkan ku terus dengan masalah pasangan. Pergilah! Maaf aku tak bisa mengantar kalian"


"Aku juga tak butuh!"


"Kakak Sial*an!!" Sembur Paman Hendri dengan begitu kesal.


Setelah itu mereka berpelukan sebelumnya akhirnya Papa Wildan mengudara menggunakan helikopter yang didalamnya sudah ada Sarah dan beberapa anggota tim medis yang mengawalnya.

__ADS_1


__ADS_2